Sulitnya Menghadapi Ancaman Internal


Mawas-diri diperlukan tidak hanya untuk menghadapi ancaman eksternal tetapi juga ancaman internal. Artikel ini mengundang pembaca yang budiman untuk merenungkan, bertadabbur, makna dan kompisisi dua surat pendek teks suci yang bagi penulis terkait-erat dengan dua jenis ancaman itu. Artikel ini menyimpulkan bahwa ancaman internal jauh lebih sulit menghadapinya dari pada ancaman eksternal.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik:  Pengawasan_ Intenal

2 thoughts on “Sulitnya Menghadapi Ancaman Internal

  1. Saya sependapat bahwa ancaman internal jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan ancaman eksternal. Mengenai angka statistic yg disajikan bisa jadi ya bahkan mungkin lebih besar.

    Seperti dikenal luas, Rasullah SAW pernah bersabda kepada pasukan perangnya yang baru pulang dari Perang Badar yang teramat berat.Kalian baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar. Para sahabat terperanjat, bertanya-tanya dalam hati, apakah ada jihad yang lebih akbar dibanding peperangan yang baru saja mereka selesaikan. Rasullah menjawab, perang akbar adalah perang mengalahkan diri sendiri, jihad alan nafs.

    Menurut saya konteks jihad pd hadist diatas tidak khusus untuk perang saja, tapi dalam konteks manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

    Namun apakah solusi ancaman internal dapat dengan pendekatan budaya? Saya agak bingung jika masalah nafsu yg sangat personal dikaitkan dengan pendekatan budaya. Menurut saya pendekatan budaya menyangkut aspek masyarakat Saya lebih cenderung jika mengaitkan pendekatan budaya dalam memahami agama. Bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, maka berbagai tindakan yang dilakukan oleh para warga masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kehidupan mereka dalam sehari-harinya juga akan berlandaskan pada etos agama yang diyakini. Dengan demikian, nilai-nilai etika dan moral agama akan terserap dan tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya, bila yang menjadi inti dan yang hakiki dari kebudayaan tersebut adalah nilai-nilai budaya yang lain, maka nilai-nilai etika dan moral dari agama yang dipeluk oleh masyarakat tersebut hanya akan menjadi pemanis mulut saja atau hanya penting untuk upacara-upacara saja.

  2. TK komentarnya yang kritis, dan lebih penting lagi, memperkaya. Mungkin tidak terlalu tepat— atau ‘too terse’— kalau saya gunakan istilah pendekatan budaya dalam konteks artikel ini sehingga perlu klarifikasi. The following three points may help to clarify:
    (1) Saya memahami pendekatan budaya sebagai pendekatan yang berbasis kesadaran-internal masing-masing individu yang diperluas menjadi kesadaran kolektif, kesadaran masyarakat, kesadaran ‘umat’, bahkan kesadaran global. (Upaya peluasan semacam itu bagi saya arti sosialisasi— bukan dalam arti “public announcement” sebagimana dipahami dan digunakan secara luas.) Disini penekanan terletak pada kata ‘kesadaran-internal’, kesadaran dari dalam.
    (2) Pendekatan budaya dalam pengertian ini sangat berbeda dengan pendekatan non-budaya yang mengandalkan pengaruh dari luar atau berbasis faktor eksternal, termasuk oleh negara bahkan elit agama. Pendekatan non-budaya ini, jika tidak berhasil menumbuhkan kesadaran internal atau hanya menghasilkan kesadaran ‘semu’, hemat saya tidak efektif, apalagi jika dipaksakan.
    (3) Hemat saya, metedologi da’wah yang didemostrasikan oleh Pembawa Risalah ya pendekatan budaya itu. Bukankah Islam, berbeda dengan agama samawi lain, tidak mengandalkan ‘mukjizat’ yang hebat (tentu saja di luar al-Qur’an yang bagi ‘luar’ sukar dianggap sebagai mu’jizat). Pendekatan ini efektif dan berharkat karena setiap individu pada dasarnya telah diberi kelengkapan ruhaniah yang diperlukan oleh Tuhan Manusia. Bagi saya fungsi da’wah ya sekedar upaya mengefektifkan atau menghidupkan kelengkapan itu. How is that? (PR: Coba cari ayat yang kira-kira berbunyi: daakum lima yuhyikum).
    Clear enough? If you wish, you may response to this comment. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s