Published by Uzair Suhaimi
Intellectual Profile/
Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./
Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP.
View all posts by Uzair Suhaimi
Saya sependapat bahwa ancaman internal jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan ancaman eksternal. Mengenai angka statistic yg disajikan bisa jadi ya bahkan mungkin lebih besar.
Seperti dikenal luas, Rasullah SAW pernah bersabda kepada pasukan perangnya yang baru pulang dari Perang Badar yang teramat berat.Kalian baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar. Para sahabat terperanjat, bertanya-tanya dalam hati, apakah ada jihad yang lebih akbar dibanding peperangan yang baru saja mereka selesaikan. Rasullah menjawab, perang akbar adalah perang mengalahkan diri sendiri, jihad alan nafs.
Menurut saya konteks jihad pd hadist diatas tidak khusus untuk perang saja, tapi dalam konteks manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Namun apakah solusi ancaman internal dapat dengan pendekatan budaya? Saya agak bingung jika masalah nafsu yg sangat personal dikaitkan dengan pendekatan budaya. Menurut saya pendekatan budaya menyangkut aspek masyarakat Saya lebih cenderung jika mengaitkan pendekatan budaya dalam memahami agama. Bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, maka berbagai tindakan yang dilakukan oleh para warga masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kehidupan mereka dalam sehari-harinya juga akan berlandaskan pada etos agama yang diyakini. Dengan demikian, nilai-nilai etika dan moral agama akan terserap dan tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya, bila yang menjadi inti dan yang hakiki dari kebudayaan tersebut adalah nilai-nilai budaya yang lain, maka nilai-nilai etika dan moral dari agama yang dipeluk oleh masyarakat tersebut hanya akan menjadi pemanis mulut saja atau hanya penting untuk upacara-upacara saja.
TK komentarnya yang kritis, dan lebih penting lagi, memperkaya. Mungkin tidak terlalu tepat— atau ‘too terse’— kalau saya gunakan istilah pendekatan budaya dalam konteks artikel ini sehingga perlu klarifikasi. The following three points may help to clarify:
(1) Saya memahami pendekatan budaya sebagai pendekatan yang berbasis kesadaran-internal masing-masing individu yang diperluas menjadi kesadaran kolektif, kesadaran masyarakat, kesadaran ‘umat’, bahkan kesadaran global. (Upaya peluasan semacam itu bagi saya arti sosialisasi— bukan dalam arti “public announcement” sebagimana dipahami dan digunakan secara luas.) Disini penekanan terletak pada kata ‘kesadaran-internal’, kesadaran dari dalam.
(2) Pendekatan budaya dalam pengertian ini sangat berbeda dengan pendekatan non-budaya yang mengandalkan pengaruh dari luar atau berbasis faktor eksternal, termasuk oleh negara bahkan elit agama. Pendekatan non-budaya ini, jika tidak berhasil menumbuhkan kesadaran internal atau hanya menghasilkan kesadaran ‘semu’, hemat saya tidak efektif, apalagi jika dipaksakan.
(3) Hemat saya, metedologi da’wah yang didemostrasikan oleh Pembawa Risalah ya pendekatan budaya itu. Bukankah Islam, berbeda dengan agama samawi lain, tidak mengandalkan ‘mukjizat’ yang hebat (tentu saja di luar al-Qur’an yang bagi ‘luar’ sukar dianggap sebagai mu’jizat). Pendekatan ini efektif dan berharkat karena setiap individu pada dasarnya telah diberi kelengkapan ruhaniah yang diperlukan oleh Tuhan Manusia. Bagi saya fungsi da’wah ya sekedar upaya mengefektifkan atau menghidupkan kelengkapan itu. How is that? (PR: Coba cari ayat yang kira-kira berbunyi: daakum lima yuhyikum).
Clear enough? If you wish, you may response to this comment. Salam