Jalan Sufi dan Jalan Rasul: Tinjaun Singkat


Artikel ini meninjau secara singkat beberapa perbedaan konotatif Jalan Sufi dan Jalan Rasul. Yang pertama berpotensi membantu menjawab persoalan nestapa manusia kontemporer yaitu dahaga spiritual. Tetapi jalan ini, agar dapat dilalui secara aman, harus dipilih yang sejalan dengan Jalan Rasul atau tradisi yang berbasis kebanaran abadi dan tak diciptakan.

Bagi yang berminat mengakses arikel lengkap silakan klik: Jalan_Rasul_SufiRev

3 thoughts on “Jalan Sufi dan Jalan Rasul: Tinjaun Singkat

  1. Pak Uzair aliran sufi yang saya tahu adalah suatu aliran yang berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, dan terus-menerus dalam dzikir (mengingat Allah) dan membiasakan dengan rasa khouf (takut) yang berlebihan dalam mengingat Allah bahkan untuk melanggengkan keinginannya tersebut sampai membuka pintu bid’ah, artinya tidak sesuai dengan tuntunan sunah Rosul.
    Berikut cukilan dari kisah dari zaman Rosul yang ada hubungannya dengan lahirnya aliran sufi:
    Beberapa sahabat memutuskan untuk menghabiskan malam untuk bersungguh-sungguh dalam sholat dan meninggalkan tidur. Yang lain memutuskan untuk puasa setiap hari tanpa berbuka. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita. Sehingga ketika berita itu sampai pada Rosul saw dia berkata:
    “Apa yang terjadi dengan orang yang mengatakan demikian dan demikian. Saya berpuasa tetapi saya berbuka, saya sholat malam tapi saya juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.” (HR. Bukhori dan Muslim).
    Namun ketika Rosul meninggal, sekelompok orang yang berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia dibiarkan tumbuh sehingga munculah suatu aliran yang disebut sufi.
    Jadi menurut saya Sufi merupakan suatu isme tersendiri sehingga kita jangan sampai terjebak didalamnya, karena kalau sudah terlanjur mempelajari apalagi mendalaminya maka akan sulit untuk lepas dari cengkeraman aliran tersebut.

  2. Pak Joko, Yth.

    TK komentarnya yang manis. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca. Here is my response:

    (1) Joko benar, dalam sejumlah kasus Sufi banyak berlebihan, tidak hanya membuka pintu bid’ah (tepatnya khurafat seperti praktek dan memberikan nilai sangat tinggi pada ziarah kubur, misalnya) bahkan mengembangkan semacam ‘ajaran’ yang jelas tidak sejalan dengan mainstream ajaran Islam. Tetapi kalau Joko kenal istilah zuhud (tidak terlalu bernafsu mencari uang; sesuatu yang hemat saya sangat berpotensi dapat melawan arus konsumerisme henodisme), wara (tidak arogan), hati-hati dan cermat dalam bertindak (saya memaknainya identik dengan taqwa) dan istilah penting lainnya seperti tazkyatun nafs (membersihkan jiwa), semuanya dikembangkan oleh para Sufi lho. Jadi, banyak yang bagus kan. Kalau Nabi saw sampai bengkak kakinya karena salat malam, itu hemat saya itu perilaku Sufi, walaupun sebagai pemimpin besar yang sangat bijak Nabi saw tidak membesar-besarkannta. Kenapa? Kannya karena takut ditiru sehingga memberatkan umat. Gaya Ini juga dapat Pak Joko cermati dari redaksi hasid Nabi saw mengenai perintah sikat gigi” “Kalau saja tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku wajibkan..” Bijak kan?

    Kalau Joko kenal tokoh-tokoh besar ulama, di Indonesia maupun di dunia lainnya, pada umumnya ‘penganut’ Sufi walaupun tidak ekslisit mengatakannya. Mereka pada umumnya bukan ‘minimalis’ seperti kita yang merasa cukup aman menjalankan ibadah-ibadah fardu, sedikit Sunat dan meninggalkan yang haram. Terkait dengan teks suci memerintahkan banyak berdzikir, mereka serius dan tidak minimalis seperti kita hanya baca subhanallh 33X. Agree?

    Tetapi Joko benar: dalam tingkat sosiologis banyak tarikat yang berlebihan dan bahkan menyimpang. Itulah sebabnya saya katakan perlu difilter dengan syari’ah. So, the major issue here is that, bagaimana mengambil ikan tanpa harus keruh airnya. (Bagaimana mengambil unsur baiknya tanpa menyimpnag dari Syari’at). Thing about it!

    Salam
    Salam. Thanks again for nice comments

    . menyimpangsediksedikit sunat. [Tetapi Joko Mereka adalah m
    , inilah bagi

    1. Terimakasih pak Uzair telah menambah wawasan saya tentang sufi. Saya terjebak pada istilah sufi yang saya artikan suatu aliran tersendiri dalam beribadah. Sementara yang saya tangkap dari pak uzair sufi adalah suatu perilaku dalam beribadah. Sedangkan menurut saya perilaku beribadah seperti yang ditunjukkan oleh Rosul dan juga para tokoh-tokoh besar ulama adalah suatu perilaku tasauf. Mungkin keduanya ada hubungan, hanya saja saya yang kurang dalam referensi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s