Published by Uzair Suhaimi
Intellectual Profile/
Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./
Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP.
View all posts by Uzair Suhaimi
Pak Uzair Ysh,
Tulisannya menyentuh, terutama pada bagian akhir yang menyebutkan tiada kebahagiaan hakiki tanpa keterhubungan dengan yang Maha Mutlak. Saya seperti disadarkan kembali bahwa ada “Cinta” di atas Cinta (biasa). Dengan keterbatasan diri, saya tahu Cinta-Nya sangat besar dan meliputi semua ciptaannya termasuk saya. Cinta yang sangat indah, yang memberikan apa pun yang terbaik buat hamba-Nya. Namun, mampukah kita, saya khususnya, menjalin hubungan yang lebih intens kepadaNya, memberikan cinta yang juga indah kepada Dia yang Maha Indah. Hanya kepada Allah, saya memohon kekuatan untuk mencinta.
Terima kasih Pak Uzair atas pencerahannya.
ps. sastra itu Indah 🙂
Upi, Yth
TK komentarnya. Dugaan saya benar: Upi dapat menagkap point-nya (tidak semua bisa lho!). Mampukah menjalin keterhungan intens dengan Dia? Ya harus berkehendak kuat untuk mampu. So, the first step is the will, pasang niat kuat. Intensitas keterhubungan saya kira bertingkat (dalam skala interval) melalui banyak ‘stasiun’ dan ‘maqam’ (istilah sufi), serta melalui perjuangan sangat berat (riyadah, kata orang sufi) karena berhadapan langsung dengan musuh terbesar kita, ego kita. Hemat saya, itulah antara lain hikmah di balik ‘perintah’ Salat, dzikir, serta do’a kepada Dzat yang “membolak-balikan hati” agar diberi kekuatan ber-istaiqamah atau konsisten. (Hati tidak sepenuhnya berada dalam pengendalian kita lho.) Salam
Pak Uzair yang terkasih.
Tulisannya sarat dengan makna.
Saya sulit memberikan komentar, tetapi saya bisa merasakan “ruh” dari tulisannya.
Terima kasih, dan salam Takzim.
Sepertinya akan semakin produksif nih karya-karya nya dengan semangat memberi.