Menjelang abad ke-21 masyarakat global optimis akan memasuki abad baru yang lebih aman_damai. Belum genap tahun kedua abad ke-21 masyarakat global menyaksikan serangan brutal terhadap menara kembar WTO di New York pada 11/9/2001. Serangan itu memicu kemarahan besar warga Amerika Serikat (AS) yang oleh pemerintahnya diterjemahkan apa adanya dalam bahasa politik: perang global terhadap terorisme global. Dalam waktu singkat, optimisme akhir abad ke-20 berganti menjadi ledakan kemarahan di satu sisi, dan frustasi di sisi lain. Inilah peta_batin global. Artikel pendek ini, dinarasikan dalam 740 kata, menyajikan ilustrasi singkat mengenai peta_batin semacam itu serta tantangannya. Bagi yang berminat mengakses silakan kilik: Terorisme Global
Terorisme Global: Definisi dan Peta_Batin Global
Published by Uzair Suhaimi
Intellectual Profile/ Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./ Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP. View all posts by Uzair Suhaimi
Pak Uzair Ysh,
Kalau saya tidak salah tangkap, yang Pak Uzair maksud dua sisi pada peta batin global adalah nafsu balas dendam pada sisi barat, dan rasa frustasi pada sisi timur. Frustrasi merefleksikan sikap mental dan cara berpikir pihak yang rendah diri. Sepertinya masalahnya memang lebih kepada psikologi-sosial. Tapi, menurut hemat saya, pada peta batin sisi timur bukan hanya rasa frustasi yang tergambar. Frustrasi lebih cocok buat mereka yang dijangkiti inferior complex. Buat yang tidak terjangkit virus inferior complex ini, peta batin apa yang lebih pas? Saya kesulitan menemukan frasa yang tepat.
Buku Islam Negara Sekuler yang Pak Uzair rekomendasikan, akan saya cari kapan-kapan. Saat ini saya sedang mencoba baca bukunya Greenspan- The Age of Turbulence, buku yang sudah lama saya dengar tapi baru berkesempatan punya, karena didiskon besar 🙂 . Buat info nih Pak, ada diskon hingga 80 % di gramedia pasar baru sampai tanggal 5 Juni 2011. Selamat hunting buku Pak.
Salam
TK komentarnya ya. Upi betul: kita2 nggak inferior kan. Big isu-nya ini lho: Kok terorisme global tumbuh subur di Arab-Islam? Kenapa ya? Artikel ini menjawab, underlying factornya, [meminjam istilah Hanafi], Superior-inferior complex. Identifikasi underlying factor hemat saya perlu dan paling relevan untuk melakukan pencegahan terorisme secara prevetif dan menyeluruh [jadinya murah kan], bukan penanganan kuratif bergaya_militaristik yang justru kita lihat malah yang trendi, termasuk UN ikut-ikutan. Ngeseln kan!.
Selain menjawab pertanyaan itu, artikel sangat pendek ini bahkan sempat memberikan tausiah atau nasehat(berani-beraninya ya). Nasihat u/ Timur: “Jangan minder dong; kalau ada masalah umat itu terutama disebabkan oleh masalah internal lho, bukan karena orang luar (Barat); kalau terbelakang pertanyaannya bukan “Siapa [orang luar] yang berbuat salah ” tetapi “Apa yang kita lakukan [contohnya: ‘Jumud’, tafsir nash yang miskin atau bahkan non-contextual] atau tidak kita lakukan [contohnya: pengembangan Fikih Sosial] sehingga tertinggal”? Nasihat u/ Barat (hebat ya): “Jangan terlalu arogan lah, belajarlah berempati!”. Berikut penjelasan bonus:
Superior-Inferiro complex terlihat dari cara pandang Timur melihat perbandingan Barat:Timur. Cara pandangnya kira-kira setara dengan Modern:Terbelakang, Pusat:Pinggir, Guru:Murid,Produsen:Konsumen, Modern:Terbelakang, Ilmiah:Mitis, Pintar:Bodoh,Pengendali:Dikendalikan, dst; pokoknya Serba Bagus: Serba Jelak. Cara pandang Barat tidak kurang gendengnya: Timur adalah “obyek” untuk ‘dipelajari’ (baca orientalisme), di-image-kan dari jauh agar dapat dimanipulasi. Inilah yang menurut istilah saya ‘peta batin global’. Kesadaran kolektif umat semacam itu (khususnya pada tingkat grass-root), ditambah dengan kesulitan hidup (nganggur lagi), diambah persepsi [riil?]mengenai ‘dominiasi’ Barat dalam hal IPTEK, perdagangan dan geo-politik, ketimpangan kaya-miskin. nepotisme, gaya-hidup, pola dan tingkat konsumsi kaum elit [yang terkadang lebih ‘heboh’ dari pada orang kaya di Barat], nostalgia ‘kejayaan umat’ terdahulu, keyakinan agama yang ‘unggul’, dsb, dsb, dsb, semua itu, hemat saya proper ingridient bagi terorsiem global. Agree?
Salam
Reblogged this on Jejak Pemikiran dan Refleksi.