Judul itu kira-kira berarti “bukan itu, bukan itu, bukan itu”.., suatu negasi terhadap deskripsi apapun mengenai Yang Mutlak. Artikel pendek ini (62×7 kata) mencoba meringkas –sepadat dan sesederhana mungkin— inti ajaran sejumlah teolog besar tetapi sangat rendah hati dari bebagai latar tradisi keagamaan yang menegaskan: bahasa manusia tidak memadai mendeskripsikan Yang Mutlak, Beyond Being.
Neti, Neti, Neti, …
Published by Uzair Suhaimi
Intellectual Profile/ Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./ Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP. View all posts by Uzair Suhaimi
neti, neti, neti..
Pertanyaannya kenapa ada 7 cara: diam 7x. cukup 1 cara saja yaitu: Diam.
artikel yg ringan namun memiliki arti filosofi tersendiri. Usaha sekeras apapun untuk mencari makna”Maha” tidak akan dapat menghasilkan hasil yg memuaskan, krn “Maha” akan selalu mematahkan arti yg kita dapatkan.
Salam Takzim
Menjelang mendarat dari pesawat seorang pramugari biasanya mengingatkan dengan segala kekenesannya untuk tidak membuka sabuk pengaman “sebelum pesawat benar-benar berhenti”. Pertanyaannya, kenapa tidak cukup bilang “sampai berhenti”, tidak perlu tambahan “benar-benar”; toh berhenti ya berhenti. But we understand what she is trying to say: memperkuat. Analog dengan ini, kita memang harus “benar benar diam”, tidak cukup, misalnya, “pura-pura diam”, atau “diamnya setengah-setengah”. Kenapa 7? Karena 7 konon lambang sempurna [baca kan artikel misteri angka 7 saya] So, ada argumennya kan. Salam
Kontemplasi atas Sang Kholik…. Cukup Pada Wujud para Makhluk Nya. Tak akan mampu Syaraf Otak Insan mencapai Kontemplasi atas Wujud Alloh SWT. Ketika memaksakannya, jalinan syaraf yang sudah tersusun rapih akan hancur berantakan. yang kemudian lahir banyak penyimpangan pemikiran akan Dzat Alloh Robbul Izzati.
Semoga Hidayah menunjukkan Cahaya penerang dan lentera bagi semua kesimpulan pada output pemikiran kita.
TK komentarnya yang pas. Sebenarnya tulisan dimaksudkan sebagai kritik terhadap ‘mereka’ yang merasa pengetahuannya mengenai yang Mutlak sempurna, final dan paling benar; mereka yang tidak mampu membedakan antara –meminjam pendekatan Ibnu ‘Arabi– Allah sebagaimana ada-Nya [Hua] yang pasti tak terjangkau, dengan Allah sebagaimana kita yakini atau kita perspesikan yang pasti relatif, dapat berbeda antar orang, dapat berbeda antar waktu sesuai dengan kematangan spiritual, dan tidak pernah memadai). Sekali TK ya komentarnya. Coba komentari tulisan yang lain.