Trump Sang Presiden


Trump Sang Presiden

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Donald J. Trump kini menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-45. Kita baru saja menyaksikan pelantikannya yang meriah, walaupun tidak semeriah pelantikan Barrack Obama 8 tahun sebelumnya. Penulis sependapat dengan Bapak Wapres bahwa kita harus menghormati proses demokrasi di negara adidaya itu. Fakta tak-terbantahkan dia memenangkan pemilu sekalipun menyandang daftar panjang kelemahan: bukan pemenang mayoritas, bukan politisi, visi globalnya tidak popuer, tidak didukung oleh partai “pendukung”, “dimusuhi” oleh banyak politikus senior dari Partai Republik maupun Demokrat, tidak populer di kalangan wanita dan kaum muda, dan dinilai luas sebagai rasialis dan tidak memiliki standar moral yang layak bagi seorang pemimpin negara. Daftar itu bisa diperpanjang; demikian panjangnya daftar itu sehingga kalaupun toh dia menang maka hal itu dapat dilihat sebagai, singkatnya, wujud dari “Kersanipun Gusti Allah”.

trump101.png

Sumber Foto: Googgle image

Masalah Sosial

Perspektif Moïsi (2009) dalam memahami fenomena geopolitik boleh dikatakan unik. Bagi dia, kita tidak dapat memahami sepenuhnya dunia di mana kita hidup tanpa mencoba memahami emosinya, dan (2) emosi, seperti kolesterol, ada yang baik dan ada yang jahat[1]. Emosi yang dimaksud dapat berbentuk kekhawatiran (fear), perasaan malu (humiliation) dan harapan (hope).

Dengan menggunakan perspektif Moïsi kita dapat melihat kemenangan Trump secara sederhana sebagai bentuk kekhawatiran dan harapan publik AS, khususnya, pendukung Trump, mengenai sejumah masalah sosial mendasar yang dipersepsikan saat ini menimpa masyarakat AS: pengangguran, kebangkrutan sektor manufaktur, kriminalitas, kemiskinan (kota), rasa aman, “beban” Obamacare, “sistem” kenegaraan yang “korup” dan tidak efektif, ketimpangan ekonomi (diakui oleh Obama), dan sebagainya.

  • Kekhawatiran bahwa masalah-masalah itu tidak akan berakhir dalam sistem yang sudah mapan (established) dan sudah kehilangan trust; dan
  • Harapan bahwa Trump lebih meyakinkan untuki mengakhiri situasi itu dibandingkan Hillary Clinton yang dianggap sebagai bagian dari –atau akan melanggengkan–sistem yang mapan.

Tetapi itu semua adalah persepsi (politik konon soal persepsi), yang belum tentu faktual. Mengenai pengangguran dan kemiskinan, misalnya, angkanya justru turun secara drastis dalam era Obama. Lebih dari itu, masalah-masalah serupa yang bahkan jauh lebih parah dan rumit, bagi sebagian pengamat, justru dihadapi oleh Obama menjelang kepemimpinannya sebagai presiden.

American First

Bahwa Trump bukan seorang politisi (biasa) tarlihat dari pidato inaguralnya sebagai Presiden. Para analis menduga atau berharap, pidato itu akan dimanfaatkan oleh Trump sebagai kesempatan emas untuk mengemukakan rekonsiliasi nasional, given gejala perpecahan masyarakat domestik yang sangat kentara. Para analis juga menduga, sesuai tradisi, pidato inagural akan berisi “basa-basi” untuk tidak memberi kesan buruk kepada out-going Presiden. Itu semua tidak terjadi. Tema pidato inagural ternyata berputar sekitar: (1) “kebobrokan” pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang dianggap sebagai penyebab karnagi, dan (2) American First.

Tema American First bagi penulis sah-sah saja. Trump benar ketika mengatakan bahwa setiap negara berhak mengedepankan kepentingan negara sendiri. Dalam praktek, hemat penulis, semua negara berupaya mempraktekkannya. Ini adalah HDL, kolesterol baik. Masalahnya adalah bahwa karena tema itu dideklarasikan (apalagi dalam pidato inagurasi ketika mata dunia tertuju) maka hal itu diduga kuat diterjemahkan oleh pihak luar sebagai sikap proteksionis yang berlebihan. Ini adalah LDL, koletorel jahat. Indikasi ke arah proteksionisme terlihat dari apa yang dilakukan Trump selama 2-3 hari pertamanya sebagai Presiden.

Bagi penulis, kebijakan proteksinisme justified sejauh tidak berlebihan, tidak mengarah kepada ekslusifieme dan ekspansionisme serta tidak mencerminkan sikap “mau_menang_sendiri”. Penulis tidak memiliki latar belakang ekonomi untuk mengomentari kebijakan itu secara layak. Walaupun demikian penulis memiliki beberapa pertanyaan yang mungkin layak didiskusikan:

  • Apakah kebijakan proteksionisme compatible dengan semangat globalisasi? Bagi penulis, given tingkat teknologi informasi kontemporer, globalisasi tidak dapat dihindari dan merupakan keniscayaan sejarah sehingga we have to live with it.
  • Apakah kebijakan itu harus selalu berlandaskan prinsip zero-sum atau menang sendiri seperti terkesan dalam pidato-pidato Trump selama masa kampanye? Bagi penulis, prinsip “menang bersama” adalah mungkin, lebih realistis dan lebih adil dalam pergaulan internasional sejauh yang menjadi concern adalah kemakmuran global?
  • Apakah kebijakan itu secara ekonomi makro jangka panjang justified dilihat dari sisi penciptaan lapangan kerja (yang merupakan tema besar Trump) maupun pertumbuhan ekonomi? Bagi penulis ini adalah isu masih terbuka untuk diperdebatkan?

Dalam tahun-tahun mendatang tampaknya dunia siap menyaksikan para pemimpin adidaya yang eksklusif dan proteksionis. Mudah-mudahan keduanya tidak mendorong tumbuhnya paham ultra-nasionalisme dan ekspansionisme. Khusus untuk AS, penulis berharap keadaan mendatang sesuai yang dijanjikan Trump: ada perluasan lapangan kerja, ada pengurangan kesenjangan ekonomi, ada peningkatan rasa aman, dan sebagainya yang membawa kemaslahatan riil bagi warga AS. Khusus bagi AS pula, penulis berdoa agar situasi mendatang tidak seperti yang dihawatirkan Obama: AS menjadi magnit bagi terorisme. Semoga … @

[1] Moïsi, Dominique (2009), The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World, Doubleday, halaman x. Kita mengenal istilah HDL (High Density Lipoprotein) untuk kolesterol baik dan LDL (Low Density Lipretein) untuk kolesterol jahat. Tinjauan buku ini dapat diakses dalam blog ini.

2 thoughts on “Trump Sang Presiden

  1. Kebijakan proteksionisme, penciptaan lapangan kerja maupun pertumbuhan ekonomi yang dilakukan Trump Sang Presiden barangkali merupakan wujud dari kepedulian atas masyarakat internalnya. Namun mengapa rangkaian berikutnya terbersit prinsip zero-sum (menang sendiri)? Apapun kebijakannya, menurut saya, akan melenceng dari maksud yang positif apabila dampak yang ditimbulkan menjadi cenderung ke arah eksploitasi kepada pihak lain (yang seharusnya menang bersama itu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s