Kesadaran Kongkrit dan Syahadat


Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tulisan singkat ini diilhami oleh tulisan singkat yang bertajuk the Alternative karya Schuon (18/6/1907–5/5/1988) yang memiliki nama Islam yang lumayan panjang: ʿĪsá Nūr ad-Dīn ʾAḥmad, al-Mālikī, ash-Shādhilī ad-Darqāwī al-ʿAlawī al-Maryamī[1]. Schuon adalah seorang Jerman kelahiran Swiss yang pernah diinisiasi sebagai murid suatu tarekt sufi oleh Syaikh Ahmad al-Alawi (1933). Yang terkhir ini dikenal sebagai orang suci abad ke-20. Sebagai pengikut tarekat sufi Schuon sempat menduduki jabatan muqaddam (1935) dan bahkan Syaikh (1936)[2]. Dalam kedudukannya sebagai Syaikh inilah ia seringkali membimbing muridnya melalui tulisan-tulisan singkat yang pada mulanya bersifat pribadi dan tidak disiapkan untuk dipublikasikan, termasuk the Alternative. Para kolega dan murid Schuon merasa perlu untuk mempublikasikan tulisan pribadi ini mungkin karena kedalaman isinya. The Alternative pada dasarnya terkait dengan ajaran Tahuhid, tepatnya mengenai kesadaran kongkrit dan makna batiniah Syahadat.

Menuju Ke Kesadaran Kongkrit

Schuon membuka tulisannya dengan menekankan perlunya beranjak dari gagasan abstrak (abstract notion) menuju kesadaran kongkrit (concrete awareness) mengenai apa yang merupakan keyakinan-dasar kita. Bagi Schuon inilah jalur yang harus ditempuh jika kita ingin beranjak dari kemunafikan (hypocrisy) menjadi ketulusan (sincerity). Jika kita, misalnya, mengakui bahwa Tuhan yang paling utama dari segala sesuatu dan bahwa akhirat (hereafter) lebih baik dari dunia (here-below) tetapi berprilaku seolah-olah tidak mengakuinya, maka kita masih tergolong munafik. Bagi Schuon inilah bentuk kemunafikan yang paling umum: berprilaku tidak sesuai dengan pengakuan.

Hemat penulis pernyataan Schuon ini sejalan dengan al-Baqarah Ayat 8: “Dan di antara manusia ada yang berkata, “kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. Dalam konteks ini, pengakuan beriman masih berupa gagasan abstrak dan belum mencerminkan kesadaran kongkrit. Fakta bahwa hampir semua ayat pada lembar ke-dua al-Qur’an (dan banyak sekali ayat serupa) berbicara mengenai kemunfikan, bagi penulis mengisyaratkan pentingya mewaspadai sifat-sifat kemunafikan yang melekat dalam diri kita yang mungkin kita sadari. Wallahu’alam.

Untuk memperoleh gambaran lengkap gagasan Schuon mengenai topik ini, berikut ini disajikan kutipan langsungnya[3]:

It is necessary to pass from the abstract notion to concrete awareness; this is the passage from hypocrisy to sincerity. Most men who admit that God takes precedence over everything and that the hereafter is better than the here-below behave as if they did not admit it; this is the most usual hypocrisy.

Syahadat

Bagian selanjutnya dari tulisan Schuon terkait dengan Syahadat, formulasi teologis bagi Agama Islam yang menurut Schuon mengandung kebenaran universal. Pernytaan Syahadat adalah la ilaha illa Allah, tidak ada (la) Tuhan selain (illa) Allah. Pernyataan ini terdiri dari dua bagian: yang pertama merupakan penolakan atau penegasian (Nafy) Tuhan, yang kedua menunjukkan afirmasi (Ithbāt) bahwa Allah sebagai (satu-satunya) Tuhan.

Formulasi ini mengekspresikan makna metafisis mengenai alternatif antara yang Haq (Riil) dengan yang ilusi atau tidak atau kurang riil. Bagi Schuon, makna metafisis saja tidak cukup: baginya, formulasi itu juga menujukkan alternatif antara dunia dan akhirat , antara Ingat (Remembrance) dan lalai (headlessness), dan antara dhākirūn (orang yang berdzikir) dan gāfilūn (orang yang lalai). Penulis menduga, gagasan mengenai kelebihan kehidupan akhirat lebih dari dunia merupakan salah satu ajaran pokok semua agama; dalam konteks Islam hal itu dinyatakan secara tegas dalam al-‘Ala (16-17): “Sedangkan kamu memilih kehidupan dunia” (16), “padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (17).

Dalam bagian Nafi dari Syahadat kata la menyimbolkan sisi keterpisahan, ilusi, dan kesementaraan (impermanency) dari dunia. Sebaiknya, kata illa merujuk kepada sisi dunia yang partisipatif, simbolik dan menyatukan (unitif), tepatnya segala sesuatu yang memungkinkan arketif langit tampak. Simbolisme ini mencakup apa saja yang secara alamiah mampu lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, terlepas dari sifatnya apakah subyektif atau obyektif, apakah alamiah atau spiritual. Dalam bagian Ithbāt kata illā merujuk pada unsur ciptaaan dalam alam surgawi-akhirat, Nama Allah jelas mengekspresian yang Tak-tercipta (the Uncreated).

Alinea terkhir merupakan terjemahan bebas penulis dari kutipan berikut ini[4]:

In the Nafy the word lā symbolizes the separative, illusory, and impermanent side of the world; the word ilāha refers then to the participative, symbolic, unitive side, that is, to things that allow celestial archetypes to appear through them; this symbolism encompasses everything that by its nature brings us nearer to God, whether these values are objective or subjective, natural or spiritual. In the Ithbāt the word illā symbolizes the created element within the celestial hereafter; the Name Allāh very clearly expresses the Uncreated.

Ghāfil V.S Dhākir

Di antara orang-orang percaya, dhākirūn adalah mereka yang menerima Syahadat dengan tingkat ketulusan tertentu dan ini bertentangan dengan ghāfilūn yang bersyahadat tanpa ketulusan. Untuk mewujudkan ketulusan spiritual adalah perlu bagi jiwa untuk beranjak dari pemikiran abstrak ke kesadaran kongkrit.

dzikir

Sumber: Google Image (dzikir)

Mengenai keindahan duniawiah, perspektif seorang ghāfil (orang lalai) sangat berbeda dengan seorang dhākir (orang ingat): bagi yang pertama itu melekatkan dirinya dengan dunia sementara bagi yang kedua menghapuskan dirinya dari dunia. Keindahan duniawi bagi dhākir lebih mendekatkan dirinya pada surga karena ia tahu bahwa itu memanifestasikan Rahmah ilahi dan karena ia melihat bagaimana Rahmah itu sudah indah dalam manifestasi duniawiahnya. Ia memilih Rahmah bukan dunia.

Pertanyaan restropektif

Kita, Insyaallah, termasuk orang yang mengakui akhirat lebih baik dari dunia. Pertanyaannya, apakah prilaku kita sehari-hari sejalan dengan pengakuan itu dalam arti lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia? Jika jawabannya positif maka insyaalah, kita “aman”; otherwise, jangan-jangan kita termasuk orang munafik tanpa kita sadari. Naudzubillah… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/

[2] Frithjof_Schuon Frithjof Schuon and the Perennial Philosophy, 2010, © World Wisdom, Inc

[3] “Letters” © World Wisdom, Inc / For Personal Use Only

[4] Ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s