Mahmudi Sang Guru Ngaji

“Beli surga hanya bayar segitu. Surga apa yang harganya hanya dua ribu?”), Engke membuka obrolan

“Ngomong apa kamu?”, sahut Maha.

“Memang Aku tidak lihat ketika Kamu memasukkan uang ke kotak amal di Masjid tadi”, lanjut Engke.

“Oh itu”, sahut Maha. Ia baru menyadari. Ketika jumatan tadi ia duduk bersebelahan di saf ketiga. Ini suatu kemajuan bagi Maha yang biasanya duduk di saf hampir paling belakang dan masuk masjid ketika khutbah sudah dimulai. Lain halnya bagi Engke yang biasa duduk di saf pertama.

“Biar segitu Aku kan ikhlas”, Maha membela diri. “Memang kamu memasukkan berapa”?, lanjutnya.

“Tadi Aku mengisi kotak amal pakai tangan kanan sehingga tangan kiriku tidak mengetahuinya. Jadi, bagaimana aku tahu”,  Engke menjawab seenaknya. Maha hanya diam dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengantuk.

Dia hari itu dapat giliran kerja sif malam di pabriknya sehingga jam biologisnya mengajaknya tidur. Tetapi canda teman dekatnya tadi agak mengganggu kenyamanan tidur siangnya.

…“surga naon nu hargana dua ribu”…. “ulah kos si Udin nu nyekel prinsip Kumaha Engke, tapi tiru tah si Usuf nu nyepeng prinsip kaidah Enge Kumaha?”….

“Bangun, bangun! Sudah mau magrib”, teriak Engke sambil menggoyang-goyangkan badan Maha yang tengah tidur lelap. Maha bangun terkaget-kaget dan kesal juga karena baru setengah empat. Sambil berjalan menuju kamar mandi dia mencoba mengingat-ngingat mimpinya tadi: “ada dua episode, tetapi urutannya tidak jelas’, pikirannya.

Episode pertama menggambarkan pengalamannya Jumatan tadi ketika memasukkan dua-ribu-rupiah ke kotak amal. Dia biasanya “menyembunyikan” tangan ketika memasukkan uang tapi tadi lupa karena mengantuk-berat ketika mendengarkan khotbah.

Episode kedua memantulkan pengalamannya ketika mengaji di kampung. Dalam satu kesempatan ia dan teman-temannya mendengarkan nasehat guru mengaji agar berhati-hati dalam bertindak. Agar jelas sang guru memberikan ilustrasi mengenai sikap yang ceroboh dan sikap berhati-hati. Mengenai sikap pertama ia mencontohkan Udin yang digambarkan berprinsip Kumaha Engke (Bagaimana nanti), sementara untuk kedua ia mengambil conoth Usuf yang dinilai berprinsip Engke Kumaha (Nanti bagaimana). Sejak peristiwa itu Udin berubah nama jadi Maha dan Yusuf jadi Engke. Yang bersangkutan tidak keberatan.

Walaupun memiliki perbedaan perilaku Maha dan Engke sudah lama bersahabat dekat. Mereka berasal dari kampung yang sama: Kampung Mana-Boa, Kecamatan Nu-Ngarumbai-Tea, Kabupaten Sukabumi Selatan. Mereka sama-sama besar di kampung itu dan kini sama-sama tinggal di kawasan padat di Kabupaten Tangerang dan bekerja di pabrik tekstil yang sama.

Ada satu faktor yang lain yang membuat Maha dan Engke mempertahankan persahabatan mereka. Keduanya mengidolakan guru mengaji yang sama yaitu Ustadz Mahmudi.

Bagi mereka Mahmudi adalah sosok luar biasa: usianya masih muda (lebih muda dari mereka) tetapi ilmu-agamanya “selangit” istilah Maha. Mereka mengenali Mahmudi masih bujangan dan tinggal dengan ibunya yang mulai agak sepuh. (Dia sudah yatim sejak kelas dua SD.)

Menurut cerita yang mereka dengar, Mahmudi jebolan Pesantren Gontor tetapi belum sempat tamat karena masalah biaya. Keluar dari pesantren itu dia menyantri di pesantren salafiah di kawasan Jawa Timur dan menghabiskan waktu dua tahun di sana sebelum pulang kapung karena ibunya mulai sakit-sakitan. Karena alasan kondisi kesehatan ibunya ia menolak dengan sopan tawaran sang kiai untuk mengelola madrasah yang berada dalam pengawasan pesantren itu.

Ketika berpamitan ke Kiai ia memperoleh nasehat singkat: “Mahmudi. kamu punya bakat besar untuk menggadaikan diri jadi guru ngaji. Ingat ini, kalau mengejar akhirat kita akan dapat dua: dunia dan akhirat. Kalau fokus hanya pada urusan dunia maka kemungkinan besar kita kehilangan balasan akhirat”. Sang kiai melanjutkan:

“Ingat jurus kunci ini ketika jadi guru ngaji. (Sang kiai biasa menggunakan istilah “jurus kunci” jika ingin santrinya menyimak ucapannya secara serius.)

Pertama, ajarkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan pendengar, jangan sampai tergoda untuk menyampaikan pelajaran hebat hanya untuk memperoleh kesan pintar.

Kedua, begitu kamu memiliki majelis pengajian, kamu harus Istiqamah memberikan pengajian. Walaupun jumlah peserta pengajian sedikit kamu tidak boleh kehilangan semangat.

Ketiga, antara kamu dan peserta pengajian harus ada sambung-rasa, mawaddah fil qurba. (Sang kiai membawakan ayat mengenai ini yang sampai kini diingat Yusuf.) Kamu jangan sampai tergoda menjadi penceramah beken yang mengandalkan retorika hebat tetapi tidak berhasil membangun hubungan-rasa dengan jamaah. Akibatnya, jamaah datang berbondong-bondong, menikmati pidato, dan pulang tanpa kesan yang melekat di hati mengenai isi pidato yang mereka nikmati”.

Semua nasehat kiai sangat mengesankan bagi Mahmudi, khususnya yang ketiga. Ia selalu mengasah ketrampilan “membangun-rasa” dengan jamaahnya dan keterampilan itu yang menjadi daya tarik utama kekaguman jamaahnya, khsusunya Maha dan Engki.

Malam tadi Maha dan Engki mengikuti ceramah Mahmudi yang seperti biasanya lumayan ramai walaupun hanya berlangsung 45 menit. Ustadz yang ini tidak suka betele-tele; ia dengan lugas selalu menerapkan prinsip penggunaan kata tepat-guna (Qurani: qaulan sadida) dan ungkapan halus–tapi-tegas (Qurani: qaulan layyinan).

Di akhir ceramah Mahmudi membawakan dua ayat Al-Quran yang dilantunkan secara perlahan tetapi jelas (Arab: tartil) serta menerjemahkannya.  Sesuai kebiasaannya dia tidak menambahkan penjelasan apa-apa mengenai ayat yang dibacakan. Baginya, Quran punya cara sendiri untuk menyapa pendengarnya sehingga penafsiran memiliki risiko mendistorsi makna ayat. Lebih dari itu, baginya Quran memilik bahasa yang demikian uniknya sehingga setiap pendengar merasa pesannya secara eksklusif ditujukan bagi dirinya yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Kedua ayat itu adalah Quran (2:214-215):

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpakan kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan(, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi bagi kedua orang tua, kerabat, anak yaitim, orang miskin, dan rang-orang dalam perjalanan. Dan kebaikan saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”

Sambil pulang Maha yang suka spontan berkomentar: “Kok Ustadz Mahmudi tahu soal Aku ya. Lebaran lalu Aku hanya memberi ibuku 250 ribu dengan alasan lagi banyak keperluan. Padahal itu satu-satunya nafkah bagi orang tuaku tahun ini. Di hitung-hitung, 250 ribu hanya 5% dari gaji bulananku?”

Engki tidak menimpali karena sibuk dengan pikiran sendiri. Ia merasa kurang bakti kepada orang tua. Ketika lebaran lalu ia hanya memberikan orang tuanya 5 juta yang tengah dalam persiapan melakukan perjalanan Umrah: “Aku terlalu murah menghargai sugra”, pikirnya, terngiang ceramah Ustadz Mahmudi tadi……@

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

Legowo: Pendalaman Makna

[Diperbaharui: 16/10/18]

Kata legowo (istilah halus: legawa) berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap batin tertentu untuk menerima satu keadaan dengan lapang dada. Apa yang perlu segera dicatat adalah bahwa legowo adalah suatu: menerima atau menolak, menerima dalam satu cara, atau dengan cara lain yang bertentangan. Mengenai definisi legowo, pernyataan Ade Ilyasi berikut dapat dirujuk[1]:

Legowo. Bisa menerima apa yang berlaku pada dirinya dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Sabar, tidak mengeluh atas cobaan yang ada. Ikhlas, lapang dada menerima cobaan tanpa rasa emosi atau dendam. Pasrah, semua akan di serahkan kepada sang pencipta karena semua ada hikmahnya.

Paling tidak ada dua catatan mengenai definisi di atas. Pertama, kata legowo mengandung tiga unsur yang masing-masing mencerminkan suatu kebajikan spiritual tertentu: kesabaran, ketulusan dan pasrah. Ini jelas menyiratkan makna mendalam dari kata legowo dan pada saat yang sama menunjukkan sifat ekspresif bahasa Jawa. Kedua, dalam “definisi” di atas kata legowo lebih mengarah pada sifat pasif dan hanya terkait dengan cobaan.

Pertanyaannya adalah apakah kata itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan suatu sikap yang lebih aktif; misalnya, sebagai kesiapan-diri untuk mengambil risiko dari tindakan atau keputusan yang diambil sadar dan intensional. Jika jawabannya “ya” maka kata legowo dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas; termasuk misalnya, dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, frasa “kehidupan beragama dengan legowo”, misalnya, dapat diartikan sebagai sikap, perilaku atau praktik agama yang disertai unsur kesabaran, ketulusan atau keikhlasan dan tawakal atau berserah-diri:

  • sabar dalam menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya,
  • tulus dalam memasang niat beragama, dan
  • tawakal dalam menerima takdir Tuhan.

Beragama secara legowo dalam pengertian ini sejalan dengan ajaran qurani, ajaran berbasis otoritas tertinggi dalam Islam, Al-Quran:

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya (Quran 19: 65).

Padahal mereka (ahli Kitab: Umat Yahudi dan Umat Nasrani) hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Quran 98:5).

dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (Quran 5:11).

Untuk mengeksplorasi makna Legowo lebih lanjut  kita dapat mengambil kasus menarik terkait dengan pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian atas kasus tersebut; sebaliknya, tulisan ini hanya tertarik pada pemberitaan mengeai reaksi salah satu kandidat dalam menanggapi hasil pemilihan. Liputan media dalam kasus ini beragam tetapi berita utamanya dapat dirumuskan dalam kalimat singkat: “Ahok menerima kekalahannya dengan legowo, mengucapkan selamat kepada pemenang, dan menyebutkan kekalahannya sebagai kehendak Tuhan”.

Dalam kalimat itu dapat “dirasakan” hubungan-senafas antara legowo, pengakuan akan kelebihan pihak lain, dan ketetapan takdir. Dalam kalimat itu juga dapat “dirasakan” adanya unsur rendah hati (Inggris: humble, humility) dalam kata legowo. Sukar membayangkan sikap legowo dari orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati adalah salah satu matra kebajikan (Inggris: virtue, Arab: birr)[2] yang lebih mudah dipahami dari lawan katanya yaitu tinggi hati (Arab: takkbur, Inggris: pride). Istilah terakhir ini dikenal luas oleh umat beragama sebagai suatu sikap batin yang dianggap sebagai sumber, akar atau induk semua keburukan.

Sebagai kesimpulan, empat pernyataan berikut patut ditegaskan kembali:

  • Legowo adalah sikap batin untuk menerima situasi- betapa pun menyakitkan– dengan sabar, tulus dan pasrah;
  • Legowo mencerminkan kesiapan diri dalam menerima risiko dari tindakan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab;
  • Legowo adalah sikap batin yang sulit dibayangkan datang dari mereka yang kurang memiliki sikap rendah hati; dan
  • Legowo adalah suatu pilihan.

Pernyataan terakhir mengandung arti bahwa kita dapat menerima suatu peristiwa i yang telah terjadi atau menolaknya (dan ini mustahil), menerimanya dengan sabar atau tulus, atau dengan cara lain. Yang pasti, ada ketentuan takdir sebagaimana diungkapkan dengan padat dan indah dalam aforisme ketiga dari Al-Hikam:

Sensasi semangat tidak akan mampu menembus benteng takdir.

Mengenai aforisme ini, komentar Syekh Fadhallah berikut layak disisipkan di sini [3] untuk mengakhiri artikel ini:

Tak berguna! Bagaimanapun banyak energi yang Anda curahkan untuk maksud atau tujuan, itu tetap tidak akan tercapai jika tidak sesuai dengan keputusan Tuhan. Anda tidak akan memenangkan kehendak Anda di atas kehendak-Nya, yang telah menetapkan sifat yang terlihat dan tidak terlihat, dan menentukan nasib kita semua.

Demikianlah kedalaman makana spiritual kata legowo dalam konteksnya yang luas  …. @

[1] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120707193759AA3FrcK

[2] Lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/ dan https://uzairsuhaimi.blog/2016/01/01/rendah-hati/.

[3] Ibn Atthaillah, Al-Hikam, yang disertai ulasan Sech Fadhalla, Jakarta: Mandiri Abadi (2003).

 

 

Seri Uzair_on_Puasa: Bulan Penuh Rahmat

Ada hadits yang artinya kira-kira “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. Hadits ini sangat populer tetapi perlu dicatat bahwa statusnya tergolong lemah. Para ahli hadits, sebagaimana didokumentasikan dalam muslim.or.id, pada umumnya sepakat dengan kesimpulan ini: “di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya” (lihat, misalnya, https://muslim.or.id/22019-hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html)

Dangan berpuasa dalam Bulan Ramadhan kita dapat “berharap banyak” memperoleh tetapi juga “cemas” tidak memperoleh rahmat-Nya. Kenapa “berharap banyak” (Arab:thama’a)? Karena mamang Rabb kita Rahim; juga karena Ramadhan bulan penuh rahmah. Harapan ini dapat diperkuat dengan, misalnya, melaksanaan amalan-amalan unggulan puasa secara ikhlas: salat malam, tadarus, banyak merenung (i’tikaf), banyak berbagi, dan sebagainya. Tetapi kenapa harus cemas (Arab:khaufa)? Karena rahmat by definition adalah pemberian “langit”, Rabb, yang berada di luar kendali kita.

rahmat

Sumber: Youtube

Bahwa rahmat adalah “anugerah langit” dapat dilihat dari cara bagaimana kata rahmat digunakan dalam ayat al-Qur’an. Terjemahan lima ayat al-Qur’an berikut ini mudah-mudahan dapat membantu kita dalam mengapresiasi makna rahmat versi qur’ani:

  • …. Sekiranya bukan karena bukan karunia (Arab: fadhl) dan rahmat dari Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu) (4:83)
  • Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan sesuatu dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya (6:194)
  • Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan kekal di dalamnya (9:21)
  • …. Ketahuilah bahwa infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesunggguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (9:99)
  • Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (21:107)

Dari kutipan ayat di atas jelas sekali bahwa rahmat merupakan pemberian atau karunia Allah swt, bukan semata-mata hasil dari upaya manusiawi. Sebagai catatan, kutipan ke-5 menegaskan sine qua non risalah Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam, suatu penegasan yang menurut akal sehat totally incompatible dengan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Makna rahmat sebenarnya sangat mendalam karena terkait dengan dua nama ilahiah yaitu Rahman dan Rahim. Gambaran mengenai kedalamannya dapat dilihat dari kutipan karya Schuon (2006:128)[1] berikut:

Rahmah – a term that is most often translated as “Clemency” – implies more profoundly, as does the Sanskrit term Ananda, all the aspects of Harmony: Goodness, Beauty and Beatitude; and Rahmah is integrated into the Divine Essence itself, inasmuch as it is fundamentally none other than the radiating Infinitude of the Principle; an identity that the Koran expresses by saying: “Call upon Allah or call upon Ar-Rahman, to Him belong the most beautiful Names”.

Istilah Rahmah, seperti istilah Ananda dalam Sankerta, mengimplikasikan secara lebih mendalam dari apa yang terungkap dalam terjemahan umumnya yaitu “Pengampunan”, karena ia menyiratkan semua aspek Harmoni: Kebaikan, Keindahan dan Ketenangan. Rahmah terntegrasi ke dalam Esensi Ilahi sendiri karena pada dasarnya ia tidak lain dari pada pancaran Ketidakterbatasan dari Prinsip, sesuatu yang diungkapan yang dalam al-Qur’an sebagai: “Serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena dia mempunyai nama-nama yang baik (Asmaa’ul Husnaa)”[2].

Kedalaman makna rahmat juga terlihat dari kutipan karya Schuon (1998:64-65[3]) lainnya berikut ini (sengaja tidak diterjemahkan agar pembaca dapat mengapresiasi maknanya secara lebih baik serta merasakan rasa bahasa Schuon secara langsung):

The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits.

In the Names, Rahman and Rahim the divine Mercy faces human incapacity in the sense that cunsciousness of our capacity is, when coupled with trsut, the moral receptacle of Mercy. The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man.

Dari kutipan di atas jelas antara lain bahwa Rahman melengkapi unsur-unsur kebahagian di dunia-bawah-sini sementara Rahim menyiapkan benih-benih kebahagiaan untuk di dunia-atas-sana. Agaknya kita baru akan menyadari hal ini sepenuhnya ketika kita memperoleh kesempatan menikamati “buah-buahan” dan “pasangan hidup” di Surga kelak (Insyaallah):

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah:25).

Subhanallah!

[1] Schuon, Fritjhof, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom

[2] Al-Isra (110).

[3] Schuon, Fritjhof, Understanding Islam (1998), World Wisdom.

Kesadaran Kongkrit dan Syahadat

Tulisan singkat ini diilhami oleh tulisan singkat yang bertajuk the Alternative karya Schuon (18/6/1907–5/5/1988) yang memiliki nama Islam yang lumayan panjang: ʿĪsá Nūr ad-Dīn ʾAḥmad, al-Mālikī, ash-Shādhilī ad-Darqāwī al-ʿAlawī al-Maryamī[1]. Schuon adalah seorang Jerman kelahiran Swiss yang pernah diinisiasi sebagai murid suatu tarekt sufi oleh Syaikh Ahmad al-Alawi (1933). Yang terkhir ini dikenal sebagai orang suci abad ke-20. Sebagai pengikut tarekat sufi Schuon sempat menduduki jabatan muqaddam (1935) dan bahkan Syaikh (1936)[2]. Dalam kedudukannya sebagai Syaikh inilah ia seringkali membimbing muridnya melalui tulisan-tulisan singkat yang pada mulanya bersifat pribadi dan tidak disiapkan untuk dipublikasikan, termasuk the Alternative. Para kolega dan murid Schuon merasa perlu untuk mempublikasikan tulisan pribadi ini mungkin karena kedalaman isinya. The Alternative pada dasarnya terkait dengan ajaran Tahuhid, tepatnya mengenai kesadaran kongkrit dan makna batiniah Syahadat.

Menuju Ke Kesadaran Kongkrit

Schuon membuka tulisannya dengan menekankan perlunya beranjak dari gagasan abstrak (abstract notion) menuju kesadaran kongkrit (concrete awareness) mengenai apa yang merupakan keyakinan-dasar kita. Bagi Schuon inilah jalur yang harus ditempuh jika kita ingin beranjak dari kemunafikan (hypocrisy) menjadi ketulusan (sincerity). Jika kita, misalnya, mengakui bahwa Tuhan yang paling utama dari segala sesuatu dan bahwa akhirat (hereafter) lebih baik dari dunia (here-below) tetapi berprilaku seolah-olah tidak mengakuinya, maka kita masih tergolong munafik. Bagi Schuon inilah bentuk kemunafikan yang paling umum: berprilaku tidak sesuai dengan pengakuan.

Hemat penulis pernyataan Schuon ini sejalan dengan al-Baqarah Ayat 8: “Dan di antara manusia ada yang berkata, “kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. Dalam konteks ini, pengakuan beriman masih berupa gagasan abstrak dan belum mencerminkan kesadaran kongkrit. Fakta bahwa hampir semua ayat pada lembar ke-dua al-Qur’an (dan banyak sekali ayat serupa) berbicara mengenai kemunfikan, bagi penulis mengisyaratkan pentingya mewaspadai sifat-sifat kemunafikan yang melekat dalam diri kita yang mungkin kita sadari. Wallahu’alam.

Untuk memperoleh gambaran lengkap gagasan Schuon mengenai topik ini, berikut ini disajikan kutipan langsungnya[3]:

It is necessary to pass from the abstract notion to concrete awareness; this is the passage from hypocrisy to sincerity. Most men who admit that God takes precedence over everything and that the hereafter is better than the here-below behave as if they did not admit it; this is the most usual hypocrisy.

Syahadat

Bagian selanjutnya dari tulisan Schuon terkait dengan Syahadat, formulasi teologis bagi Agama Islam yang menurut Schuon mengandung kebenaran universal. Pernyataan Syahadat adalah la ilaha illa Allah, tidak ada (la) Tuhan selain (illa) Allah. Pernyataan ini terdiri dari dua bagian: yang pertama merupakan penolakan atau penegasian (Nafy) Tuhan, yang kedua menunjukkan afirmasi (Ithbāt) bahwa Allah sebagai (satu-satunya) Tuhan.

Formulasi ini mengekspresikan makna metafisis mengenai alternatif antara yang Haq (Riil) dengan yang ilusi atau tidak atau kurang riil. Bagi Schuon, makna metafisis saja tidak cukup: baginya, formulasi itu juga menujukkan alternatif antara dunia dan akhirat , antara Ingat (Remembrance) dan lalai (headlessness), dan antara dhākirūn (orang yang berdzikir) dan gāfilūn (orang yang lalai). Penulis menduga, gagasan mengenai kelebihan kehidupan akhirat lebih dari dunia merupakan salah satu ajaran pokok semua agama; dalam konteks Islam hal itu dinyatakan secara tegas dalam al-‘Ala (16-17): “Sedangkan kamu memilih kehidupan dunia” (16), “padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (17).

Dalam bagian Nafi dari Syahadat kata la menyimbolkan sisi keterpisahan, ilusi, dan kesementaraan (impermanency) dari dunia. Sebaiknya, kata illa merujuk kepada sisi dunia yang partisipatif, simbolik dan menyatukan (unitif), tepatnya segala sesuatu yang memungkinkan arketif langit tampak. Simbolisme ini mencakup apa saja yang secara alamiah mampu lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, terlepas dari sifatnya apakah subyektif atau obyektif, apakah alamiah atau spiritual. Dalam bagian Ithbāt kata illā merujuk pada unsur ciptaaan dalam alam surgawi-akhirat, Nama Allah jelas mengekspresian yang Tak-tercipta (the Uncreated).

Alinea terkhir merupakan terjemahan bebas penulis dari kutipan berikut ini[4]:

In the Nafy the word lā symbolizes the separative, illusory, and impermanent side of the world; the word ilāha refers then to the participative, symbolic, unitive side, that is, to things that allow celestial archetypes to appear through them; this symbolism encompasses everything that by its nature brings us nearer to God, whether these values are objective or subjective, natural or spiritual. In the Ithbāt the word illā symbolizes the created element within the celestial hereafter; the Name Allāh very clearly expresses the Uncreated.

Ghāfil V.S Dhākir

Di antara orang-orang percaya, dhākirūn adalah mereka yang menerima Syahadat dengan tingkat ketulusan tertentu dan ini bertentangan dengan ghāfilūn yang bersyahadat tanpa ketulusan. Untuk mewujudkan ketulusan spiritual adalah perlu bagi jiwa untuk beranjak dari pemikiran abstrak ke kesadaran kongkrit.

dzikir

Sumber: Google Image (dzikir)

Mengenai keindahan duniawiah, perspektif seorang ghāfil (orang lalai) sangat berbeda dengan seorang dhākir (orang ingat): bagi yang pertama itu melekatkan dirinya dengan dunia sementara bagi yang kedua menghapuskan dirinya dari dunia. Keindahan duniawi bagi dhākir lebih mendekatkan dirinya pada surga karena ia tahu bahwa itu memanifestasikan Rahmah ilahi dan karena ia melihat bagaimana Rahmah itu sudah indah dalam manifestasi duniawiahnya. Ia memilih Rahmah bukan dunia.

Pertanyaan restropektif

Kita, Insyaallah, termasuk orang yang mengakui akhirat lebih baik dari dunia. Pertanyaannya, apakah prilaku kita sehari-hari sejalan dengan pengakuan itu dalam arti lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia? Jika jawabannya positif maka insyaalah, kita “aman”; otherwise, jangan-jangan kita termasuk orang munafik tanpa kita sadari. Naudzubillah… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/

[2] Frithjof_Schuon Frithjof Schuon and the Perennial Philosophy, 2010, © World Wisdom, Inc

[3] “Letters” © World Wisdom, Inc / For Personal Use Only

[4] Ibid