LIMA PINTU MENUJU ARSITEKTUR REALITAS

Dari Pertanyaan tentang Ada menuju Tanggung Jawab

What began as a question about reality has become a question about responsibility.

Apa yang bermula sebagai pertanyaan tentang realitas, kini—setidaknya untuk sementara—berujung pada pertanyaan tentang tanggung jawab.

LIMA BUKU. LIMA PINTU. SATU ARSITEKTUR REALITAS.

Beberapa bulan terakhir, saya terus bergulat dengan sebuah pertanyaan yang sepintas terdengar sederhana:

Apa itu realitas—dan apa yang dimintanya dari kita?

Semakin lama pertanyaan itu direnungkan, semakin jelas bahwa ia tidak dapat dijawab dengan satu konsep atau satu sudut pandang. Ia justru membuka pertanyaan-pertanyaan lain.

Apa sebenarnya yang kita sebut nyata? Bagaimana kita mengetahuinya? Apakah yang aktual merupakan seluruh kemungkinan yang ada? Apakah realitas bersifat statis, atau terus diperbarui? Dan akhirnya: jika kita mulai memahami sesuatu tentang realitas, apa konsekuensinya bagi cara kita hidup?

Perlahan saya menyadari bahwa kelimanya bukan pertanyaan yang terpisah.

Mereka adalah lima pintu menuju arsitektur yang sama.

Pintu I — Keberadaan

Apa itu realitas?

Reality is deeper than what appears.

Kita biasanya memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang sudah jelas.

Pohon adalah pohon. Tubuh adalah tubuh. Dunia adalah apa yang terlihat di hadapan kita. Yang nyata seolah identik dengan apa yang dapat kita lihat, ukur, dan klasifikasikan.

Tetapi Fuṣūṣ al-ikam Ibn ʿArabī mengusik kemapanan itu.

Ia mengajak kita bertanya kembali: apakah yang tampak sudah mencakup seluruh yang nyata?

Pintu pertama karena itu adalah Pintu Keberadaan—pintu ontologis. Ia tidak meminta kita menyangkal dunia yang terlihat. Ia meminta kita untuk tidak menganggap bahwa yang terlihat adalah keseluruhan realitas.

Do not deny the visible.
Do not mistake it for the whole of reality.

Begitu pertanyaan ini dibuka, dunia tidak lagi tampak sebagai kumpulan benda yang berdiri sendiri.

Realitas memperoleh kedalaman.

Tetapi segera muncul persoalan berikutnya.

Jika realitas lebih dalam daripada apa yang tampak, bagaimana kita mengetahuinya?

Pintu II — Pengetahuan

Bagaimana kita mengetahui realitas?

Information can be processed.
Reality must be encountered.

Di sinilah perjalanan berpindah dari ontologi menuju epistemologi—dari pertanyaan tentang apa yang ada menuju pertanyaan tentang bagaimana manusia mengetahui apa yang ada.

Pertanyaan ini menjadi semakin penting pada zaman ketika kecerdasan sering disamakan dengan kemampuan memproses informasi.

Mesin dapat menghitung. Algoritma dapat mengenali pola. Artificial intelligence dapat menghasilkan teks, gambar, prediksi, dan jawaban dengan kecepatan yang semakin mengagumkan.

Tetapi apakah mengetahui identik dengan memproses informasi?

Manusia tidak hanya menerima data tentang realitas. Kita mengalami, menafsirkan, memberi makna, meragukan, berharap, mencintai, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita ketahui.

Karena itu Pintu II membawa satu pengingat:

Knowing is more than computation.

Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya.

Jika apa yang aktual bukan seluruh realitas, mungkinkah realitas mengandung sesuatu yang belum menjadi aktual?

Pintu III — Kemungkinan

Apa yang bisa menjadi nyata?

The actual does not exhaust the possible.

Kita mudah mengira bahwa yang ada sekarang adalah ukuran dari apa yang mungkin.

Padahal aktualitas hanyalah apa yang telah menjadi nyata.

Ia belum tentu menghabiskan seluruh kemungkinan.

Pintu ketiga membawa kita ke wilayah imkān—kemungkinan, kontingensi, dan potensi. Di sini perhatian beralih dari apa yang sudah ada menuju apa yang dapat menjadi ada.

Pertanyaannya pun berubah.

Bukan lagi hanya:

Apa yang ada?

Tetapi:

Apa yang mungkin menjadi nyata?

Ini membawa implikasi yang jauh melampaui metafisika.

Manusia pun tidak harus dipenjara oleh aktualitas dirinya hari ini. Masyarakat tidak harus dianggap identik dengan kondisinya sekarang. Masa depan tidak harus diperlakukan sebagai pengulangan masa lalu.

What is actual is real.
But it is not the measure of everything that is possible.

Namun kemungkinan saja belum menjelaskan bagaimana realitas terus hadir.

Untuk itu kita perlu memasuki pintu berikutnya.

Pintu IV — Pembaruan

Bagaimana jika realitas terus-menerus diperbarui?

To exist is not merely to remain.
It is to be given again.

Tajallī membuka Pintu Keempat.

Di sini realitas tidak lagi dibayangkan sebagai gudang benda yang sudah selesai diciptakan lalu sekadar bertahan.

Realitas mulai dipandang sebagai penerimaan yang terus diperbarui.

Apa yang ada tidak memiliki keberadaannya dari dirinya sendiri. Keberadaan bukan kepemilikan absolut yang sekali diperoleh lalu menjadi milik kita.

Ia diterima.

Dan kesadaran ini mengubah cara kita melihat sesuatu yang paling biasa sekalipun: napas, waktu, kemampuan berpikir, kesempatan bekerja, perjumpaan dengan orang lain, bahkan datangnya satu hari baru.

Apa yang tampak biasa mulai terlihat sebagai sesuatu yang diberikan.

Existence is gift before it becomes possession.

Tetapi di titik inilah metafisika menghadapi pertanyaan yang tidak dapat dihindarinya.

Jika keberadaan adalah sesuatu yang diterima—

apa yang harus dilakukan oleh sang penerima?

Maka terbukalah pintu kelima.

Pintu V — Tanggung Jawab

Apa yang diminta realitas dari kita?

What is received as gift must be carried as trust.

Barangkali inilah pertanyaan yang diam-diam dituju oleh empat pintu sebelumnya.

Jika keberadaan kita tidak berasal dari diri kita sendiri; jika kemampuan, kesempatan, kecerdasan, kebebasan, dan kehidupan kita diterima sebelum dapat digunakan—maka metafisika tidak boleh berhenti pada pemahaman.

Ia harus menjadi tanggung jawab.

Di sinilah faqr bertemu dengan amānah.

Faqr mengatakan sesuatu yang radikal mengenai kondisi makhluk:

kita bukan sumber bagi diri kita sendiri.

Kita ada, tetapi tidak mengadakan diri sendiri. Kita bertindak, tetapi kemampuan untuk bertindak tidak kita ciptakan dari ketiadaan. Kita memiliki sesuatu, tetapi kepemilikan kita tidak pernah berarti bahwa kita adalah sumber terakhir dari apa yang kita miliki.

Namun faqr tidak menjadikan manusia pasif.


Justru di sinilah amānah masuk.

Apa yang diterima menjadi sesuatu yang harus diemban.

Kemampuan menjadi tanggung jawab.
Pengetahuan menjadi tanggung jawab.
Kebebasan menjadi tanggung jawab.
Kekuasaan menjadi tanggung jawab.

Faqr describes the condition of the creature.
Amānah describes the vocation of the human being.

Dengan demikian, manusia bukan sovereign yang berdiri sendiri.

Tetapi manusia juga bukan wadah pasif tanpa kehendak dan tanggung jawab.

Kita adalah penerima yang harus menjawab.

We are receivers—but we are answerable receivers.

Dari Realitas menuju Tanggung Jawab

Kini kelima pintu mulai memperlihatkan hubungan di antara mereka.

Keberadaan bertanya: Apa yang nyata?

Pengetahuan bertanya: Bagaimana realitas menjadi dapat diketahui?

Kemungkinan bertanya: Apa yang dapat menjadi nyata?

Pembaruan bertanya: Bagaimana keberadaan terus diterima?

Tanggung Jawab bertanya: Bagaimana sang penerima seharusnya menjawab?

Maka perjalanan itu bergerak:

Realitas → Pengetahuan → Kemungkinan → Pembaruan → Tanggung Jawab

Atau, dalam bahasa yang lebih personal:

I encounter reality.
I seek to know it.
I discover its possibilities.
I learn to receive it anew.
I become responsible for my response.

Pintu kelima karena itu tidak sekadar menambahkan satu ruang baru ke dalam arsitektur.

Ia mengubah makna seluruh perjalanan.

Sebab setelah sampai pada tanggung jawab, kita menyadari bahwa tujuan memahami realitas bukan hanya agar kita mempunyai gambaran dunia yang lebih benar.

Pemahaman harus mengubah cara kita hadir di dalamnya.

Understanding without response is incomplete.
Knowing must become care.

Masuklah melalui Pertanyaan yang Memanggilmu

Lima buku ini lahir pada waktu yang berbeda dan dari pertanyaan yang berbeda. Pada awalnya saya sendiri tidak sepenuhnya melihat bahwa mereka sedang membentuk sebuah rangkaian.

Baru setelah kelimanya berdiri berdampingan, pola itu mulai terlihat.

Mungkin demikian pula cara sebuah perjalanan intelektual bekerja.

Kita tidak selalu melihat arsitekturnya ketika sedang menyusun batu demi batu.

Kadang-kadang bentuk keseluruhannya baru tampak setelah kita berjalan cukup jauh.

Maka lima pintu ini tidak harus dimasuki dengan urutan yang sama oleh setiap orang.

Seseorang mungkin dipanggil oleh pertanyaan tentang realitas.

Yang lain oleh persoalan pengetahuan.

Yang lain lagi oleh kemungkinan, pembaruan, atau tanggung jawab.

Tidak masalah dari pintu mana kita mulai.

Yang penting adalah keberanian untuk masuk.

Enter through the question that calls you.

Baca satu, dan kita memasuki sebuah pertanyaan.

Baca kelimanya, dan mungkin sesuatu yang lebih besar perlahan mulai tampak:

bukan hanya lima buku,

bukan hanya lima pertanyaan,

melainkan satu arsitektur realitas—dan sebuah pertanyaan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya.

**Nothing is ours by origin.

Everything is ours by trust.**


Bencana Alam dan Mata-Batin: Catatan Akhir 2018

Anak Luar Biasa

Catatan akhir tahun kali ini sulit mengabaikan musibah yang baru saja terjadi, musibah yang merupakan sidik jari dari karya seorang anak, Anak Krakatau. Sidik jarinya tersebar di mana-mana di sekitar TKP. Sidik jari itu antara lain berupa puing-puing bangunan, reruntuhan pepohonan, sekitar 1,500 saksi mata yang terluka, dan lebih dari 400 jenazah manusia[1]. Singkatnya, sidik jarinya banyak dan kasat mata. Agaknya tidak ada celah bagi anak itu untuk mengelak dari “tuduhan” publik.

“Anak” ini luar biasa. Proses kelahirannya berlangsung lama dari Agustus 1883 sampai Februari 1884, melalui letusan “perut ibu” yang disertai tsunami sehingga menelan korban setidaknya 36,417 jiwa manusia[2]. Letusan ini dianggap paling mematikan dan paling merusak. Tetapi ini dalam sejarah Indonesia sebenarnya kedua terbesar setelah letusan Gunung Tambora yang terjadi tahun 1815 (lihat Tabel).

Dari tabel di atas tampak Indonesia memberikan kontribusi “lumayan”: 2 dari 12 letusan gunung terdahsyat.

Kembali ke karya Anak Krakatau. Karya terakhirnya  diciptakan 22 Desember 2018 yang lalu dengan cara meletuskan diri. Cara ini bagi Anak Krakatau sesuatu yang biasa-biasa saja, normal, alamiah, atau sesuai kodratnya. Letusan ini memicu longsor di bawah laut yang bagi tanah longsor normal sesuai kodratnya. Longsor ini memicu tsunami yang bagi laut juga sesuatu yang normal. Tsunami itulah yang meninggalkan sidik jari yang bermasalah– tepatnya dimasalahkan oleh ras manusia—bagi “kemanusiaan”. Kita menyebutnya tragedi kemanusiaan. (Berhakkah kita menyebut demikian?)

Terlepas dari masalah bahasa, yang jelas “tragedi” ini riil, masif dan dikhawatirkan belum akan segera berakhir[3].  Yang juga jelas, tragedi ini tragedi ini mendorong semua komponen bangsa untuk bersatu-padu berupaya untuk mengatasinya. Kita menyaksikan keseriusan pemerintah, kedermawanan pihak swasta, dan keikhlasan para relawan baik yang bersifat individu maupun yang tergabung dalam NGOs, semuanya berupaya untuk mengatasi tragedi ini. Jangan diabaikan peran remaja dan kaum ibu yang secara spontan menggalang dana untuk membantu para korban. Inilah modal sosial bangsa ini yang besarnya tampak ketika terjadi ketika tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

…. besarnya modal sosial bangsa ini tampak ketika terjadi tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

Tragedi ini riil dan masif sehingga memperoleh sorotan media masa internasional secara luas. Demikian riilnya tragedi ini sehingga ia mengundang rasa empati, belasungkawa dan pernyataan siap membantu dari tokoh-tokoh dunia: PM Australia, PM India, Wakil PM Malaysia, Presiden AS, Presiden dan PM Rusia, Ratu Inggris dan Suami, Presiden dan Menlu Turki, dan Presiden Taiwan. Sekadar untuk memberikan gambaran mengenai ucapan belasungkawa mereka, berikut ini ungkapan dari Menlu Turki: “We wish the mercy of Allah be upon those who lost their lives, speedy recovery to the injured and convey our condolences to the brotherly people of Indonesia”.

Bukan Satu-satunya

Tragedi Tsunami Selat Sunda riil dan masif. Tetapi ini bukan satu-satunya bencana yang melanda Indonesia selama 2018. Sebelumnya terjadi dua bencana lainnya yaitu Gempa Lombok dan Tsunami Palu dan Sekitar. Yang pertama berupa gempa darat yang berkekuatan 6,4 SR di Pulau Lombok pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Pusat gempa terletak sekitar 47 kilometer di Timur Laut Kota Mataram dengan kedalaman 24 kilometer. Guncangan gempa ini dirasakan di seluruh Pulau Lombok, Pulau Bali dan Pulau Sumbawa. Korban dilaporkan 20 orang meninggal dunia dan sekitar 10,000 rumah rusak Berat[4].

Bencana kedua dimulai dengan gempa bumi di Semenanjung Sulawesi pada tanggal 28 September 2018. Pusat gempa terletak di kawasan pegunungan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dengan kekuatan 7.5. diikuti dengan gempa susulan 6.1. Gempa dirasakan di di Samarinda (Kalimantan Timur) dan Tawau (Malaysia). Bencana diikuti dengan tsunami dekat Selat Makassar sekitar 30 menit kemudian. Dahsyatnya bencana ini– gabungan gempa bumi dan tsunami—terlihat dari besarnya korban jiwa manusia: 2,245 meninggal, 4,488 terluka dan 1,075 hilang. Korban ini tersebar di empat kota/kabupaten: Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong[5] .

Yang perlu dicatat, semua bencana ini mempertontonkan selain tragedi kemanusiaan tetapi juga kebesaran modal sosial Bangsa Indonesia.

Korban dan Anugerah

Kenapa bencana alam sering melanda Indonesia? Karena wilayah geografis Indonesia terletak dalam jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Dengan kondisi ini Indonesia termasuk rawan bencana alam. Ini takdir bangsa ini.  Yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa kondisi geologis yang rawan ini tidak hanya meminta korban tetapi juga melimpahi banyak anugerah. Anugerah itu antara lain berupa kesuburan lahan pertanian, kekayaan hutan, aneka-ragam hayati-nabati, kekayaan mineral, dan sebagainya.

Respons budaya berupa “sesajen” bagi gunung atau “tempat keramat” dari masyarakat tradisional dapat dilihat sebagai perwujudan kesadaran kolektif mengenai aspek positif bencana berupa limpahan anugerah alam ini. Agama tentu dapat memberikan kerangka teologis yang sesuai tetapi semangatnya sama yaitu sikap syukur.

Bencana dan Syukur. Apa ada hubungan antara keduanya? Bagi yang memiliki perspektif modern jawabannya negatif: tidak ada hubungan antara keduanya; “ngak nyambung”, istilahnya. Bagi orang beragama jawabannya positif: dalam analisis terakhir setiap peristiwa, termasuk bencana alam, terjadi karena izin-Nya. Dalam bahasa teologis: “Tuhan adalah sebab efisien setiap peristiwa”.

Atas dasar pemikiran semacam itu orang beragama akan melakukan upaya maksimal untuk mengatasi akibat bencana alam tetapi disertai doa memohon perlindungan kepada Penguasa-alam.

Malampaui al-Kaun

Secara teknis geologis kasus Tsunami Palu dan Tsunami Selat Sunda konon berbeda. Dalam kasus pertama tsunami dipicu oleh Gempa Bumi (seperti halnya Tsunami Aceh akhir 2004), sementara yang kedua oleh longsor bawah laut akibat letusan gunung.

  • Kasus Pertama: Gempa Bumi —>Tsunami;
  • Kasus Kedua: Letusan Gunung —> Longsor di Bawah Air —> Tsunami

Pertanyaannya: Apa faktor yang memicu gempa bumi (kasus pertama) atau letusan gunung (kasus kedua)? Sains tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

Lalu apa jawabannya?

Penulis tidak dapat menjawabnya tetapi berkeyakinan masing-masing kita dapat menjawabnya, tepatnya merasakannya.

Upaya untuk merasakan adanya faktor yang memicu gempa bumi atau letusan gunung dapat dimulai dengan mencermati istilah al-kaun yang menurut para sufi mencakup semua apa yang dapat kita lihat, kita dapat rasakan dan dapat kita ukur. Jadi termasuk dalam al-kaun ini adalah topik yang kita bicarakan: gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, dan tsunami. Mata fisik hanya mampu menjangkau al-kaun ini; demikian juga Sains.

Tetapi manusia berpotensi melampaui al-kaun ini. Rahasianya, menurut para sufi, kita memiliki selain mata-lahir juga mata-batin (Arab: bashirah). Sayangnya, daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”. Untuk menghalaunya kita perlu cahaya makrifat.

…. daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”.

Agar memperoleh sedikit gambaran mengenai hal berikut ini disajikan terjemahan Hikmah ke-14 dari hikmah ke-14 Al-Hikam karya Ibn Athaillah (Serambi, 2003):

Siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya, dan ‘surya” makrifat terhalangi baginya oleh “awan” benda-benda ciptaan.

(Faman raa al-kaun walam yasyhad fihi ao ‘indahu ao qablahu ao ba’dahu faad ‘a wazahu wujudul anwar, wahjibatu ‘anhu syumusul al-ma’arifi bisuhubi al-autsar).

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sunda_Strait_tsunami.

[2] https://www.liputan6.com/news/read/3855865/letusan-gunung-krakatau-1883-guncangkan-dunia-hingga-bulan-menjadi-biru.

[3] Citra satelit NASA memperkuat kekhawatiran ini.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Lombok_Juli_2018.

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sulawesi_earthquake_and_tsunami..

← Back

Thank you for your response. ✨

Selawat: Belajar dari Cicit Rasul SAW

Inti Selawat adalah doa kepada Allah untuk Rasul SAW. Betapa pun tingginya penghormatan dan kecintaan Umat kepada Rasul SAW, doa mereka tetap ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada Rasul SAW. Inilah contoh kongkret ketegasan ajaran keesaan Tuhan (tauhid) dalam Islam. Mengenai hal ini teks suci sangat eksplisit: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya”. Katakalah (Muhammad),” Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat (Quran72:20-21)”.

Perintah berselawat dalam Salat (tasyahhud) singkat saja: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad”. Tetapi singkatnya perintah ini tidak mengurangi hormat dan cinta Umat kepada nabinya. Mereka bahkan mengembangkan berbagai cara untuk mengekspresikan kecintaan mereka melalui puisi, nyanyian (Qasidah), kaligrafi, dan berbagai media ekspresi budaya lainnya. Karya Qasidah yang berjudul Burdah karya Al-Busyiri (1213-1296) dari Mesir[1], misalnya, sampai sekarang masih sangat populer di kalangan Umat. Burdah adalah buah 

Salah satu ekspresi kecintaan Umat kepada nabinya dicontohkan dalam Selawat Iman Ali Zainal Abidin (lahir 658/659 atau tahun 38 Hijriyah). Iman ini adalah cucu Ali RA melalui Husain RA; jadi, cicit Rasul SAW (memalui Fathimah RA). Selawat Imam ini tercantum dalam Kitab Ash-Sahifah As-Sajjadiyyah[2]. Sebagian ulama permulaan sangat menghargai kitab ini dan bahkan menyebutnya “Saudara Perempuan Al-Quran”. Bagi kebanyakan sebutan ini mungkin berlebihan tetapi Ling (ibid: xlxiii) memberikan penjelasan yang menarik:

Jika sebagian ulama permulaan merujuk Shahifah sebagai “Saudara Perempuan Al-Qura, sebagian alasannya mungkin terletak pada mosaiknya mengekspresikan keragaman spiritulaitas yang secara akurat merefleksikan model Al-Quran dan Nabi bagi kesempurnaan manusia.

Melalui Selawatnya Imam ini agaknya bermaksud tidak hanya mendidik Umat dalam hal berselawat (agar tidak terlalu “pelit”), tetapi juga menggambarkan aspreasi mendalam terhadap kedudukan, sepak terjang dan perjuangan Rasul SAW selama hidupnya.

Di bagian akhir selawatnya, Imam menyinggung isu syafaat tetapi dalam koridor tauhid yang tegas dan sekedar berupa doa. Inti doanya dua: (1) Doa agar Rasul SAW diberikan derajat tertinggi di akhirat kelak, lebih tinggi bahkan dari para malaikat dan nabi-nabi lain, dan (2) Doa agar dengan kedudukan tertinggi itu Rasul SAW diberikan kuasa untuk memberikan syafaat kepada Umat. (Sebagai catatan, yang pertama juga merupakan doa Umat ketika habis mendengarkan azan.)

Untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai doa Imam, berikut disajikan terjemahan selawatnya lengkapnya. 

Terjemahan Selawat

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami Nabi Muhammad SAW yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, dengan kusa-Nya yang melampaui segala hal termasuk berat, yang tak luput dari pada-Nya meskipun itu halus.

Kemudian Dia menjadikan kami sebagai Umat yang terakhir atau Umat yang lalu, yang mengangkat kami sebagai saksi atas yang membangkang, dan memperbanyak jumlah kami atas Umat lainnya yang lebih sedikit, karena karunia-Nya.

Ya Allah, limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad kepercayaan-Muyang menyampaikan wahyu-Mu yang paling unggul dari ciptaan-Mua, yang jadi pilihan-Mu di antara hamba-hamba-Mu iman kasih sayang, pemimpin kebaikan, kunci keberkahan.

Berbekal pertolongan-Mu ia bangkit menantang mereka dan menyerang mereka di tengah-tengah kampung mereka, hingga menanglah agama-Mu dan kalimat-Mu tetap tinggi nan agung meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Sebagaimana ia telah bersusah-payah memperjuangkan perintah-Mu, mempertaruhkan raganya demi Engkau, dalam menempuh segala bahaya, menyeru kerabat dan kaumnya ke jalan-Mu.

Ia memerangi sanak keluarga demi rida-Mu, memutuskan tali keluarga demi menghidupkan agama-Mu.

Ia menjauhkan orang-rang yang dekat kepadanya karena bantahannya, dan mendekatkan orang-orang yang jauh karena penerimaannya kepada-Mu, mengikat tali persaudaraan dengan orang-orang jauh demi Engkau, dan memusuhi orang-orang yang dekat demi Engkau.

Ia menyibukkan dirinya dalam menyampaikan risalah agama-Mu, membebaninya dalam menyeru mereka ke agama-Mu, dan giat memberi nasehat kepada mereka yang menerima seruan-Mu.

Dan hijrah ke negeri yang asing ke tempat nan jauh dari kampung halaman demi menegakkan dan mengagungkan agama-Mu, dan menundukkan orang-orang kafir. Sehingga lebih mudah baginya dalam melakukan apa yang harus ia lakukan terhadap musuh-musuh-Mu, dan kian sempurna pula dalam mengemban tugas melindungi wali-wali-Mu.

Ya Allah, angkatlah derajat Nabi Muhammad sebagai balasan dan pengorbanannya demi Engkau ke tempat yang tertinggi di dalam surga-Mu, di mana tak ada satu pun yang dapat membandingkan bahkan malaikat, demikian nabi yang diutus.

Perkenankanlah ia memberi syafaat kepada keluarganya yang suci dan para umatnya yang beriman sebaik-baik apa yang telah Engkau janjikan.

Wahai yang menepati janji dan menyempurnakan ucapan, Wahai yang mengubah kesalahan menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah dan Maha Agung, Maha Penyantun dan Mahamulia.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Burdah

[2] Ash-Sahifah As-Sajjadiyya: Kumpulan Doa-doa Mustajab Imam Ali Zainal Abidin AS (2004), Penerbit Lentera.

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di: https://drive.google.com/open?id=1YQeytKP5E5J-vEPkA-cTF7qtr7QJ6NFy 

← Back

Thank you for your response. ✨


 

 

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

← Back

Thank you for your response. ✨

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

← Back

Thank you for your response. ✨