Tiga Puisi Misteri


Puisi 1: Misteri Keberadaan

Menurut teks suci[1]:

“Dia Allah Yang tiada Tuhan Selain Dia;

Dia Mengetahui yang gaib dan yang nyata;

Dia-lah ar-Rahmân dan ar-Rahîm”.

“Dia Allah Yang tiada Tuhan Selain Dia;

al-Malik, al-Quddûs, as-Salâm, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-‘Azîz, al-Jabbâr, al-Mutakabbir;

Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

“Dia Allah, al-Khâliq—al-Bâri, al-Mushawwir;

Milik-Nya al-Asmâ al-Husnâ;

Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan di bumi dan Dia al-Azîz al-Hakîm”.

Dia (Hua)[2]:

Esensi di balik sifat-sifat;

Prinsip tertinggi sejauh ia adalah dirinya sendiri;

Misteri keberadaan, esensi, kondisi-Nya yang sebenarnya.

Tuhan (Allah):

Prinsip Tertinggi sejauh ia memuat segala sesuatu;

Misteri mengenai Ketuhanan.

Maha_Suci_Dia!

Dia Misteri Keberdaan, Misteri Ketuhanan, Yang Absolut, tak terjangkau

Bagi-Nya sejumlah nama yang merefleksikan diri-Nya,

Nama-nama yang eksklusif, al-Asmâ al-Husnâ[3],

termasuk ar-Rahmân, prinsip penciptaan[4];

Dengan prinsip itu terciptalah semua makhluk,

semua yang relatif, Maya, all non-divined created being.

Subhaanallah! … @

[1] Al-Hasyr ayat 22-24, Tafsir Al-Mishbah Volume 14, Lentera Hati.

[2] Frithjof Schuon (2002), Transfigurasi Manusia, halaman 165-166, Qalam.

[3] Firman-Nya: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahmân…!”

[4] Menurut Ibu ‘Arabi ar-Rahmân lebih mendekati prinsip ontologis, prinsip penciptaan dari pada prinsip etis sebagaimana dipahami secara umum. Hemat penulis pandangan ‘Arabi ini sejalan dengan makna 2-3 ayat pertama Al-Fatihah.

puisi1.png

Sumber: Google Image

Puisi 2: Misteri Kebahagiaan

Semua berasal dari Dia yang Awal (al-Awwal) dan kembali kepada Dia yang Akhir (al-Akhir).

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râjiûn[1].

Dia adalah α dan ф untuk semua.

 al-Awwal, seperti seorang bijak[2] mencitrakannya:

Prinsip Tertinggi selama ia ‘belum’ menjadi Manifestasi, dan selama Keabadiannya ‘menghendaki’ Pancarannya.

Misteri mengenai asal usul, dari yang sempurna yang primordial.

 al-Akhir, seperti orang bijak itu[3] merumuskannya:

Prinsip Tertinggi selama ia ‘telah’ memanifestasi, dan sejauh keabsolutannya ‘menghendaki’ penyatuan.

Misteri mengenai kebaikan terakhir, dari

Keheningan abadi.

 al-Awwal, sumber segala.

Terimalah kebenaran ini tanpa bertanya bagaimana, bilâ kaifa.

Percayalah! Semua kita adalah penandatangan perjanjian primordial:

Alastu birabbikum qâlû balâ syhaidnâ[4].

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami bersaksi”

al-Akhir, tujuan akhir segala.

Dia lah pusat gravitasi segala.

Ke arah-Nya semua bergerak; sadar atau tidak; suka rela atau terpaksa

Dia lah sumber kerinduan hakiki

Dia yang senantiasa memanggil tanpa suara (silence call) dan ‘obyek’ cinta sebenarnya.

Hanya al-Akhir yang tak-terbatas itu yang dapat memuaskan dahaga cinta manusia yang rentangnya juga tak-terbatas.

Selain Dia— termasuk kekayaan, kekuasaan, dan keindahan material— adalah instrumental, intermediate, temporal, parsial, rapuh, ‘menipu’.

Sengsaralah mereka yang keliru memilih obyek cinta!

Berbahagialah mereka yang telah memilih secara tepat al-Akhir sebagai obyek cinta!

Berbahagialah mereka yang mampu menjaga keterhubungan dengan al-Akhir!

Yaitu mereka yang mendirikan salat secara sempurna, berdzikir tanpa jeda, dan bertafakkur dengan rendah hati.

Berbahagialah mereka yang mampau mencapai puncak kebahagiaan,

Yaitu mereka yang layak merespon secara positif udangan-Nya:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”[5]

Yaitu mereka yang mampu merealisasikan “berjumpa” dengan Rab-nya, liqâa rabbihi[6] .

Maa_Syaa_Allah! ….. @

[1] Al-Baqarah (156)

[2] Frithjof Schuon (2002), Transfigurasi Manusia, halaman 165, Qalam.

[3] ibid

[4] Al-‘Arâf (172)

[5] Al-Fajr (27-30)

[6] Al-Kahf (110)

puisi2.png

Sumber: Google Image

Puisi 3: Misteri Keterhubungan

Ada satu pulau terpencil:

berudara sejuk, bersih, tanpa polusi

berpantai datar-luas-putih

tanpa sampah industri-rumahtangga, tanpa polusi

lanskap dengan panorama surgawi

Ada satu bangunan rumah di pulau itu:

dengan sarana dan fasilitas hidup lengkap-mewah

cadangan pangan mewah-beragam-melimpah

Sayangnya, ke luar pulau

tidak ada jalur komunikasi-informasi

tidak ada keterhubungan (connectedness)

Tinggal sendiri di rumah itu:

betapa singkat kemewahan dapat dinikmati

betapa cepat datang kebosanan yang meresahkan

betapa cepat datang kesepian yang menyiksa

karena tidak ada keterhubungan:

tertutuplah peluang hidup berbahagia

Kehadiaran alat komunikasi-informasi adalah nikmat:

kehadiarannya membuka keterhubungan

melepas belenggu bosan dan sepi

membuka peluang hidup berbahagia

Kehadiran pasangan lawan-jenis adalah nikmat lebih besar:

terbukalah peluang komunikasi manusiwai

terbukalah peluang curhat

terbukalah peluang menemukan obyek cinta

timbullah dorongan produksi, kreasi dan pro-kreasi

mulailah bangunan budaya dan peradaban

terbukalah keterhubungan lebih intens

terbukalah akses pada kebahagiaan

tetapi seberapa panjang jarak waktu dengan kebosanan?

Kehadiran anak-cucu adalah berkah:

kehadiran mereka mengutuhkan keterhubungan manusiawi

terbukalah peluang menemukan obyek komitmen dan cinta

terbukalah akses ke sumber kebahagiaan lebih besar

tetapi seberapa signifikan kehadian anak-cucu dapat

memenuhi dahaga cinta manusiawi?

Sulitkah memahami tetangga sebagai berkah lebih besar?

Bukankah kehadiran mereka meluaskan keterhubungan?

Bukankah mereka lebih me-riil-kan obyek komitmen-cinta?

pembuka simpul-simpul kebahagiaan lebih besar?

Kemampuan membuat hati anak tertawa-lepas-riang adalah anugerah

Anugrah itu lebih besar jika definisi anak diperluas

sehingga termasuk anak tetangga

Keterhubungan dengan anak-istri-tetangga adalah sumber anugrah

dan kebahagiaan

kata kuncinya adalah keterhubungan

semakin intens dan luas bidang keterhubungan,

semakin besar anugerah dan kebahagiaan

adalah mustahil cinta tanpa keterhubungan

adalah mustahil kebahagiaan tanpa cinta

Sulitkah memahami misteri cinta?

cinta adalah memberi bukan menerima

cinta adalah pemberian bukan tuntutan

cinta menyatukan bukan membedakan

intensitas cinta tidak berkurang karena meluasnya obyek

dalam hal cinta tidak berlaku rumus zero sum

obyek cinta adalah Keindahan

Seperti kata Plato: Keindahan adalah Realitas yang melimpah– splendid Reality

Tetapi keterhubungan dengan apa pun yang non-ilahiah tidak akan pernah memuaskah dahaga cinta manusiawi, tidak dapat mendatangkan kehahagiaan penuh

by design cinta manusiawi dirancang

untuk obyek cinta tak-terbatas

cinta manusiwai hanya dapat dipenuhi oleh

yang bersifat ilahiah

pemuasan cinta manusiawi hanya dimungkinkan

melalui keterhubungan dengan yang Mutlak

yang Maha Awal sumber segala

yang Maha Akhir tujuan kembali segala

Salat adalah keterhubungan dengan Ilahi

obyek hakiki cinta

Salat membuka jalur dan membaharui keterhubungan itu

 Laa_Quwwata_illa_billah! ….. @

One thought on “Tiga Puisi Misteri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s