Mempertanyakan Kebijakan Tuhan


Raja Lalim dan Raja Bijak

Terkait judul di atas, layak disimak kisah dua orang raja karya Rumi: yang satu lalim, korup, dan kejam sehingga jauh dari sekaligus dibenci rakyat; yang lainnya bijak, amanah dan santun sehingga dekat sekaligus dicintai rakyat. Dua raja itu menderita sakit parah dan “aneh”: penawarnya hanya binatang sejenis biota laut yang habitatnya berada di dasar samudera dalam. Binatang itu muncul ke permukaan hanya dalam satu musim singkat setiap tahunnya.

Ketika raja lalim itu mengalami sakit aneh itu bukan musim bagi binatang itu untuk muncul ke permukaan laut sehingga mencemaskan elit penguasa yang loyal di lingkungan istana kerajaan. Walaupun demikian, mereka mengerahkan sumberdaya yang besar untuk mencoba memburu binatang itu dan … berhasil. Konon binatang itu diperintahkan rabb-nya untuk mucul ke permukaan tepat ketika para petugas siap menangkapnya. Singkat cerita, dengan perantaraan obat penawar itu– unsur sababiah, istilah santri– raja lalim itu kembali sembuh total.

Kisah raja bijak berbeda. Walaupun mengerahkan sumberdaya yang besar, upaya untuk menangkap binatang itu tidak berhasil padahal ketika itu musim yang tepat bagi binatang itu mucul ke permukaan. Konon rabb dari binatang itu melarang mereka untuk muncul ke permukaan laut. Tanpa penawar, akhirnya raja bijak itu wafat.

Menghadapi kasus semacam ini wajar bagi kita “mempertanyakan” kebijakan Tuhan Swt. Bukankah malaikat pun “mempertanyakan” rencana Tuhan Swt menciptakan Adam AS? Yang kita tidak boleh lupakan adalah bahwa kita seringkali tidak cukup peka untuk dapat melihat hikmah di balik suatu peristiwa serta terlalu kerdil untuk memahami keseluruhan konteknya secara integral. Dalam kasus Adam AS, misalnya, malaikat tidak mengetahui bahwa manusia berpotensi mencapai derajat kedekatan dengan rabb-nya lebih dari yang dapat dicapai malaikat.

Kembali pada kisah dua raja, Rumi menjelaskan secara singkat bahwa alasan Tuhan “tidak menyelamatkan” nyawa raja bijak itu adalah karena Dia ingin segera “bertemu” dengannya dan ini merupakan anugerah-Nya yang sangat besar, tepatnya beyond words. Bukankah tidak ada nikmat yang lebih besar dari pada “bertemu” Tuhan?

Musa AS dan Khidr AS

Ilustrasi lain mengenai kebijakan Tuhan yang sukar dipahami tetapi lebih otoritatif adalah cerita bagaimana Nabi Musa AS berguru pada Khidir AS sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an (al-Kahfi:66-82). Menurut suatu hadits Musa AS diperintahkan untuk berguru pada “seorang hamba” karena pernah mengatakan dirinya paling pintar (alim). Beliau mentaati perintah itu dan, setelah melalui perjalanan yang melelahkan ditemani pembantunya, bertemu dengan “seorang hamba di antara hamba-hamba kami” (ayat 65) sesuai yang diperintahkan.

khidr

Sumber: Youtube

Ketika Musa AS mengemukakan niatnya untuk belajar, Khidir AS mengingatkan: “Sungguh engkau tidak akan sanggup bersamaku” (67). Musa menjawab: “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun” (69). Dengan jawaban itu Kidir bersedia mengajarkan Musa AS tetapi dengan syarat: “… jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu “(70). Ternyata Musa AS melanggar persyaratan itu ketika menyaksikan tindakan Kahidir AS: (a) melubangi perhau yang mereka tumpangi (71), (b) membunuh seoang anak muda yang mereka temui (73) dan (c) membangun bangunan yang dindingnya hampir roboh padahal penduduk kampung dimana bangunan itu berlokasi tidak bersahabat (77).

Bagi Musa AS, tindakan-tindakan itu mengagetkan, tidak masuk akal, bahkan “keterlaluan” sehingga selalu memprotes: “Engkau telah melakukan kesalahan besar” atau “sangat munkar” (71 dan 74). Menyadari kesalahannya Musa AS berjanji akan “menyerah” jika ia bertanya setelah dua kejadian pertama (78) tetapi kembali tidak mampu memenuhi janjinya sehingga terjadi kejadian ke-3 (77).

Protes Musa AS ketika menyaksikan kejadian-kejadian itu jelas masuk akal. Yang tidak mampu dilihat Musa AS adalah bahwa semua tindakan Khidr merupakan perintah Rabb dan “bukan kemauan sendiri” (82). Musa AS juga tidak melihat konteks masing-masing tindakan itu secara menyeluruh:

Perahu yang dilubangi itu ternyata milik nelayan miskin yang dilubangi justru untuk menyelamatkannya dari seorang raja lalim yang siap merampas setiap perahu yang ditemukan (79);

Anak muda yang dibunuh itu adalah seorang kafir yang dihawatirkan akan memaksa orang tuanya yang mukmin menjadi kafir (80); anak yang dibunuh itu diharapkan digantikan dengan anak yang “lebih baik kesuciannya” dan “lebih sayang” (kepada ibu bapaknya) (81); dan

Rumah yang diperbaiki itu ternyata mengadung harta milik dua anak yatim yang ayahnya seorang saleh dan Rabb menghendaki agar keduanya tumbuh dewasa dan dapat menikmati harta itu sebagai rahmat-Nya (82).

Dalam tataran syariat (normal), dan itu yang merupakan domain Musa AS sebagai nabi dan pemimpin Bani Israil, semua tindakan Khidr AS jelas “keterlaluan” sebagaimana dituduhkan Musa AS. Tetapi dalam tatanan yang lebih intergral, dan ini domain Rabb-‘Alamin, tindakan-tindakan itu tampaknya merupakan keperluan kosmis untuk kebaikan yang lebih besar sehingga harus kita terima bilaa kaifa. Wallahu’alam… @

3 thoughts on “Mempertanyakan Kebijakan Tuhan

  1. Mungkin dengan keterbatasan pemikiran saya sebagai manusia, ditambah lagi dengan pemahaman yang Pak Uzair kemukakan: “…Tetapi dalam tatanan yang lebih intergral, dan ini “domain” Rabb-‘Alamin, tindakan-tindakan itu tampaknya merupakan keperluan kosmis untuk kebaikan yang lebih besar sehingga harus kita terima bilaa kaifa.”,
    maka saya kembalikan hal ini dalam doa, seperti yang tertulis dalam ayat suci Tuhan, SWT — Ali Imran Ayat ke-26, yang artinya kurang lebih adalah:

    “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    1. Tkb komentarnya ya! Ini siapa ya? Kok anonym?
      Artikel terkait kebijakan Tuhan yang tidak selalu kita pahami, bukan mengenai kekuasan-Nya. Jadi doa yang pas mungkin: rabbana atmim lana nurana… (at-Tahrim 8). Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s