Manusia Lanjut Usia: Suatu Refleksi

Kira-kira seminggu yang lalu penulis menghadiri acara reuni yang semua pesertanya adalah manusia lanjut usia (manula). Walaupun sudah manula, vitalitas mereka patut diacungkan jempol: mereka mampu menikmati acara reuni dengan santai dan penuh semangat sampai larut malam[1]. Kata manula, mungkin karena sering disebut selama acara itu berlangsung, mendorong penulis yang sudah manula ini untuk mengajukan pertanyaan retrospektif: Apa makna manula bagiku? Tulisan singkat ini mereflekasikan jawaban terhadap pertanyaan ini.

Menjelang Magrib

Para sufi konon sangat prihatin kepada kita yang terlalu memboroskan waktu, sumberdaya dan energi untuk sesuatu yang dijamin Tuhan (rizki); tetapi sebaliknya, mengabaikan yang tidak dijamin-Nya (nasib di akhirat). Keprihatinan ini tentunya lebih mengena bagi manula. Tidak perlu menjadi sufi untuk memiliki keprihatinan semacam itu: ia dapat dimilki oleh mereka yang mampu berpikir integral dan proporsional: integral dalam arti tidak hanya berpikir mengenai dunia-bawah-sini (lower world) tetapi dunia-atas-sana (higher world), proporsional dalam arti mampu menyadari kekerdilan-diri di hadapan Tuhan (nothingness before God) dan kesementaraan dunia-bawah-sini dibandingkan dengan keabadian dunia-atas-sana. Bagi yang meragukan kepastian rizki, kutipan berikut mungkin bermakna:

Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi” (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Kenapa keprihatinan sufi itu lebih mengena kepada para manula? Karena bagi kelompok ini siklus-mataharinya secara alamiah sudah memasuki “waktu ashar”, bahkan menjelang “waktu magrib”, waktu ketika Rabb memanggilnya, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Ini pasti sebagaimana banyak teks suci mengingatkan:

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, Ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan Kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu Dia beritahukan keadamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Jumu’ah:8).

Menarik untuk dicatat bahwa dalam teks itu kata maut adalah subyek-aktif (yang pasti datang untuk menjemput) yang obyek-pasif-nya adalah manusia (yang pasti akan dijemput).

Angka Harapan Hidup

Tetapi kapan “waktu magrib” itu bagi seorang individu, manula atau bukan? Ini rahasia Tuhan, tidak ada yang mengetahuinya. Walaupun demikian, secara statistik kita dapat memperkirakan rata-rata angka harapan hidup (life expectancy) suatu populasi, suatu istilah teknis dalam Demografi yang merujuk pada rata-rata tahun suatu populasi (menurut umur) diharapkan dapat mencapainya selama hidup. Jadi, istilah “harapan hidup” tidak ada kaitannya dengan “harapan yang akan diperoleh dalam hidup” seperti yang mungkin dikesankan oleh istilah itu.

Sumber: Google

Bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup bayi baru lahir (berumur tepat 0 tahun) atau e0 adalah 67.2 tahun bagi bayi laki-laki dan 72.6 tahun bagi bayi perempuan. Ini tidak berarti bahwa lansia laki-laki berusia 60 tahun, misalnya, sisa hidupnya tinggal 7.2 tahun; bagi mereka sisa hidup masih lebih lama yaitu 16 tahun. Bagi lansia perempuan pada kelompok umur yang sama harapan hidup bahkan lebih lama yaitu 19 tahun[2]. Sekali lagi ini adalah angka rata-rata nasional pada tingkat populasi.

Pada tingkat individu penduduk penduduk Indonesia dapat saja mencapai umur 100 tahun. Secara statistik itu dimungkinkan walaupun diperkirakan hanya sekitar 5% penduduk yang mencapai usia itu. Ini berlaku bagi laki-laki maupun wanita. Bagi umur-umur lebih muda, angka harapan hidup selalu lebih tinggi untuk perempuan ketimbang untuk laki-laki sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik. Sekadar catatan, pada grafik itu sumbu horizontal menyajikan variabel umur, sementara sumbu vertikal angka harapan hidup dalam tahun. Batang pertama pada grafik itu, misalnya, berlaku bagi mereka yang berumur 60 tahun, dan angka harapan hidupnya 16.0 tahun bagi laki-laki (berwarna biru) dan 19.0 tahun bagi perempuan (berwarna merah).

Sumber: BPS-UNFPA, unpublished paper

Proyek yang cocok

Karena faktor usia (jadi bersifat alamiah), kondisi fisik manula semakin melemah: pikiran semakin “lemot”, mata semakin buram, telinga semakin tuli. Secara fisiologis ini konon dapat dijelaskan karena fungsi organ-organ tubuhnya mulai tidak optimal dan ini “mengundang” datangnya penyakit tertentu; “celakanya” bagi manula, pengobatan terhadap penyakit itu dapat secara mudah “mengundang” penyakit lainnya, akibatnya terjadi komplikasi. Secara fisiologis tampaknya jelas bahwa manusia “dirancang” untuk, pada akhirnya, mati.

Walaupun secara fisik semakin lemah, berkat pengalaman hidup yang panjang, mereka diharapkan lebih bijak: lebih cermat dan matang dalam membuat pertimbangan dan keputusan; lebih terang mata-hatinya dalam melihat kebenaran; dan lebih peka telinga-hatinya dalam mendengar suara batin, telinga yang menurut istilah teks suci “telinga yang mampu menyimak”, udzun al-wa’iyah (al-Haqqah:16). Itulah harapannya. Hati mereka juga diharapkan, berkat pengalaman hidup yang panjang, lebih terarah pada urusan hatinya ketimbang pada hiruk-pikuk dunia-luar sebagaimana yang dilakukan Rumi:

Yesterday I was clever, So I wanted to change the world.

Today I am wise. So I am changing myself

(Dulu saya pintar sehinga ingin mengubah dunia;

sekarang saya bijaksana sehingga saya sedang mengubah diri saya).

Dengan pikiran yang matang, mata-hati yang terang dan telinga-hati yang mampu menyimak suara hati, manula diharapkan semakin menyadari “keter-perangkap-an” jiwa dalam dunia fisik. Mengenai hal ini layak disimak ungkapan Philo dari Alexander (20SM-50M) seorang filsuf Yahudi yang berupaya ajaran kiab-kitab Yahudi (khususnya Taurat) dengan filsafat Yunani[3]. Filsuf ini memandang jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia materi yang bersifat fisik; baginya jiwa, sebagaimana dinarasikan oleh Amstrong (2001:109)[4].

Ia harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indrawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh.

“Jiwa yang akan mencapai kebahagiaan” dalam kutipan di atas agaknya yang dimaksud dengan istilah qurani “jiwa yang tenang”, nafsu al-muthma’innah, jiwa yang layak memenuhi undangan untuk memasuki golongan hamba-Nya dan surga-Nya (al-Fajr:27-30). Tentu tidak realistis menguntuk berharap memiliki jiwa tenang jika jiwa masih berlumur dosa yang justru manula, karena umur panjangnya, memiliki risiko besar untuk terpapar: “Bahkan apa yang mereka kerjkan itu (pekerjaan buruk) telah menutupi hati mereka” (al-Muthaffifin:14).

Mengingat hal ini semua, dalam perspektif Islami, maka “proyek” yang cocok bagi manula adalah upaya pembersihkan jiwa (tazkyatu al-nafs) dalam sisa-waktu yang tersedia. Proyek ini tentu perlu dilengkapi dengan memerbanyak istigfar (minta ampunan) serta rajin bermohon memperoleh karunia rahmat-Nya yang tak-tebatas. Bukankah Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang seperti yang ditegaskan dalam al_Zumar (53):

Wahai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang

Ringkasan

Apa arti manula bagiku? Bagiku manula berarti menjelang “waktu magrib” yang siap menghadapi fakta bahwa fisiknya semakin melemah, diharapkan memiliki mata- dan telinga-hati yang semakin tajam dan peka dalam melihat kebenaran dan mendengar suaru batin, dan dituntut mampu memanfaatankan waktu-mepet untuk membersihkan jiwa agar menjadi bening dan tenang sehingga layak memenuhi undangan untuk memasuki surga-Nya….. @

[1] Mengenai reuni itu lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/07/10/catatan-reuni/

[2] Semua angka-angka ini bukan angka resmi dalam arti dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tetapi berasal dari tulisan yang tidak dipublikasikan (unpublished), tepatnya laporan penulis untuk BPS-UNFPA yang berjudul “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”. Penulis berterima kasih kepada Pak Richard Makelew (UNFPA) atas izinnnya mengutip angka dalam laporan.

[3] Lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Philo

[4] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, Penerbit Mizan (Cetakan ke-3).

Catatan Reuni

Beberapa hari lalu penulis berpartisipasi dalam acara reuni di di kawasan Lembang, Bandung. Pesertanya adalah “alumni” Akademi Ilmu Statistik (AIS) “Angkatan 19”, kohor mahasiswa AIS rekrutan 40 tahun lalu, 1977. Pembubuhan tanda kutip untuk kata “reuni” dan “Angkatan 19” disengaja karena dua kata itu ternyata diartikan secara longgar: sebagian peserta bukan alumni atau lulusan AIS karena DO di tingkat pertama; sebagian bukan hasil rekrutmen 1997 tetapi setahun sebelumnya, 1976. Kelompok pertama dianggap anggota populasi Angkatan 19 karena “masuk bareng”, kelompok kedua karena “keluar bareng”. Penerapan definisi almuni dan angkatan yang longgar ini dimungkinkan karena AIS menerapkan sistem DO di tingkat pertama dan mengizinkan mengulang setahun di tingkat 2 atau 3.

Peserta acara reuni (di luar keluarga) berjumlah 27 orang. Angka ini tampak kecil tetapi secara proporional sangat siginifikan. Kenapa? Karena AIS, sampai akhir era 1970-an, merekrut mahasiswa dalam jumlah kecil, 40-45-an. Dengan demikian, angka partisipasi reuni sekitar 65%, suatu angka fantastis. Seperti diungkapkan oleh seorang peserta yang juga mantan Eselon I BPS: “Umumnya reuni dihadiri oleh 10%-20% peserta sehingga reuni kita sebenarnya paling sukses”.

Acara puncak reuni berlangsung santai: pidato singkat panitia, nyanyi-nyanyi, becanda-becanda, tukar hadiah, dsb. Jadi, biasa-biasa saja. Yang luar biasa, di luar angka partisipasi, adalah semangat pesertanya, apalagi jika dilihat dari fakta-fakta berikut.

  1. Peserta reuni masuk AIS 40 tahun lalu, jadi peserta termuda adalah mahasiswa Ikatan Dinas (ID) yang kini berumur kira-kira 18+40=58 tahun. Yang tertua adalah mahasiwa Tuga Belajar (TB) dari suatu instansi pemerintah yang telah mencapai usia 72 tahun. Singkatnya, semua peserta reuni sudah tergolong manula bahkan ada yang sudah menampakkan tanda-tanda uzkarusia, udzur karena usia.
  2. Sebagian peserta sempat menikmati kuliah di AIS –atau bergabung dengan Angkatan 19– hanya setahun karena DO di tingkat pertama.
  3. “Nasib” peserta, dalam arti prestasi dalam bidang akademis, meniti jenjang karir dan atau menapaki tangga sosial, ternyata sangat bervariasi. Ada yang bergelar S3 dan mencapai Eselon I, ada yang “biasa-biasa” saja.
  4. Tidak semua peserta bertempat tinggal di sekitar Bandung atau Jakarta; sebagian ada yang dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Jadi, sebagian peserta jelas harus menempuh perjalanan jauh, melelahkan (bagi manula) dan mahal (bagi pensiunan).
  5. Situasi lalu lintas pada hari H luar macet luar biasa sehingga ada peserta yang dari Jakarta menempuh perjalanan 10 jam atau lebih (ada yang berangkat pukul 7.00 dan tiba di lokasi pukul 17.00). Peserta yang yang berangkat dari Kota Bandung (setelah acara pernikahan salah seorang warga Angkatan19) masih harus menikmati kemacetan sekitar 3-4 jam, pengalaman yang cukup “menyiksa” bagi manula.

Sekalipun menghadapi tantangan-tantangan itu, peserta reuni masih dapat menikmati acara puncak yang berlangsung hingga menjelang tengah malam. Sebagian bahkan ada yang melanjutkannya dengan ngobrol-ngobrol santai hingga larut malam. Dugaan penulis, hampir semua (kalau tidak semua) peserta menilai semua acara reuni, termasuk piknik ke Tangkuban Perahu dan kunjungan ke rumah seorang sesepuh BPS, berangsung lancar. Terlepas dari lancar-atau tidak lancar, bagi penulis, setiap bentuk reuni adalah rahmat, apalagi Reuni Mistis(*).

Sebagai acara sosial yang bersifa sukarela, acara reuni semacam ini hanya mungkin dapat direalisasikan jika ada yang menginisiasi, mensponsori, dan mengorganisasikan. Sukses acara tidak terlepas dari kontribusi mereka. Bravo untuk Uni Neng, Mbak Dudu, Kang Ame, Bang Sudung dan lain….. @

(*) Bagi yang tertarik lihat  https://uzairsuhaimi.blog/2012/10/10/reuni-mistis/

 

 

Puasa (6): Setelah Lebaran Apa?

Umat Islam sejagat yang berjumlah sekitar 1.8 milyar iiwa[1] baru saja usai merayakan lebaran atau iedul fitri untuk menandai berakhirnya puasa wajib selama bulan Ramadhan tahun ini. Hari raya itu tepat hari ke-1 bulan Syawal. Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan segera setelah perayaan itu? Tulisan ini mencoba menyajikan beberapa catatan kecil dalam rangka menjawab pertayaan itu dengan harapan ada dari pembaca budiman yang dapat mengambil manfaat darinya.

Yang wajib dulu

Dengan alasan tepat, puasa bulan Ramadhan dapat di-qadha pada bulan-bulan sesudahnya sebelum masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya. Artinya, jika ada sejumlah hari pada bulan itu tidak dapat atau dibolehkan tidak berpuasa[2] maka kewajiban berpuasa itu dapat diganti dengan jumlah yang sama pada hari-hari di luar Ramadhan sebelum masuk bulan Ramadhan tahun depan. Ketetapan ini sesuai Q.S al-Baqarah:184.

Waktu yang sah untuk melakukan puasa qadha lumayan panjang, 11 bulan. Walaupun demikian, karena puasa ini hukumnya wajib maka jumhur (mayoritas) ulama menganjurkan untuk men-segerakan-nya dan ini berarti melakukannya pada bulan Syawal. Implikasinya, jika ada niat melakukan Puasa Sunat pada bulan itu maka sebaiknya dilakukan setelah puasa qadha. Mengenai hal ini layak disimak kutipan berikut:

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392)[3].

Puasa Syawal

Puasa sunat pada Bulan Syawal bagi umat Islam di Indonesia, mungkin juga bagi umat di nega lain, lumayan populer. Ini dapat dipahami mengingat ada hadist mengenai hal itu dengan janji pahala yang “menggiurkan”. Berdasarkan hadits itu para ulama umumya sepakat mengenai sunatnya puasa syawal.

Mayoritas umat (termasuk penulis) tampaknya merasa puasa sunat ini “berat” karena selain tidak wajib, juga lumayan banyak godaan: sisa opor ayam, kue nastar, halal-bihalal, kacang, biskuit, dsb. Tetapi Rasul saw lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umat sehingga menganjurkan puasa ini. Hikmah di balik ini mungkin antara lain umat memerlukan latihan ekstra untuk meng-costomize perilaku baik. Costomize seperti ini yang dicontohkan oleh Beckam: ia konon melakukan latihan menendang bola jarak jauh secara terarah selama 2-3 jam (baginya “sunah”) per sesi latihan setelah usai menjalani latihan resmi yang dipimpin oleh coach (baginya “wajib”).

Kembali ke puasa sunat Syawal. Hadits yang tampaknya dijadikan dasar bagi ulama untuk mensunatkannya diriwayatkan oleh Muslim: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).[4]

syawal1

Sumber: Google

Mengenai penjelasan hadits ini dapat disimak kutipan berikut:

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Singkatnya, karena ada haditsnya, sikap terbaik dan teraman bagi umat tentu melaksanakannya, bila kaifa, tanpa banyak tanya. Tetapi sayangnya sebagian umat (termasuk penulis) kerapkali tidak tahan untuk tidak ber-kaifa: kok bisa setahun penuh, bagaimana hitungan-hitungannya? Untuk memenuhi selera yang mungkin “keterlaluan ini”, hitungan-hitungan berikut mungkin membantu.

Mengenai “pahala” puasa syawal ini ada dua dasar perhitungan yang semuanya berdasarkan dalil naqli-nash atau argumen berbasis al-Qur’an:

  1. Jumlah bulan dalam setahun berdasarkan sistem kalender Masehi atau Hijriyah adalah 12 (dua belas) bulan. Ketetapan ini sesuai Q.S. At-Taubah:36.
  2. Ganjaran amal baik minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Angka ini sesuai dengan Q.S. al-An’am:160.

Berdasarkan dalil ke-2 di atas maka:

  1. Pahala Puasa Ramadhan satu bulan (penuh) setara dengan 10 bulan-pahala; dan
  2. Puasa Sunat Syawal 6 (enam) hari setra dengan 6×10 hari pahala, atau 2 bulan-pahala;
  3. Jika (1) dan (2) dijumlahkan maka ketemu angka 12 bulan-pahala atau, sesuai dengan dalil ke-1, sama dengan setahun.

Perjumlahan itu mengasumsikan Puasa Ramadhan dilakukan secara penuh, tidak ada hari yang “bolong” selama bulan itu. Men-segarakan Puasa Qadha yang hukumnya wajib sebelum Puasa Syawal yang hukumnya sunah tentunya sejalan dengan prinsip “mendahulukan yang wajib”. Sikap itu juga mempermudah “perhitungan pahala”; bagi yang berminat tentunya….. . @

[1] Mengenai angka ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

[2] Alasan tepat yang dimaksud mencakup menstruasi bagi wanita, sakit, dalam perjalanan, dan sebagainya, sesuai hukum syar’i.

[3] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

[4] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html