Karakteristik Rasul SAW dalam Terang Al-Qur’an


Al-Qur’an menyebut Rasul SAW sebagai manusia biasa (fully human), status yang justru memungkinkan beliau memainkan peran role model secara sempurna bagi Umat kebanyakan. Dalam memainkan peran itu beliau menekankan prinsip keseimbangan, keadilan dan manusiawi sehingga Umat dapat mempraktekkan ajaran agama dalam dunia nyata yang penuh ketidaksempurnaan ini. Yang perlu dicatat, karakteristasi manusia biasa perlu disandingkan dengan karakterisasi lain yang juga dinisbahkan oleh Al-Qur’an kepada nabi terakhir yang sangat mencintai dan dicintai umatnya.

Bukan orang suci

Salah satu alasan kenapa Agama Islam kurang diterima oleh masyarakat Barat yang mayoritas Nasrani, konon, karena pembawa risalahnya, Rasul SAW, dianggap sebagai seorang manusia biasa, dalam arti bukan orang suci serta memiliki kebiasaan serta perilaku manusia biasa pada umumnya. Mereka juga menilai Rasul SAW tidak memiliki mu’jizat sebanyak dan sehebat pembawa misi agama samawi sebelumnya yaitu Isa Ibn Maryam AS.

Pernyataan bahwa Rasul SAW itu manusia biasa sejalan dengan salah satu nash (ayat Al-Qur’an): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu…”” (Al-Kahf: 110). Gambaran ini sangat berbeda dengan gelar yang dinisbahkan kepada Isa RA: “firman (kalimah), “terkemuka” (wajiihan) dan “dekat” (muqarrabin) (Al-‘Imran:49). Walaupun demikian, dengan gelar itu Al-Qur’an tetap mengakategorikan Isa AS sebagai manusia biasa yang diciptakan dari tanah sebagaimana halnya Adam AS (Al-‘Imran:59).

Teladan terbaik

Status manusia biasa sebenarnya tidak berkonotasi negatif seperti yang mungkin diduga. Status itu justru sesuai dengan kedudukan Rasul SAW sebagai teladan terbaik (uswatun hasanah) dalam arti realistis serta dapat diteladani, bukan model ideal di atas langit-langit imajinasi tanpa kemungkinan diterapkan dalam dunia fana yang serba tidak sempurna ini: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat” (Al-Ahzab:21). Apa yang perlu dilakukan jika berharap bertemu dengan Rabb? Berikut ini disajikan terjemahan nash yang relevan serta layak dicermati:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa”. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah di mengerjakan kebajikan dan janganlah mempesekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepadanya (Al-Kahf:110).

Kutipan di atas mengandung paling tidak dua pesan pokok: (1) inti ajaran Islam adalah tauhid; ajaran lainnya dapat dilihat sebagai cara lain untuk mengekspresikan dan merealisasikan kebenaran metafisis yang terkandung dalam ajaran tahuid ini, dan (2) jalan utama (principal means) untuk memperoleh keselamatan dunia-akhirat adalah upaya dan tanggung-jawab pribadi untuk mengerjakan kebajikan dan bertauhid, bukan melalui campur tangan makhluk lain, termasuk “juru selamat”. Butir kedua ini menggambarkan unsur “upaya” yang dituntut dari sisi manusia dan sama-sekali tidak menegasikan arti penting uluran rahmat dari yang Maha Pemurah untuk memperoleh keselamatan sejati.

Praktek Keagamaan

Praktek kegamaan yang didemonstrasikan Rasul SAW pada dasarnya dapat diteladani oleh Umat kebanyakan karena dalam menjalan misi kerasulan beliau menekankan pendekatan seimbang, “adil” dan manusiawi:

  • Seimbang (moderat, jalan tengah, tidak eksrim): seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat; antara tali Allah (hablun minallah) dan tali manusia (hablun minannaas); antara kepentingan lahiriah dan batiniah, antara hak dan kewajiban; dan antara kepentingan individu dan masyarakat.
  • Adil (memberikan “hak” pada apa dan siapa pun secara proporsional): menganjurkan salat malam tetapi tanpa megabaikan “hak” mata untuk tidur dan badan untuk istirahat; sehari “lapar” (agar mampu bersabar), sehari “kenyang” (agar bersyukur); memenuhi Hak Allah tetapi juga Hak Adami (sesama); dan menuntut hak dari istri/suami tetapi juga memenuhi kewajiban bagi mereka.
  • Manusiawi (mengakomodasi kebutuhan dasar manusia): “memerintahkan” makan-minum tetapi tidak berlebihan, mengakui dan mengatur pemenuhan kebutuhan seksual; “memerintahkan” berpakaian indah dan menganjurkan menggunakan wewangian ketika berada di sekitar masjid atau ruang publik untuk perkumpulan sosial.

Penekanan pada aspek keseimbangan, keadilan dan manusiawi tentu saja sangat sesuai bagi mayoritas Umat. Hanya saja dalam hal ini perlu dicatat bahwa terkadang beliau memberikan keteladanan khusus, dengan cara khusus, bagi para sahabat yang memiliki bakat dan kemampuan spiritual khusus, termasuk kelompok elitis yang memiliki minat rendah terhadap gemerlap duniawi.

Salawat

Ayat Al-Kahf (110) yang menegaskan bahwa Rasul SAW manusia biasa dikenal luas di kalangan internal Umat sehingga dapat mencegah Umat tergelincir dalam kemusyrikan. Walaupun demikian, hal ini tidak mencegah penghormatan Umat kepada beliau yang diekspresikan dalam berbagai cara. Pada tingkat negara, banyak negara Islam yang menjadikan hari-H kelahirannya sebagai hari libur nasional. Pada tingkat masyarakat, penghormatan kepada beliau terlihat dari banyaknya ragam karya sastra yang bernuansa salawat termasuk Barzanzi[1] dan Burdah[2]. Karya semacam ini—masing-masing berisi sejarah (shirah) Rasul SAW serta slawat atau pujian kepadanya– dikenal luas di kalangan internal Umat di seluruh dunia.

Karya seni suara bernuansa salawat sampai kini terus berkembang. Karya AR Rahman[3] seperti “Marhaba Ya Mustafa”, misalnya, sangat populer; tampilannya dalam Youtube dikunjungi jutaan pengunjung. Karyanya yang lain, “Kun Fa Yakun”, juga sangat populer bahkan di kalangan kelompok paduan sura dari sekolah dan perguruan tinggi non-muslim di banyak negara-negara Barat. Selain karya AR Rahman, karya Maher Zain[4] dengan nuansa serupa juga populer khsusunya di kalangan generasi muda.

Karya seni suara bernuansa salawat yang mungkin paling monumental adalah Salawat Tahrim yang dibawakan oleh Syech Mahmud Al Husairi[5] dan biasa dikumandangkan di Masjid Istiqlal menjelang salat lima waktu. Untuk mengapresiai keindahan dan kedalaman maknanya, berikut disajikan terjemahan salawat itu:

Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu

Wahai pemimpin para pejuang, Ya Rasulullah

Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu

Wahai makhluk Allah terbaik

Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu

Wahai penolong kebenaran, Ya Rasulullah

Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu

Wahai yang memperjalankanmu di malah hari; Dialah yang melindungi

Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia lain tidur

Semua penghuni langit melakukan salat di belakagmu dan engkau menjadi imam

Engkau diberangkatkan ke Sidrtaul muntaha karena kemuliaanmu dan engkau mendengar ucapan salam atasmu

Wahai yang paling mulia akhlaknya, Ya Rasulullah

Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu, keluargamu, dan sahabatmu, semua.

Karakteristik Rasul SAW

Ragam salawat yang yang diproduksi Umat dapat dilihat sebagai produk budaya yang dipicu oleh kecintaan mereka kepada Rasul SAW. Kenapa mereka mencintai Rasul SAW? Karana mereka mengetahui dan merasakan kecintaan beliau kepada mereka. Banyak ayat Al-Qur’an yang “menegur” beliau semata-mata karena beliau mengeskpresikan kecintaannya kepada Umat yang dinilai Rabb-nya berlebihan, termasuk kepada yang menentang ajarannya secara sengit (lihat, misalnya, At-Taubah 128).

Produk budaya yang mengekspresikan kecintaan Umat kepada Rasul SAW dapat dijadikan sumber informasi yang berharga mengenai karakteristik nabi terakhir itu. Walaupun demikian, layaknya produk budaya, sumber itu dapat saja mengandung unsur subjektivitas pengarang, kelemahan mausiawi dan bias budaya. Oleh karena itu, gambaran mengenai karakteristik beliau akan lebih aman jika mengandalkan nash karena bersumber dari Dia yang paling Maha Mengetahui. Tabel berikut menyajikan daftar 17 karakteristik Rasul SAW dalam cahaya nash, yang mencakup gambaran mengenai misi, akhlak dan maqam (kedudukan spiritual) beliau. Karakteristik terakhir ini perlu direspon Umat secara memadai dengan cara mentaati ajarannya, meneladani akhlaknya, serta bersalawat kepadanya: shalli wa sallim ‘ala khairil khalq….@

Karakteristik Rasul SAW menurut Nash

Karakteristik

Nash

1.     Penutup para Nabi “…dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi….” (Al-Ahzab:40)
2.     Diutus bagi seluruh manusia Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua. (Al-A’raf:158)
3.     Rahmat bagi seluruh alam “Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’:107)
4.     Beprilaku lembut “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka… “(Al-‘Imran:159)
5.     Tidak mengucapkan kecuali wahyu “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm:3)
6.     Allah Bersumpah atas namanya (Allah Berfirman), “Demi umurmu (Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (Al-Hijr:72)
7.     Dilarang memanggil tanpa penghormatan “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (An-Nur:63)
8.     Allah dan malaikat bersalawat “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab:56)
9.     Bergelar nama-Nya, penyanfun dan penyayang (rauf-rahim) “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (At-Taubah:128). “Sungguh, Tuhan-mu Maha Pengasih, Maha Penyayang” (An-Nahl:7)
10.   Berbudi pekerti luhur “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam:4)
11.   Teladan terbaik “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat” (Al-Ahzab:21)
12.   Taat kepada Rasul SAW=Taat kepada-Nya “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (An-Nisa’:80)
13.   Saksi para nabi di hari kiamat “Dan bagaimanakah jika Kami Mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami Mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (An-Nisa:41)
14.   Bekedudukan tertinggi “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu Mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’:79)
15.   Keberadaannya menahan azab menyeluruh “Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (Al-Anfal:23)
16.   Jaminan karunia yang memuaskan “Dan sungguh, kelak Tuhan-mu pasti Memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (Adh-Dhuha:5)
17.   Kecintaan kepada Umat “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman.” (Asy-Syuara’:3). “Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (Fathir:8)

Sumber: Google, Karya Sech Abdul Aziz Rifa’i, Al-Isra 84

[1] https://www.youtube.com/watch?v=qJLy8T5BZEs

[2] https://www.youtube.com/watch?v=Z43XGFZ0TRA

[3] https://www.youtube.com/watch?v=ccuinnElnSs

[4] https://www.youtube.com/watch?v=fF-3tCiXkoc

[5] https://www.youtube.com/watch?v=iDKtd9h66y8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s