Kampung Akhirat: Refleksi Berbasis Teks Suci


Menurut teks suci Al-Quran, di kampung akhirat penghuni dan pemiliknya saling-meridai, raadhiatan mardhiyyah. Di kampung itu ada Taman ‘Adn yang tanaman-tanamannya tumbuh dari benih takwa: orang takwalah pewaris taman itu (19:63). Semua orang diundang masuk ke sana untuk menetap selamanya asalkan memiliki jiwa yang tenang:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30)[1].

Di sana semua sumber kenikmatan tersedia (56:10-37): dipan-dipan bertahtakan emas-permata, pembantu-pembantu muda-belia, minum-minuman nikmat-segar, buah-buahan apa pun yang diinginkan, daging burung apa pun yang diinginkan, bidadari/a-bidadari/a perawan belia-bermata-indah, serta bebas dari ujaran-ujaran menyakitkan, kotor, nyinyir dan sia-sia. Di sana juga ada pohon bidara tak-berduri, pohon-pohon pisang yang buah-buahnya lebat-bersusun, naungan terbentang luas, air mengalir tanpa-henti, serta kasur-kasur tebal-empuk. Di atas semuanya, penghuni kampung itu “dekat” bahkan dapat “bertemu” dengan Rabb mereka dan itulah puncak-dari-puncak kebahagiaan. Untuk bertemu dengan-Nya hanya menuntut dua syarat: mengerjakan kebajikan dan tidak mepersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya (18:110).

Menuju ke sana ada Jalan-Besar-Lurus: shiraathal mustaqiim (1:6-7). Jalan itu cukup besar untuk menampung semua Anak Adam dengan berbagai latar belakang sifat, bakat, serta kapasitas mental, intelektual dan spiritual. Jalan itu menentukan nasib akhir seseorang: hidup seseorang hanya dapat dikatakan sukses sejati, husnul khatimah, jika di akhir perjalanannya menapaki jalan itu.

Jalan itu dirancang sesuai dengan fitrah manusia, alladzi fatharan-naasa ‘alaihaa (30:30), disiapkan bagi makhluk yang diciptakan sesuai dengan citra-Nya, sesuai dengan kemuliaannya (17:70), serta sesuai pula dengan misi-ganda keberadaannya sebagai hamba (2:21) sekaligus khalifah-Nya (2:30) untuk memakmurkan bumi dan menebar rahmat. Jalan itulah yang ditawarkan Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Muhammad SAW:

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya) (42:13).

Kampung yang hanya dicapai melalui Jalan-Besar-Lurus itu sama-sekali tidak asing: siapa pun memiliki pengetahuan-bawaan mengenainya karena pernah tinggal di sana. Betapa pun redupnya, cahaya pengetahuan itu tetap menyala: terpateri dalam pusat jati-diri sejak zaman azali. Betapa pun lemahnya, kerinduan kembali ke kampung itu tetap mengusik: tersegel dalam sanubari sejak perjanjian alastu ketika setiap jiwa manusia melakukan kesaksian di hadapan Rabb-nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman). “Bukankah Aku ini Tuhanmu? (alastu bi-rabbikum) Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini” (7:172).

Celakanya manusia cenderung melupakan perjanjian itu dan “membuat maksiat terus menerus” (75:5). Na’uudzu billah min-dzaalik!

Wallahu’alam…..@

surgaku1

[1] Angka pertama merujuk ke nomor Surat Al-Quran, lainnya nomor ayatnya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.