Refleksi, Sejarah, Spiritual

Penyebaran Muslim: Catatan Sangat Singkat


Kini populasi Muslim atau Umat Islam, selanjutnya disingkat Umat, diperkirakan sekitar 2.4 milyar jiwa yang tersebar di seluruh dunia[1]. Dihitung dari peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah, kini umur Umat sekitar 1.44 milenium menurut Kalender Hijriyyah atau 1.38 milenium menurut Kalender Masehi[2]. Sekitar 14 abad lalu menurut sistem Masehi, populasinya diduga kurang dari 100 jiwa, populasi yang sangat kecil sebagai “benih” suatu entitas sosial.

Selain berjumlah kecil, kelangsungan hidup “benih” ini sangat rentan karena selalu terancam dimusnahkan oleh kaum kuffar[3] Quraisy yang menilai ajaran Umat terlalu revolusioner dan egalitarian sehingga kelompok elitnya merasa sangat terancam. Kaum ini, menggunakan alusi qur’ani, selalu berupaya memadamkan “cahaya Allah” (QS61:8) yang baru menyala itu. Walaupun pada mulanya sangat rentan benih Umat ini ditakdirkan unggul sehingga dalam waktu seabad menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengungguli pusat-pusat peradaban dunia saat itu.

Sekitar 14 Abad Lalu: Masa Kesedihan

Sekitar 14 abad lalu adalah masa kesedihan bagi Umat. Ketika itu, diukur dari peristiwa turunnya wahyu pertama di Guha Hira (610 M)[4], Umat baru berumur sekitar 18 tahun dan Rasul SAW beumur 41 tahun. Pemberian label masa kesedihan tidak berlebihan sebagaimana tercermin dari lima peristiwa historis berikut[5]:

  • 615: Hijrah I sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 616: Hijrah II sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 617: Pemboikotan sosial kaum kuffar orang Quraish terhadap keluarga Bani Hasyim dan Rasul SAW. Keluarga ini diucilkan di suatu lembah kecil di luar Kota Makkah;
  • 619: Dikenal sebagai tahun kesedihan; pencabutan boikot; wafatnya Abu Thalib RA dan Bunda Khadija RA; dan
  • 620: Misi dakwah ke Thaif yang gagal dan sempat melukai Rasul SAW; Mikraj Rasul SAW.

Peristiwa terakhir, Mikraj Rasul SAW, dinilai sebagai “hiburan” bagi Rasul SAW yang baru saja melewati masa-masa yang menyedihkan secara bertubi-tubi. Hiburan ini ternyata segera diikuti oleh sejumlah anugerah-Nya yang lain yang membawa angin segar bagi perkembangan Umat: Perjanjian Aqabah I (621), Perjanjian Aqabah II (622) dan Hijrah ke Madinah (mulai 622).

Peristiwa tearakhir sangat historis karena memberikan peluang bagi Umat membangun masyarakat yang sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya. Upaya ke arah itu sama-sekali bukan tanpa tantangan: komposisi masyarakat jauh lebih prulalistis di bandingkan di Mekah dilihat dari suku dan agama, permusuhan dari kaum kuffar quraisy terus berlanjut yang menyebabkan dua perang yang sangat menentukan yaitu Perang Badar dan Perang Uhud, dan banyaknya “musuh dalam selimut” atau kaum munafiq. Tetapi semua tantangan itu dapat dilalui berkat bimbingan wahyu dan kepemimpinan Rasul SAW: dalam Era ini Umat mulai menyebar di seluruh jazirah Arab.

Satu Abad Kemudian: Masa Gemilang

Sekitar seabad setelah masa kesedihan, Umat mulai memasuki masa gemilang diukur dari penyebaran geografis yang dimulai pada Era Rasidun atau era dari empat khalifah yang pertama yaitu Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA. Dalam puncak kegemilangannya Umat bahkan mampu memberikan sumbangan kemanusiaan yang sangat signifikan dalam pengembangan hampir semua cabang keilmuan: ilmu-pengobatan, penyakit mata (opthamology), sejarah kedokteran, lingusitik, arsitektur, matematik, ilmu optik, filsafat dan sebagainya[6].

Setelah Era Rasidun, kegemilanan Umat dilihat dari perluasan wilayah geografis dilanjutkan oleh Dinasti Umayah yang mampu mengungguli kekuatan “superpower” dunia saat itu yaitu Kerajaan Roma di Barat dan Kerajaan Persia di Timur. Kegemilangan itu terlihat dari lima peristiwa historis berikut ini[7]:

  • 711: Penaklukkan Spanyol, Sind (bagian dari Pakstan) dan Transoxiana[8] (kawasan Asia tengah yang mencakup Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, and Kyrgyzstan);
  • 712: Perluasan kekuasaan di Spanyol, Sind dan Transoxiana;
  • 713: Penaklukkan Mutan;
  • 716: Invasi ke Konstantinopel; dan
  • 725: Pendudukan Nimas di Pernacis.

Gambaran mengenai luasnya wilayah muslim dalam periode 622M-750M, periode yang mencakup Era Rasul SAW sampai Era Dinasti Umayah, dapat dilihat pada Gambar 1. Pada gambar itu tampak bahwa pada Era Rasul SAW, misalnya, muslim telah tersebar di hampir di semua kawasan jazirah Arabia walaupun baru disempurnakan pada Era Dinasti Umayah. Dalam dinasti ini wilayah penyebaran sudah mencakup wilayah Iberia dan sekitar.

Penyebaran muslim terus berlanjut pada Era Dinasti Abasyiah yang menggantikan dinasti Umayah. Gambar 2 memberikan ilustrasi mengenai luas wilayah geografis muslim sampai tahun 1050s.

Setelah Era Abasyiah, imperium muslim digantikan oleh Dinasti Ottoman dan penyebaran muslim terus, sebelum akhirnya berhenti pada sekitar dekade ke-2 abad ke-20 (jadi; dalam ukuran sejarah manusia, belum lama). Berakhirnya Era Ottoman menandai berakhirnya imperium muslim sebagai suatu kekhalifahan. Sebagai akibatnya, hampir semua wilayah gerografis muslim melepaskan diri dari kekuatan terpusat di Turki.

Gambar 3 meringkas sejarah ekspansi Islam ke sejumlah pusat perdaban sampai dua dekade awal abad ke-20 menurut abad dan era kekhalifahan (dinasti). Dalam gambar itu tampak, misalnya, dalam era Rashidun wilayah muslim mencakup kawasan-kawasan Arabia, Mesopotamia (Irak modern), Persia (Iran modern), Levant (Syria modern, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina). Era ini berakhir sekitar pertengahan abad ke-7M. Sebagai contoh lain, dalam era Otoman (Turki) yang berakhir pertengahan abad ke-20 M, ekspansi muslim mencakup wilayah-wilayah, selain kawasan-kawasan tadi, Magribi (Aljazair, Moroko, Tunisia, Libya and Mauritania, Transoxmania, Hindustan (termasuk Pakistan modern) dan Anatolia (Turki modern).

Abad 20: Era Kemunduran

Memasuki abad ke-20 imperium muslim tinggal sejarah, Umat memasuki era kemunduran, dan sebagian besar wilayahnya secara terpecah segera menjadi jajahan Barat. Kemunduran ini sejalan dengan penyebaran konsep negara-bangsa (nation state) yang dalam pengertiannya yang sangat spesifik mengacu pada “suatu negara di mana suatu kelompok budaya atau suku mendiami suatu wilayah teritorial dan membentuk suatu negara” (“a country where a distinct cultural or ethnic group (a “nation” or “people“) inhabits a territory and have formed a state)[9]. Konsep negara ini juga yang memupus sistem kekaisaran atau kerajaan yang berbasis multi-etnik termasuk Kekaisaran Austria, Kerajaan Perancis, Kerajaan Hungaria, kekaisaran Rusia, kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Inggris.

Konsep negara bangsa pasti bukan satu-satunya bagi imperium Umat untuk mengalami kemunduran sebelum akhirnya sirna. Banyak faktor lain yang turut bertanggung jawab termasuk di antaranya faktor-faktor berikut:

  • Perubahan mode ekonomi dari yang berbasis agraris menjadi teknikalis, serta ketertinggalan Umat dalam mengadaptasi perubahan itu;
  • Pola pikir mainstrem Umat dalam menafsirkan syariah terlalu terfokus pada aspek ubudiyyah dalam artian sempit dan mengabaikan aspek muamalah dalam pengertian luas dan aktual; pola pikir ini menurut pengamatan Tariq Ramadan masih berlangsung sampai kini[10];
  • Perang Salib yang membuka mata Barat terhadap peradaban lebih maju;
  • Konsekuensi logis dari Islam sebagai suatu bentuk (form) agama yang, by definition, terbatas dalam memanifestasikan esensi Islam yang universal dan tak-terbatas (menurut F. Schuon); dan
  • Kehendak yang Maha Tinggi.

Faktor terakhir tentunya yang paling menentukan. Faktor ini diisyaratkan oleh ayat Al-Qur’an yang “menghibur” kekalahan tentara Rasul SAW dalam perang Uhud:

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapatkan luka, maka mereka pun mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka dapat pelajaran) (QS3:140).

Iy yaysaskum faqad massal-qauma qarhum mitsluh, wa tilkal-ayyaamu nudaawiluha bainan-naas (QS3:140).

Wallahu’alam….@

[1] Sebagai rujukan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[3] Dalam Bahasa Arab istilah kuffar merujuk pada kelompok orang kafir tetapi dengan tingkat kekafiran yang amat sangat.

[4] Diukur dengan sistem Kalender Masehi, umur beliau ketika menerima wahyu pertama adalah 33 tahun. (Beliau Lahir 577 M.)

[5] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[6] Lihat, misalnya, Philip K. Kitty (1961), History of the Arabs, khususnya dalam Bab XLIX, MACMILLAN & CO LTD.

[7] Alim.org-Timeline History-7th Century (600-699) C.E.

[8] https://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquest_of_Transoxiana.

[9] https://en.wikipedia.org/wiki/Nation_state.

[10] Lihat, misalnya, Tariq Ramadan (2009), Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation, Oxford University Press.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s