Umur Alam Semesta dan Kalender Kosmik: Catatan dan Refleksi

Usia Alam Semesta

Berapa umur alam semesta? Jawaban yang paling meyakinkan dan aman mungkin wallahualam. Sayangnya kita terlanjur terdidik untuk tidak merasa puas dengan jawaban semacam ini dan tergoda untuk merujuk pada hasil kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah terkini menduga kuat usia alam semesta sekitar 13.8 milyar tahun[1], suatu angka yang lebih tepatnya dinyatakan dalam bentuk

(13.799±0.021) x109

Angka pertama menunjukkan dugaan-titik (point estimate) sedangkan yang kedua kesalahan-margin (margin errors, ME) dari dugaan yang mengukur tingkat kecermatan dugaan itu. Kesalahan margin itu relatif sangat kecil, jauh di bawah satu persen, yang berarti selang kepercayaan dugaan lebih dari 99 persen. Bagi orang statistik, dugaan dengan ME sekecil itu, dikategorikan sebagai sangat dapat dipercaya, highly reliable. Bagaimana mengenai umur bum? Dugaan ilmiah merujuk pada angka 4.54 milyar tahun, tepatnya

(4.54±0.05) x109

ME-nya hanya sekitar 1.1 persen yang berarti tingkat keyakinan dugaan sekitar 98.9 persen, masih highly reliable.

Kalender Kosmis

Bagi yang ber-IQ pas-pasan seperti penulis sangat sulit membayangkan lamanya waktu 13.8 milyar tahun. Oleh karena itu kita patut berterima kasih kepada Carl Sagan yang telah memperkenalkan Kalender Kosmik, suatu metodologi untuk memvisualisasikan kronologi alam semesta secara populer. Dalam sistem kalender ini, umur 13.8 tahun diskalakan menjadi hanya satu tahun: Ledakan Besar (Big Bang) diletakkan pada awal tahun, 1 Januari tepat tengah malam (=pukul 00:00:00), dan waktu saat ini pada akhir tahun, 31 Desember sesaat sebelum tepat tengah malam (=pukul 24:00:00 kurang sedikit). Di antara dua titik ekstrem ini kita dapat meletakkan semua peristiwa alam semesta.

Gambar 1 menyajikan bebrapa peristiwa penting dalam Kalender Kosmis. Bagian pertamanya memvisualkan, antara lain, terbentuknya Galaksi Bima Sakti (Milky Way) pada bulan May, sementara Sistem Matahari Kita (Solar System) pada bulan September. Visualisasi ini membantu kita memahami proses dan skala waktu kosmis pembentukan benda-benda langit. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa skala kosmik dalam Gambar 1 didasarkan pada asumsi umur alam semesta 3.7 milyar tahun, bukan 3.8 milyar tahun sebagaimana disingung sebelumnya. Perbedaan ini berdampak pada kurang tepatnya penentuan tanggal terjadinya peristiwa sebagaimana akan kita lihat nanti.

Gambar 1: Beberapa Peristiwa Penting dalam Kalender Kosmik

Sumber: http://myphascination.blogspot.co.id/2014/07/kalender-kosmik-cosmic-calendar.html

Bagian 2 dalam Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada bulan terakhir dalam Kalender Kosmik, Desember. Dalam gambar ini kita menyaksikan peritiwa dimulainya kehidupan yang kita kenal terjadi pada bulan terakhir itu: spons (14 Desember), ikan(17 Desember), tumbuhan darat (20 Desember), serangga (21 Desember), reptil (23 Desember), dinosaurus (25 Desember), mamalia (26 Desember),…., asal-usul manusia (dalam perspektif Darwinis) (31 Desember).

Bagian 3 Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis. Kita melihat peradaban manusia dimulai pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis: pertanian dan kehidupan menetap (sekitar 22 detik terakhir), Dinasti China (9 detik terakhir), kelahiran Nabi Isa AS (4 detik terakhir), kelahiran Nabi Muhammad SAW (3 detik terakhir) dan penemuan Benua Amerika oleh Kolumbus (1 detik terakhir). Seperti disinggung sebelumnya, gambaran-gambaran waku peristiwa-peristiwa itu terjadi kurang tepat.

Kesetaraan Waktu Sebenarnya dengan Waktu Kosmik

Dalam Sistem Kalender Kosmik ini kita dapat menyusun beberapa persamaan  kesetaraan antara “tahun lalu waktu yang sebenarnya” dan “tahun lalu waktu kosmik” sebagai berikut:

  • 1 hari <—> (13.8×109/365[2]) tahun =37.8 juta tahun….. (1),
  • 1 jam <—> (3)/24 = 1.575 juta tahun ……………………………..(2),
  • 1 menit <—> (4)/60 = 26,265 tahun ……………………………….(3), dan
  • 1 detik <—> (5)/60 = 437.5 tahun …………………………………..(4)

Dengan persamaan (1), sebagai ilustrasi, kita dapat melihat peristiwa terbentuknya bumi yang terjadi pada 4.54 milyar tahun itu setara dengan peristiwa 121.1 hari yang lalu:

(4.54×109 )/(37.8 x106) hari = 120.1 hari.

Dalam Kalender Kosmik yang kita bicarakan, peristiwa itu merujuk pada sekitar akhir Agustus, bukan pada September sebagaimana disarankan oleh Gambar 1. Perbedaan ini terjadi karena perhitungan perbedaan asumsi mengenai umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya

Kronologi Formasi Alam Semesta

Berdasarkan persamaan (1) kita dapat meletakkan dalam sistem kalender itu beberapa peristiwa kosmis yang terjadi milyaran tahun yang lalu:

  • Terbentuknya Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti, di mana sistem matahari kita merupakan bagian darinya, dilaporkan terbentuk sekitar 11 milyar tahun lalu. Dalam skala kosmik ini berarti sekitar 291 hari yang lalu. Angka itu kita dapatkan dari hasil pembagian berikut:

(11×109 )/ (37.8×106) = 291

Dalam sistem kalender ini, waktu kosmik 291 hari yang lalu (terhitung dari 31 Desember) identik dengan 74 hari pertama (terhitung dari 1 Januari) atau 15 Maret. Tanggal itu berbeda dengan yang disajikan pada Gambar 1 (May) karena perbedaan asumsi umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya.

  • Terbentuknya Matahari dan Planetnya. Matahari dilaporkan terbentuk 4.7 milyar tahun yang lalu dan planet=planetnya terbentuk segera setelah matahari terbentuk. Peristiwa ini dalam Kalender Kosmik adalah 31 Agustus.
  • Terbentuknya batu tertua di bumi. Batu tertua di bumi dilaporkan berumur 4.0 milyar tahun yang lalu yang setara dengan 16 September dalam Sistem Kalender Kosmik.

Sejarah Awal

Para ilmuan sepakat bahwa tulisan pertama menandai awal sejarah dan peristiwa itu terjadi pada sekitar 5,500 tahun yang lalu. Dengan menggunakan persamaan (4) di atas, waktu kosmik dari peristiwa itu baru terjadi sekitar 13 detik yang lalu atau pada 31 Desember, Pukul 23:59:47. Dengan cara yang sama kita dapat melihat kronologi peristiwa sejarah lainnya sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1.

Mengenai tabel itu ada dua catatan yang layak disisipkan:

  • Kolom (1) menunjukkan jarak waktu normal dalam arti menggunakan sistem Kalender Masehi diukur dalam ribuan tahun. Jarak waktu 5.0 dalam baris kedua, misalnya, menunjukkan bahwa peristiwa pembentukan Dinasti Mesir yang pertama terjadi 5,000 tahun yang lalu dari waktu kita sekarang.
  • Kolom (2) menunjukkan skala kosmis yang dinyatakan dalam tanggal dan waktu dalam Kalender Kosmis sebagaimana dibahas sebelumnya. Seperti terlihat dari tabel itu, semua peristiwa sejarah terjadi dalam menit terakhir akhir tahun (31 Desember, 23:59).

Dari tabel itu tampak bahwa peristiwa peradaban modern, sebagai ilustrasi, yang dimulai dengan era Renaisance di Eropa, baru terjadi dua detik yang lalu dalam Kalender Kosmik.

Tabel 1: Peristiwa Sejarah Awal menurut Jarak Waktu Normal (Ribuan Tahun) dan Kalender Kosmik (Tanggal-waktu Kosmik)
Jarak waktu normal Kalender kosmik

Peristiwa

(1) (2) (3)
5.5

31 Desember,

23:59:47

Tulisan pertama (menandai akhir prasejarah dan awal sejarah), dimulainya Zaman Perunggu
5.0

31 Desember,

23:59:48

Dinasti pertama Mesir, periode dinasti awal di Sumer, astronomi
4.5

31 Desember,

23:59:49

Alfabet, Kekaisaran Akkadia, roda
4.0

31 Desember,

23:59:51

Piagam Hammurabi, Kerajaan Pertengahan Mesir
3.5

31 Desember,

23:59:52

Yunani Mycenean; peradaban Olmec; Zaman Besi di Timur Dekat, India, dan Eropa; berdirinya Kartago.
3.0

31 Desember,

23:59:53

Kerajaan Israel, Olimpiade kuno.
2.5

31 Desember,

23:59:54

Buddha, Konfusius, Dinasti Qin, Yunani Klasik, Kekaisaran Ashoka, Weda selesai, geometri Euklides, fisika Archimedes, Republik Romawi.
2.0

31 Desember,

23:59:55

Astronomi Ptolemeus, Kekaisaran Romawi, Kristus, penemuan angka 0.
1.5

31 Desember,

23:59:56

Muhammad, peradaban Maya, Dinasti Song, kebangkitan Kekaisaran Bizantium.
1.0

31 Desember,

23:59:58

Kekaisaran Mongol, Perang Salib, pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, Renaisans di Eropa.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Kosmik

Kelahiran Para Rasul

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1, peristiwa kelahiran Rasul SAW dalam skala kosmis baru terjadi empat detik yang lalu. Bagaimana dengan kelahiran Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS dan Isa? Informasinya tidak tercantum dalam tabel itu tetapi dapat kita hitung secara sederhana berdasarkan data kelahiran dan rumus (4) sebagaimana disajikan sebelumnya. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2.

Pada tabel itu tampak, misalnya, Nabi Nuh AS yang lahir 3,993 Sebelum Masehi (SM) (berarti sekitar 6,000 tahun yang lalu) dalam skala kosmik peristiwanya baru terjadi 13.7 detik yang lalu. Pada tabel yang sama juga tampak bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS baru terjadi kurang dari lima menit yang lalu dalam skala kosmis.

Tabel 2: Tanggal Kelahiran Empat Rasul AS dalam Sistem Kalender Kosmik
Nabi Lahir (*) Jarak waktu (**) Skala Kosmik (detik)

Tanggal/waktu dalam Kalender Kosmik

Nuh AS 3,993 SM  6,011 13.7 31 Desember, 23:59:46
Ibrahim AS 2,295 M  4,313 9.9 31 Desember, 23:59:40
Musa AS 1,527 SM  3,545 8.1 31 Desember, 23:59:52
Isa AS 1 M  2,018 4.6 31 Desember, 23:59:55
(*) Sumber: Google
(**) Jarak waktu dari waktu masa-kini (dalam tahun)

Refleksi

Jika umur kita 70 tahun[3], maka dalam skala kosmik angka itu setara dengan 0.16 detik, durasi yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari pada kedipan mata yang oleh para ilmuan diyakini 0.4 detik (atau 400 milidetik)[4]. Dalam durasi yang sangat singkat itulah waktu yang tersedia bagi kita untuk “menanam” di “ladang amal” (meminjam istilah Aa Gym) selama kita hidup di sini di dunia-rendah (the lower-world-here), sebagai bekal kehidupan di akhirat. Tantangannya, apa dan bagaimana yang kita tanam itu dalam durasi waktu yang sangat singkat ini menentukan kehidupan di kampung akhirat[5], kehidupan abadi di dunia-atas-sana (the upper-world-there). Di luar imajinasi kita untuk dapat membayngkan lamanya kehidupan abadi itu: bisa mencapai 3.8 milyar tahun atau bahkan lebih. Yang pasti, selain wajah-Nya, semuanya punya batas waktu, punah (QS Ar-Rahman:26-27). Wallahualam……… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Age_of_the_universe

[2] Ini sebenarnya angka pendekatan. Jumlah hari dalam setahun, dengan memperhitungkan tahun Kabisat, secara rata-rata sebenarnya 365.25.

[3] Angka 70 dipilih sekadar untuk kemudahan. Perhitungan menurut data Sensus Penduduk 2010 menyarankan bahwa bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup (life expectancy) adalah 67.2 tahun bagi laki-laki dan 72.6 tahun bagi perempuan. Angka-angka ini bukan angka resmi (unpublished) dan merupakan hasil perhitungan penulis sebagai konsultan BPS-UNFPA dan Tim BPS dalam kegiatan “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”.

[4] https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/1348512/berapa-kali-mata-berkedip-dalam-1-menit.

[5] Bagi yang tertarik dengan “kampung akhirat”, lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/03/04/kampung-akhirat/.

 

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.

 

Kampung Akhirat: Refleksi Berbasis Teks Suci

Menurut teks suci Al-Quran, di kampung akhirat penghuni dan pemiliknya saling-meridai, raadhiatan mardhiyyah. Di kampung itu ada Taman ‘Adn yang tanaman-tanamannya tumbuh dari benih takwa: orang takwalah pewaris taman itu (19:63). Semua orang diundang masuk ke sana untuk menetap selamanya asalkan memiliki jiwa yang tenang:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30)[1].

Di sana semua sumber kenikmatan tersedia (56:10-37): dipan-dipan bertahtakan emas-permata, pembantu-pembantu muda-belia, minum-minuman nikmat-segar, buah-buahan apa pun yang diinginkan, daging burung apa pun yang diinginkan, bidadari/a-bidadari/a perawan belia-bermata-indah, serta bebas dari ujaran-ujaran menyakitkan, kotor, nyinyir dan sia-sia. Di sana juga ada pohon bidara tak-berduri, pohon-pohon pisang yang buah-buahnya lebat-bersusun, naungan terbentang luas, air mengalir tanpa-henti, serta kasur-kasur tebal-empuk. Di atas semuanya, penghuni kampung itu “dekat” bahkan dapat “bertemu” dengan Rabb mereka dan itulah puncak-dari-puncak kebahagiaan. Untuk bertemu dengan-Nya hanya menuntut dua syarat: mengerjakan kebajikan dan tidak mepersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya (18:110).

Menuju ke sana ada Jalan-Besar-Lurus: shiraathal mustaqiim (1:6-7). Jalan itu cukup besar untuk menampung semua Anak Adam dengan berbagai latar belakang sifat, bakat, serta kapasitas mental, intelektual dan spiritual. Jalan itu menentukan nasib akhir seseorang: hidup seseorang hanya dapat dikatakan sukses sejati, husnul khatimah, jika di akhir perjalanannya menapaki jalan itu.

Jalan itu dirancang sesuai dengan fitrah manusia, alladzi fatharan-naasa ‘alaihaa (30:30), disiapkan bagi makhluk yang diciptakan sesuai dengan citra-Nya, sesuai dengan kemuliaannya (17:70), serta sesuai pula dengan misi-ganda keberadaannya sebagai hamba (2:21) sekaligus khalifah-Nya (2:30) untuk memakmurkan bumi dan menebar rahmat. Jalan itulah yang ditawarkan Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Muhammad SAW:

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya) (42:13).

Kampung yang hanya dicapai melalui Jalan-Besar-Lurus itu sama-sekali tidak asing: siapa pun memiliki pengetahuan-bawaan mengenainya karena pernah tinggal di sana. Betapa pun redupnya, cahaya pengetahuan itu tetap menyala: terpateri dalam pusat jati-diri sejak zaman azali. Betapa pun lemahnya, kerinduan kembali ke kampung itu tetap mengusik: tersegel dalam sanubari sejak perjanjian alastu ketika setiap jiwa manusia melakukan kesaksian di hadapan Rabb-nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman). “Bukankah Aku ini Tuhanmu? (alastu bi-rabbikum) Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini” (7:172).

Celakanya manusia cenderung melupakan perjanjian itu dan “membuat maksiat terus menerus” (75:5). Na’uudzu billah min-dzaalik!

Wallahu’alam…..@

surgaku1

[1] Angka pertama merujuk ke nomor Surat Al-Quran, lainnya nomor ayatnya.