Refleksi, Sejarah

Umur Alam Semesta dan Kalender Kosmik: Catatan dan Refleksi


Usia Alam Semesta

Berapa umur alam semesta? Jawaban yang paling meyakinkan dan aman mungkin wallahualam. Sayangnya kita terlanjur terdidik untuk tidak merasa puas dengan jawaban semacam ini dan tergoda untuk merujuk pada hasil kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah terkini menduga kuat usia alam semesta sekitar 13.8 milyar tahun[1], suatu angka yang lebih tepatnya dinyatakan dalam bentuk

(13.799±0.021) x109

Angka pertama menunjukkan dugaan-titik (point estimate) sedangkan yang kedua kesalahan-margin (margin errors, ME) dari dugaan yang mengukur tingkat kecermatan dugaan itu. Kesalahan margin itu relatif sangat kecil, jauh di bawah satu persen, yang berarti selang kepercayaan dugaan lebih dari 99 persen. Bagi orang statistik, dugaan dengan ME sekecil itu, dikategorikan sebagai sangat dapat dipercaya, highly reliable. Bagaimana mengenai umur bum? Dugaan ilmiah merujuk pada angka 4.54 milyar tahun, tepatnya

(4.54±0.05) x109

ME-nya hanya sekitar 1.1 persen yang berarti tingkat keyakinan dugaan sekitar 98.9 persen, masih highly reliable.

Kalender Kosmis

Bagi yang ber-IQ pas-pasan seperti penulis sangat sulit membayangkan lamanya waktu 13.8 milyar tahun. Oleh karena itu kita patut berterima kasih kepada Carl Sagan yang telah memperkenalkan Kalender Kosmik, suatu metodologi untuk memvisualisasikan kronologi alam semesta secara populer. Dalam sistem kalender ini, umur 13.8 tahun diskalakan menjadi hanya satu tahun: Ledakan Besar (Big Bang) diletakkan pada awal tahun, 1 Januari tepat tengah malam (=pukul 00:00:00), dan waktu saat ini pada akhir tahun, 31 Desember sesaat sebelum tepat tengah malam (=pukul 24:00:00 kurang sedikit). Di antara dua titik ekstrem ini kita dapat meletakkan semua peristiwa alam semesta.

Gambar 1 menyajikan bebrapa peristiwa penting dalam Kalender Kosmis. Bagian pertamanya memvisualkan, antara lain, terbentuknya Galaksi Bima Sakti (Milky Way) pada bulan May, sementara Sistem Matahari Kita (Solar System) pada bulan September. Visualisasi ini membantu kita memahami proses dan skala waktu kosmis pembentukan benda-benda langit. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa skala kosmik dalam Gambar 1 didasarkan pada asumsi umur alam semesta 3.7 milyar tahun, bukan 3.8 milyar tahun sebagaimana disingung sebelumnya. Perbedaan ini berdampak pada kurang tepatnya penentuan tanggal terjadinya peristiwa sebagaimana akan kita lihat nanti.

Gambar 1: Beberapa Peristiwa Penting dalam Kalender Kosmik

Sumber: http://myphascination.blogspot.co.id/2014/07/kalender-kosmik-cosmic-calendar.html

Bagian 2 dalam Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada bulan terakhir dalam Kalender Kosmik, Desember. Dalam gambar ini kita menyaksikan peritiwa dimulainya kehidupan yang kita kenal terjadi pada bulan terakhir itu: spons (14 Desember), ikan(17 Desember), tumbuhan darat (20 Desember), serangga (21 Desember), reptil (23 Desember), dinosaurus (25 Desember), mamalia (26 Desember),…., asal-usul manusia (dalam perspektif Darwinis) (31 Desember).

Bagian 3 Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis. Kita melihat peradaban manusia dimulai pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis: pertanian dan kehidupan menetap (sekitar 22 detik terakhir), Dinasti China (9 detik terakhir), kelahiran Nabi Isa AS (4 detik terakhir), kelahiran Nabi Muhammad SAW (3 detik terakhir) dan penemuan Benua Amerika oleh Kolumbus (1 detik terakhir). Seperti disinggung sebelumnya, gambaran-gambaran waku peristiwa-peristiwa itu terjadi kurang tepat.

Kesetaraan Waktu Sebenarnya dengan Waktu Kosmik

Dalam Sistem Kalender Kosmik ini kita dapat menyusun beberapa persamaan  kesetaraan antara “tahun lalu waktu yang sebenarnya” dan “tahun lalu waktu kosmik” sebagai berikut:

  • 1 hari <—> (13.8×109/365[2]) tahun =37.8 juta tahun….. (1),
  • 1 jam <—> (3)/24 = 1.575 juta tahun ……………………………..(2),
  • 1 menit <—> (4)/60 = 26,265 tahun ……………………………….(3), dan
  • 1 detik <—> (5)/60 = 437.5 tahun …………………………………..(4)

Dengan persamaan (1), sebagai ilustrasi, kita dapat melihat peristiwa terbentuknya bumi yang terjadi pada 4.54 milyar tahun itu setara dengan peristiwa 121.1 hari yang lalu:

(4.54×109 )/(37.8 x106) hari = 120.1 hari.

Dalam Kalender Kosmik yang kita bicarakan, peristiwa itu merujuk pada sekitar akhir Agustus, bukan pada September sebagaimana disarankan oleh Gambar 1. Perbedaan ini terjadi karena perhitungan perbedaan asumsi mengenai umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya

Kronologi Formasi Alam Semesta

Berdasarkan persamaan (1) kita dapat meletakkan dalam sistem kalender itu beberapa peristiwa kosmis yang terjadi milyaran tahun yang lalu:

  • Terbentuknya Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti, di mana sistem matahari kita merupakan bagian darinya, dilaporkan terbentuk sekitar 11 milyar tahun lalu. Dalam skala kosmik ini berarti sekitar 291 hari yang lalu. Angka itu kita dapatkan dari hasil pembagian berikut:

(11×109 )/ (37.8×106) = 291

Dalam sistem kalender ini, waktu kosmik 291 hari yang lalu (terhitung dari 31 Desember) identik dengan 74 hari pertama (terhitung dari 1 Januari) atau 15 Maret. Tanggal itu berbeda dengan yang disajikan pada Gambar 1 (May) karena perbedaan asumsi umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya.

  • Terbentuknya Matahari dan Planetnya. Matahari dilaporkan terbentuk 4.7 milyar tahun yang lalu dan planet=planetnya terbentuk segera setelah matahari terbentuk. Peristiwa ini dalam Kalender Kosmik adalah 31 Agustus.
  • Terbentuknya batu tertua di bumi. Batu tertua di bumi dilaporkan berumur 4.0 milyar tahun yang lalu yang setara dengan 16 September dalam Sistem Kalender Kosmik.

Sejarah Awal

Para ilmuan sepakat bahwa tulisan pertama menandai awal sejarah dan peristiwa itu terjadi pada sekitar 5,500 tahun yang lalu. Dengan menggunakan persamaan (4) di atas, waktu kosmik dari peristiwa itu baru terjadi sekitar 13 detik yang lalu atau pada 31 Desember, Pukul 23:59:47. Dengan cara yang sama kita dapat melihat kronologi peristiwa sejarah lainnya sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1.

Mengenai tabel itu ada dua catatan yang layak disisipkan:

  • Kolom (1) menunjukkan jarak waktu normal dalam arti menggunakan sistem Kalender Masehi diukur dalam ribuan tahun. Jarak waktu 5.0 dalam baris kedua, misalnya, menunjukkan bahwa peristiwa pembentukan Dinasti Mesir yang pertama terjadi 5,000 tahun yang lalu dari waktu kita sekarang.
  • Kolom (2) menunjukkan skala kosmis yang dinyatakan dalam tanggal dan waktu dalam Kalender Kosmis sebagaimana dibahas sebelumnya. Seperti terlihat dari tabel itu, semua peristiwa sejarah terjadi dalam menit terakhir akhir tahun (31 Desember, 23:59).

Dari tabel itu tampak bahwa peristiwa peradaban modern, sebagai ilustrasi, yang dimulai dengan era Renaisance di Eropa, baru terjadi dua detik yang lalu dalam Kalender Kosmik.

Tabel 1: Peristiwa Sejarah Awal menurut Jarak Waktu Normal (Ribuan Tahun) dan Kalender Kosmik (Tanggal-waktu Kosmik)
Jarak waktu normal Kalender kosmik

Peristiwa

(1) (2) (3)
5.5

31 Desember,

23:59:47

Tulisan pertama (menandai akhir prasejarah dan awal sejarah), dimulainya Zaman Perunggu
5.0

31 Desember,

23:59:48

Dinasti pertama Mesir, periode dinasti awal di Sumer, astronomi
4.5

31 Desember,

23:59:49

Alfabet, Kekaisaran Akkadia, roda
4.0

31 Desember,

23:59:51

Piagam Hammurabi, Kerajaan Pertengahan Mesir
3.5

31 Desember,

23:59:52

Yunani Mycenean; peradaban Olmec; Zaman Besi di Timur Dekat, India, dan Eropa; berdirinya Kartago.
3.0

31 Desember,

23:59:53

Kerajaan Israel, Olimpiade kuno.
2.5

31 Desember,

23:59:54

Buddha, Konfusius, Dinasti Qin, Yunani Klasik, Kekaisaran Ashoka, Weda selesai, geometri Euklides, fisika Archimedes, Republik Romawi.
2.0

31 Desember,

23:59:55

Astronomi Ptolemeus, Kekaisaran Romawi, Kristus, penemuan angka 0.
1.5

31 Desember,

23:59:56

Muhammad, peradaban Maya, Dinasti Song, kebangkitan Kekaisaran Bizantium.
1.0

31 Desember,

23:59:58

Kekaisaran Mongol, Perang Salib, pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, Renaisans di Eropa.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Kosmik

Kelahiran Para Rasul

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1, peristiwa kelahiran Rasul SAW dalam skala kosmis baru terjadi empat detik yang lalu. Bagaimana dengan kelahiran Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS dan Isa? Informasinya tidak tercantum dalam tabel itu tetapi dapat kita hitung secara sederhana berdasarkan data kelahiran dan rumus (4) sebagaimana disajikan sebelumnya. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2.

Pada tabel itu tampak, misalnya, Nabi Nuh AS yang lahir 3,993 Sebelum Masehi (SM) (berarti sekitar 6,000 tahun yang lalu) dalam skala kosmik peristiwanya baru terjadi 13.7 detik yang lalu. Pada tabel yang sama juga tampak bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS baru terjadi kurang dari lima menit yang lalu dalam skala kosmis.

Tabel 2: Tanggal Kelahiran Empat Rasul AS dalam Sistem Kalender Kosmik
Nabi Lahir (*) Jarak waktu (**) Skala Kosmik (detik)

Tanggal/waktu dalam Kalender Kosmik

Nuh AS 3,993 SM  6,011 13.7 31 Desember, 23:59:46
Ibrahim AS 2,295 M  4,313 9.9 31 Desember, 23:59:40
Musa AS 1,527 SM  3,545 8.1 31 Desember, 23:59:52
Isa AS 1 M  2,018 4.6 31 Desember, 23:59:55
(*) Sumber: Google
(**) Jarak waktu dari waktu masa-kini (dalam tahun)

Refleksi

Jika umur kita 70 tahun[3], maka dalam skala kosmik angka itu setara dengan 0.16 detik, durasi yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari pada kedipan mata yang oleh para ilmuan diyakini 0.4 detik (atau 400 milidetik)[4]. Dalam durasi yang sangat singkat itulah waktu yang tersedia bagi kita untuk “menanam” di “ladang amal” (meminjam istilah Aa Gym) selama kita hidup di sini di dunia-rendah (the lower-world-here), sebagai bekal kehidupan di akhirat. Tantangannya, apa dan bagaimana yang kita tanam itu dalam durasi waktu yang sangat singkat ini menentukan kehidupan di kampung akhirat[5], kehidupan abadi di dunia-atas-sana (the upper-world-there). Di luar imajinasi kita untuk dapat membayngkan lamanya kehidupan abadi itu: bisa mencapai 3.8 milyar tahun atau bahkan lebih. Yang pasti, selain wajah-Nya, semuanya punya batas waktu, punah (QS Ar-Rahman:26-27). Wallahualam……… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Age_of_the_universe

[2] Ini sebenarnya angka pendekatan. Jumlah hari dalam setahun, dengan memperhitungkan tahun Kabisat, secara rata-rata sebenarnya 365.25.

[3] Angka 70 dipilih sekadar untuk kemudahan. Perhitungan menurut data Sensus Penduduk 2010 menyarankan bahwa bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup (life expectancy) adalah 67.2 tahun bagi laki-laki dan 72.6 tahun bagi perempuan. Angka-angka ini bukan angka resmi (unpublished) dan merupakan hasil perhitungan penulis sebagai konsultan BPS-UNFPA dan Tim BPS dalam kegiatan “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”.

[4] https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/1348512/berapa-kali-mata-berkedip-dalam-1-menit.

[5] Bagi yang tertarik dengan “kampung akhirat”, lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/03/04/kampung-akhirat/.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s