Nilai Anak, Migrasi dan Rahmat Tersembunyi


Sumber Gambar: Google

Cara sederhana untuk mengenali kemajuan suatu negara adalah dengan mencermati karakteristik penduduknya. Negara-negara maju bercirikan angka kelahiran dan angka kematian yang rendah; sebaliknya, negara-negara berkembang pada umumnya– tidak selalu– bercirikan angka kelahiran dan angka kematian tinggi.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi keadaan ini terkait dengan nilai anak (value of children) bagi orang tua. Di negara-negara maju anak dinilai lebih sebagai beban dari pada sumber daya sehingga bagi orang tua yang penting kualitas anak, bukan kuantitasnya. Bagi mereka arus ke kayaan (flow of wealth) dari arah orang tua ke anak.

Pandangan orang tua di negara-negara berkembang berbeda. Bagi mereka anak berfungsi sebagai buruh-murah dan jaminan hari-tua. Jadi, arus kekayaan dari anak ke orang tua. Dengan cara-pandang ini orang tua menilai memiliki banyak anak menguntungkan, “banyak anak, banyak rezeki”.

Tapi perbedaan pandangan mengenai nilai anak pada level global kini tidak terlalu signifikan. Ini sebagian terkait dengan proses penerimaan nilai-nilai “Barat” secara umum pada level global.  Sejalan dengan ini, profil kependudukan global kini boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh profil kependudukan dua negara “raksasa” yang memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang rendah yaitu Cina dan Indonesia.

Di negara-negara maju angka-angka kelahiran sudah lebih rendah dari “tingkat-pergantian” (replacement level). Artinya? Artinya, anak perempuan yang akan menggantikan fungsi reproduksi ibunya jumlahnya lebih sedikit dari jumlah ibu mereka. Dampaknya? Dampaknya, jika keadaan ini dibiarkan,  jumlah penduduk akan terus berkurang sebelum akhirnya habis.

Karena memiliki angka kelahiran yang rendah, negara-nega maju (termasuk Jepang dan Korea) kini menghadapi masalah struktur umur penduduk. Masalah ini ditandai oleh berkurangnya proporsi usia muda dan meningktnyua proporsi usia tua.  Ageing. Ini berarti meningkatnya rasio-ketergantungan-tua (old-dependency-ratio) yang harus ditanggung oleh penduduk usia kerja. Ini jelas tidak menguntungkan secara ekonomi: sulitnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, bukan karena salah-kelola governance atau kurang produktifnya tenaga kerja, tetapi karena tinginya angka rasio-ketergantungan-tua itu. Jadi, agaknya, tidak ada solusi-ekonomi dalam pengertian umum kata ini.

Penyelesaiannya? Solusi demografi: datangkan migran-masuk berusia produktif dalam arti-ekonomi maupun reproduksi dalam jumlah yang signifikan. Sesederhana itu!

Arus migrasi yang dimaksud kini tengah melanda kawasan negara-negara maju di Eropa Barat. Migran terutama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mayoritas Muslim, tapi juga dari kawasan Eropa Timur yang relatif miskin secara ekonomi. Sayangnya, Eropa Barat melihat arus migrasi ini lebih sebagai sumber masalah, khususnya atas nama keamanan dan ketahanan identitas nasional yang memicu hidup-suburnya ideologi nasionalise sempit dan ekslusif. Mungkin dengan sedikit kekecualian termasuk Kanselir Jerman dan PM Kanada, para petinggi “Barat” enggan melihat arus imigrasi ini sebagai “rahmat tersembunyi” yang dapat mengatasi secara efektif dan efisien masalah kependudukan mereka.

Bagi Eropa masalah ini serius sebagaimana diingatkan Tariq Ramadan:

In its haste to bolster nationalism, in its obsession with security, Europe is losing its soul.

Every country in Europe needs immigrants for their economic survival.

Wallhualam….@

 

 

 

Wallahualam… @

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.