Mencermati Arti Kata Jahil


Kata jahil (Arab) biasa diartikan sebagai bodoh. Ini tidak salah tetapi secara kebahasaan tidak lengkap. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan secara singkat ketidaklengpan ini menggunakan Al-Quran sebagai referensi utama.

Sang Filsuf dan Joki Unta

Ada cerita menarik mengenai dialog singkat antara dua orang pengembara yang berbeda profesi: filsuf dan joki unta. Sang filsuf sangat terdidik, berpengetahuan sangat luas, serta terlatih berpikir abstrak. Sebaliknya, Sang Joko tidak terdidik, miskin ilmu, dan biasa berpikir sederhana.

Filsuf: “Bagaimana Anda mengetahui bahwa Tuhan itu ada?”

Joki Unta: (Menunjuk pada kotoran Unta) “Kotoran ini membuktikan tadi ada Unta di sini”.

Dalam cerita ini sang filsuf mewakili orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih, sementara sang joki yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih. Seperti akan segera terlihat, dua-duanya secara kebahasaan termasuk dalam kategori jahil[1].

Arti Kata Jahil

Kata jahil berasal dari kata kerja jahila-yajhalu (جَهِلَ – يَجْهَلُ). Lawan katanya antara lain ‘alima (‘arafa) dan ‘aqala[2]. Dua kata ini masing-masing berarti mengetahui dan berakal. Jadi kata orang jahil dapat berarti orang yang: (1) tidak mengetahui, tidak berilmu (Inggris: do not know, ignorance), dan (2) tidak berakal, tidak berpikir jernih (Inggris: do not think, mindlessness).

Antara berilmu dan berakal dalam arti berpikiran jernih tidak selalu ada hubungan positif. Artinya, banyak orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih (kasus sang filsuf dalam cerita di atas), dan banyak pula yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih (kasus sang joki). “Overdosis” pengetahuan agaknya berpotensi mengurangi kapasitas berpikiran jernih. Al-Quran datang, paling tidak dalam perspektif Muslim, untuk mengonfrontasi dua jenis kejahilan itu, ignorance dan mindlessness, yang menjadi ciri umum masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam.

Apakah Kalian Tidak Berakal?

Apakah Kalian Tidak Berakal? (Quran: Afala ta’qilun?) Kalimat ini banyak dijumpai dalam Al-Quran yang pada umumnya diterjemahkan sebagai “Apakah kalian tidak berakal (memikirkan, memahami, mengerti)? Salah satu ayatnya (QS 2:44) berikut ini:

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat?) Tidakkah kamu mengerti?

Ayat ini mengkritik sebagian ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang bertindak tidak logis atau tidak berpikiran jernih. Untuk menegaskannya ayat ini menggunakan turunan dari kata akal (ta’qilun). Kritik serupa dijumpai dalam QS (2:146) berikut.

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui (nya).

Ayat ini menggunakan kata turunan ‘arafa (ya’rifunahu) dan ‘alima (ya’lamun) yang seakan-akan menegaskan tindakan tidak logis mereka itu (tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW) sama-sekali bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tahu yang dalam Bahas Arab tidak berakal.

QS (2:44) bukan satu-satu ayat yang diakhiri dengan kalimat “Apakah kalian berakal?” Kita dapat menjumpai ayat lain dengan akhir kalimat yang sama termasuk  QS (12:199, 6:32, 7:169, 11:51, 2:76, 3:65, 10:16, 21:10, 21:67, 23:80, 28:60, 37:138).

Menarik Kesimpulan Logis

Dari uraian di atas jelas salah satu arti jahil adalah tidak berakal. Istilah tidak berakal dalam Bahasa Arab lebih mendekati arti “tidak mau mengerti”, “tidak mau memetik pelajaran atau hikmah”, “tidak bertindak logis” “tidak peduli”, mindlessness. Singkatnya, lebih mencerminkan aksi kehendak (the will) dari pada aksi pikiran (intelligence).

Orang yang memiliki pengetahuan luas atau konsepsi yang benar mengenai sesuatu (termasuk Allah SWT) tidak menjamin ia berakal dalam pengertian itu. Bacaan sejumlah ayat mengenai karakterisasi masyarakat jahiliah Masyarakat Mekah di era sebelum kedatangan Islam.

Mungkin berbeda dengan kepercayaan umum, Al-Quran mendokumentasikan bahwa masyarakat jahiliah sangat mengenal Allah dan secara umum memiliki konsepsi yang benar mengenai-Nya. Mereka mengenal Allah antara lain sebagai

  • Pencipta langit dan bumi: QS (31:25, 39:28))
  • Yang menurunkan air hujan atau sumber kehidupan: QS (29:63)
  • Tuhan Ka’bah: QS (106)
  • Pencipta mereka: QS(43:87)

Semua konsepsi itu benar menurut Al-Quran dan logisnya menempatkan Allah SWT, meminjam istilah Izutsu (1964), sebagai pusat medan semantik (the center of semantic field[3]) dalam welstaung atau cara pandang-dunia. Di sinilah letak kesalahannya: masyarakat jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan yang logis dari konsepsi yang benar.

 …masyarakt jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan logis dari konsepsi yang benar

Implikasi dari ketidakmampuan itu antara lain tindakan mereka “mengambil tuhan lain selain Allah (musyrik)” dan keyakinan bahwa “Allah tidak campur tangan dalam urusan aktual manusia sehari-hari”. Implikasi lebih lanjut, sekalipun mereka masih menyeru Alah SWT ketika dalam keadaan putus asa, mereka kembali berpaling dari-Nya begitu lepas dari kesulitan:

Dan apabila kamu ditempa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu, ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur) (QS (17:67)).

Implikasi lebih lanjut lagi, dan ini mungkin puncak kesalahan, mereka tidak mempercayai kehidupan akhirat:

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita dan mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita seain masa. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-menduga saja ((QS(45:24)

Penulis yakin sebagian besar kita percaya pada kehidupan akhirat. Pertanyaannya, apakah kita mampu menarik kesimpulan logis dari- dan konsisten dengan– kepercayaan itu. Jika jawabannya negatif jangan-jangan kita termasuk jahil.

Wallahualam…..@

[1] Kisah lengkap mengenai filsuf dan joki unta dapat diakses di sini https://www.youtube.com/watch?v=9jqJvzSecWw

[2] https://www.almaany.com/en/thes/ar-en/%D8%AC%D9%87%D9%84/

[3] T. Izusu, God and Man in Quran, Keio University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.