Covid-19: Tren dan Sebaran

Wabah Covid-19 masih atau semakin memprihatinkan. Tertanggal 23 Februari 2020, per pukul 22.50[1], total kasusnya dilaporkan 78,997. Dari total itu sebanyak 2,470 meninggal dan 23,425 disembuhkan. Jadi sejauh ini ada sebanyak 25,895 (=2,470+23,425) kasus yang sudah ditutup sehingga outcome-nya dapat diketahui, sembuh atau meninggal. Sisanya sebanyak 53,102 kasus statusnya masih kasus aktif yang sekitar 22% di antaranya dilaporkan dalam keadaan serius atau kritis[2].

Berdasarkan angka-angka di atas, angka keparahan penyakit, diukur dengan angka fatalitas kasus (CFR), dapat diperkirakan yaitu sekitar 10% (=2,470/25,895). Angka ini perlu dilihat sebagai hasil perhitungan dengan cara paling sederhana[3] dan sangat sementara karena kasusnya masih berlangsung dengan perkembangannya menurut para ahli masih belum dapat diprediksi secara meyakinkan.

Angka CFR=10% sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan CFR untuk MERS atau SARS, misalnya[4]. Tetapi yang paling mengkhawatirkan dari Covid-19 memang bukan tingkat keparahan[5], tetapi tren dan sebaran geografisnya.

Tren

Grafik 1 menyajikan tren total kasus Covid-19 per hari dalam kurun waktu sebulan dari 23/2-23/2, 2020. Kasusnya meningkat dari sekitar 845 menjadi sekitar 80,000 pada 23 Februari 2020, atau meningkat lebih dari 90 kali. Dalam dua hari terakhir, 22-23 Februari terjadi pertambahan sebanyak 346 kasus (pada grafik tidak tampak). Singkatnya, kasus Covid-19 masih terus meningkat. Sampai hari ini.

Grafik: Total Kasus COVID-19 (23/1-23/2, 2020)

Sebaran

Wabah Covid-19 menjangkau lebih dari 30 negara (lihat Tabel). Pada tabel itu tampak layak jika Korea Selatan dan Italia akhir-akhir ini dilaporkan memperlihatkan “kepanikan” karena kasus dan angka besar angka fatalitasnya (CFR) relatif tinggi.

Tabel: Sebaran Geografis Kasus Covid-19 dan Statusnya

(Keadaan 23/2/20120, Pukul 22.50)

*****

Menanggapi perkembangan wabah Covid-19, dua orang ahli[6] memberikan opini sebagai berikut:

  • I think it is likely we will see a global pandemic. If a pandemic happens, 40% to 70% of people world-wide are likely to be infected in the coming year. What proportion is asymptomatic, I can’t give a good number.
  • It could infect 60% of global population if unchecked.

Mereka bukan orang sembarangan. Yang pertama adalah Prof. Marc Lipsitch, Prof. of Epidemiology, Harvard School of Public Health, Head, Harvard Ctr. Communicable Disease Dynamics (14/2020). Yang kedua, Prof. Gabriel Leung, Expert on coronavirus epidemics Chair of Public Health Medicine, Hong Kong University (11/2/ 2020).

Opini ahli itu sebagaimana dikutip di atas jelas skenario buram. Di sisi lain, skenario itu dalam bahasa agama (Islam) bisa dikategorikan itu takdir. Tugas kita secara kolektif “menghindari suatu takdir dan beralih ke takdir lain yang lebih baik” (Hadits Nabi SAW). Aparat WHO, lembaga karantina, para ahli dalam rumpun ilmu-ilmu kesehatan, dan pihak lain yang terkait, atas nama kita secara jamaah, telah berupaya keras agar skenario buram itu tidak sampai terjadi. Walaupun demikian perlu disadari bahwa dalam takdir ada semacam misteri, semacam “pagar” menurut istilah Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam dalam Al-Hikam aforisme ke-3:

gr2

“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak dapat memecahkan pagar takdir”.

Wallahualam…@

[1] Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

Catatan: Dalam kasus virus ini penyebutan jam laporan diperlukan karena perubahan status kasus dapat berubah cepat. Sebagai ilustrasi, per pukul 10 tanggal yang sama total kasus yang dilaporkan per pukul 10 sebanyak 78.889 dan ini berarti penambahan 109 kasus 109 dalam waktu 12 jam.

[2]https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

[3] Artikel mengenai metode estimasi CFR untuk kasus yang masih berlangsung yang mungkin paling dapat diandalkan secara statiistik tetapi relatif kompleks dapat diakses di sini: https://academic.oup.com/aje/article/162/5/479/82647

[4] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

[5] Mengenai tingkat keparahan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/02/21/covid-19-dan-angka-fatalitas/

[6] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-expert-opinions/

COVID-19 dan Angka Fatalitas

COVID-19: Coronavirus Disease 2019. Masyarakat global kini tengah memprihatinkan kasus penjangkitan jenis virus ini yang juga dikenal sebagai nCoV-Novel Coronavirus. Seperti halnya MERS-CoV[1] dan SARS-CoV[2], COVID19 tertular ke manusia melalui hewan[3]: unta bagi MERS-CoV dan musang bagi SARS-CoV. Bagi COVID-19 belum jelas; yang jelas, penyebarannya berawal dari suatu pasar hewan dan unggas di Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, RRC, yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa[4].

Yang paling mengkhawatirkan dari COVID-19 adalah kecepatan penyebarannya. Dilihat dari kecepatannya, agaknya tidak ada yang berani mengabaikan kemungkinan penjangkitan COVID-19 menjadi pandemik dalam arti mewabah secara nasional, regional bahkan global. Kuncinya terletak pada kemampuan RRC menghentikan penyebaran itu.

Belum Melambat

Besar masalah COVID-19 tercermin dalam laporan WHO per 18 Februari 2020[5] berikut ini:

  • Global: 73,332 kasus terkonfirmasi (1901 baru), 1,873 meninggal (101 baru), dan penilaian risiko[6] tinggi; dan
  • Cina: 72,528 kasus terkonfirmasi (1891 baru), 1870 meninggal (3 baru), dan penilaian risiko sangat tinggi.

Besarnya angka-angka itu sudah memprihatinkan. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah perkembangannya per hari. Angka 73,442 (total kasus), sebagai contoh, 27 hari sebelumnya kurang dari 1000. Grafik 1 menunjukkan perkembangan itu selama 27 hari terakhir sampai 18 Februari 2020.

Grafik 1: Total Kasus COVID-19

Grafik 1 juga menyiratkan terus bertambahnya kasus baru dan belum menunjukkan adanya perlambatan. Grafik 2 menunjukkan hal itu secara lebih langsung.

Grafik 2: Kasus COVID-19 Baru

Hasil studi menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara umur dengan paparan COVID-19; artinya, semakin tua seseorang, semakin besar risikonya terpapar COVID-19, ceteris paribus. Tidak ada laporan kasus bayi atau anak-anak terpapar COVID-19. Pertanyaannya, apakah ini semacam bentuk involuntary check (meminjam istilah Malthus) untuk mengoreksi struktur umur populasi yang semakin membesar ke umur-umur tua?

Angka Fatalitas

Berapa yang meninggal karena COVID-19? Pertanyaan ini sangat menggoda sehingga banyak orang yang memprediksi angkanya, angka fatalitas (case fatality rate, CFR). Upaya semacam ini tentu sah-sah saja. Yang perlu dicatat, saat ini prediksi semacam itu dapat menghasilkan angka yang menyesatkan. Masalahnya, proses penjangkitan masih berlangsung dan arahnya sukar untuk diprediksi.

CFR pada prinsipnya menyajikan proporsi kasus suatu penyakit  yang pada akhirnya meninggal karena penyakit itu. Rumusnya sederhana:

CFR = death/cases …..(1)

di mana death menunjukkan jumlah kasus yang meninggal, dan ceses adalah total kasus.

Tetapi rumusnya itu hanya berlaku jika epidemi COVID-19 telah berakhir. Karena epideminya masih berlangsung maka penerapan rumus itu, istilah WHO, paling tidak naif (“naïve”) dan sangat menyesatkan[7].

Jika kasusnya masih berlangsung maka rumusnya menjadi:

CFR = deaths at day (x) / cases at day (x-{T}) …..(2)

dimana T= rata-rata periode waktu antara kasus dikonfirmasi dan meninggal.

Kita dapat menerapkan ke dua rumus di atas pada data WHO per 8 Februari 2012. Menurut data itu secara global tercatat ada 813 kematian (total kumulatif) dan 37,552 kasus (total kumulatif).

Dengan rumus (1) yang menyesatkan itu kita dapat menghitung

CFR = 813/37,552 = 2.2%.

Kita bisa terapkan rumus (2) dengan T=7, rata-rata periode waktu antara kasus terkonfirmasi dan meninggal yang berarti merujuk pada kasus terkonfirmasi pada 1 Februari 2012 yang dilaporkan sebanyak 14,381. Hasilnya:

CFR = 813/1,438 = 5.7%.

Jadi hasil perhitungan kedua rumus itu sangat berbeda. Sebagai catatan, CFR adalah ukuran keparahan kematian (death severity) yang berbeda dengan angka insiden kematian (death incidence) yang biasa diukur dengan angka mortalitas atau mortality rate.

Lebih Rendah

Jika kita percaya pada angka CFR=5.7% maka kita dapat menyimpulkan angka CFR COVID-19 sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan, misalnya, CFR untuk SARS (CFR sekitar 10%) maupun MERS (CFR=34%)[8]:

At a briefing on 17 February WHO’s director general, Tedros Adhanom Ghebreyesus, said that more than 80% of patients with covid-19 have a “mild disease and will recover” and that it is fatal in 2% of reported cases. In comparison, the 2003 outbreak of severe acute respiratory syndrome (SARS) had a case fatality rate of around 10% (8098 cases and 774 deaths), while Middle East respiratory syndrome (MERS) killed 34% of people with the illness between 2012 and 2019 (2494 cases and 858 deaths).12

However, despite the lower case fatality rate, covid-19 has so far resulted in more deaths (1871) than SARS and MERS combined (1632).

Lebih Bijak

Menyikapi angka-angka itu, khususnya terkait COVID-19, mungkin akan lebih bijak jika kita mencermati peringatan Heyyman bahwa semua hasil perhitungan masih bersifat sementara, “They aren’t truth[9]:

Various epidemiological models estimate that the real number of cases is 100,000 or even more. Experts urged caution in interpreting those estimates.

“These are very early models that make several assumptions based on what evidence is available,” said David Heymann, an epidemiologist at the London School of Hygiene and Tropical Medicine. “They aren’t truth — they’re just one step in trying to better understand this outbreak.”

Singkatnya, kita harus mengakui belum tahu banyak mengenai COVID-19. Pertanyaannya, apakah lebih bijak lagi jika menilai penjangkitan penyakit ini sebagai suatu misteri, misteri bukan berarti sesuatu yang sukar atau mustahil dipahami atau dijelaskan, tapi, meminjam istilah Schuon (2007:119)[10], sesuatu yang “something God“?

By “mystery” we do not mean something incomprehensible in principle– unless on the purely rational level– but something that opens on the Infinite or envisage in this respect, so that intelligibility becomes limitless and humanly inexhaustible. A mystery is “something of God”.

Wallahualam…@

Coronavirus, MERS, SARS, CFR, pandemi COVID-19, Wuhan

[1] Middle East Respiratory Syndrome.

[2]  Severe Acute Respiratory Syndrome.

[3] . https://www.who.int/health-topics/coronavirus

[4] https://en.wikipedia.org/wiki/Wuhan

[5] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[6] WHO risk assessment

[7] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[8] https://www.bmj.com/content/368/bmj.m641

[9] https://www.nytimes.com/interactive/2020/world/asia/china-wuhan-coronavirus-maps.html

[10] F. Schuon, Spiritual Perspectives & Human Facts, World Wisdom.

Pandang-Dunia Jahili dan Qurani

Masyarakat global tengah waswas karena epidemi Coronavirus yang mengglobal, menjangkiti (per tanggal 11 Februari 2020) sebanyak 43,101 jiwa, dan sebanyak 1,107 di antaranya meninggal[1]. Epidemi ini dilaporkan melumpuhkan kegiatan ekonomi tidak hanya di Wuhan-Cina di mana episentrum epidemi terletak, tetapi juga di kawasan Cina lainnya, bahkan dilaporkan mulai menganggu aktivitas ekonomi Dubai–Uni Emirat Arab. Yang terakhir ini menambah waswas banyak pihak karena Dubai merupakan salah satu pusat persinggahan lalu-lintas global. Demikianlah gambaran singkat mengenai kenyataan obyektif situasi-terkait virus corona.

Pertanyanya adalah apa artinya semua itu bagi kita secara subyektif. Ini adalah pertanyaan eksistensialis model Kierkegaard. Jawabannya tergantung pada cara pandang-dunia (world view, Weltanschauung), cara pandang melihat dunia secara keseluruhan. Bagi Kierkegaard semua fenomena alam yang dapat kita amati dan persepsi adalah tanda (Arab: ayat). Sayangnya dia tidak mengelaborasi lebih lanjut tanda apa.

Ada banyak cara pandang-dunia dan dua di antaranya yang utama adalah cara-pandang jahili dan cara-pandang qurani. Tulisan ini membahas secara singkat dua cara-pandang ini.

Pandangan Jahili

Istilah jahili dalam tulisan ini merujuk pada cara-pandang arus-utama Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam awal abad ke-7. Ada empat ciri utama cara-pandang ini: (1) Ada ilah (Tuhan) lain selain Allah, (2) Tuhan tidak campur-tangan dalam urusan dunia, (3) Waktu (al-Dahr) menentukan kehidupan dunia, (4) tidak mempercayai keabadian jiwa atau kehidupan akhirat[2]. Semua ciri itu diabadikan secara ringkas dalam QS (45:24):

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (teks: al-Dhar). Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.

Pandang-dunia jahili ini sangat suram serta mendorong sikap dan perilaku fatalisme dan kehidupan hedonisme. Yang menarik untuk dicatat, pandangan ini sangat mirip (kalau tidak persis sama) dengan konsep nihilisme dan absurditas hidup sebagaimana dikembangkan oleh para sesepuh eksistensialisme[3]:

The notion of the absurd contains the idea that there is no meaning in the world beyond what meaning we give it. This meaninglessness also encompasses the amorality or “unfairness” of the world. This conceptualization can be highlighted in the way it opposes the traditional Abrahamic religious perspective, which establishes that life’s purpose is about the fulfillment of God’s commandments. Such a purpose is what gives meaning to people’s lives. To live the life of the absurd means rejecting a life that finds or pursues specific meaning for man’s existence since there is nothing to be discovered.

Pertanyaan: Apakah Zaman Now masih banyak penganut atau pemrakarsa cara-pandang jahili atau filsafat nihilis atau absurditas dunia?

Pandangan Qurani

Al-Quran, seperti halnya kitab-kitab berbasis wahyu lainnya (Taurat, Injil, dsb.), pada prinsipnya menegaskan dua ajaran pokok: (1) semua fenomena hidup di dunia-bawah-sini ini (the here-lower World) adalah tanda atau ayat keberadaan-Nya, (2) kehidupan abadi di Dunia-Atas-Sana (upper-hereafter World), dunia di mana semua jiwa akan mempertanggungkan kiprahnya di dunia ini secara adil. Ajaran kedua jelas mendorong kehidupan yang bertanggung jawab. Ajaran pertama mengingatkan bahwa Dia-SWT campur tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al-Quran, meminjam istilah Izutsu, Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara lingustik (melalui wahyu) maupun non-lingustik (melalui fenomena alam). Dengan demikian, bagi mereka yang meyakini Kitab Suci berbasis wahyu, memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan. Fenomena alam yang dimaksud mencakup aneka macam peristiwa alamiah (qurani: sunnatullah), termasuk epidemi Coronavirus, ledakan dahsyat bintang raksasa di suatu galaksi sehingga menimbulkan supernova, dan merekahnya kelopak bunga lily of the valey karena terpapar hangat matahari pagi.

… memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan.

Ayat non-lingustik ini “diturunkan” (istilah qurani: tanzil) oleh-Nya dan manusia dapat memahaminya (qurani: aqala, fahima, dsb.) Kenapa? Karena manusia memiliki organ yang dibutuhkan yaitu hati (qurani: lubb (pl. albab), qalb (fuad)).

Ayat itu dapat berbentuk khabar gembira (qurani: tabasshir) termasuk nikmat dan rahmat atau kabar buruk atau peringatan (qurani: indhar) termasuk azab. Respons manusia dua macam, membenarkan (qurani: tashdiq) atau mendustakan (qurani: takzib). Respons ini menentukan secara kategori apakah manusia tergolong beriman atau kafir.

Terima kasih layak ditujukan pada Izutsu telah membuat sistematika alur pikir Weltanschauung[4] Al-Quran mengenai ayat non-linguistik ini. Sebagian kecil dari sistematika itu disajikan pada Tabel berikut dengan harapan dapat mempermudah bacaan mengenai alur pikir itu.

Tabel: Ayat Non-Lingustik dan Respons Manusia

Divine Part God “send down” the ayat Tanzil
 

 

 

 

 

 

Human Part

Man understands the meaning of ayat aqala, fahima. faqiha, tafkkara, tadzakkara, tawassama, etc
The organ of understanding lubb (pl. albab), qalb (fuad)
The meaning of ayat A: ni’mah, rahmah, etc. (tabasshir)

B: intiqam, ‘iqab. ‘adzab, sakhat, etc (indhar)

The human response (a) tashdiq

(b) takdzib

The immediate consequence I: shukr (A+a)

II: taqwa (B+a)

III. kufr ((A,B)+b)

The final result Iman (I,II),

kufr (III)

Sumber: Diadaptasi dari Izutsu (1964:147).

Sikap Taqwa

Mereka yang memilik cara-pandang qurani tidak menapikan kemungkinan fenomena alam– termasuk tetapi tidak hanya epidemi Coronavirus– sebagai azab (=B) serta membenarkannya (=a) sebagai bentuk capur tangan Dia SWT. Cara pandang ini akan menghasilkan sikap taqwa (=B+a) dalam arti takut akan azab-Nya. Inilah arti dasar taqwa. Orang yang berpandangan ini selain berusaha menghenatikan penyebaran virus lebih lanjut (ini bagian manusia) juga akan menggantungkan harapan akan campur tangan-Nya (ini bagian ilahiah). Mereka akan berharap agar pademi black death–yang menelan korban jiwa 75-200 juta jiwa manusia Eurasia dan Eropa (puncaknya 1347-1351)– tidak terulang dalam sejarah manusia [5] berkat rahmat-Nya.

Mereka tidak membutuhkan bukti logis yang canggih untuk sampai kepada kesimpulan dan sikap itu karena bagi mereka kebutuhan semacam itu berbanding lurus dengan ketidaktahuan (ignorance), bukan pengetahuan (knowledge). Pandangan mereka tercermin dalam ungkapan Schuon (2007:4) yang padat: For the sage every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite [6]; yakni, Dia SWT. “Rahasia” mereka terletak pada penggunaan hati (heart) sebagai organ pemahaman (lihat Tabel), bukan pikiran (mind) yang ranahnya terbatas pada alam terikat ruang dan waktu dunia-bawah-sini (spatio-temporal realm).

For the sage, every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite

Wallahualam….@

[1] https://edition.cnn.com/asia/live-news/coronavirus-outbreak-02-11-20-intl-hnk/index.html

[2] Lihat Izutsu (1964), God and Man in Quran, Koeio University.

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism

[4] Penutur Bahasa Inggris menggunakan istilah ini (dengan hruf awal Kapital) dalam dikursus filsafat kognitif yang serius karena padanannya world view dianggap mengambang (vague) bahkan tidak memadai.

 [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death.

[6]Schuon, F. Spiritual Perspective & Human Facts, World Wisdom.

Tren Tidak Pernah Bohong

Jika Anda mengamati situasi internal Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini maka Anda akan menikmati serunya hiruk-pikuk politik di negara Paman Sam itu. Momennya mendukung: (1) tahun ini adalah tahun pemilihan Potus, the President of the United States of America, (2) Potus yang sekarang, Trump, baru saja lolos dari proses pemakzulan oleh Senat setelah sebelumnya dimakzulkan oleh Kongres, dan (3) sejak awal administrasinya, Trump “berhasil” menciptakan kondisi yang membuat masyarakat AS terbelah secara efektif antara pendukung Partai Republik pendukung gigih Trump dan Partai Demokrat yang sejak awal berupaya memakzulkan Trump.

Kesan penulis, sebagian besar (kalau tidak mayoritas) masyarakat AS tidak mengamini gaya kepemimpinan Trump khususnya terkait dengan kebijakan luar negeri dan keadaban berkonstitusi dalam kedudukan sebagai Potus. Tapi pernyataan ini masih perlu diverifikasi melalui Pemilu akhir 2020 ini. Masalahnya bagi barisan Partai Demokrat adalah bahwa ekonomi AS lagi bagus-bagusnya sehingga dikhawatirkan Trump masih akan memenangkan kursi Potus untuk putaran kedua.

Bahwa ekonomi lagi bagus didukung oleh indikator sosial-ekonomi yang meyakinkan: pasar modal sangat bagus, pertumbuhan ekonomi lumayan, angka kemiskinan rendah (diklaim oleh kubu Trump terendah dalam sejarah AS), angka penganggur di diklaim paling rendah dalam sejarah, penciptaan lapangan kerja terus bertambah.

Dua indikator pertama (pasar modal dan pertumbuhan ekonomi) dianggap belum meyakinkan karena belum menyangkut hajat hidup orang banyak secara langsung. Dua indikator berikutnya (kemiskinan dan penganggur) jelas meyakinkan. Istilah penganggur jelas terkait dengan employment, bukan hanya job; artinya, menyangkut orang banyak secara kongkret, bukan hanya kelompok tertentu.

Indikator yang mungkin paling meyakinkan adalah penciptaan lapangan kerja. Tidak ada negara yang menganggap enteng urusan ini. Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik. (Ini salah satu paradoks pembangunan: penduduk semakin terdidik tetapi penganggur tinggi justru mencolok bagi kalangan terdidik.)

Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik.

Kembali ke Trump.

Saat ini penciptaan lapangan kerja AS bertambah bahkan lebih banyak dari yang diramalkan oleh para ahli. Ini didukung oleh statistik resmi AS, DOL (Department of Laour). Pertanyaannya, apakah ini faktor Trump? Ini pertanyaan kompleks. Untuk menjawab ini, orang statistik biasanya merekomendasikan pendekatan perbandingan dengan mengajukan pertanyaan kira-kira begini:

“Mana yang lebih banyak lapangan kerja yang diciptakan, apakah di era Obama tiga tahun terakhir, atau di era Trump tiga tahun pertama?”

Analisis statistik menggunakan data DOL menunjukkan bahwa lapangan kerja baru ternyata lebih banyak diciptakan di era tiga terakhir Obama dari pada di era tiga pertama Trump. Dengan kata lain, perluasan kesempatan kerja yang terjadi akhir-akhir ini bukan faktor Trump.

Tetapi urusan belum selesai. Menurut salah seorang penyiar CNN, kubu Trump melakukan analisis statistik yang canggih dengan melihat ulang seri data yang panjang tetapi ketenagakerjaan… ini yang menarik… dan melakukan berbagai penyesuaian (adjustment) yang mengarah pada pendeskriditan kinerja Obama. Di sini patut diduga ada isu moral statistik “How to lie with statistics?”

Isu moral Statistik: “How to lie with statistics?

Hasil analisisnya? Tren di era Trump ternyata merupakan kelanjutan tren di era Obama. Kesimpulannya, besarnya penciptaan lapangan usaha di AS akhir-akhir ini tidak bisa diklaim sebagai faktor Trump.

Mengamati hasil analisis itu CNN edisi 8 Februari 2020 mengetengahkan headline:Trend never lie“, “Tren tidak pernah bohong”

Wallahualam…@