The Art of Presence in a Scrolling World
滑动时代的专注艺术
Kita sering iri sama orang yang kelihatan khusyuk banget pas salat. Matanya terpejam, air matanya menetes, seolah-olah sedang video call langsung dengan Allah.
Sementara kita? Baru takbir, eh… otak malah mikirin “Nanti mau makan apa ya?”. Baru rukuk, eh… inget belum reply WA bos. Baru sujud, malah flashback sama kesalahan ngomong tahun 2018 silam. Khusyuk? Jangan-jangan cuma judul lagu.
Di zaman serba scroll ini, fokus kita memang sudah didesain untuk dipecah belah oleh algoritma. Dalam The Architecture of the Inner Life, ini adalah krisis persepsi (perception). Kita ada di ruang salat, tapi pikiran kita sedang live streaming di belahan dunia lain.
Kiyai sering berpesan: “Kalau mau khusyuk, jangan lawan pikiran yang datang. Tapi jangan juga dipeluk. Anggap saja pikiran itu tamu yang lewat di depan rumah. Kamu cuma bilang ‘Halo’, tapi pintu hatimu tetap tertutup rapat hanya untuk Allah.”
Jadi, jangan insecure kalau salat masih suka melayang. Justru ketika kita menyadari pikiran kita melayang dan kita berusaha menariknya kembali ke hadapan Allah, itu sudah bentuk khusyuk yang paling jujur. Karena khusyuk bukan berarti kosong dari pikiran, tapi kesediaan kita untuk terus-menerus pull back (menarik kembali) fokus kita kepada-Nya.
Pertanyaan untuk hari ini: “Selain salat, hal apa yang paling sering mencuri fokus dan persepsi saya hari ini?”
