Beda Antara tradisi dan Tradisi

Sumber Gambar: Google

Dulu ada iklan biskuit yang menutup iklannya dengan dua kata: “Sudah Tradisi”. Ini iklan bagus paling tidak karena dua hal. Pertama, dari sisi bahasa, kombinasi dua kata itu efektif dalam menyampaikan pesan panjang: “Biskuit ini enak lho. Kami sekeluarga, dari generasi ke generasi, sudah mengonsumsi biskuit ini”. Kedua, entah disadari atau tidak oleh perancangnya, penggunaan kata tradisi dalam konteks ini, membantu menetralkan konotasi negatif kata tradisi.

Sebagaimana dipahami secara umum, kata tradisi mengesankan semacam ketertinggalan, kebodohan, kesederhanaan, dan statis. Kesan ini jelas jika disandingkan dengan lawan katanya yaitu modern yang memberikan kesan sebaliknya: kemajuan, kecerdasan, kecanggihan, dan dinamis. Demikianlah pengertian umum mengenai tradisi. Melanjutkan sukses iklan biskuit itu, tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menetralkan konotasi negatif kata tradisi, serta menunjukkan bahwa pengertian umum mengenai kata ini terlalu sederhana dan bahkan sampai taraf tertentu menyesatkan.

Definisi, Asal Kata dan Makna Tradisi

Kamus Webster[1] mendefinisikan tradisi sebagai “tubuh pengetahuan, kebiasaan, dan sebagainya yang ditransmisikan antar generasi” (“the body of knowledge, custom, etc. transmitted down through generations”). Termasuk ‘dan sebagainya’ dalam definisi ini adalah unsur-unsur budaya non-material mode berpikir, kepercayaan, gaya hidup atau filsafat. Secara etimologis kata ini berasal dari bahasa Latin trãdere yang antara lain berarti menyerahkan (hand over) dan mengirimkan (to deliver)[2]. Jadi, penekanannya terletak pada transmisi, bukan pada antar generasi.

Dilihat dari kandungan maknanya, tradisi (dengan huruf kecil t) dapat dibedakan dengan Tradisi (dengan huruf t besar). Seperti yang dikemukakan Lakhani[3], jika tradisi terkait dengan etiket (custom), kebiasaan (habit) atau suatu cara konvensional dalam melakukan atau melihat sesuatu, maka Tradisi terkait dengan cara pandang dunia (worldviewatau keberadaan (a way of being). Selain itu, tradisi berbicara mengenai masa lalu yang bersifat konvensional, atau mengenai cara umum yang dapat diterima. Ini berbeda dengan Tradisi yang berbicara mengenai sesuatu yang Nir-waktu (timeless) dan Kebenaran (dengan huruf besar K).

Untuk mendalami makna tradisi lebih jauh, berikut disajikan pandangan beberapa tokoh tradisionalisme. Istilah tradisionalisme di sini digunakan untuk merujuk pada mazhab pemikiran yang fokusnya adalah adalah Kebenaran (dengan huruf besar K) atau Truth (dengan huruf besar T). Bagi mazhab ini Kebenaran itu Mutlak (Inggris: the Absoulte), nir-waktu (Inggris: perennial) dan universal dalam arti berlaku pada atau mendasari semua agama dan tradisi yang autentik. Dalam istilah kesufian, istilah kebenaran semacam ini dikenal dengan kebijaksanaan-abadi (Arab: hikmah al-khalidiyyah).

Yang perlu dicatat adalah bahwa mazhab ini oleh penganutnya ditegaskan bukan agama dan mereka malah mengklaim kebanaran ini hanya dapat didekati melalui praktik keagamaan agama-agama atau tradisi yang autentik. Yang juga perlu dicatat adalah bahwa mazhab ini sangat konsisten menantang peradaban modern yang mereka nilai melalaikan nilai-nilai kesucian.

Pandangan Mazhab Tradisional

Dua tokok utama mazhab tradisionalisme yang diakui secra luas adalah Coomaraswamy dan Guenon. Pandangan mereka mengenai tradisi terwakili dalam kutipan Lakhani berikut:

Tradisi tidak ada hubungannya dengan “usia”, apakah “gelap”, “purba”, atau sebaliknya. Tradisi mewakili doktrin tentang prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah. (Tradition has nothing to do with “ages”, whether “dark”, “primeval”, or otherwise. Tradition represents doctrine about first principles, which do not change) [Ananda K. Coomaraswamy, Correspondence, 1946]

. … tidak ada yang benar-benar tradisional yang tidak mengandung beberapa elemen atau tatanan super-manusia. Ini titik mendasar karena mencakup inti definisi tradisi apa adanya dan semua yang berkaitan dengannya. ( there is nothing and can be nothing truly traditional that does not contain some element or super-human order. This indeed is the essential point, containing as it were the very definition of tradition and all that appertains to it) [René Guénon, The Reign of Quantity.]

Dari kutipan di atas tampak Coomaraswamy mengaitkan tradisi dengan prinsip-prinsip pertama yang tidak berubah sementara Guenon dengan tatanan super-manusiawi. Guenon tidak menjelaskan istilah ini tetapi para penerusnya di kemudian hari mengungkapkannya secara lebih eksplisit dan mengaitkan tradisi dengan akar atau sumber ilahiah (divine source).

Pandangan dua tokoh di atas menyiratkan pentingnya upaya redefinisi kata tradisi. Hal ini sering ditegaskan oleh Nasr, juga seorang tokoh utama mazhab ini, dalam berbagai kesempatan. Bagi Nasr (1997: 74-75)[4], tradisi atau ajaran tradisional memilik makna luas dan mendalam:

  • semacam kompensasi kosmik, karunia dari Tahta Ilahi yang merahmati,
  • pernyataan kembali Kebenaran yang menggambarkan setiap pusat dan esensi tradisi.
  • respons terhadap Kesucian yang merupakan awal dan akhir kehidupan manusia,
  • “obat” bagi kerentanan malapetaka kelalaian manusia modern mengenai kesucian, dan
  • “seperti rekapitulasi semua kebenaran yang dimanifestasikan dalam peredaran sejarah manusia yang ada…”.

Schuon: Kritik terhadap Peradaban Modern

Mengutip tokoh-tokoh mazhab tradisionalisme agaknya belum sempurna sebelum mengutip tokohnya yang paling utama daei mazhab ini yaitu Schuon. Dalam konteks ketokohan mazhab ini menarik untuk disipkan pandangan Azevedo mengeai Guenon dan Schuon: “Guénon was the pioneer and Schuon the consummation; Guénon was like a river and Scuon like an ocean— so profound and diversified are metaphysical doctrines which he expounded[5].

Pandangan Schuon mengenai tradisi dapat dirujuk salah satu bukunya The Play of Masks (1991)[6]. Untuk memperoleh gambaran gambaran isi buku ini terkait dengan tradisi berikut disajikan kutipan Valodia yang agak panjang (terjemahan bebas penulis):

Tradisi berbicara kepada setiap orang menggunakan bahasa yang dia bisa mengerti asalkan mau mendengarkan; jaminan ini sangat penting, karena tradisi, kita ulangi, tidak bisa bangkrut, yang bangkrut adalah manusia karena telah kehilangan intuisi dari supranatural dan perasaan kudus. Kutipan di atas menegaskan ‘daya tahan’ Tradisi dan ‘kebangkrutan’ manusia karena kehilangan intuisi terhadap supernatural dan rasa kudus, intuisi yang dibutuhkan untuk memahami Tradisi secara proporsional.

Yang terakhir ini jelas merupakan kritik tajam terhadap pandang-dunia dari peradaban ‘modern’ masa kini. Kritik ini lebih jelas dalam lanjutan kutipan berikut:

Manusia telah membiarkan dirinya tergoda oleh penemuan dan invensi suatu pengetahuan totaliter yang tidak valid, yaitu ilmu yang tidak mengakui batas-batas sendiri dan karenanya tidak menyadari apa yang ada di belakang mereka. Terpesona dengan fenomena ilmiah serta kesimpulan yang salah yang diambil dari pengetahuan itu [otoriter dan tidak valid-], manusia akhirnya tenggelam dalam kreasi sendiri sehingga tidak siap untuk menyadari bahwa pesan tradisional ini terletak di tingkat yang sama sekali berbeda; dan betapa banyaknya tingkat (yang berbeda) ini.

Dalam lanjutan kutipannya Schuon mengkritik saintisme (Inggris: scientism) sebagai pemicu pandang-dunia yang cenderung menghindari yang Absolut. Manusia membiarkan dirinya mudah terpesona oleh temuan ilmu pengetahuan totaliter dan tidak valid karena saintisme memberi mereka semua alasan yang ingin dicari pembenaran keterikatan terhadap dunia tampilan dan dengan demikian menjauh dari kehadiran Mutlak dalam bentuk apa pun.

Penutup

Demikianlah keluasan dan kedalaman makna tradisi menurut pandangan mazhab tradisionalisme. Kebenaran yang dibicarakan oleh mazhab ini agaknya sejalan dengan semangat istilah qurani addin hanifa dan dînul qayyim (Quran 30:30):

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) (teks: addin hanif); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus (teks: addinul qayyim), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Wallâhualam bimurâdih …..@

[1] The New International Webster’s Dictionary of the English Language, New Revised Edition, 2002.

[2] http://www.answers.com/topic/tradition.

[3] M. Ali Lakhani; http://www.sacredweb.com\online_articles\sw9_editorial.html.

[4] Sayyed Hossein Nasr, 1997, Pengetahuan dan Kesucian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

[5] Soares de Azevedo, “Frithjof Schuon and Sri Ramana Maharshi: A survey of the spiritual masters of the 20th century”, http://www.sacred web\online_articels\sw10_azevedo.html.

[6] Terbitan Bloomington, World Wisf

 

om Book.

 

Puasa (3): Bulan Penuh Rahmat

Ada hadits yang artinya kira-kira “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. Hadits ini sangat populer tetapi perlu dicatat bahwa statusnya tergolong lemah. Para ahli hadits, sebagaimana didokumentasikan dalam muslim.or.id, pada umumnya sepakat dengan kesimpulan ini: “di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya” (lihat, misalnya, https://muslim.or.id/22019-hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html)

Dangan berpuasa dalam Bulan Ramadhan kita dapat “berharap banyak” memperoleh tetapi juga “cemas” tidak memperoleh rahmat-Nya. Kenapa “berharap banyak” (Arab:thama’a)? Karena mamang Rabb kita Rahim; juga karena Ramadhan bulan penuh rahmah. Harapan ini dapat diperkuat dengan, misalnya, melaksanaan amalan-amalan unggulan puasa secara ikhlas: salat malam, tadarus, banyak merenung (i’tikaf), banyak berbagi, dan sebagainya. Tetapi kenapa harus cemas (Arab:khaufa)? Karena rahmat by definition adalah pemberian “langit”, Rabb, yang berada di luar kendali kita.

rahmat

Sumber: Youtube

Bahwa rahmat adalah “anugerah langit” dapat dilihat dari cara bagaimana kata rahmat digunakan dalam ayat al-Qur’an. Terjemahan lima ayat al-Qur’an berikut ini mudah-mudahan dapat membantu kita dalam mengapresiasi makna rahmat versi qur’ani:

  • …. Sekiranya bukan karena bukan karunia (Arab: fadhl) dan rahmat dari Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu) (4:83)
  • Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan sesuatu dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya (6:194)
  • Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan kekal di dalamnya (9:21)
  • …. Ketahuilah bahwa infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesunggguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (9:99)
  • Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (21:107)

Dari kutipan ayat di atas jelas sekali bahwa rahmat merupakan pemberian atau karunia Allah swt, bukan semata-mata hasil dari upaya manusiawi. Sebagai catatan, kutipan ke-5 menegaskan sine qua non risalah Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam, suatu penegasan yang menurut akal sehat totally incompatible dengan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Makna rahmat sebenarnya sangat mendalam karena terkait dengan dua nama ilahiah yaitu Rahman dan Rahim. Gambaran mengenai kedalamannya dapat dilihat dari kutipan karya Schuon (2006:128)[1] berikut:

Rahmah – a term that is most often translated as “Clemency” – implies more profoundly, as does the Sanskrit term Ananda, all the aspects of Harmony: Goodness, Beauty and Beatitude; and Rahmah is integrated into the Divine Essence itself, inasmuch as it is fundamentally none other than the radiating Infinitude of the Principle; an identity that the Koran expresses by saying: “Call upon Allah or call upon Ar-Rahman, to Him belong the most beautiful Names”.

Istilah Rahmah, seperti istilah Ananda dalam Sankerta, mengimplikasikan secara lebih mendalam dari apa yang terungkap dalam terjemahan umumnya yaitu “Pengampunan”, karena ia menyiratkan semua aspek Harmoni: Kebaikan, Keindahan dan Ketenangan. Rahmah terntegrasi ke dalam Esensi Ilahi sendiri karena pada dasarnya ia tidak lain dari pada pancaran Ketidakterbatasan dari Prinsip, sesuatu yang diungkapan yang dalam al-Qur’an sebagai: “Serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena dia mempunyai nama-nama yang baik (Asmaa’ul Husnaa)”[2].

Kedalaman makna rahmat juga terlihat dari kutipan karya Schuon (1998:64-65[3]) lainnya berikut ini (sengaja tidak diterjemahkan agar pembaca dapat mengapresiasi maknanya secara lebih baik serta merasakan rasa bahasa Schuon secara langsung):

The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits.

In the Names, Rahman and Rahim the divine Mercy faces human incapacity in the sense that cunsciousness of our capacity is, when coupled with trsut, the moral receptacle of Mercy. The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man.

Dari kutipan di atas jelas antara lain bahwa Rahman melengkapi unsur-unsur kebahagian di dunia-bawah-sini sementara Rahim menyiapkan benih-benih kebahagiaan untuk di dunia-atas-sana. Agaknya kita baru akan menyadari hal ini sepenuhnya ketika kita memperoleh kesempatan menikamati “buah-buahan” dan “pasangan hidup” di Surga kelak (Insyaallah):

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah:25).

Subhanallah!

[1] Schuon, Fritjhof, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom

[2] Al-Isra (110).

[3] Schuon, Fritjhof, Understanding Islam (1998), World Wisdom.

Aturan Emas: Meditasi, Konsentrasi dan Salat

Konon ada Aturan Emas (Golden Rule) yang merangkum inti ajaran semua agama. Aturan Emas itu adalah: “Mencintai Tuhan dengan segenap kekuatan dan mencintai tetangga”[1]. Dalam Aturan ini kata mencintai berarti tindakan inteligensi yang didasari keyakinan yang benar (Iman, Faith), tindakan kehendak untuk menyeleraskan dengan kebenaran Iman, serta tindakan hati untuk “berasimilasi” dengan kebenaran itu. Mencintai dengan pengertian ini menuntut partisipasi keseluruhan wujud (whole being): inteligensi, kehendak dan hati sekaligus.

Apakah hubungannya dengan meditasi? Jawabannya tergantung pada definisi meditasi. Jika meditasi diartikan secara umum sebagai “tindakan atau proses meluangkan waktu untuk berpikir tenang” (“act or process of spending time in quiet thought”)[2], maka meditasi tidak terkait dengan Aturan Emas. Sebaliknya, hubungan antara keduanya sangat erat jika meditasi diartikan sebagai “kontak antara inteligensi dengan Kebenaran” sebagaimana dilihat dari perspektif kaum tradisionalis. Untuk memperoleh gambaran yang agak memadai mengenai makna meditasi dari perspektif tradisional yang dimaksud, berikut ini disajikan kutipan dari tulisan tokoh utamanya:

Another mode of orison is meditation; contact between man and God here become contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. …. Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it “awaken” certain consubstantial “memories”, and on other hand upon the subconscious imagination, which end up incorporating into itself the truth mediated upon, resulting in fundamental and quasi-organic persuasion”[3].

Mode orisin yang lain adalah meditasi; kontak antara manusia dengan Tuhan disini menjadi kontak antara inteligensi dengan Kebenaran, atau kebenaran relatif dikontemplasikan dalam yang Absolut… Meditasi beraksi di satu sisi melalui inteligensi sehingga “membangkitkan” kenangan konsubstansial tertentu, dan di sisi lain melalui imaginasi bawah_sadar, yang berakhir dengan  penggabungan kebenaran yang dimeditasikan ke dalam diri, hasilnya adalah persuasi fundamental dan kuasi-organis.

Dari kutipan di atas jelas bahwa meditasi mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, jauh lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kamus umum yang dikenal. Dengan perkataan lain, istilah meditasi dalam kamus umum yang kita kenal sebenarnya sudah didegradasikan maknanya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang “berbau” Tuhan. Degradasi berlaku untuk banyak istilah penting bagi kajian metafisis keagamaan lainnya termasuk intelek.[4]

Apa peran meditasi? Dalam perspektif kaum tradisionalis meditasi berperan penting dalam “membuka jiwa”:

The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrate it into God, if one may speak in this way, however, reintegration may be only a fixation in a given “beatific vision, that is, a still indirect participation in divine Beauty.

Meditasi berperan untuk membuka jiwa, pertama untuk berkah yang menjauhkan dari dunia, kedua untuk apa yang membawa lebih dekat kepada Tuhan, dan ketiga untuk apa yang mengintegrasikannya dengan Tuhan, jika boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi reintegrasi mungkin hanya suatu fiksasi dari “visi keindahan” tertentu, suatu bentuk partisipasi tidak langsung dalam Keindahan ilahiah.

Jika meditasi terkait dengan Kebenaran dan inteligensi, maka konsentrasi terkait dengan Jalan (Way) dan kehendak (the will). Jika meditasi dan konsentrasi masing-masing adalah “amalan” inteligensi dan kehendak, lalu Salat amalan apa? Salat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai amalan jiwa. Meditasi, konsentrasi dan Salat; ketiganya menunjukkan secara jelas kehidupan spiritual sekaligus menunjukkan mode-modenya yang utama. Mengenai Salat, kutipan dari Shuon berikut ini layak direnungkan:

Prayer –in the widest sense—triumphs over four accidence of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist[5].

Salat –dalam pengertian paling luas—mengatasi empat aksiden dari keberadaan kita: dunia, hidup, tubuh, jiwa; kita dapat juga mengatakan: ruang, waktu, materi dan hasrat. Salat ibarat suatu tempat berlindung yang hanya di dalamnya kita menjadi diri kita sendiri secara sempurna karena menempatkan kita dihadapan Tuhan. Salat layaknya berlian, tidak ada yang dapat menodai maupun menolaknya.

Wallâhu’alam… @


[1] Dalam konteks Islam, Aturan Emas ini dirumuskan sebagai aturan untuk menjaga tali hubungan vertikal dengan yang Mutlak (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame (habl min annas). Kehinaan menimpa siapapun yang mengabaikan kedua macam hubungan ini. Wâllahu’alam.

[2] Meriam Webster, Advance Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “Mode of Prayer” (59).

[4] Menurut Meriam-Webster, intelek adalah “kemampuan berpikir secara logis” (the ability to think in a logical way). Bagi kaum tradisional maknanya jauh lebih luas: “at once mirrors of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (lihat Valodia dalam Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, tanpa tahun).

[5] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (182).