Seri Uzair_on_Puasa: Bulan Penuh Rahmat

Ada hadits yang artinya kira-kira “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. Hadits ini sangat populer tetapi perlu dicatat bahwa statusnya tergolong lemah. Para ahli hadits, sebagaimana didokumentasikan dalam muslim.or.id, pada umumnya sepakat dengan kesimpulan ini: “di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya” (lihat, misalnya, https://muslim.or.id/22019-hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html)

Dangan berpuasa dalam Bulan Ramadhan kita dapat “berharap banyak” memperoleh tetapi juga “cemas” tidak memperoleh rahmat-Nya. Kenapa “berharap banyak” (Arab:thama’a)? Karena mamang Rabb kita Rahim; juga karena Ramadhan bulan penuh rahmah. Harapan ini dapat diperkuat dengan, misalnya, melaksanaan amalan-amalan unggulan puasa secara ikhlas: salat malam, tadarus, banyak merenung (i’tikaf), banyak berbagi, dan sebagainya. Tetapi kenapa harus cemas (Arab:khaufa)? Karena rahmat by definition adalah pemberian “langit”, Rabb, yang berada di luar kendali kita.

rahmat

Sumber: Youtube

Bahwa rahmat adalah “anugerah langit” dapat dilihat dari cara bagaimana kata rahmat digunakan dalam ayat al-Qur’an. Terjemahan lima ayat al-Qur’an berikut ini mudah-mudahan dapat membantu kita dalam mengapresiasi makna rahmat versi qur’ani:

  • …. Sekiranya bukan karena bukan karunia (Arab: fadhl) dan rahmat dari Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu) (4:83)
  • Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan sesuatu dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya (6:194)
  • Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan kekal di dalamnya (9:21)
  • …. Ketahuilah bahwa infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesunggguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (9:99)
  • Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (21:107)

Dari kutipan ayat di atas jelas sekali bahwa rahmat merupakan pemberian atau karunia Allah swt, bukan semata-mata hasil dari upaya manusiawi. Sebagai catatan, kutipan ke-5 menegaskan sine qua non risalah Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam, suatu penegasan yang menurut akal sehat totally incompatible dengan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Makna rahmat sebenarnya sangat mendalam karena terkait dengan dua nama ilahiah yaitu Rahman dan Rahim. Gambaran mengenai kedalamannya dapat dilihat dari kutipan karya Schuon (2006:128)[1] berikut:

Rahmah – a term that is most often translated as “Clemency” – implies more profoundly, as does the Sanskrit term Ananda, all the aspects of Harmony: Goodness, Beauty and Beatitude; and Rahmah is integrated into the Divine Essence itself, inasmuch as it is fundamentally none other than the radiating Infinitude of the Principle; an identity that the Koran expresses by saying: “Call upon Allah or call upon Ar-Rahman, to Him belong the most beautiful Names”.

Istilah Rahmah, seperti istilah Ananda dalam Sankerta, mengimplikasikan secara lebih mendalam dari apa yang terungkap dalam terjemahan umumnya yaitu “Pengampunan”, karena ia menyiratkan semua aspek Harmoni: Kebaikan, Keindahan dan Ketenangan. Rahmah terntegrasi ke dalam Esensi Ilahi sendiri karena pada dasarnya ia tidak lain dari pada pancaran Ketidakterbatasan dari Prinsip, sesuatu yang diungkapan yang dalam al-Qur’an sebagai: “Serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena dia mempunyai nama-nama yang baik (Asmaa’ul Husnaa)”[2].

Kedalaman makna rahmat juga terlihat dari kutipan karya Schuon (1998:64-65[3]) lainnya berikut ini (sengaja tidak diterjemahkan agar pembaca dapat mengapresiasi maknanya secara lebih baik serta merasakan rasa bahasa Schuon secara langsung):

The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits.

In the Names, Rahman and Rahim the divine Mercy faces human incapacity in the sense that cunsciousness of our capacity is, when coupled with trsut, the moral receptacle of Mercy. The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man.

Dari kutipan di atas jelas antara lain bahwa Rahman melengkapi unsur-unsur kebahagian di dunia-bawah-sini sementara Rahim menyiapkan benih-benih kebahagiaan untuk di dunia-atas-sana. Agaknya kita baru akan menyadari hal ini sepenuhnya ketika kita memperoleh kesempatan menikamati “buah-buahan” dan “pasangan hidup” di Surga kelak (Insyaallah):

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah:25).

Subhanallah!

[1] Schuon, Fritjhof, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom

[2] Al-Isra (110).

[3] Schuon, Fritjhof, Understanding Islam (1998), World Wisdom.

Aturan Emas: Meditasi, Konsentrasi dan Salat

Konon ada Aturan Emas (Golden Rule) yang merangkum inti ajaran semua agama. Aturan Emas itu adalah: “Mencintai Tuhan dengan segenap kekuatan dan mencintai tetangga”[1]. Dalam Aturan ini kata mencintai berarti tindakan inteligensi yang didasari keyakinan yang benar (Iman, Faith), tindakan kehendak untuk menyeleraskan dengan kebenaran Iman, serta tindakan hati untuk “berasimilasi” dengan kebenaran itu. Mencintai dengan pengertian ini menuntut partisipasi keseluruhan wujud (whole being): inteligensi, kehendak dan hati sekaligus.

Apakah hubungannya dengan meditasi? Jawabannya tergantung pada definisi meditasi. Jika meditasi diartikan secara umum sebagai “tindakan atau proses meluangkan waktu untuk berpikir tenang” (“act or process of spending time in quiet thought”)[2], maka meditasi tidak terkait dengan Aturan Emas. Sebaliknya, hubungan antara keduanya sangat erat jika meditasi diartikan sebagai “kontak antara inteligensi dengan Kebenaran” sebagaimana dilihat dari perspektif kaum tradisionalis. Untuk memperoleh gambaran yang agak memadai mengenai makna meditasi dari perspektif tradisional yang dimaksud, berikut ini disajikan kutipan dari tulisan tokoh utamanya:

Another mode of orison is meditation; contact between man and God here become contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. …. Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it “awaken” certain consubstantial “memories”, and on other hand upon the subconscious imagination, which end up incorporating into itself the truth mediated upon, resulting in fundamental and quasi-organic persuasion”[3].

Mode orisin yang lain adalah meditasi; kontak antara manusia dengan Tuhan disini menjadi kontak antara inteligensi dengan Kebenaran, atau kebenaran relatif dikontemplasikan dalam yang Absolut… Meditasi beraksi di satu sisi melalui inteligensi sehingga “membangkitkan” kenangan konsubstansial tertentu, dan di sisi lain melalui imaginasi bawah_sadar, yang berakhir dengan  penggabungan kebenaran yang dimeditasikan ke dalam diri, hasilnya adalah persuasi fundamental dan kuasi-organis.

Dari kutipan di atas jelas bahwa meditasi mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, jauh lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kamus umum yang dikenal. Dengan perkataan lain, istilah meditasi dalam kamus umum yang kita kenal sebenarnya sudah didegradasikan maknanya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang “berbau” Tuhan. Degradasi berlaku untuk banyak istilah penting bagi kajian metafisis keagamaan lainnya termasuk intelek.[4]

Apa peran meditasi? Dalam perspektif kaum tradisionalis meditasi berperan penting dalam “membuka jiwa”:

The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrate it into God, if one may speak in this way, however, reintegration may be only a fixation in a given “beatific vision, that is, a still indirect participation in divine Beauty.

Meditasi berperan untuk membuka jiwa, pertama untuk berkah yang menjauhkan dari dunia, kedua untuk apa yang membawa lebih dekat kepada Tuhan, dan ketiga untuk apa yang mengintegrasikannya dengan Tuhan, jika boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi reintegrasi mungkin hanya suatu fiksasi dari “visi keindahan” tertentu, suatu bentuk partisipasi tidak langsung dalam Keindahan ilahiah.

Jika meditasi terkait dengan Kebenaran dan inteligensi, maka konsentrasi terkait dengan Jalan (Way) dan kehendak (the will). Jika meditasi dan konsentrasi masing-masing adalah “amalan” inteligensi dan kehendak, lalu Salat amalan apa? Salat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai amalan jiwa. Meditasi, konsentrasi dan Salat; ketiganya menunjukkan secara jelas kehidupan spiritual sekaligus menunjukkan mode-modenya yang utama. Mengenai Salat, kutipan dari Shuon berikut ini layak direnungkan:

Prayer –in the widest sense—triumphs over four accidence of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist[5].

Salat –dalam pengertian paling luas—mengatasi empat aksiden dari keberadaan kita: dunia, hidup, tubuh, jiwa; kita dapat juga mengatakan: ruang, waktu, materi dan hasrat. Salat ibarat suatu tempat berlindung yang hanya di dalamnya kita menjadi diri kita sendiri secara sempurna karena menempatkan kita dihadapan Tuhan. Salat layaknya berlian, tidak ada yang dapat menodai maupun menolaknya.

Wallâhu’alam… @


[1] Dalam konteks Islam Aturan Emas ini dirumuskan sebagai aturan untuk menjaga tali hubungan vertikal dengan yang Mutlak (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame (habl min annas). Kehinaan menimpa siapapun yang mengabaikan kedua macam hubungan ini. Wâllahu’alam.

[2] Meriam Webster, Advance Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “Mode of Prayer” (59).

[4] Menurut Meriam-Webster, intelek adalah “kemampuan berpikir secara logis” (the ability to think in a logical way). Bagi kaum tradisional maknanya jauh lebih luas: “at once mirrors of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (lihat Valodia dalam Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, tanpa tahun).

[5] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (182).