Refleksi, Sejarah, Stat_Ketahanan_Sosial

Hijrah sebagai Landasan Pacu Peradaban Umat: Bahan Renungan

Sumber Gambar: Google

Selamat bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah!

Mengenai perayaan ini itu layak disisipkan dua catatan berikut:

  • Umat merayakannya secara beragam sesuai tradisi budaya setempat. Atau tidak merayakan sama-sekali. Dengan kata lain, ini soal ekspresi budaya.
  • Perayaan ini tidak dilakukan dalam era Rasul SAW; tidak juga dalam era khalifah pertamanya, Abu Bakar RA. Demikianlah karena sistem kalender Islam yang dikenal sebagai Kalender Hijriyah baru dikenal dalam era Khalifah ke-3, Umar RA.

Istilah Kalender Hijriyah menunjukkan bahwa bahwa sistem penanggalan ini terkait dengan peristiwa Hijrah, peristiwa perpindahan permanen dari Kota mekah ke Kota Yatsrib (kemudian diganti dengan Madinah an-Nabi tetapi kata an-Nabi segera dihapus), oleh Rasul SAW bersama komunitas Muslim yang berjumlah kecil. Peristiwa ini terjadi tahun 620 Masehi atau sekitar 14 abad lalu menurut sistem Kalender Masehi. Umar RA menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak penanggalan sistem Kalender Hijriyah. Pertanyaannya, mengapa?

Kenapa peristiwa Hijrah dipilih sebagai titik tolak peradaban Umat dan bukannya peristiwa lain yang juga bersifat historis dalam Sejarah Islam termasuk kelahiran Rasul SAW (570/571) atau turunnya wahyu pertama (610) Agaknya hanya Umar RA ang dapat memberikan jawaban meyakinkan terhadap pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga-duga reasoning beliau berdasarkan beberapa fakta berikut:

  • Populasi komunitas Muslim sebelum-Hijrah masih sangat kecil, terlalu kecil untuk menjadi bibit Umat yang berbobot. (Umat berarti komunitas Muslim atau penganut agama Islam.)
  • Wahyu yang diturunkan sebelum-Hijrah lebih terfokus pada ajaran keyakinan agama (Iman) dan kehidupan akhirat, kehidupan dunia-atas-sana. Karakteristik wahyu ini dapat dikenali melalui surat-surat pendek  Al-Quran. Ajaran Ini tentu belum cukup untuk membangun peradaban di dunia-bawah-sini berdasarkan acuan normatif yang diturunkan dari dunia-atas-sana. Ajaran Islam sangat menghargai kehidupan dunia sebagai satu-satunya kesempatan sarana-amal bagi kehidupan akhirat sekalipun yang pertama bukan tujuan dalam dirinya sendiri. Islam menghendaki Umat tidak mengabaikan kehidupan dunia (QS 28: 77) dan memperoleh kebahagiaan (Arab: hasanah) di akhirat dan kebahagiaan di dunia (QS 2:201).
  • Sebelum-Hijrah Umat tidak memiliki pijakan geografis yang dapat dijadikan sebagai modal dasar “negara” untuk membangun suatu peradaban besar secara bebas tanpa intimidasi kekuasaan seperti yang dialami Umat di Kota Mekah; dan
  • Jika sebelum-Hijrah soko guru Umat hanya kaum Muhajirin yang memiliki karakter luar biasa (QS 59:8), di Madinah soko gurunya diperkuat dengan bergabungnya kaum Ansar yang juga memiliki karakter luar biasa (QS 59:9).

Kombinasi Muhajirin-Ansar melahirkan bibit Umat yang unggul[1]. Bibit ini lolos-uji melalui berbagai perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi kaum kuffar Quraisy (artinya, benar-benar kafir) melalui Perang Badar ( 624 ), Perang Uhud (625) dan perang-perang lainnya. Umat ini juga lolos-uji dari rongrongan internal komunitas Yahudi dan para unsur kaum munafikin (orang-orang munafik) yang tidak kalah bahayanya. Dua kelompok terakhir ini berupaya mati-matian memadamkan “api” Islam yang mulai menyala.

Singkatnya, peradaban Umat dalam panggung dunia secara realistis-historis baru dapat direalisasikan pasca-Hijrah. Dengan kata lain, Hijrah adalah titik tolak, atau lebih tepat landasan pacu. Inilah barangkali landasan pikiran Umar RA, khalifah yang masyhur daya inovatifnya.

Penggunaan analogi landasan pacu dalam paragraf di atas tidak berlebihan mengingat kecepatan penyebaran peradaban Umat. Sebagai ilustrasi, hanya dalam 1.2  abad sejak Hijrah, tepatnya di akhir era khalifah Hisyam (memerintah 724-743) dari Dinasti Umayah, luas kekuasaan kekhalifahan membentang  pantai samudera Atlantik sampai batas-batas Cina sebagaimana diungkapkan Hitti (1961) dalam bukunya Histoy of the Arabs:

Di bawah kekuasaan ʻAbd-al-Malik dan dari empat putra yang menggantikannya, kekuasaan Damaskus mencapai puncak kekuasaan dan kemegahannya. Selama masa pemerintahan al-Walid dan Hisyam, kerajaan Islam mencapai ekspansi terbesarnya, membentang dari pantai Samudra Atlantik dan Pyrenees ke Indus dan batas-batas Cina — suatu tingkat yang sulit disaingi pada zaman kuno dan dilampaui di zaman modern hanya oleh Kerajaan Inggris dan Rusia. Untuk periode megah ini termasuk penaklukan Transoxiana, negara Eropa terbesar yang pernah dimiliki oleh Arab — Spanyol.

Peradaban Umat boleh dibilang paling beruntung bahkan unik dalam perspektif keseluruhan sejarah peradaban umat manusia. Paling ada tiga argumen mengenai hal ini:

  • Umat ini memiliki bibit unggul yang berbobot, kombinasi Muhajirin-Ansar yang masing-masing memiliki karakter luar biasa (bahkan dalam standar moral masa kini).
  • Dalam satu dekade perjalanan sejarahnya Umat dibimbing secara langsung seorang laki-laki pilihan (Arab: mustafa) yang memiliki kapasitas kepemimpinan luar biasa (bahkan dalam standar sekarang); dan
  • Dalam 10 tahun pertama dipandu secara langsung oleh wahyu yang dikenali melalui melalui surat-surat panjang Al-Quran, Surat-syurat Madaniyyah; wahyu yang diterima oleh rasul terakhir, dalam siklus terakhir kerasulan agama-agama langit (Aab: samawi) sejak Nabi Adam AS.

Tabel 1 menyajikan daftar pendek peristiwa perjalanan Umat dalam satu dekade pertamanya. Pada tabel itu tampak betapa sibuknya Rasul SAW dan para sahabat mengurusi isu-isu keumatan mempertahankan kelangsungan hidup Umat serta menorehkan prestasi gemilang, bukan isu-isu ibadah dalam arti sempit.

Ucapan terima kasih layak diberikan oleh Umat yang kini diperkirakan berjumlah 1.8 milyar jiwa[2] kepada Umar RA dengan amal inovatifnya menginisiasi Kalender Hijriyah. Juga untuk banyak amal inovatif lainnya termasuk:

  • Rekomendasi Kepada Rasul SAW untuk menggunakan adzan sebagai cara memanggil salat jamaah bagi Umat;
  • Mengomandoi perluasan wilayahi kekuasaan pemerintah Madinah ke luar Jazirah Arab sehingga mencakup Palestina dan sebagian kawasan Suriah dan Mesir; dan
  • Membangun sistem administrasi pemerintahan dalam kekhalifahannya untuk mengimbangi perluasan wilayah.

Rasul SAW agaknya pembaca karakter luar biasa ketika mengungkapkan kira-kira, “Seandainya bukan Muhammad SAW yang terpilih sebagai rasul maka Umar orangnya”.

Wallahualam…@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

 

Advertisements
Standard
Refleksi

Hijrah: Makna dan Signifikansi Historis

Umat Islam baru saja memperingati tahun baru yang ke 1,439 menurut Kalender Hijriyyah. Frasa Hijriyyah menunjukkan bahwa sistem kalender ini terkait dengan hijrah, kata yang berasal dari kata hajara (Arab) yang artinya berpindah. Pelaku hijrah disebut muhajir (tunggal) atau muhajirin (jamak). Secara istilah, kata muhajirin utamanya merujuk pada Umat Islam yang hijrah dari Kota Mekah ke Kota Yastrib atau Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya)[1].

Kapan terjadinya hijrah? Sukar dijawab karena prosesnya tidak sekaligus; yang tercatat, Rasul saw tiba di Madinah pada hari Senin, 27 September 622 M[2]. Beliau hijrah hanya berdua dengan Abu Bakar melalui perjalanan yang sangat menegangkan[3]. Keluarga beliau berdua menyusul beberapa bulan kemudian setelah dua bilik-kecil –yang dimintakan oleh Rasul SAW untuk dibangun– sudah hampir siap diisi dan itu memerlukan waktu sekitar 7 bulan. Dua bilik itu disiapkan masing-masing untuk kedua istri beliau: Sawdah RA dan Aisyah RA[4].

Berapa banyak kaum muhajirin? Lebih sukar lagi untuk dijawab karena secara teknis-opeasional masa hijrah kaum Muhajirin berlangsung sekitar 15 tahun, berawal dari tahun 7 SH (613 M) dan berakhir setelah ditaklukkannya Mekkah oleh kaum Muslim pada tahun 8 H (629 M). Setelah peristiwa penaklukan ini mereka yang berhijrah ke Madinah tidak lagi disebut kaum Muhajirin[5].

Dua kelompok komunitas yang memainkan peranan kunci dalam peristiwa hijrah adalah Kaum Muhajirin dan Kaum Ansar. Mereka memiliki karakter yang luar biasa sehingga memperoleh pujian yang Allah SWT sebagai shodiqun (orang yang benar) bagi yang pertama dan muflihun (orang yang beruntung) bagi yang kedua.

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (al-Hasyr:9).

Paling tidak ada dua catatan penting dari kutipan ayat di atas. Pertama, al-Qur’an lebih menekankan aspek niat (motivasi) dalam mendefinsikan hijrah: demi mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong agama. Kedua, agar beruntung al-Qur’an terkesan “menyaratkan”, selain unsur iman, kapasitas diri untuk dapat “mengutamakan orang lain ” dan “tidak kikir”, dua syarat yang sangat berat untuk dipenuhi.

Kenapa Hijrah? Alasan utama tentu perintah Allah Ta’ala. Dua alasan penting lainnya, ancaman kaum kuffar Makkah yang secara sengit bertekad “memadamkan api Allah” dan kesiapan Kaum Ansar untuk menerima memfasilitasi dan melindungi Kaum Muahjirin. Kaum Ansar sebelumnya sudah menadatangani dua perjanjian dengan Rasul saw (Perjanjian Akabah 1 dan 2).

Apakah hikmah Hijrah? Banyak; tiga di antaranya yang layak dicatat: (1) diperolehnya tempat pijakan dakwah yang kokoh, (2) berkembangnya harmoni sosial di kalangan penduduk Madinah yang pruralistis, dan (3) terbukanya kesempatan “membumikan” ajaran-ajaran tauhid yang sebelumnya diwahyukan selama sekitar 30 tahun di Kota Mekah.

(1) Pijakan Dakwah.

Karena alasan keamanan, pelaksanaan ajaran dan dakwah Islam selama era pra-hijrah (Era Mekah) dilakukan secara diam-diam. Dalam era pasca-hijrah Nabi SAW (Era Madinah), kegiatan keagamaan itu dapat dilakukan secara terbuka. Akibatnya luar biasa: Islam berkembang secara sangat pesat, tidak hanya di lingkungan Madinah tetapi di Jazirah Arabia secara keseluruhan, bahkan di luar wilayah Arabia. Secara historis, kecepatan penyebaran Agama Islam diakui secara luas sebagai luar biasa dan tidak ada bandingannya.

(2)Harmoni Sosial.

Dibandingkan dengan yang dihadapi di Era Mekah, tantangan sosial dalam Era Madinah sebenarnya lebih kompleks. Jika dalam Era Mekah yang dihadapi hanya satu kelompok yaitu komunitas kafir-quraisy yang musyrik, maka di Era Madinah yang didapi bukan hanya kelompok itu, tetapi juga berbagai kelompok suku (qabilah) Arab, Ahli Kitab dan Kaum Munafik yang selalu memberikan ancaman serius bagi umat. Secara sosial, masyarakat Madinah slebih prural. Walaupun demikian, di Era Madinah, Rasul SAW dapat membangun hamoni sosial yang menyatu-padukan semua elemen masyarakat. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa upaya ke arah itu pertama-pertama ditempuh dengan cara mempersaudarakan Kaum Muhajirian dan Kaum Ansar, dilanutkan dengan upaya merukunkan berbagai suku yang suka bertikai khususnya suku Aus dan Khazraj, dan pada akhirnya melalui penyusunan Piagam Madinah yang konon merupakan dokumen konstituasi yang pertama dalam sejarah manusia. Dengan dokumen itu maka semua komponen masyarakat Madinah dapat berdampingan secara damai (coexsistence) dan bahkan saling menjaga dan memperkuat. Sejarah mencatat bahwa realisasi kesepakatan sosial yang tertuang dalam piagam itu senantiasa memperoleh rongrongan terutama dari Kaum Munafik dan bahkan dihianti oleh salah satu pihak penda-tangan perjanjian yaitu Umat Yahudi yang menyebabkan terusiarnya mereka dari Madinah.

(3) Pembumian Ajaran Tauhid.

Jika dalam era Mekah ajaran Islam menekankan pada ajaran tahuid (“ajaran langit”) maka di era Madinah penekananya pada bagaimana ajaran itu “dibumikan”, diterjemahkan dan direalisasikan dalam realitas sosial, dalam realitas masyarakat yang kongkrit. Perbedaan dalam hal penekanan ini dapat terlihat dari narasi surat-surat Makiyyah (surat al-Qur’an yang turun di Mekah) dan surat-surat Madaniyyah.

Ketiga hikmah hijrah sebagaimana yang baru saja dikemukakan jelas saling terkait secara dinamis. Lancarnya penyebaran Islam dimungkinkan oleh –tetapi juga membuat situasi yang kondusif bagi terciptanya — kondisi sosial yang harmonis. Pembangunan harmoni sosial dimungkinkan oleh—tetapi juga menjadi alasan (asbabun nuzul) bagi— surat-surat Madaniyyah yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial-kemasyarakatan. Wallahu’alam….@

Sumber: Google

[1] Umat yang hijrah sebelumnya ke Ethiopia sudah tentu termasuk muhajirin.

[2] Martin Lings (2009:227), Muhammad, PT Serambi Indonesia, Edisi Khusus Soft Cover cetakan ke-6. Nama Islam Martin Lings adalah Abu Bakr Siraj al-Din

[3] Diriwayatkan bahwa beliau sebenarnya sudah terkepung oleh “tim pembunuh” yang terdiri dari para pemuda dari berbagai kabilah dari suku Quraisy. Beliau dapat meloloskan diri dan berhasil menyelinap keluar dari rumah yang terkepung tanpa terlihat setelah, menurut riwayat, membaca ayat ke-9 Surat Yasin (lihat Gambar)

[4] Ibid, halaman 244.

[5] http://gychwxcsss.blogspot.co.id

Standard
Refleksi

Hijrah: Fakta Historis dan Makna Simbolis

Apa makna hijrah bagi pembaca? Bagi penulis hijrah adalah fakta historis eksodus suatu komunitas dari Kota Mekah ke Kota Madinah pada pertengahan abad ke-7M (Muhajir) karena alasan keyakinan, diterima oleh— serta dipersaudarakan dengan—komunitas lain yang memiliki karakter luar biasa (Ansar). Dua komunitas yang dipersaudarakan itu bersama kelompok lainnya di Madinah memelopori peradaban madani dalam arti sebenarnya. Secara simbolis hijrah dapat dimaknai sebagai titik tolak (milestone) upaya merealisaikan ajaran langit secara utuh dan seimbang dalam realitas bumi.

Bagi yang berminat membaca pikiran penulis lebih lanjut silakan klik (edit 10/12/2010): Hijrah_01

Standard