Hijrah: Makna dan Signifikansi Historis


Umat Islam baru saja memperingati tahun baru yang ke 1,439 menurut Kalender Hijriyyah. Frasa Hijriyyah menunjukkan bahwa sistem kalender ini terkait dengan hijrah, kata yang berasal dari kata hajara (Arab) yang artinya berpindah. Pelaku hijrah disebut muhajir (tunggal) atau muhajirin (jamak). Secara istilah, kata muhajirin utamanya merujuk pada Umat Islam yang hijrah dari Kota Mekah ke Kota Yastrib atau Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya)[1].

Kapan terjadinya hijrah? Sukar dijawab karena prosesnya tidak sekaligus; yang tercatat, Rasul saw tiba di Madinah pada hari Senin, 27 September 622 M[2]. Beliau hijrah hanya berdua dengan Abu Bakar melalui perjalanan yang sangat menegangkan[3]. Keluarga beliau berdua menyusul beberapa bulan kemudian setelah dua bilik-kecil –yang dimintakan oleh Rasul SAW untuk dibangun– sudah hampir siap diisi dan itu memerlukan waktu sekitar 7 bulan. Dua bilik itu disiapkan masing-masing untuk kedua istri beliau: Sawdah RA dan Aisyah RA[4].

Berapa banyak kaum muhajirin? Lebih sukar lagi untuk dijawab karena secara teknis-opeasional masa hijrah kaum Muhajirin berlangsung sekitar 15 tahun, berawal dari tahun 7 SH (613 M) dan berakhir setelah ditaklukkannya Mekkah oleh kaum Muslim pada tahun 8 H (629 M). Setelah peristiwa penaklukan ini mereka yang berhijrah ke Madinah tidak lagi disebut kaum Muhajirin[5].

Dua kelompok komunitas yang memainkan peranan kunci dalam peristiwa hijrah adalah Kaum Muhajirin dan Kaum Ansar. Mereka memiliki karakter yang luar biasa sehingga memperoleh pujian yang Allah SWT sebagai shodiqun (orang yang benar) bagi yang pertama dan muflihun (orang yang beruntung) bagi yang kedua.

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (al-Hasyr:9).

Paling tidak ada dua catatan penting dari kutipan ayat di atas. Pertama, al-Qur’an lebih menekankan aspek niat (motivasi) dalam mendefinsikan hijrah: demi mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong agama. Kedua, agar beruntung al-Qur’an terkesan “menyaratkan”, selain unsur iman, kapasitas diri untuk dapat “mengutamakan orang lain ” dan “tidak kikir”, dua syarat yang sangat berat untuk dipenuhi.

Kenapa Hijrah? Alasan utama tentu perintah Allah Ta’ala. Dua alasan penting lainnya, ancaman kaum kuffar Makkah yang secara sengit bertekad “memadamkan api Allah” dan kesiapan Kaum Ansar untuk menerima memfasilitasi dan melindungi Kaum Muahjirin. Kaum Ansar sebelumnya sudah menadatangani dua perjanjian dengan Rasul saw (Perjanjian Akabah 1 dan 2).

Apakah hikmah Hijrah? Banyak; tiga di antaranya yang layak dicatat: (1) diperolehnya tempat pijakan dakwah yang kokoh, (2) berkembangnya harmoni sosial di kalangan penduduk Madinah yang pruralistis, dan (3) terbukanya kesempatan “membumikan” ajaran-ajaran tauhid yang sebelumnya diwahyukan selama sekitar 30 tahun di Kota Mekah.

(1) Pijakan Dakwah.

Karena alasan keamanan, pelaksanaan ajaran dan dakwah Islam selama era pra-hijrah (Era Mekah) dilakukan secara diam-diam. Dalam era pasca-hijrah Nabi SAW (Era Madinah), kegiatan keagamaan itu dapat dilakukan secara terbuka. Akibatnya luar biasa: Islam berkembang secara sangat pesat, tidak hanya di lingkungan Madinah tetapi di Jazirah Arabia secara keseluruhan, bahkan di luar wilayah Arabia. Secara historis, kecepatan penyebaran Agama Islam diakui secara luas sebagai luar biasa dan tidak ada bandingannya.

(2)Harmoni Sosial.

Dibandingkan dengan yang dihadapi di Era Mekah, tantangan sosial dalam Era Madinah sebenarnya lebih kompleks. Jika dalam Era Mekah yang dihadapi hanya satu kelompok yaitu komunitas kafir-quraisy yang musyrik, maka di Era Madinah yang didapi bukan hanya kelompok itu, tetapi juga berbagai kelompok suku (qabilah) Arab, Ahli Kitab dan Kaum Munafik yang selalu memberikan ancaman serius bagi umat. Secara sosial, masyarakat Madinah slebih prural. Walaupun demikian, di Era Madinah, Rasul SAW dapat membangun hamoni sosial yang menyatu-padukan semua elemen masyarakat. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa upaya ke arah itu pertama-pertama ditempuh dengan cara mempersaudarakan Kaum Muhajirian dan Kaum Ansar, dilanutkan dengan upaya merukunkan berbagai suku yang suka bertikai khususnya suku Aus dan Khazraj, dan pada akhirnya melalui penyusunan Piagam Madinah yang konon merupakan dokumen konstituasi yang pertama dalam sejarah manusia. Dengan dokumen itu maka semua komponen masyarakat Madinah dapat berdampingan secara damai (coexsistence) dan bahkan saling menjaga dan memperkuat. Sejarah mencatat bahwa realisasi kesepakatan sosial yang tertuang dalam piagam itu senantiasa memperoleh rongrongan terutama dari Kaum Munafik dan bahkan dihianti oleh salah satu pihak penda-tangan perjanjian yaitu Umat Yahudi yang menyebabkan terusiarnya mereka dari Madinah.

(3) Pembumian Ajaran Tauhid.

Jika dalam era Mekah ajaran Islam menekankan pada ajaran tahuid (“ajaran langit”) maka di era Madinah penekananya pada bagaimana ajaran itu “dibumikan”, diterjemahkan dan direalisasikan dalam realitas sosial, dalam realitas masyarakat yang kongkrit. Perbedaan dalam hal penekanan ini dapat terlihat dari narasi surat-surat Makiyyah (surat al-Qur’an yang turun di Mekah) dan surat-surat Madaniyyah.

Ketiga hikmah hijrah sebagaimana yang baru saja dikemukakan jelas saling terkait secara dinamis. Lancarnya penyebaran Islam dimungkinkan oleh –tetapi juga membuat situasi yang kondusif bagi terciptanya — kondisi sosial yang harmonis. Pembangunan harmoni sosial dimungkinkan oleh—tetapi juga menjadi alasan (asbabun nuzul) bagi— surat-surat Madaniyyah yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial-kemasyarakatan. Wallahu’alam….@

Sumber: Google

[1] Umat yang hijrah sebelumnya ke Ethiopia sudah tentu termasuk muhajirin.

[2] Martin Lings (2009:227), Muhammad, PT Serambi Indonesia, Edisi Khusus Soft Cover cetakan ke-6. Nama Islam Martin Lings adalah Abu Bakr Siraj al-Din

[3] Diriwayatkan bahwa beliau sebenarnya sudah terkepung oleh “tim pembunuh” yang terdiri dari para pemuda dari berbagai kabilah dari suku Quraisy. Beliau dapat meloloskan diri dan berhasil menyelinap keluar dari rumah yang terkepung tanpa terlihat setelah, menurut riwayat, membaca ayat ke-9 Surat Yasin (lihat Gambar)

[4] Ibid, halaman 244.

[5] http://gychwxcsss.blogspot.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s