Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya


Penulis kerapkali bertanya apakah kita tengah berada dalam Kali Yuga, istilah yang dalam Kitab Suci Sankerta yang merujuk pada titik nadir atau titik terburuk dalam siklus alam yang besar?[1] Atau, seperti keluhan Ebiet G Ade dalam salah satu tembangnya, “Tuhan sedang marah”? Pertanyaan ini dipicu oleh serangkaian bencana kemanusiaan (humanitarian catastrophe) yang melanda kita akhir-akhir ini: Tsunami Aceh, Badai Harvey, Badai Irma, krisis Aleppo, dan Krisis Yaman, dan sebagainya. Sebagian bencana itu terjadi karena “alam”, sebagian karena “buatan-manusia” (man-made).

Kali ini dunia kembali menyaksikan bencana dalam bentuk pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya, minoritas etnis dan agama yang tinggal di negara bagian Rakhine, Burma. Berdasarkan laporan dari berbagai media masa, penggunaan istilah pembersihan etnis dalam konteks ini, sekalipun terkesan bombastis, tidak berlebihan karena sesuai fakta lapangan, berdasarkan kesaksian sejumlah korban, sesuai rekaman foto udara mengenai penghangusan ratusan rumah tinggal di kawasan negara bagian Rakhine, serta diverifikasi oleh sejumlah pihak, termasuk Right Groups [2].

Peristiwa penganiyaan Suku Rohigya yang tidak jarang disertai kekerasan sebenarnya bukan hal baru tetapi telah berlangsung lama bahkan beberapa dekade. Walaupun demikian, sejauh ini penganiyaan tidak pernah terjadi dalam skala sedahsyat seperti yang terjadi kali ini:

  • Kelompok hak asasi manusia Amnesty International telah merilis gambar satelit yang menurutnya menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa Rohingya di Myanmar barat.
  • Amnesty mengatakan ini adalah bukti bahwa pasukan keamanan berusaha untuk mendorong kelompok minoritas Muslim ke luar negeri.
  • Sedikitnya 30% desa Rohingya di negara bagian Rakhine sekarang kosong, kata pemerintah.
  • Sekitar 389.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan dimulai bulan lalu.[3]

Para korban mengungsi dalam keadaan putus asa sebagian besar kini menyesaki satu wilayah yang termasuk paling miskin Bangladesh yaitu Chittagong. Sebagian pengungsi tidak berhasil mencapai wilayah itu karena terbunuh di perjalanan. Oleh karena itu sebenarnya tidak mengherankan jika lembaga yang paling kredibel dalam kasus semacam ini, PBB, menyebutkan keadaan darurat politik dan kemanusiaan ini sebagai “text book” pembersihan etnis yang, seperti dilaporkan Alam (14 September), “akut, tidak stabil dan bisa menimbulkan ketidakstabilan di Bangladesh dan sekitarnya”[4].

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2017/09/rohingya-crisis-explained-maps-170910140906580.html

Dari gambaran di atas jelas bahwa tragedi Rohingya memiriskan tetapi juga perlu disadari masalahnya kompleks dan multidimensi. Untuk memahami kompleksitas masalahnya, menurut Alam[5], ada lima hal pokok yang perlu dicermati.

  1. Ketidakseimbangan antara Pemicu dan Respon: Civilians are paying the price for a small, armed insurgency

Tragedi Rohingya dipicu oleh serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), satu kelompok pemberontak bersenjata dengan beberapa ratus pejuang, terhadap lebih dari 25 pos polisi militer dan perbatasan. Serangan ini dilaporkan telah membunuh selusin petugas keamanan Burma. Pemimpin kelompok ini, Ata Ullah, berasal dari suku Rohingya kelahiran Pakistan dan dibesarkan oleh kelompok militan di Arab Saudi. ARSA mengklaim bermaksud membentuk negara Muslim otonom untuk Rohingya. Burma mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris. Tidak jelas berapa banyak dukungan suku Rohingya terhadap kelompok ini.

Menghadapi peristiwa semacam ini wajar jika suatu negara melakukan suatu upaya pengamanan, sejauh itu patut dan proporsional. Masalahnya adalah pihak militer Burma meresponnya secara tidak patut dan tidak proporsional dengan cara melancarkan “operasi pembersihan” besar-besaran dan membabi-buta, suatu respon yang yang oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Zeid Ra’ad al-Hussein disebut “contoh buku teks pembersihan etnis.” (a textbook example of ethnic cleansing.”) Yang terjadi adalah kekerasan selektif (hanya menargetkan suku Rohingya) dan tanpa pandang bulu (termasuk anak-anak, wanita, dan manula) dan dilaporankan disertai pembantaian, pemerkosaan, penggunaan ranjau darat dan pembakaran rumah tinggal di sekitar 80 desa.

  1. Terkait Masalah Agama dan Etnis: “Yes, it’s about religion and ethnicity

Tragedi Rohingnya jelas terkait dengan masalah agama dan etnis yang dapat kita lihat dari sisi target (korban) dan pihak yang mengkapanyekan pembersihan etnis. Dalam tragedi ini yang menjadi target adalah minoritas Muslim dari suku Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Burma, sementara pihak yang gencar mengkampanyekan pembersihan etnis adalah ekstremis sayap kanan yang kuat yang dipimpin oleh biksu Buddha. Kaum nasionalis Buddhis ini terorganisasi dengan baik, berpengaruh secara sosial dan sulit dikendalikan. Biarawan sangat aktif di media sosial dalam membentuk opini publik untuk mendukung pembersihan etnis. Mereka mengklaim berusaha membatasi pernikahan antaragama dan memurnikan bangsa Burma; mereka bahkan mempertanyakan keberadaan hak-hak orang non-Buddhis di Burma[6].

  1. Terkait dengan Masalah Sumberdaya Alam: “But it’s also about natural resources — especially land

Tragedi Rohingya bukan hanya sekadar perpecahan etnis dan politik identitas tetapi juga masalah sumber daya alam. Selama berabad-abad (jika bukan ribuan tahun) suku Rohingya telah tinggal di daerah Arakan, suatu wilayah yang terletak antara Burma dan Bangladesh. Secara historis, masyarakat petani bergerak bebas melewati batas wilayah itu tetapi begitu batas negara modern terbentuk, pergerakan itu dibatasi. Karena tanah menjadi aset yang berharga dan menguntungkan, suatu undang-undang mengenai agraria diperkenalkan oleh pemerintah junta militer dan meningkat pada tahun 1990an; sebagai akibatnya, para petani pedesaan kehilangan hak kepemilikan lahan pertanian dan kepemilikannya beralih kepada pihak lain.

Selama 50 tahun terakhir, militer Burma semakin membantu negara dan perusahaan besar dalam merebut tanah yang secara tradisional dikuasai para petani. Negara telah memperluas kontrol atas wilayah dan pasokan air untuk memajukan kepentingan ekonominya di sektor pertambangan, minyak, gas alam, kayu dan pertanian. Terlepas dari reformasi demokrasi baru-baru ini, kepemimpinan militer mempertahankan kekuatan luar biasa atas setiap sektor pemerintahan dan pengembangan bisnis. Dengan jargon ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pihak militer membiarkan investor China, Korea, Jepang dan multinasional lainnya bekerja di daerah-daerah yang dihuni oleh etnis minoritas seperti Rohingya, Karen, Mon dan Shan.

Aung San Suu Kyi telah memperoleh kritik internasional yang meningkat atas kegagalannya menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Konstitusi Burma tidak memberikan otoritas yang nyata atas militer kepada “tokoh” itu.

Jadi siapa yang bisa menghentikan tragedi ini? Jawabannya, pemangku kepentingan internasional yang tertarik berbisnis dengan Burma. Catatan penting bagi mereka adalah perlunya mewaspadai biaya reputasi pihak militer serta memberikan tekanan kepada pimpinan militer untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan. Ini sangat mendesak dan bukan hanya untuk kepentingan populasi pengungsi. Kekerasan yang terus berlanjut dan populasi pengungsi yang meledak bisa semakin mengganggu kestabilan kawasan ini.

  1. Keterbatasan Kemampuan Bangladesh Menangani Krisis: “Bangladesh can’t deal with this crisis alone”

Saat ini yang paling banyak menanggung beban pengungsi Rohingya adalah Bangladesh. Yang perlu dicatat adalah bahwa negara itu relatif kecil dilihat dari luas wilayah (hanya seukuran Iowa, Amerika Serikat) tapi padat (berpenduduk sekitar 160 juta orang), PDB-nya hanya sekitar $ 1.500 PDB per kapita, juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa banjir terburuk dalam beberapa dekade baru saja melanda Bangladesh, negara yang “terbiasa” dengan bencana alam terjadi dan selalu menghadapi masalah pengkikisan daratan di garis pantai selatan.

Untuk saat ini, elit pemerintah Bangladesh dan elit politik menyambut para pengungsi Rohingya. Tapi setengah juta orang terlantar dengan cepat menjadi beban besar bagi negara miskin itu. Penduduk desa dan usaha kecil di Cox’s Bazaar, Teknaf dan daerah-daerah sekitarnya telah mengumpulkan sumber daya, membuka rumah mereka dan bahkan membantu mengubur orang mati.

Tapi berapa lama hal ini dapat bertahan? Bantuan bagi pengungsi dapat memicu berkembangnya kebencian karena persepsi ketidaksetaraan di antara penduduk asli yang kurang terlayani. Rohingya yang tidak berdokumen bepergian ke luar kamp ke daerah pedalaman, mencari peluang. Banyak penelitian dan bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat menciptakan konflik dan persaingan baru mengenai sumber daya yang terbatas, terutama karena para pengungsi tinggal lebih lama dan berusaha untuk menetap secara permanen, seperti yang dapat kita lihat di mana-mana dari Timur Tengah sampai Eropa ke Amerika Serikat.

Sebagai catatan lain, Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan pemerintahan sekuler. Negara itu menghadapi ancaman ekstrem kekerasan yang meningkat dari garis keras Islam, beberapa bersekutu dengan jaringan transnasional seperti al-Qaeda atau negara Islam. Liga Awami yang memerintah telah menanggapi dengan menekan para pembangkang dengan taktik seperti penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Bergantung pada bagaimana Perdana Menteri Sheikh Hasina mengatasi krisis pengungsi dan tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapinya, kelompok oposisi dapat mencoba memanfaatkan situasi Muslim Rohingya. Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan partai Jamaat-e-Islamii Islam menuduh Liga Awami tidak cukup berbuat cukup untuk mendukung Rohingya. Koalisi yang berkuasa menuduh Jamaat mendukung militan di Rakhine, dan BNP menyebarkan “konspirasi” tentang tanggapan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan.

  1. Harapan bagi Aktor Internasional: “No other international actor appears to be stepping in to help solve the political crisis”

Apakah Bangladesh bisa mengharapkan bantuan dari pihak lain di wilayah ini? Mungkin tidak. Sekalipun India secara tradisional adalah sekutu Hasina, Perdana Menteri Narendra Modi telah gagal mengkritik operasi militer Burma terhadap warga sipil. Selain itu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menggambarkan Rohingya yang berada di India sebagai imigran ilegal dan ancaman keamanan nasional.

Bagaimana dengan negara lain? Beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim dari Turki ke Malaysia telah mengutuk penganiayaan keras terhadap Rohingya namun belum terlibat dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Pekan lalu, menteri luar negeri Indonesia bertemu dengan Suu Kyi dan kemudian mengunjungi rekannya dari Bangladesh untuk menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya.

Bagaimana dengan kekuatan regional dan global? SAARC (Asosiasi Asia untuk Kerjasama Regional) atau ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), dua organisasi antar pemerintah regional telah mengupayakan solusi diplomatik tetapi belum menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa telah berupaya untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan yang mengerikan di lapangan, namun dilaporkan tidak membuat kemajuan dalam memecahkan masalah yang lebih besar yang telah mendorong Rohingya keluar dari rumah mereka. Bagaimana dengan OKI???

Uraian di atas menyajikan gambaran memiriskan dari tragedi Rohingnya dan kompleskitas masalahnya. Upaya-upaya penyelesaian masalah pada tingkat negara, regional dan global sudah dilakukan walaupun sejauh ini belum memberikan hasil yang optimal. Lalu apakah tidak ada cara yang mungkin? Harus ada karena seperti ditekankan Tun Khin, “….dapat dipecahkan jika kemauan politik ada di sana. Itu tidak akan mudah tapi bisa dilakukan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan kita dibunuh…(dan itu) telah menjadi pendekatan masyarakat internasional sejauh ini.

Kutipan di atas berasal dari Tun Khin, Presiden dari Orgnanisasi Rohingya Burma (the Burmese Rohingya Organisation) di Inggris[7]. Ia menyarankan ada perubahan kebijakan sebagaimana diungkapkannya[8]:

Perubahan besar dalam pendekatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat internasional jika kita mau menghentikan siklus kekerasan terhadap Rohingya ini. Pemerintah Burma perlu diberi tahu bahwa dukungan dan keuangan internasional bergantung pada perubahan kebijakan yang besar terhadap Rohingya. Propaganda dan hasutan kebencian dan kekerasan terhadap Rohingya harus dihentikan, undang-undang dan kebijakan yang diskriminatif harus dihilangkan, rekomendasi komisi Kofi Annan harus segera dilaksanakan dan secara penuh…. Sanksi harus dipertimbangkan terhadap perusahaan milik militer.

(A major change in approach is needed by the international community if we are ever going to stop this cycle of violence against the Rohingya. The government of Burma needs to be told that international support and finance is conditional on a major change in policy towards the Rohingya. Propaganda and incitement of hatred and violence against Rohingya must stop, discriminatory laws and policies must go, the recommendations of Kofi Annan’s commission must be implemented immediately and in full…. Sanctions should be considered against military owned companies.)

Semoga suara Tun ini memperoleh tanggapan kongkrit dan layak dari komunitas internasional…. @

Sumber: http://stream.aljazeera.com/story/201709070026-0025502

[1] Mengenai Kali Yuga lihat, misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Kali_Yuga.

[2] Laporan CNN, 16 September 2017 pukul sekitar 19.00.

[3] http://www.bbc.com/news/world-asia-41270891

[4] https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2017/09/14/5-things-you-need-to-know-about-rohingya-crisis-and-how-it-could-roil-southeast-asia/?utm_term=.2a8cc29d064b

[5] Ibid

[6] Dalam suatu wawancara televisi nasional Dubes kita melaporkan bahwa pihak pemerintah Myanmar sebenarnya telah melarang secara resmi kelompok ekstrimis ini. Kita tidak mengetahui secara persis yang terjadi di lapangan; yang jelas tindakan brutal dilaporkan tidak berkurang bahkan meningkat.

[7] http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2017/08/international-pressure-save-rohingya-170830122257236.html

[8] Ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s