Inteligensi, Kehendak dan Kebaikan dalam Perspektif Filsafat Perenial


Artikel singkat ini meninjau tiga istilah kunci dalam filsafat perenial yaitu inteligensi (intelligence), kehendak (the will) dan kebaikan (the virtue). Penulis merasakan kedalaman dan keluasan makna dari masing-masing istilah itu setelah membaca beberapa karya Schuon, tokoh utama aliran filsafat yang memfokuskan diri pada kebenaran yang dianggap bersifat primordial dalam arti abadi (timeless) dan universal (spaceless); abadi karena dinilai berlaku sejak dahulu sampai kini dan masa mendatang, universal karena ditemukan dalam semua tradisi semua agama dan bahkan karya seni sakral (sacred arts).

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: Intelegensi

5 thoughts on “Inteligensi, Kehendak dan Kebaikan dalam Perspektif Filsafat Perenial

  1. Pak Uzair, susah sy untuk mengomentarinya karena memang berat artikel yg satu ini. Menurut sy intelegensi dgn kehendak mirip antara wadag/jiwa dgn ruh. Wadag/jiwa tanpa ruh masih dapat bekerja, contohnya ketika manusia tidur jantung tetap bekerja padahal ruh dalam genggaman Allah. Tetapi wadag/jiwa tidak dapat mengepresikan gerakannya tanpa adanya ruh. Demikian pula ruh, tidak dapat mewujudkan kebaikan tanpa adanya wadag/jiwa. Kehendak ruh setelah berada dalam wadag/jiwa adalah ingin bertemu dengan rabbnya. Hati kecil/god spot merupakan suara Tuhan, itulah ruh. Kelebihan manusia dgn mahluk Tuhan lainnya adalah adanya akal yg akan menentukan akan dibawa kemana wadag/jiwanya. Alquran dan hadist merupakan petunjuk bagaimana agar ruh muncul kepermukaan. Wallâhu’alam.

    1. TK komentarnya. Seacara umum saya setuju dengan pendapat Pak Joko. Padanan inteligensi dalam konteks ini mungkin hati kecil (god-spot) seperti pendapat Pak Joko, mungkin dlamir (istilah al-Marhum M. Natsir dalam Fiqhud Da’wah), mungkin yang lain. Secara pribadi saya cenderung menggunakan istilah Qur’ani yaitu bashirah, semacam ‘organ’ yang built-in dalam setiap manusia ‘sekalipun mereka mengabaikannya’, sebagai padanan inteligensi. PR: Cari ayat yang relevan!

  2. Ini adalah pemikiran Guénon, Schuon. Schuon “memeluk” Islam dan dikenal sebagai Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami. Ia bisa dikatakan sebagai seorang tokoh terkemuka dalam religio perennis (Agama Abadi). Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan agama serta mengkritik modernitas. Ia mengangkat perbedaan antara dimensi-dimensi tradisi agama eksoteris dan esoteris sekaligus menyingkap titik temu metafisik antar semua agama-agama ortodoks. Ia mengungkap Satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya.

    Sebagai muslim, kita memahami dan meyakini, bahwa manusia pertama, Nabi Adam a.s. adalah manusia yang bertauhid. Agama tauhid itulah yang terus-menerus dibawa oleh para Nabi dan diajarkan kepada umat manusia, sampai Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw. Jadi, tauhid itulah kebenaran yang abadi, dan bukan ‘Filsafat Abadi’ yang tidak jelas asal-usul dan juntrungannya. Islam adalah agama yang sumber dan ajarannya jelas. Kita tidak memerlukan gagasan ‘Filsafat Abadi’ yang menurut para pendukungnya, konon berasal dari Zaman Kapak (Axe age).

    Banyak cendekiawan, seperti William C. Chittick dan Dr. Adnan Aslan, yang sudah mengkritik gagasan ‘hikmah abadi’ ini. Dr. Anis Malik Thoha pun menyimpulkan, bahwa gagasan ‘filsafat perenial’ akhirnya berujung kepada paham kesetaraan agama-agama. Gagasan ini bukan saja semakin menjauh dari Islam, tetapi juga semakin menjauh dari cita-cita yang ditujunya. Oleh karena itu, gagasan ini lebih merupakan problem ketimbang menjadi solusi bagi keragaman agama.

    Semoga bisa mengambil Ibro dari semua yang kita pelajari….Amiin
    Terima kasih wahai Yang Maha Tahu… sekarang aku semakin tahu bahwa aku tidak tahu… ijinkan aku untuk selalu Kau beritahu, amiiin…

    Salam Takzim

  3. TK atas komentarnya; mudah2an bermanfaat bagi pembaca kita. Roni betul, ini adalah pola pikir atau perspektif filsafat abadi (istilah Roni), oleh karena itu muncul secara eksplisit sebagai sub-judul artikel.

    Soal apakah perlu-tidak perlu filsafat abadi; seperti umumnya tulisan saya, saya serahkan ke pembaca untuk mengambil kesimpulan sendiri. Setahu saya, filsafat pernial tidak mengklaim sebagai agama sehingga pernyataan ‘menjauh’ atau mendekat dari ‘Islam’ tampaknya kurang relevan. Roni tahu saya bahkan tidak pernah berani berpretensi tulisan adalah ajaran Islam sekalipun saya mengutip teks suci; saya selalu menambahkan ‘yang saya fahami’ dalam banyak tulisan saya seperti dalam judul artikel terdahulu ‘Salat yang saya fahami’. So, statemen Roni saya kira akan lebih pas jika ditulis begini: ‘… semakin jauh dari Islam sejauh yang saya faham’. Fair enough?

    Roni betul mengenai kesimpulan Dr. Anis Malik Toha. Saya yakin Roni tahu juga banyak ‘Toha’ yang lain. Dalam hal ini secara pribadi saya melihat ‘Toha-toha’ ini berbicara pada tataran-fikir dan frekuensi yang berbeda dengan Schuon dkk.

    Any way, saya gembira Roni banyak baca dan semoga terus membaca.

    Sekali lagi TK atas komentarnya.

    Salam

    1. Terima kasih juga Pak Uzair atas pemahamannya tenyang pola berfikir dan mendalami pikiran oarng lain. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s