Hubungan dengan yang Absolut


Manusia membutuhkan dua macam hubungan agar terhindar atau terselamtakan dari kehinaan: hubungan vertikal dengan yang Absolut dan hubungan horizontal dengan sesama. Putusnya hubungan vertikal, mulai bad ke 14, memicu tumbuh-kembangnya budaya serakah dengan segala kerusakan yang ditimbulakannya. Kembali terhubung dengan yang Absolut melalui ajaran tradisonal primordial mungkin satu-satunya cara yang masuk akal agar peradaban kontomprer dapat  terselamatkan.

Bagi yang beminat mengakses artikel lengkap (edit kerkini 26/10/2010) silakan klik:  DuaMacamKebutuhanRev

2 thoughts on “Hubungan dengan yang Absolut

  1. Sifat dasar manusia memang cenderung serakah dan tidak pernah puas. Karena kemiskinan spiritual? Bisa jadi ya. Tetapi apakah kita hrs menunggu era kekayaan spiritual muncul kepermukaan?
    Allah berfirman “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (QS Ali Imran 110)

    Dewasa ini banyak kemunkaran terjadi dimana-mana antara lain makin maraknya peredaran dan penggunaan narkoba, pergaulan bebas, perjudian, saling memfitnah, saling caci memaki dan lain-lain. Dalam era reformasi di negara kita telah timbul kebebasan dalam banyak hal sebagai akibat keterbukaan. Apabila kebebasan-kebebasan tersebut melampaui batas-batas yang diijinkan oleh agama akan berubah menjadi kemunkaran. Kejadian ini harus diwaspadai mengingat dampaknya akan sangat merugikan bagi umat.
    Berikut sabda Rosullulloh saw: “Sesungguhnya apabila orang-orang melihat orang yang bertindak aniaya kemudian mereka tidak mencegahnya, maka kemungkinan besar Allah akan meratakan siksaan kepada mereka, disebabkan perbuatan tersebut ” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa’i)

    Jelas sekali kerugian yang akan terjadi bagi kita semua apabila seruan amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Kita yang tidak melakukan aniayapun ikut menanggung akibatnya. Bila kita renungkan berbagai kejadian akhir-akhir ini yang melanda bangsa kita seperti krisis moral, ekonomi dan politik berkepanjangan bisa jadi ini semua merupakan akibat dari tindakan kita yang melihat aniaya tetapi tidak mencegahnya. Hampir selama tiga dasawarsa budaya korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur dan cenderung dibiarkan oleh umat. Segala macam aturan perundang-undangan malah dijadikan bagaikan mantra sihir. Namanya juga sihir sudah tentu negatif.
    Jika kita melihat sikap “anti agama” atau malah “atheisme” atau “anti Tuhan” di kalangan kaum komunis, adalah penafsiran keliru atas konsep Marx (1818-1883) yang mengkritik kaum pemeluk agama dalam menggunakan ajaran agamanya mengenai “takdir” (takdir menjadi kaya atau miskin) sebagai kedok untuk melindungi kapitalisme yang mereka bangun. Pengertian “agama adalah candu bagi rakyat” yang digulirkan dalam Marxisme sesungguhnya mengarah pada kritik atas sikap pemeluk agama yang fanatik dan menafsirkan ayat-ayat agamanya sehingga menganggap bahwa kemiskinan, perbedaan sosial, merupakan suratan Tuhan yang tak bisa diubah. Padahal, “takdir” itu dicipta manusia sendiri melalui kapitalisme yang bukan hanya dapat diubah, bahkan dapat dihancurkan lewat jalan sosialisme. Kalau demikian, Marx tidak mengajarkan otoritarianisme dalam membangun suatu sistem perekonomian dalam suatu masyarakat. Yang ditentang adalah kepemilikan alat produksi oleh pribadi atau kelompok tertentu yang dapat digunakan untuk menindas orang atau kelompok lain. Marx, ingin mengubah “manusia serakah” menjadi “manusia sosial”. Bedanya, untuk mencapai hal itu, Marx melihat keserakahan sebagai hasil dari sistem sosial yang ada (kapitalisme, feodalisme), dus merupakan keserakahan struktural, dan karena itu struktur sosial yang menghasilkan kapitalisme dan feodalisme harus dihapuskan. Marx juga tidak mengajarkan untuk memusuhi agama, apalagi atheisme. Marx sendiri anak seorang rahib/pendeta. Yang dia musuhi adalah perilaku pemeluk agama yang melihat kondisi sosial manusia sebagai hal yang sudah ditentukan oleh Tuhan, padahal kondisi sosial itu justru dibangun oleh “manusia serakah” untuk melakukan penindasan melalui penguasaan alat-alat produksi dan monopoli pasar.
    Jadi menurut saya di Negeri kita tercinta Indonesia harus ada manusia yang dengan gigih dan terorganisir, untuk menghapuskan tindakan-tindakan aniaya tersebut agar negara, bangsa dan umat terhindar dari kesulitan-kesulitan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
    Rosullulloh saw telah mencontohkan bagaimana kegiatan social sangat ditonjolkan dan memang, manusia sesungguhnya mahluk sosial, bukan individual.

  2. Thanks for the nice comment. Joko betul, terapinya, kita ‘budayakan’ amar-makruf-nahi-munkar sesuai (3:110) dan ujaran Jungjungan. Pertanyannya, how? Dalam era ‘modern’ pekerjaan amar-nahi itu diserahkan ke negara sehingga peran individual tidak banyak membawa perubahan yang sifatnya masal. Dalam hal ini saya setuju dgn Gus-Dur (rahimahullah) yang mengedapankan pendekatan kultural dari pada pendekatan hukum atau kekuasaan. Selain itu, hitam-putih negara kan tergantung masyarakatnya; Iya kan?
    Artikel ini berangkat dari premise: pada analisis terakhir, yang dapat secara efektif menyuruh makhluk yang memiliki kebeasan kehendak (dgn rentang tak-terbatas), adalah dirinya sendiri, ‘fakator- dalam’, inner force, consciousness. Faktor ‘luar’, termasuk law enforecemnt negara dan perintah agama, apalagi hanya wejangan mubalig, paling2 hanya membantu mengkondisikan, bukan menentukan. Itulah sebabnya kita lalu bicara mengenai pandang-dunia (world view) yang menurut saya faktor-mendasar dari sikap dan prilaku kita. Pandang-dunia ini, dapt diungkapkan secara terbuka, atau sekedar menjadi raja penguasa bawah sadar kita.
    Yang menjadi keprihatinan kita pandang-dunia yang dominan dalam era kontemporer ini, hemat saya termasuk di kawasan mayoritas muslim, adalah pandang-dunia yang dimulai abad ke-14 yang —- tidak ada presdidennya dalam sejarah peradaban manusia— mengabaikan faktor atau memutuskan hubungan dengan yang Absolut dengan deklrasi ‘Tuhan telah mati’. Nah, putusnya hubungan yang absolut ini yang menciptakan situasi yang sangat kondusif untuk menghidup-suburkan sisi-gelap (istilah Joko ‘sifat dasar’) manusia yang paling merusak (karena merupakan ‘ibu’ semua keburukan) yaitu keserakahan. Dengan alasan ini artikel sebanarnya bermaksud menyampaikan pesan moral sederhana: ‘untuk perdaban manusia yang lebih berharkat sebagai ‘wakil Tuhan’, kita kurangi keserakahan kita’— For better and humane civilization, let us control our greedy man! Setju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s