Wahai Rasul


Wahai Rasul! Begitu keras didikan Rabb-mu sejak dini:  tidak sempat memperoleh perlindungan  ayahanda, hanya sepintas menikmati pelukan_hangat_teduh ibunda, sejenak memperoleh dukungan_wibawa kakek, menikmati masa remaja dalam kepapaan_harta keluarga pamanda, dan sesaat memperoleh pembelaan luar biasa istrimu ketika kaum Kuffar-Quraisy sengit memusuhimu karena risalahmu yang sangat mengancam status quo!

Wahai Rasul! Didikan Rab-Mu seolah menegaskan: “Mustahil bagimu memperoleh perlindungan ayahmu karena dia sudah Kupanggil bahkan sebelum engkau sempat melihat wajahnya yang bercahaya; jika engkau menginginkan perlindungan ibu maka ia Kupanggil_pulang, jika engkau ingin perlindungan kakekmu maka ia Kupanggil_pulang pula, jika ingin perlindungan pamanmu maka ia pun Kupanggil_pulang, dan jika ingin perlindungan istrimu maka Kupanggil_pulang dia; tapi …jika engkau meginginkan perlindungan-Ku maka inilah Aku yang Maha dan Senantiasa Hidup”.

Wahai Rasul yang “terlalu” sabar sehingga tidak mau memarahi pasangan suami_istri yang gigih menebar duri di jalan yang diberkati, jalan yang biasa engkau lalui ketika engkau menuju rumah Rabb-mu! Engkau “terlalu” sabar sehingga Rabb-mu “terpaksa” menurunkan surat kecaman khusus terhadap ulah mereka[1].

Wahai Rasul yang “terlalu” rendah hati sehingga mengabaikan ulah keterlaluan seorang wanita yang rajin meludahimu yang ketika absen meludahimu karena sakit engkaulah penjenguk pertamanya!

Wahai Rasul yang “terlalu” santun sehingga tidak tega menegur para sahabatmu agar pulang karena telah engkau jamu dan berlama-lama berbincang_hampa sampai larut malam; hatimu “terlalu” lembut sehingga Rabb-mu “terpaksa” menurunkan ayat teguran kepada mereka![2]

Wahai Rasul yang konon agak “telat” berhijrah ke Madinah semata-mata karena engkau merasa perlu menyelesaikan urusan hartawan kaum Kuffar-Quraisy, kaum yang sangat memusuhi sekaligus mempercayai kejujuranmu sehingga merasa engkaulah yang paling aman untuk menitipkan harta kekayaan!

Wahai Rasul yang “terlalu” menghormati istri sehingga mampu secara sungguh-sungguh meminta maaf kepada istri yang mengunci_pintu ketika engkau pulang larut karena mengurus umat! Rab-mu memberkati beranda rumah tempat engkau menikmati dingin malam itu!

Wahai Rasul yang bengkak kakinya karena “terlalu” lama salat_minta_ampun kepada Rabb-mu yang telah dan akan menjamin ampunan untukmu, hanya karena engkau merasa tidak mampu ber-tahmid kepada-Nya secara layak!

Wahai Rasul yang menolak permintaan izin Malaikat Pencabut Nyawa untuk mengambil nyawamu yang suci sekalipun ia telah menjanjikan kemulyaanmu di akhirat tetapi tidak memberikan jaminan keselamatan bagi seluruh umatmu!

Wahai Rasul yang sehari kenyang untuk bersyukur dan sehari lapar untuk bersabar!

Wahai Rasul pecinta anak_yatim dan pengasih orang_miskin!

Wahai Dzat yang penggengam jiwa! Kasihanilah agar hambamu ini tidak terlalu pelit untuk sekadar bersalawat kepada Rasul-Mu yang ummi itu, rasul yang Engkau sendiri memuji berakhlak Agung[3].

Wahai Dzat yang Maha Luas Karunia-Nya! Kabulkanlah permohonan hamba-Mu agar Engkau berkenan melimpahkan keselamatan kepada Muhammad SAW dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim AS dan keluarganya! Limpahkanlah  keberkahan kepada Muhammad SAW dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim AS dan keluarganya! Segala puji bagi-Mu!

 

rasul1


[1] Al-Qur’an (111 )

[2] Al-Qur’an (33:53)

[3] Al-Qur’an (68:4)

5 thoughts on “Wahai Rasul

  1. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS: 33.21)
    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka (QS: 3.159). Kelembutan Rasul melingkupi semua lapisan: orang pinggiran, bawahan, dan kolega. Sirah Nabawiyah telah menggoreskan tinta sejarah kelembutan Beliau yang mengagumkan, diantaranya:
    1. Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari menghina, memfitnah dan mencaci Rasulullah yang disampaiakannya kepada semua orang yang melewatinya. Namun sebaliknya, Rasulullah Muhammad SAW setiap pagi mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu tidak pernah mengetahui siapa yang menyuapinya.
    Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, besar keinginannya untuk mengikuti kebiasaan apa saja yang Rasulullah lakukan. Setelah bertanya kepada Aisyah tentang kebiasaan Rasul yang belum dilakukannya, menurut Aisyah hanya satu yaitu menyuapi pengemis Yahudi buta di sudut pasar. Maka Abu Bakar mencoba untuk melakukan hal tersebut. Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapa kamu?!”
    Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”
    “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
    Sambil menangis Abubakar RA berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Ketika itu pengemis buta baru mengetahui siapa orang yang menyuapinya setiap setelah mendengar penjelasan Abubakar RA. Kemudian pengemis buta berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….”
    2. Kelembutan Beliau Rasulullah SAW kepada bawahannya cukuplah kesaksian yang disampaikan oleh Anas bin Malik.
    Anas bin Malik berkata: Aku pernah menjadi pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berkata kepadaku “ah” sama sekali, dan tidak pula beliau bertutur kepadaku: “Mengapa engkau berbuat demikian? Tidakkah seharusnya engkau berbuat demikian?”
    3. Kelembutan Beliau dengan kolega, salah satunya terungkap dalam kisah berikut:
    Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar, “Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang.”
    Umar bin Khattab RA langsung berdiri dan menghunus pedangnya. “Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya.” Rasulullah SAW berkata, “Bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik.”
    Tiba-tiba pendeta Yahudi berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin.”

    Ya Allah bersihkan jiwa kami dan ridhoi kami untuk mengikuti jejak langkah sunah RasulMu

    1. Drar Edi; TK komentarnya.
      Edi benar, Q(3:159) mendokumentasikan salah satu sifat beliau -yang sekarang langka dijumpai di kalangan umatnya- yaitu kelembutan yang menurut ayat yang sama menguindikasikan salah satu kunci keberhasilan beliau memimpin umat. Tapi ada ayat lain yang mendokumentasikan sifat beliau yang lain termasuk sikap tegas (keras). Jadi mungkin lebih aman mencitrakan beliau sebagai pribadi yang memiliki soft skill yang lengkap dan harmonis untuk menjadi teladan ideal (tetapi fisibel) baik sebagai pribadi, ayah, suami, negosiator, pemimpin, dsb, selain sebagai hamba-Nya tentu. Hemat saya, overemphasis thd salah satu sifatnya berpotensi keliru dalam mencitrakan beliau. Gimana?
      Salam.

  2. Beberapa waktu setelah Hamzah masuk Islam, para pembesar Quraisy berkumpul di tempat perkumpulan mereka. Turut hadir disana Utbah ibnu Rabi’ah, seorang pembesar yang disegani. Ketika Rasulallah sedang duduk sendirian disamping Ka’bah, Utbah mulai merayu Rasulullah dengan harta, kedudukan yang tinggi, dan janji-janji muluk lainnya, termasuk janji untuk menjadikan beliau sebagai raja yang paling berkuasa. Ia berkata, “Wahai Muhammad, keponakanku,kami tahu engkau berasal dari keluarga yang mulia dengan status sosial yang tinggi. Kemudian engkau mendatangkan kepada kaummu sebuah perkara yang besar, yang menjadikan mereka bercerai-berai. kau salahkan akal pikiran mereka. Aku ingin tawarkan kepadamu beberapa hal; barangkali sebagiannya engkau suka. Maukah kau dengarkan aku?’….

    “Bicaralah, wahai Utbah, aku mendengarkanmu,” jawab Rasulullah.

    Utbah lalu berkata :”Apa yang sebenarnya engkau inginkan dengan semua keributan ini? Jika harta yang kau inginkan, kami akan mengumpulkannya untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya diantara kami. Jika engkau menginginkan kehormatan, kami kan berikan kehormatan itu kepadamu sehingga tidak ada keputusan yang kami ambil tanpa persetujuanmu. Jika engkau menginginkan kekuasaan, kami akanjadikan engkau berkuasa atas kami. dan jika apa yang engkau alami hanyalah ilusi yang tidak bisa engkau hilangkan dari dirimu, kami akan carikan tabib yang bisa mengobatimu dan akan kami tanggung semua biayanya.”

    Ketika Utbah telah selesai dengan tawarannya, Rasulullah berkata,”Sudah selesaikah apa yang hendak engkau bicarakan, wahai Utbah?”

    “Ya.”

    “Sekarang, dengarkanlah aku.”

    Lalu Rasulullah membacakan beberapa ayat dari Surah Fushshilat yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Qur’an sebagai rahmat kepada manusia dan dijadikan-Nya Al Qur’an itu berbahasa Arab agar Rasulullah bisa menyampaikannya kepada masyarakat yang memahaminya.

    “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”(Fushishilat 41: 37)

    Setelah membaca ayat itu, rasulullah bersujud. lalu beliau bangkit dan berkata, ” Engkau telah mendengar apa yang kukatakan. Itulah jawabanku.”

    Utbah terkejut dan sadar dari keterpukauannya. Ia segera bangkit dan berjalan menuju rekan-rekannya. Ada sesuatu yang berubah di raut mukanya.

    …………Begitu teguhnya Rasulullah melawan status quo yang ada pada saat itu….Demi Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Rasulullah punya keberanian itu…

    Semoga kita mampu meneladan Rasulullah.

    1. Dear Santi,
      TK Komentarnya. Kalau enggak salah dua tokoh itu adalah sepupu (anak paman beliau, Abu Lahab) dan sempat menjadi mantu Beliau. Kalau enggak salah juga, selain mengutip ayat itu, ketika itu beliau juga mengucapkan kalimat yang mengguntur yang dipopulerkan a-l oleh Bimbo: “Matahari di tangan kananku, Bulan di tangan kiriku… “. Benar nggak?
      TK sekali lagi. Salam

      1. Betul Pak, Utbah Putra Abu Lahab dan Ummu Jamil. Utbah menikah dengan Ruqayyah putri Rosulullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s