Simbolisme Jam Pasir


Simbolisme Jam Pasir

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Sebelum mengenal jam, manusia menggunakan “jam pasir” (hourglass) untuk mengukur waktu. Bejana jam pasir terdiri dari dalam tiga bagian: bagian atas, bagian bawah, dan selat atau rongga sempit yang menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah. Untuk mengukur waktu, pasir dalam jumlah tertentu diletakkan di bagian atas yang segera akan mengalir ke bagian bawah melalui rongga sempit itu. Waktu ditentukan berdasarkan durasi dari keseluruhan proses perpindahan pasir dari bagian atas ke bagian bawah.

200px-Wooden_hourglass_2

Sumber gambar: Google

Bagi kebanyakan kita yang terlanjur terdidik “modern”, fenomena jam pasir cenderung ditanggapi sebagai sekadar penggalan sejarah peradaban manusia; tidak ada yang istimewa mengenainya. Lain halnya bagi yang memiliki bakat kepekaan spiritual yang istimewa[1] ; bagi mereka fenomena jam pasir mengandung sejumlah simbolisme yang layak untuk direnungkan.

Simbol Waktu dan Kematian

Aliran pasir yang mengukur durasi sungguh menunjukkan waktu dalam aspeknya yang fatal dan tak_dapat_dibailk (irreversible), tidak dapat dihentikan dan tidak ada yang dapat menganulir finalitasnya. Sterilitas pasir mengungkapkan “keremehan duniawi” (earthly accidents, tidak substantif), dan berakhirnya aliran pasir mengingatkan kita akan berhentinya detak jantung, berakhirnya kehidupan,   terminal terakhir kita yang ditakdirkan merangkak sejak lahir ke arah kematian (istilah Shakespeare), penjemputan ‘malaikat maut’, ajal, atau apapun istilahnya.

Simbol Dua  Kutub

Kenapa pasir itu turun? Karena atraksi atau daya tarik gravitasi bumi yang mengarah ke bawah. Inilah satu-satunya kutub daya tarik (pole of attraction) yang dapat ditawarkan pada ranah fisikal. Tetapi selain kutub “bawah” sebenarnya ada kutub “atas”: yang pertama menarik ke arah bawah (descending), ke arah “bumi”, ke luar (outward) atau  ke arah kesenangan_sementara duniawi (earthy joys), yang kedua ke arah atas (ascending), ke arah “langit”, ke dalam (inward) atau arah  kebahagiaan_abadi surgawi (heavenly pleasure).

Apa yang menjadi daya tarik gerak ke atas? Kebenaran (Truth, dengan T besar) dan Kecantikan (Beauty, dengan B besar), dua sisi dari Realitas yang sama.

Terserah Kita

Pesan semua agama mungkin dapat disederhanakan sebagai pengingat adanya kutub atas itu, mendorong untuk -serta memberikan petunjuk (hudâ) mengenai cara- meresponsnya secara positif dan memadai. Kita dianugrahi kapasitas -dengan tetap membutuhkan anugrah-Nya- untuk itu; syaratnya, kita menghendakinya. Jadi, pada analisis terakhir: terserah kita! Wallahu’alam ….@


[1] Salah satunya adalah F. Schuon. Artikel pendek ini diilhami tulisannya “The Symbolism of Hourglass” dalam Logic and Trascendence (2009), halaman 143-149.

2 thoughts on “Simbolisme Jam Pasir

  1. Pak uzair….

    Apa yang tertulis tak sebanyak apa yang diartikan…tulisan pendek tapi sayapnya banyak dan mengembang….seperti burung merak. Sebanyak apa yang tertulis atas comment tak seberapa dibandingkan dengan arti yang terkandung dalam kalimat bapak…..

    Waktu…waktu..waktu…andai dapat berbalik…terkadang pertanyaan ini datang….namun ini adalah hal yang mustahil terjadi…lantas saya S T O P dan tak lagi mengingatnya
    …tetapi waktu lampau adalah sejarah…baik…buruk…tak lagi dapat dirubah.

    Tetesan pasir dari sebuah lubang kecil pada mangkuk atau tempat lainnya secara jelas dapat digunakan untuk mengukur waktu seperti halnya dengan tetesan air yang teratur. Jam pasir bisa dibalik…
    Tapi sesungguhnya waktu tak pernah dapat berbalik…hanya dapat dihitung berbalik…untuk mendapatkan hitungan seberapa lamakah ??? seberapa pandai kita mengaturnya ???
    Waktu itu berbatas…

    Berakhirnya aliran pasir memberi arti juga habislah waktu kita……
    Waktu tak lagi dapat berbalik…seperti berbaliknya jam pasir penghitung waktu.
    Waktu tak lagi dapat diulang…kesempatan hanya sekali….
    Hiduplah sebelum kematian datang…waktu itu berbatas
    …seperti pasir yang turun….
    Hidup yang seperti apa ??….terserah…
    Sel-sel kelabu yang disertai hati yang ingat waktu adalah pengarah….

    Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Al Qur’an 3:145)

    Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Al Qur’an 7:34)

    Kebenaran yang tak berbantah….
    Waktunya tak seorangpun yang tahu ( Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.(Al Qur’an 20:15))

    …tapi waktu itu pasti datang. Dunia maya yang nyata…
    Kepastian yang tak diinginkan sebagian besar manusia……

    Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Al Qur’an 7:187)

    Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” (Al Qur’an 23:40)

    sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. (Al Qur’an 38:81)

    Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Qur’an 29:5)

    Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” (Al Qur’an 23:40)

    sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. (Al Qur’an 38:81)

    Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Qur’an 46:3)

    Salam,

    1. Dear Santi,

      TK komentarnya yang saya yakin akan memperkaya wawasan pembaca. Imam Syafi’i konon pernah berucap yang kira-kira maksudnya: “Seandainya Allah tidak menurunkan surat lain maka Surat Al’Ashyr –wal’ashri (Demi waktu!)– sudah memadai sebagai pegangan hidup kita”.* Pertanyaan*: Kenapa kesadaran kolektif umat mengenai waktu “memprihatinkan” (padahal selalu diingatkan paling tidak 5x dalam sehari)? *Pertanyaan retrospektif*: Berapa rasio waktu kita: (dzikir)/(nonton tv)?

      Sekali lagi TK atas komentarnya. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s