Puasa, Iman dan Kebajikan


Puasa, Iman dan Kebajikan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Puasa secara umum dapat didefinisikan sebagai berpantang_diri selama periode tertentu untuk makan, minum, hubungan seksual, tiga kebutuhan dasar fisiologis dan biologis, atau perbuatan lain yang dapat membatalkan puasa. Dalam pengertian ini puasa dikenal dalam semua agama dan tradisi, bukan hanya Islam. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan berpantang_diri sementara untuk tidak makan_minum_sex menentukan derajat manusia secara kategoris: tanpa kemampuan itu manusia setara dengan binatang atau bahkan lebih rendah[1]. Dari cara pandang ini alasan berpuasa sangat mendasar dan gamblang: kita berpuasa karena kita manusia (bukan binatang).

Bagi seorang muslim “perintah” puasa tak_terbantahkan karena berdasarkan dalil naqli (berbasiskan nash atau teks suci):

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Ayat 183).

(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Ayat 184)[2]

Ayat di atas dimulai dengan seruan bagi orang-orang yang beriman yang mengisyaratkan pentingnya unsur iman  dalam berpuasa[3]. Beriman kepada apa? Beriman kepada Dia yang Mutlak yang formulanya disarikan dalam bentuk kesaksian (syahadah): “La ilaha illa Allah”, “Tidak ada Tuhan Selain Allah”, rukun Islam yang pertama dan utama. Kenapa utama? Karena tanpanya, puasa dan pilar Islam lainnya (Salat, Zakat dan Haji) tidak bermakna. Kesaksian itu juga mengisyaratkan keterkaitan erat antara rukun Islam (Law) dengan rukun Iman (Faith)[4]. Menarik untuk dikemukakan bahwa rumusan syahadat itu menurut Schuon (2002: 81) merangkum semua Kebenaran metafisis: “All metaphysic is in fact contained in the Testimony of Faith (Shahadah), which is the pivot of Islam[5]. Kebenaran metafisis secara sederhana dapat didifenisikan sebagai Kebenaran[6] (dengan K besar) atau Truth (dengan T besar) yang bersifat abadi, supra-formal, bersifat mutlak karena sudah tertanam (built-in, pre-printed) dalam cetak_biru jiwa manusia, diakui atau tidak diakui.

Istilah Iman tidak sama dengan kepercayaan sebagaimana dipahami secara umum. Dalam kaitan ini berharga untuk dicermati “peringatan” Schuon mengenai perbedaan kedua istilah itu:

Faith is nothing other than the adherence of our whole being to Truth, whether we have of truth a direct intuition of this Truth or indirect notion. It is a misuse of language to reduce “faith” to “belief”; it is the opposite that is true: believe—or theoretical knowledge—must be changed into faith “that moves the mountain.

Iman tidak lain dari pada ketaatan keseluruhan diri kita pada Kebenaran (dengan K besar), apakah kita memahaminya secara langsung maupun tidak langsung. Merupakan suatu kesalahan bahasa untuk mereduksi Iman dengan Kepercayaan; sebaliknya lah yang benar: kepercayaan –atau pengetahuan teroritis– perlu dirubah menjadi Iman agar dapat “memindahkan gunung”[7].

Dalam konteks Islam, amalan-amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Puasa, termasuk salat taraweh, salat malam, tadarus dan dzikir (kontemplasi dan meditasi), semuanya dapat dilihat sebagai upaya sadar dan intensional untuk memperkuat Iman serta mendekatkan diri (muraqabah) kepada yang Mutlak sampai seolah-olah melihat dan “jatuh cinta” kepada-Nya. Singkatnya, amalan-amalan itu dapat dilihat sebagai upaya untuk memcintai-Nya dengan seluruh keberadaan diri kita (with the whole of our being).

Tetapi mencintai-Nya perlu bukti dan ini berarti kebajikan (virtue) dalam arti luas sehingga kebenaran Iman menjadi kongkrit, terlihat dan hidup. Tiga unsur kebajikan yang fundamental adalah kebersahajaan (humility), kemurahan_hati (charity) dan kebenaran (veracity)[8]. Iman -syarat sah puasa- jelas terkait dengan unsur ketiga yaitu kebenaran.

Unsur pertama, kebersahajaan dapat diartikan sebagai pengakuan jujur mengenai keterbatasan diri. Hemat penulis, potongan kalimat “agar kamu menjadi bertakwa” mengesankan bahwa puasa merupakan syarat yang perlu (necessary reason), bukan syarat yang cukup (sufficient reason), untuk mencapai derajat takwa. Ini berarti, untuk mencapai derajat itu, mutlak perlu unsur lain dan itu tidak lain dari rahmat (mercy) Dia SWT[9].

Bagaimana dengan unsur kedua yaitu kemurahan_hati? Secara sederhana kemurahan hati dapat dirumuskan sebagai kemampuan melihat kedudukan orang lain setara dengan kedudukan kita di hadapan-Nya: seperti aku, orang lain juga subyek -tepatnya subyek yang kita obyektifkan (objectified subjects)- yang merupakan ekstensi atau perluasan dari Subyek Murni (Pure Subject) yang Riil yang mencakup subyek-subyek ralatif termasuk aku dan orang lain. Dalam perpektif ini maka anjuran untuk banyak ber-sodaqoh (berderma) selama bulan puasa dapat mudah dipahami dasar metafisisnya. Demikian pentingnya kemurahan_hati sehingga puasa menjadi kondisional bagi orang yang berat menjalankan puasa dengan cara mengkonpensasinya dengan “fidyah”, “memberi makan orang miskin” (pertengahan Ayat 184). Wallahu’alam…@


[1] Kenapa lebih rendah? Karena, konon, hewan mampu “mengendalikan diri”: makan_minum sekadar memenuhi kebutuhan fisiologis -tanpa unsur keserakahan apalagi kemewahan- dan kawin sesuai “musim” dan semata-mata karena dorongan biologis untuk reproduksi. “Musim kawin” tidak dikenal manusia.

[2] Al-Qur’an ( 2:183); terjemahan dari Al-Qur’an: Diseratai Terjemahan dan Transelasi, Al-Mizan (2008).

[3] Demikian pentingnya unsur itu sehingga para ulama pada umumnya menyepakatinya menentukan keabsahan puasa.

[4] Dua rukun itu, ditambah dengan pilar lainnya ang kurang popular yaitu Ihsan (Way), sesuai hadits Jibril, merupakan bangunan dari Tradisi terakhir dalam rangkaian agama-agama Langit (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bagi penulis, istilah “memeluk Islam secara sempurna” (kaffah) berarti merealisasikan ketiga pilar itu (Iman, Islam dan Ihsan) secara lengkap dan seimbang. Artikel penulis mengenai ikhsan dapat diakses dalam web ini.

[5] Roots of the Human Condition, World Wisdom. Schuon menerjemahkan syahadat itu dengan “There is no divinity if not the (sole) Divinty (Allah)”. Baginya, rumusan dapat dibandingklan dengan rumusan Vedanata: “Brahman is real, the world is an appearance”.

[6] Dalam perspektif filsafat perrennial Kebenaran metafisis dapat diketahui oleh inteligensi yang fungsi utamanya membedakan antara yang Mutlak (the absolute, Atma) dengan yang relatif (maya, riil tetapi realitasnya relatif terhadap yang Mutlak). Tanpa kemampuan ini inteligensi bukan apa-apa. Dari kemampuan membedakan ini mucul kapasitas perasaan proporsionalitas (sense of proportionality) diri terhadap yang Mutlak: di hadapan yang Mutlak aku bukan apa-apa. Kelangkaan perasaan proporsionalitas ini yang ditemukan dalam figur Iblis, Fir’aun atau manusia lainnya dengan mentalitas luferian.

[7] Schuon (2007), Spiritual Perspective and Human Facts,”Knowledge and Love” (halaman 134).

[8] Uraian agak rinci mengenai kebajikan dapat diakses daalm web ini yang berjudul Kebajikan Funmdamental.

[9] Karena penuh rahmat, maka bulan puasa, khusunya dalam lailatul qadar, merupakan waktu yang tepat untuk menyiapkan diri menerima rahmat-Nya yang di luar kuasa kita. Apa yang dapat dilakukan adalah meningkatkan status kesiapan diri (state of preparadeness) untuk menerimanya.

One thought on “Puasa, Iman dan Kebajikan

  1. Yth pak Uzair…

    saya tertarik dengan alinea yang berbunyi :…Tetapi mencintai-Nya perlu bukti dan ini berarti kebajikan (virtue) dalam arti luas sehingga kebenaran Iman menjadi kongkrit, terlihat dan hidup. …dst.

    Puasa melatih diri untuk dapat Tepo seliro akan penderitaan orang2 miskin saat mereka harus menahan haus dan lapar karena tak seteguk airpun mrk miliki dan tak sepotong rotipun mrk dapat beli. Dengan puasa, bisa merasakan apa yg mereka rasakan saat2 itu….dengan puasa dapat merasakan nikmatnya rezeki yang ada saat berbuka. Sebotol susu yang diminum di bulan2 diluar ramadhan rasanya kenikmatannya biasa saja. Namun saat mendapatkan seteguk teh manis hangat saat berbuka puasa di bulan ramadhan, kenikmatan yang dirasakan sungguh punya nilai jauh lebih tinggi. Semua itu menjadikan dapat lebih mensyukuri rezeki yang diberikanNya.

    Mencintai_Nya perlu bukti….keimanan juga perlu bukti. Bukti yang kongkrit/wujud nyatanya adalah aqidah yang kuat….wujud nyatanya adalah Ahlaqul karimah. karena sesungguhnya muaranya Iman…muaranya taqwa adalah Ahlaq yang baik.

    Pepatah Jawa Tepo Seliro adalah dasarnya kebajikan. Merasakan apa yang dirasakan orang lain. Tidak mencubit orang lain karena jika kita dicubit orang lain terasa sakit. Tidak merendahkan orang lain karena jika direndahkan orang lain kita tidak menerima. Pada akhirnya seringlah berbuat kebajikan pada orang lain, karena ketika orang lain berbuat kebajikan kita merasa senang.

    Wallahu’alam

    Salam,
    Chryssanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s