Spiritual, Refleksi

Seri_Uzair_On_Puasa: Puasa Ramadhan dan Kebaikan Sempurna

Besok pagi sejak fajar (Kamis, 17 Mei 2018), milyaran Umat Islam sedunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Mereka akan melakukan ibadah ini selama sebulan penuh, selama Bulan Ramadhan. Bagi Umat ibadah ini istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini mendorong mereka untuk mengintensifkan ibadah lain yang bukan saja yang harus (wajib) tetapi juga yang disarankan (sunat), bukan saja yang terkait dengan hubungan vertikal dengan Rabb SWT, tetapi juga yang terkait dengan hubungan horizontal antar sesama. Lebih dari itu, selama Ramadhan, Umat melakukan semua ajaran agamanya bukan saja sesuai dengan ketentuan hukum agama (syariat), tetapi juga dengan semangat untuk melakukannya secara sempurna (ihsan). Mereka melakukan sejumlah amalan unggulan yang sangat ditekankan selama Bulan Ramadhan.

Sebagian dari amalan unggulan itu adalah salat malam (tarawih), tadarus (membaca Kitab Suci) dan itikaf (kegiatan di Masjid untuk merenung dan berdialog dengan diri-sendiri). Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan vertikal dengan-Nya.

Selain itu, sebagian amalan unggulan itu adalah kegemaran berbagi makanan-minuman untuk berbuka puasa bagi orang lain yang berpuasa, bersedekah, menyantuni kaum duafa (fakir, miskin, yatim, dan kelompok rentan lainnya), menahan diri untuk tidak berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia atau mubazir, serta menahan diri secara sabar dari gejolak amarah dan dorongan hebat syahwat seksual. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membantu proses pendewasaan mental-spiritual serta mempererat hubungan horizontal dengan sesama.

Dengan melakukan amalan-amalan unggulan ini secara sungguh-sungguh, kita dapat berharap dikaruniai-Nya kemampuan untuk mendekati kebaikan sempurna (Arab: Ihsan; Inggris: perfect goodness). Apakah kebaikan sempurna? Salah jawabannya tertuang dalam kutipan berikut[1]:

… perfect goodness is an action of the heart that involves thinking according to the standards of truth; forming the intention to do good, useful things and then doing them; and performing acts of worship in the consciousness that God sees them. To attain perfect goodness, an initiate must establish his or her thoughts, feelings, and conceptions on firm belief, and then deepen that belief by practicing the essentials of Islam and training his or her heart to receive Divine gifts and illuminate it with the light of His manifestations. Only one who has attained such a degree of perfect goodness can really do good to others just for God’s sake, without expecting any return.

… kebaikan sempurna adalah tindakan hati yang melibatkan pemikiran menurut standar kebenaran; membentuk niat untuk melakukan hal-hal yang baik, berguna, dan kemudian melakukannya; dan melakukan ibadah dalam kesadaran bahwa Tuhan melihat mereka. Untuk mencapai kebaikan sempurna, seorang harus menetapkan pikiran, perasaan, dan konsepsinya pada keyakinan yang teguh, dan kemudian memperdalam keyakinan itu dengan mempraktikkan esensi Islam dan melatih hatinya untuk menerima karunia Ilahi dan meneranginya dengan cahaya manifestasi-Nya. Hanya orang yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna seperti itu yang benar-benar dapat berbuat baik kepada orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Tanpa mengharapkan imbalan tidak berarti tanpa imbalan. Imbalannya justru terjamin: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) (QS Ar-Rahman: 60). Sebagai catatan, ayat ini didahului oleh 14 ayat mengenai surga dan diikuti oleh 18 ayat yang juga mengenai surga. Gambaran mengenai nikmatnya kehidupan di surga dalam ayat-ayat itu luar biasa, jauh melampaui imaji kita yang paling liar sekali pun. Walaupun demikian, narasinya elegan dan jauh dari kesan vulgar. Nikmatnya kehidupan surga luar biasa, tetapi nikmat karunia rida-Nya melampauinya sebagaimana tercermin dari lantunan doa orang yang tengah berpuasa (Arab: shaimun) ketika siap menghadapi momen berbuka puasa pada senja hari: “….nasaluka ridhaka wal jannata…”.

Seperti catatan akhir, istilah kebaikan sempurna dalam konteks tulisan ini perlu dilihat sebagai arah atau titik rujukan (reference point), bukan status kebaikan yang dapat diraih oleh seseorang. Kenapa? Karena kebaikan sempurna pada hakikatnya hanya milik Dia SWT.

Wallahualam….@

[1] http://www.thewaytotruth.org/heart/ihsan.html

Advertisements
Standard
Refleksi, Spiritual

Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.

Standard
Refleksi, Spiritual

Seri_Uzair_On_Puasa: Berpuasa dengan Ihsan

Signifikansi Puasa

Saat ini hampir dua milyar kaum muslimin secara serentak berpuasa. Ini tak pelak merupakan suatu event tahunan unik dan salah satu pengalaman spiritual tingkat global terdahsyat di dunia ini[1]. Kenapa kaum muslimin bersusah payah berpantang makan, minum, berhubungan seksual dan kegiatan lain yang diketahui atau patut diduga dapat membatalkan puasa, sepanjang hari selama sebulan penuh? Jawabannya singkatnya, mereka menyadari puasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban agama, sesuai al-Baqarah ayat 183. Mereka, berdasar ayat yang sama, mengetahui bahwa kewajiban serupa juga berlaku bagi umat-umat sebelumnya, termasuk penganut Agama Nasrani. Walaupun demikian, main stream kelompok umat ini tampaknya tidak menganggap puasa sebagai suatu kewajiban agama[2]:

Scripture does not command Christians to fast. God does not require or demand it of Christians. At the same time, the Bible presents fasting as something that is good, profitable, and beneficial. The book of Acts records believers fasting before they made important decisions (Acts 13:2; 14:23).

Kenapa seperti itu, tentu ada hikmah ilahiah yang berada di luar jangkauan nalar kita untuk memahami sepenuhnya. Mungkin kita hanya dapat berandai-andai: seandainya puasa dipraktekkan oleh Umat Nasrani sebagaimana Umat Islam melakukanya, dunia mungkin akan menyaksikan kehidupan global yang lebih indah dari yang kita alami sekarang. Kenapa lebih indah? Paling tidak karena dua alasan. Pertama, secara statistik, populasi Umat Nasrani pada tingkat global lebih besar dari pada populasi Umat Islam. Kedua, praktek puasa dapat mengundang turunnya rahmat dan berkah “langit” berupa kesempatan untuk mengembangkan spiritualitas pelakunya.

Fasting in Ramadan is a unique opportunity to develop spiritually and gain strength and control over our selves, our egos, the nafs, the unconscious automatic primitive nature that tends to dominate our lives when unchecked. … By observing fasting in Ramadan, a Muslim has a profound and unique opportunity to become more peaceful, present and spiritual — the very goal of Islam.

Puasa sebagi Rukun Islam

Bagi muslim, puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Dalam konteks ini Islam dimaknai dalam arti sempit sebagai amalan lahiriah. Mengacu kepada hadits Jibril, Islam sebagai amalan lahiriah dapat dibedakan dari Iman yang menekankan amalan intelektual dan Ihsan yang menekankan amalan hati. Aspek amalan lahiriah merupakan bidang keahlian para ahli fiqh, sementara amalan intelektual dan amalan hati masing-masing merupakan keahlian ahli kalam dan ahli tasauf. Islam dalam arti sempit ini diilustrasikan oleh ayat ini:

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam)”, karena iman belum masuk dalam hatimu…. “ (49:14).

Yang perlu dicermati adalah bahwa Al-Qur’an menggunakan kata Islam (atau kata turunanya) dalam berbagai konteks dan mengandung makna yang lebih luas dari yang terungkap dalam kutipan di atas. Makna Islam yang lebih luas dapat dilihat dalam kutipan ayat-ayat berikut:

  1. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikma-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu (5:3)
  2. Apakah kamu menjadi saksi saat maut menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya (Arab: muslimun) (2:133)
  3. Maka mengapa mereka mencari agama lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri (Arab: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya semua dikembalikan (3: 83).

Kata Islam dalam kutipan pertama mengacu kepada keseluruhan ajaran Muhammad saw dan inilah yang tampaknya menjadi definisi Islam yang paling populer. Walaupun demikian, kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa al-Qur’an sebenarnya menggunakan istilah Islam dalam konteks yang lebih luas dari definisi populer itu karena menyangkut keseluruhan ajaran Ibrahiem AS dan ajaran anak-cucunya (2:133), dan bahkan mengacu pada keber-serahan-diri seluruh alam (3:83).

Bagi non-manusia, Islam atau sikap berserah-diri bersifat otomastis, tetapi bagi manusia sikap itu bersifat voluntir dalam arti harus didasari oleh kehendak sendiri. Kenapa? Karena manusia diciptakan sesuai “gambar”-Nya sehingga memiliki kebebasan penuh bahkan untuk membangkang-Nya.

Islam dalam pengertian paling sempit (49:14), seperti disinggung sebelumnya, dapat dibedakan dari Iman atau Ihsan. Tripatriat Islam-Iman-Ihsan membangun keseluruhan al-Dien atau Islam dalam arti luas. Pada umumnya para ulama sepakat bahwa ber-Islam (dalam artian sempit) belum tentu ber-Iman, tetapi ber-Iman mustahil tanpa ber-Islam. Mereka pada umumnya juga sepakat bahwa ber-Iman belum tentu ber-Ihsan, tetapi ber-Ihsan mustahil tanpa ber-Iman. Dalam bahasa matematis: Islam merupakan subset dari Iman yang merupakan subset dari Ihsan.

Pada hakikatnya, tripatriat Islam-Iman-Ihsan melingkupi semua tindakan utama khas manusia yang perlu diintegrasikan agar suatu tindakan positif mendatangkan hasil yang optimal sesuai yang dikehendaki. Tripatriat ini setara dengan tripatriat actingknowing-willing; atau activity-intellectuality-spirituality; atau work- faith-perfection.

ihsan

Sumber: Youtube

Dalam kaitannya dengan puasa, uraian di atas menyimpulkan bahwa untuk mencapai sasaran yaitu taqwa, puasa perlu dilakukan secara Ihsan. Kalimat pendek ini berarti bahwa untuk mencapai puncak kualitas mausia (taqwa), puasa perlu dilakukan bukan hanya sebagai tindakan lahiriah, tetapi sekaligus juga harus didasari oleh Iman, dan disempurnakan dengan Ihsan[*]. Ini berarti berarti pula bahwa puasa seyogyanya  dilakukan secara sempurna sesuai kaifiat (tatacara) yang ditetapkan syariat, dimotivasi keinginan untuk memperoleh ridha-Nya dan bukan karena motif lain, memperhatikan adab puasa, serta menyibukkan diri dengan amalan-amalan unggulan baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Inilah agaknya makna hadits: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari). Wallahu’alam ……@

[*] Posting mengenai Ihsan ini dapat diakses dalam blog ini, antara lain yang bertajuk Ihsan: Pilar Agama yang Terabaikan.

[1] http://www.islamicrenaissance.com/blog/10-reasons-for-fasting-in-ramadan/

[2] http://www.christianbiblereference.org/faq_fasting.htm

Standard
Spiritual

Seri Uzair_on_Puasa: Tujuan dan Adab Puasa

Dasar hukum (syar’i) puasa adalah al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ayat pendek ini mungkin termasuk paling populer di kalangan umat karena sering dikemukakan oleh para pencermah, khususnya pada bulan puasa. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa ayat ini tidak menyebutkan siapa yang yang mewajibkan puasa. Dalam hal ini apa yang diungkapkan Shihab layak disimak. Baginya, tidak disebutkannya secara eksplisit pihak yang mewajibkan puasa mengisyaratkan bahwa ibadah ini sangat penting dan berguna bagi manusia; sedemikian penting dan bergunanya ibadah ini sehingga “seandainya bukan Allah SWT yang mewajibkannya, niscaya manusia yang akan mewajibkan atas dir mereka sendiri” Shihab (2002:401). Sejalan dengan pendapat ini al-Gazali (2012:123) mengungkapkan bahwa “puasa adalah asas ibadah yang sekaligus merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah swt”.

Seperti ditegaskan dalam ayat ini, tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa yang secara singkat dapat didefinisikan sebagai “terhindar dari segala macam sanksi atau dampak buruk bagi duniawi maupun ukhrawi” (Shihab, 2003:401). Dalam narasi al-Gazali (2012:123), tujuan puasa adalah “meredam keiginan nafsu dan meningkatkan kekutan batinmu, agar engkau dapat gunakan sebagai modal untuk meningkatkan nilai ketakwaanmu”.

takwa1

Sumber: Youtube

Yang juga menarik untuk dicatat adalah bahwa penggunaan kata “agar” (Arab: la’alla) dalam ayat itu dan ini mengisyaratkan bahwa antara puasa dan takwa tidak ada hubungan otomatis; artinya, orang yang berpuasa belum tentu mencapai derajat takwa. Hal ini sejalan dengan hadits yang kira-kira artinya “banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya itu, selain rasa lapar dan dahaga”.

Apa yang menyebabkan puasa tidak “ngefek” (istilah remaja) dalam arti tidak membuahkan pahala atau tidak efektif sebagai modal untuk meningkatkan ketakwaan sebagaimana diungkapkan al-Gazali? Jawaban singkat untuk pertanyaan ini adalah bahwa pelakunya kurang atau tidak mengindahkan adab puasa. Dalam kaitan ini layak disimak apa yang dikatakan al-Gazali (2012:121):

Agar puasa menjadi sempurna, maka yang harus dilakukan adalah menahan seluruh anggota tubuh dan pikiran dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Artinya, engkau harus harus dapat menjaga mata dari hal-hal yang tidak disukai-Nya, menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak manfaatnya untukmu, dan menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang oleh Allah Ta’ala.

Termasuk dalam adab puasa adalah mengendalikan nafsu makan ketika berbuka. Mengenai hal ini al-Gazali (2012:123) sangat serius:

Jadi, bila engkau berbuka dengan memakan jatah makan yang mestinya untuk dua atau tiga kali, maka tidak ada gunanya engkau berpuasa. Sudah barang tentu perutmu akan terasa berat. Padahal benjana yang sangat dibenci Allah swt adalah perut yang terisi penuh makanan halal, hingga kekenyangan. Lantas, bagaimana dengan perut yang terisi makanan yang diharamkan”

Juga merupakan bagian dari adab puasa adalah menghindari lima perkara yang menurut hadits (dikutip oleh al-Gazali, 2012:120) dapat membatalkan pahala puasa: berbohong, mengadu-domba (namimah), memfitnah, bersumpah palsu dan memandang lawan jenis dengan syahwat.

Jika adab-adab puasa sebagaimana dibahas sebelumnya merupakan bagian dari akhlak (perilakuk otomtis) kita sehari-hari (bukan hanya bulan puasa), maka ada harapan puasa kita efektif dalam arti dapat menjadi modal bagi kita untuk meningkatkan nilai ketakwaan. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa takwa menunut keterampilan_spiritual lebih, jauh di atas rata-rata: berinfak di waktu sempit, memaafkan kesalahan orang lain, sedikit tidur di malam hari (karena tahajjud), banyak minta ampun menjelang fajar, memberikan hak orang miskin tanpa perlu diminta. Keterampilan-keterampilan itu sama-sekali bukan mengada-ada tetapi secara eksplisit termaktub dalam al-Imran 134 dan al-Dzariat 15-19:

(orang yang bertkwa yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain (al-Iamran 134).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dari mata air (15); mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya sebelum itu (di dunia) mereka tergolong muhsinin (16); mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (17); dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) (18); dan pada harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta, dan orang-orang miskin yang tidak meminta (19) (al-Dzariat: 15-19).

Kutipan ayat di atas menegaskan unsur ihsan dalam makna takwa yang kurang memperoleh perhatian pencermah atau khatib jum’at kita ketika menjelaskan takwa. Hal ini tentu memprihatinkan terutama bagi mereka yang serius ingin menggarisbawahi wajah Islam yang ramah dan damai.

Wallahu ‘alamu bi muraadih…..@

Referensi

Iman al-Gazali (2012), Biayatul Hidayah (Jalan Meraih Hidayah Allah) (terjemahan), Khatulistiwa.

Shihab, M. Quraisy ( 2002 ), Tafsir al-Misbah, Lentera Hati

Standard
Refleksi

Puasa: Sukses, Pelajaran dan Tindak lanjut

Puasa: Sukses, Pelajaran dan Tindak lanjut

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.gmail.com

Ya Rabb! Terimalah syukur hamba atas kesempatan menuntaskan puasa tahun ini; perkenankan hamba bertemu ramadhan tahun depan untuk memperkaya pengalaman rohani yang produktif secara individual dan sosial. Hamba telah berupaya berpuasa sesuai tuntunan-Mu dan teladan nabi-Mu: berlapar_haus ketika siang sekalipun masih merasa tersiksa, tarawih ketika malam sekalipun seringkali disertai malas, tadarus sekalipun sering tanpa konsentrasi, berinfaq semampunya, dan zakat_mal sebatas nisab.

Rab! Terimalah semua itu karena itulah kemampuan hamba. Hamba menyadari masih banyak hal yang terlewat: masih malas salat berjamaah, masih cepat tersinggung, masih sering terpana melihat kecantikan wanita bukan muhrim, masih tega menonton ketidakberdayaan kaum du’afa, masih kurang_maaf, dan banyak sisi-gelap lainnya.

Rab! Engkau sajalah yang berhak menilai apakah hamba layak merayakan Ied_fitri dalam arti memenangkan pertempuran melawan hawa nafsu yang terus-menerus memerintahkan keburukan (an ammartun bil fahsyaa). Hamba tidak dapat melawan keperkasaan hawa nafsu kecuali Engkau merahmatinya (illa ma rahima rabbi)[1].

ram

Hamba menyadari sukses puasa hamba ditentukan oleh tiga macam pembelajaran (leasons learned) dari puasa serta kemampuan menindak-lanjuti dalam amalan kongkrit (way forward) dalam 11 bulan ke depan: pengalaman rohani, mengendalikan hawa nafsu dan kepedulian terhadap sesama.

  1. Pengalaman rohani

Dari pengalaman singkat tadarus dan bangun malam hamba menikmati sedikit pengalaman rohani yang terbukti membawa ketenteraman hati. Hamba menyadari sukses puasa hamba ditentukan oleh kemampuan  mempertahankan best practices ini selama 11 bulan ke depan.

  1. Mengendalikan hawa nafsu

Dari pengalaman berlapar disadari pentingnya kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Hamba menyadari sukses puasa hamba tergantung kepada kemampuan  mempraktekkan pelajaran hidup yang sangat penting ini dalam 11 bulan ke depan.

  1. Peduli terhadap sesama

Dari pengalaman berlapar juga disadari arti penting peduli terhadap sesama khusunya kaum du’afa. Hamba menyadari ukuran sukses puasa hamba ditentukan oleh apakah kepekaan itu dapat dipertahankan serta ditingkatkan dalam 11 bulan ke depan ….@


[1] Surat Yusuf (53).

Standard
Refleksi

Catatan Puasaku

Catatan Puasaku

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Ya Rabb!

Dengan izin-Mu aku akan segara mengakhiri puasa tahun ini

Terimalah puasaku ya Rabb sekalipun sekadar menahan lapar!

Terimalah tarawih dan tadarusku sekalipun belum terbebas dari ria!

Itulah kemampuan saat ini ya Rabb!

Belum mampu puasa mata_telinga, apalagi puasa hati

Belum mampu tarawih_khusyu’, apalagi ikhlas

Belum mampu tadarus_tartil, apalagi mentadabburi ayat-ayat_Mu.

Ya Rabb, Ya al_Afwu!

Terimalah tahajudku, sekalipun miskin semangat penghambaan diri!

Terimalah sedikit santunanku pada kaum du’afa, sekalipun belum terbebas dari kekikiran dan ria!

Terimalah ‘itikafku, sekalipun masih tercemar agaitasi pikiran_egosentris!

Ya Rabb, Ya al_Syahid!

Itulah catatan puasaku

Betapa sedikit jumlahnya, betapa rendah kualitasnya, tapi

Bukankah Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyantun?

Puasaku belum layak mengantarkan pada kesucian_fitri, tapi

Bukankah rahmat_Mu mengatasi amarah_Mu?

Ya Rabb, Asal_Tujuan Segala!

Kini aku sudah siap pulang_mudik ke kampung_halaman

Maafkanlah! Aku belum siap untuk pulang_mudik ke kampung_halaman yang sebenarnya, tempat asal_tujuan segala

Berilah kesempatan menemui Ramadhan-Mu tahun depan!

Ya Rahman, Ya Rahim!

Terimalah puasaku selama bulan penuh barakah ini!

Senantiasa karuniakanlah salawat dan salam kepada Rasul-Mu SAW yang gemar puasa, penyantun anak_yatim, dan pecinta kaum dhu’afa!

Juga bagi keluarganya yang suci!

Amîn yâ mujîba as-sâilîn…. @

Standard
Refleksi

Puasa, Iman dan Kebajikan

Puasa, Iman dan Kebajikan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Puasa secara umum dapat didefinisikan sebagai berpantang_diri selama periode tertentu untuk makan, minum, hubungan seksual, tiga kebutuhan dasar fisiologis dan biologis, atau perbuatan lain yang dapat membatalkan puasa. Dalam pengertian ini puasa dikenal dalam semua agama dan tradisi, bukan hanya Islam. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan berpantang_diri sementara untuk tidak makan_minum_sex menentukan derajat manusia secara kategoris: tanpa kemampuan itu manusia setara dengan binatang atau bahkan lebih rendah[1]. Dari cara pandang ini alasan berpuasa sangat mendasar dan gamblang: kita berpuasa karena kita manusia (bukan binatang).

Bagi seorang muslim “perintah” puasa tak_terbantahkan karena berdasarkan dalil naqli (berbasiskan nash atau teks suci):

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Ayat 183).

(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Ayat 184)[2]

Ayat di atas dimulai dengan seruan bagi orang-orang yang beriman yang mengisyaratkan pentingnya unsur iman  dalam berpuasa[3]. Beriman kepada apa? Beriman kepada Dia yang Mutlak yang formulanya disarikan dalam bentuk kesaksian (syahadah): “La ilaha illa Allah”, “Tidak ada Tuhan Selain Allah”, rukun Islam yang pertama dan utama. Kenapa utama? Karena tanpanya, puasa dan pilar Islam lainnya (Salat, Zakat dan Haji) tidak bermakna. Kesaksian itu juga mengisyaratkan keterkaitan erat antara rukun Islam (Law) dengan rukun Iman (Faith)[4]. Menarik untuk dikemukakan bahwa rumusan syahadat itu menurut Schuon (2002: 81) merangkum semua Kebenaran metafisis: “All metaphysic is in fact contained in the Testimony of Faith (Shahadah), which is the pivot of Islam[5]. Kebenaran metafisis secara sederhana dapat didifenisikan sebagai Kebenaran[6] (dengan K besar) atau Truth (dengan T besar) yang bersifat abadi, supra-formal, bersifat mutlak karena sudah tertanam (built-in, pre-printed) dalam cetak_biru jiwa manusia, diakui atau tidak diakui.

Istilah Iman tidak sama dengan kepercayaan sebagaimana dipahami secara umum. Dalam kaitan ini berharga untuk dicermati “peringatan” Schuon mengenai perbedaan kedua istilah itu:

Faith is nothing other than the adherence of our whole being to Truth, whether we have of truth a direct intuition of this Truth or indirect notion. It is a misuse of language to reduce “faith” to “belief”; it is the opposite that is true: believe—or theoretical knowledge—must be changed into faith “that moves the mountain.

Iman tidak lain dari pada ketaatan keseluruhan diri kita pada Kebenaran (dengan K besar), apakah kita memahaminya secara langsung maupun tidak langsung. Merupakan suatu kesalahan bahasa untuk mereduksi Iman dengan Kepercayaan; sebaliknya lah yang benar: kepercayaan –atau pengetahuan teroritis– perlu dirubah menjadi Iman agar dapat “memindahkan gunung”[7].

Dalam konteks Islam, amalan-amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Puasa, termasuk salat taraweh, salat malam, tadarus dan dzikir (kontemplasi dan meditasi), semuanya dapat dilihat sebagai upaya sadar dan intensional untuk memperkuat Iman serta mendekatkan diri (muraqabah) kepada yang Mutlak sampai seolah-olah melihat dan “jatuh cinta” kepada-Nya. Singkatnya, amalan-amalan itu dapat dilihat sebagai upaya untuk memcintai-Nya dengan seluruh keberadaan diri kita (with the whole of our being).

Tetapi mencintai-Nya perlu bukti dan ini berarti kebajikan (virtue) dalam arti luas sehingga kebenaran Iman menjadi kongkrit, terlihat dan hidup. Tiga unsur kebajikan yang fundamental adalah kebersahajaan (humility), kemurahan_hati (charity) dan kebenaran (veracity)[8]. Iman -syarat sah puasa- jelas terkait dengan unsur ketiga yaitu kebenaran.

Unsur pertama, kebersahajaan dapat diartikan sebagai pengakuan jujur mengenai keterbatasan diri. Hemat penulis, potongan kalimat “agar kamu menjadi bertakwa” mengesankan bahwa puasa merupakan syarat yang perlu (necessary reason), bukan syarat yang cukup (sufficient reason), untuk mencapai derajat takwa. Ini berarti, untuk mencapai derajat itu, mutlak perlu unsur lain dan itu tidak lain dari rahmat (mercy) Dia SWT[9].

Bagaimana dengan unsur kedua yaitu kemurahan_hati? Secara sederhana kemurahan hati dapat dirumuskan sebagai kemampuan melihat kedudukan orang lain setara dengan kedudukan kita di hadapan-Nya: seperti aku, orang lain juga subyek -tepatnya subyek yang kita obyektifkan (objectified subjects)- yang merupakan ekstensi atau perluasan dari Subyek Murni (Pure Subject) yang Riil yang mencakup subyek-subyek ralatif termasuk aku dan orang lain. Dalam perpektif ini maka anjuran untuk banyak ber-sodaqoh (berderma) selama bulan puasa dapat mudah dipahami dasar metafisisnya. Demikian pentingnya kemurahan_hati sehingga puasa menjadi kondisional bagi orang yang berat menjalankan puasa dengan cara mengkonpensasinya dengan “fidyah”, “memberi makan orang miskin” (pertengahan Ayat 184). Wallahu’alam…@


[1] Kenapa lebih rendah? Karena, konon, hewan mampu “mengendalikan diri”: makan_minum sekadar memenuhi kebutuhan fisiologis -tanpa unsur keserakahan apalagi kemewahan- dan kawin sesuai “musim” dan semata-mata karena dorongan biologis untuk reproduksi. “Musim kawin” tidak dikenal manusia.

[2] Al-Qur’an ( 2:183); terjemahan dari Al-Qur’an: Diseratai Terjemahan dan Transelasi, Al-Mizan (2008).

[3] Demikian pentingnya unsur itu sehingga para ulama pada umumnya menyepakatinya menentukan keabsahan puasa.

[4] Dua rukun itu, ditambah dengan pilar lainnya ang kurang popular yaitu Ihsan (Way), sesuai hadits Jibril, merupakan bangunan dari Tradisi terakhir dalam rangkaian agama-agama Langit (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bagi penulis, istilah “memeluk Islam secara sempurna” (kaffah) berarti merealisasikan ketiga pilar itu (Iman, Islam dan Ihsan) secara lengkap dan seimbang. Artikel penulis mengenai ikhsan dapat diakses dalam web ini.

[5] Roots of the Human Condition, World Wisdom. Schuon menerjemahkan syahadat itu dengan “There is no divinity if not the (sole) Divinty (Allah)”. Baginya, rumusan dapat dibandingklan dengan rumusan Vedanata: “Brahman is real, the world is an appearance”.

[6] Dalam perspektif filsafat perrennial Kebenaran metafisis dapat diketahui oleh inteligensi yang fungsi utamanya membedakan antara yang Mutlak (the absolute, Atma) dengan yang relatif (maya, riil tetapi realitasnya relatif terhadap yang Mutlak). Tanpa kemampuan ini inteligensi bukan apa-apa. Dari kemampuan membedakan ini mucul kapasitas perasaan proporsionalitas (sense of proportionality) diri terhadap yang Mutlak: di hadapan yang Mutlak aku bukan apa-apa. Kelangkaan perasaan proporsionalitas ini yang ditemukan dalam figur Iblis, Fir’aun atau manusia lainnya dengan mentalitas luferian.

[7] Schuon (2007), Spiritual Perspective and Human Facts,”Knowledge and Love” (halaman 134).

[8] Uraian agak rinci mengenai kebajikan dapat diakses daalm web ini yang berjudul Kebajikan Funmdamental.

[9] Karena penuh rahmat, maka bulan puasa, khusunya dalam lailatul qadar, merupakan waktu yang tepat untuk menyiapkan diri menerima rahmat-Nya yang di luar kuasa kita. Apa yang dapat dilakukan adalah meningkatkan status kesiapan diri (state of preparadeness) untuk menerimanya.

Standard