Puasa (9): Malam Qadr

Sumber Gambar: Google

Umat Islam (selanjutnya, Umat) kini tengah berada pada pertengahan fase 10-malam terakhir Bulan Ramadhan. Dalam fase ini wajar jika Umat mengalami kelelahan secara fisik karena sudah berpuasa selama tiga minggu secara berturut-turut. Tetapi justru dalam kondisi fisik semacam itu mereka berupaya mengintensifkan ibadah-malam sesuai dengan yang diteladankan Rasul SAW. Para saksi melaporkan bahwa intensitas ibadah beliau pada fase ini lebih dari biasanya.

Umat mempercayai dalam fase ini ada satu malam istimewa yang dikenal dengan malam qadr, Laylat al-Qadr. Ini malam istimewa, “lebih baik dari seribu bulan”, karena para malaikat dan Ruh diperintahkan turun (QS 97:1-5) ke dunia atau alam musyahadah (yang dapat disaksikan). Keistimewaan Malam Qadr terungkap antara lain dari berbagai istilah yang dinisbahkan kepadanya: Malam Keputusan (the Night of Decree), Malam Kekuatan (Night of Power), Malam Nilai (Night of Value), Malam Takdir (Night of Destiny), atau Malam Tindakan (Night of Measures).

Umat meyakini pada malam istimewa ini ayat pertama al-Quran diturunkan melalui Malaikat Jibril AS kepada Rasul SAW di Gua Hira. Umat percaya bahwa pada malam istimewa ini rahmat dan belas kasihan Tuhan berlimpah, dosa diampuni, permohonan diterima.

Muslims believe that on this night the blessings and mercy of God are abundant, sins are forgiven, supplications are accepted, and that the annual decree is revealed to the angels who also descend to earth, specially the Angel Gabriel, referred to as “the Spirit”, to perform every and any errand decreed by God. Islam holds that God Almighty alone answers our supplications and that He alone receives them and forgives humanity and gives them what they ask for and that on this particular night Muslims should actively seek God’s forgiveness and engage in various acts of worship[1].

Sebagian ulama percaya bahwa Al Quran diturunkan kepada Rasul SAW dua kali: ‘wahyu langsung’ yang terjadi pada Laylat al-Qadr, dan ‘wahyu bertahap’ selama 23 tahun. Al-Quran menggunakan kata Inzal yang membenarkan ‘wahyu langsung’. Bagi sebagian ulama lainnya, wahyu Quran terjadi dalam dua fase: fase pertama adalah wahyu secara keseluruhan pada Laylat al-Qadr kepada malaikat Jibril, fase berikutnya wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Rasul SAW, dimulai pada 610 M di gua Hira di Gunung Nur di Mekah. Surah pertama yang diwahyukan adalah Sūrat al-ʿAlaq[2].

Terlepas dari perbedaan pandangan ini tampaknya layak dicatat bahwa penjelasan mengenai malam ini (QS 97:4) didahului oleh ayat “Tahukah kamu apa itu malam Qadr”? (QS 97:3). Ayat semacam ini, menurut Quraisy Syihab dalam berbagai kesempatan, mengisyaratkan bahwa subyek dari ayat berikutnya mustahil dapat dipahami sepenuhnya oleh nalar manusiawi. Dengan perkataan lain, kita perlu mengakui secara rendah hati bahwa kita tidak akan memahami sepenuhnya hakikat malam Qadr.

Umat pada umumnya merespon malam istimewa ini secara positif sekalipun mungkin dinyatakan dengan cara yang beragam karena faktor budaya. Semangatnya tetap sama: mengintensifkan ibadah, khususnya ibadah-malam melalui itikaf (secara sendiri-sendiri maupun berjamaah), salat sunat, tadarus, dan sebagainya, sampai menjelang fajar.

Intensifikasi ibadah ini memungkinkan kesadaran kita, dengan idzin-Nya, meningkat dari kesadaran alam tubuh-fisik (Alam Nasut, Realm of Physical Bodies), ke tingkat kesadaran alam inteligensi yang melampaui kesadaran tubuh-fisik (Alam Malakut, Realm of Intelligence), atau bahkan ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi yaitu alam kekuatan  (Alam Jabarut, Realm of Power[3].

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Laylat_al-Qadr

[2] Ibid

[3] http://www.hazrat-inayat-khan.org/php/topics.php?b=1&ref=264&t=Planes&st=Five%20Planes%20of%20Consciousness&r1=46&r2=7&r3=3&ps=0&pe=0

 

Puasa (8): Puasa dan Kebaikan Sempurna

Besok pagi sejak fajar (Kamis, 17 Mei 2018), milyaran Umat Islam sedunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Mereka akan melakukan ibadah ini selama sebulan penuh, selama Bulan Ramadhan. Bagi Umat ibadah ini istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini mendorong mereka untuk mengintensifkan ibadah lain yang bukan saja yang harus (wajib) tetapi juga yang disarankan (sunat), bukan saja yang terkait dengan hubungan vertikal dengan Rabb SWT, tetapi juga yang terkait dengan hubungan horizontal antar sesama. Lebih dari itu, selama Ramadhan, Umat melakukan semua ajaran agamanya bukan saja sesuai dengan ketentuan hukum agama (syariat), tetapi juga dengan semangat untuk melakukannya secara sempurna (ihsan). Mereka melakukan sejumlah amalan unggulan yang sangat ditekankan selama Bulan Ramadhan.

Sebagian dari amalan unggulan itu adalah salat malam (tarawih), tadarus (membaca Kitab Suci) dan itikaf (kegiatan di Masjid untuk merenung dan berdialog dengan diri-sendiri). Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan vertikal dengan-Nya.

Selain itu, sebagian amalan unggulan itu adalah kegemaran berbagi makanan-minuman untuk berbuka puasa bagi orang lain yang berpuasa, bersedekah, menyantuni kaum duafa (fakir, miskin, yatim, dan kelompok rentan lainnya), menahan diri untuk tidak berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia atau mubazir, serta menahan diri secara sabar dari gejolak amarah dan dorongan hebat syahwat seksual. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membantu proses pendewasaan mental-spiritual serta mempererat hubungan horizontal dengan sesama.

Dengan melakukan amalan-amalan unggulan ini secara sungguh-sungguh, kita dapat berharap dikaruniai-Nya kemampuan untuk mendekati kebaikan sempurna (Arab: Ihsan; Inggris: perfect goodness). Apakah kebaikan sempurna? Salah jawabannya tertuang dalam kutipan berikut[1]:

… perfect goodness is an action of the heart that involves thinking according to the standards of truth; forming the intention to do good, useful things and then doing them; and performing acts of worship in the consciousness that God sees them. To attain perfect goodness, an initiate must establish his or her thoughts, feelings, and conceptions on firm belief, and then deepen that belief by practicing the essentials of Islam and training his or her heart to receive Divine gifts and illuminate it with the light of His manifestations. Only one who has attained such a degree of perfect goodness can really do good to others just for God’s sake, without expecting any return.

… kebaikan sempurna adalah tindakan hati yang melibatkan pemikiran menurut standar kebenaran; membentuk niat untuk melakukan hal-hal yang baik, berguna, dan kemudian melakukannya; dan melakukan ibadah dalam kesadaran bahwa Tuhan melihat mereka. Untuk mencapai kebaikan sempurna, seorang harus menetapkan pikiran, perasaan, dan konsepsinya pada keyakinan yang teguh, dan kemudian memperdalam keyakinan itu dengan mempraktikkan esensi Islam dan melatih hatinya untuk menerima karunia Ilahi dan meneranginya dengan cahaya manifestasi-Nya. Hanya orang yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna seperti itu yang benar-benar dapat berbuat baik kepada orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Tanpa mengharapkan imbalan tidak berarti tanpa imbalan. Imbalannya justru terjamin: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) (QS Ar-Rahman: 60). Sebagai catatan, ayat ini didahului oleh 14 ayat mengenai surga dan diikuti oleh 18 ayat yang juga mengenai surga. Gambaran mengenai nikmatnya kehidupan di surga dalam ayat-ayat itu luar biasa, jauh melampaui imaji kita yang paling liar sekali pun. Walaupun demikian, narasinya elegan dan jauh dari kesan vulgar. Nikmatnya kehidupan surga luar biasa, tetapi nikmat karunia rida-Nya melampauinya sebagaimana tercermin dari lantunan doa orang yang tengah berpuasa (Arab: shaimun) ketika siap menghadapi momen berbuka puasa pada senja hari: “….nasaluka ridhaka wal jannata…”.

Seperti catatan akhir, istilah kebaikan sempurna dalam konteks tulisan ini perlu dilihat sebagai arah atau titik rujukan (reference point), bukan status kebaikan yang dapat diraih oleh seseorang. Kenapa? Karena kebaikan sempurna pada hakikatnya hanya milik Dia SWT.

Wallahualam….@

[1] http://www.thewaytotruth.org/heart/ihsan.html

Puasa (7): Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.

Puasa (6): Setelah Lebaran Apa?

Umat Islam sejagat yang berjumlah sekitar 1.8 milyar iiwa[1] baru saja usai merayakan lebaran atau iedul fitri untuk menandai berakhirnya puasa wajib selama bulan Ramadhan tahun ini. Hari raya itu tepat hari ke-1 bulan Syawal. Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan segera setelah perayaan itu? Tulisan ini mencoba menyajikan beberapa catatan kecil dalam rangka menjawab pertayaan itu dengan harapan ada dari pembaca budiman yang dapat mengambil manfaat darinya.

Yang wajib dulu

Dengan alasan tepat, puasa bulan Ramadhan dapat di-qadha pada bulan-bulan sesudahnya sebelum masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya. Artinya, jika ada sejumlah hari pada bulan itu tidak dapat atau dibolehkan tidak berpuasa[2] maka kewajiban berpuasa itu dapat diganti dengan jumlah yang sama pada hari-hari di luar Ramadhan sebelum masuk bulan Ramadhan tahun depan. Ketetapan ini sesuai Q.S al-Baqarah:184.

Waktu yang sah untuk melakukan puasa qadha lumayan panjang, 11 bulan. Walaupun demikian, karena puasa ini hukumnya wajib maka jumhur (mayoritas) ulama menganjurkan untuk men-segerakan-nya dan ini berarti melakukannya pada bulan Syawal. Implikasinya, jika ada niat melakukan Puasa Sunat pada bulan itu maka sebaiknya dilakukan setelah puasa qadha. Mengenai hal ini layak disimak kutipan berikut:

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392)[3].

Puasa Syawal

Puasa sunat pada Bulan Syawal bagi umat Islam di Indonesia, mungkin juga bagi umat di nega lain, lumayan populer. Ini dapat dipahami mengingat ada hadist mengenai hal itu dengan janji pahala yang “menggiurkan”. Berdasarkan hadits itu para ulama umumya sepakat mengenai sunatnya puasa syawal.

Mayoritas umat (termasuk penulis) tampaknya merasa puasa sunat ini “berat” karena selain tidak wajib, juga lumayan banyak godaan: sisa opor ayam, kue nastar, halal-bihalal, kacang, biskuit, dsb. Tetapi Rasul saw lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umat sehingga menganjurkan puasa ini. Hikmah di balik ini mungkin antara lain umat memerlukan latihan ekstra untuk meng-costomize perilaku baik. Costomize seperti ini yang dicontohkan oleh Beckam: ia konon melakukan latihan menendang bola jarak jauh secara terarah selama 2-3 jam (baginya “sunah”) per sesi latihan setelah usai menjalani latihan resmi yang dipimpin oleh coach (baginya “wajib”).

Kembali ke puasa sunat Syawal. Hadits yang tampaknya dijadikan dasar bagi ulama untuk mensunatkannya diriwayatkan oleh Muslim: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).[4]

syawal1

Sumber: Google

Mengenai penjelasan hadits ini dapat disimak kutipan berikut:

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Singkatnya, karena ada haditsnya, sikap terbaik dan teraman bagi umat tentu melaksanakannya, bila kaifa, tanpa banyak tanya. Tetapi sayangnya sebagian umat (termasuk penulis) kerapkali tidak tahan untuk tidak ber-kaifa: kok bisa setahun penuh, bagaimana hitungan-hitungannya? Untuk memenuhi selera yang mungkin “keterlaluan ini”, hitungan-hitungan berikut mungkin membantu.

Mengenai “pahala” puasa syawal ini ada dua dasar perhitungan yang semuanya berdasarkan dalil naqli-nash atau argumen berbasis al-Qur’an:

  1. Jumlah bulan dalam setahun berdasarkan sistem kalender Masehi atau Hijriyah adalah 12 (dua belas) bulan. Ketetapan ini sesuai Q.S. At-Taubah:36.
  2. Ganjaran amal baik minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Angka ini sesuai dengan Q.S. al-An’am:160.

Berdasarkan dalil ke-2 di atas maka:

  1. Pahala Puasa Ramadhan satu bulan (penuh) setara dengan 10 bulan-pahala; dan
  2. Puasa Sunat Syawal 6 (enam) hari setra dengan 6×10 hari pahala, atau 2 bulan-pahala;
  3. Jika (1) dan (2) dijumlahkan maka ketemu angka 12 bulan-pahala atau, sesuai dengan dalil ke-1, sama dengan setahun.

Perjumlahan itu mengasumsikan Puasa Ramadhan dilakukan secara penuh, tidak ada hari yang “bolong” selama bulan itu. Men-segarakan Puasa Qadha yang hukumnya wajib sebelum Puasa Syawal yang hukumnya sunah tentunya sejalan dengan prinsip “mendahulukan yang wajib”. Sikap itu juga mempermudah “perhitungan pahala”; bagi yang berminat tentunya….. . @

[1] Angka ini menurut PEW Reseach Center. Estimasi penulis angkanya lebih besar yaitu sekitar 2.4 milyar (lihat INI.)

[2] Alasan tepat yang dimaksud mencakup menstruasi bagi wanita, sakit, dalam perjalanan, dan sebagainya, sesuai hukum syar’i.

[3] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

[4] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

 

Puasa (5): Al-Qur’an dan Ahli Kitab

Bulan Ramadhan dikatakan suci mungkin karena Al-Qur’an diturunkan (unzila) pada bulan ini seperti termaktub dalam al-Baqarah (2:184). Kata unzila mengindikasikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang bersumber dari “atas”, dari al-Rahiem, Yang_Maha_Penyayang, All-Merciful. Al-Qur’an menggunakan simbolisme wahyu dan air (hujan) untuk merujuk pada rahmat (mercy) sekaligus “pemberi-hidup” (life-giving) (*). 

Seluruh ayat al-Qur’an adalah wahyu langsung dari yang_Maha_Tinggi[1]. Penerima wahyu (Sang Rasul saw) tidak melakukan intervensi sama-sekali dalam arti tidak mengubah isi maupun redaksinya: tugasnya hanya menyampaikan (balaga) semua apa yang diwahyukan secara persis, tidak lebih, tidak kurang. Selain itu, mustahil bagi Rasul saw yang bergelar al-amien itu berani melakukannya karena Rabb-nya telah memberikan peringatan yang sangat serius bahkan mengerikan jika berani mengada-ngada (lihat Al-Haqqah (44-48):

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kananya (tindakan sekeras-kerasnya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungya. Maka tidak seorang pun dari kamu dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). Dan sungguh, Al-Qur’an itu pelajaran bagi orang-orang yang betakwa.

Sekalipun secara kebahasaan Al-Qur’an berarti bacaan, ia bukan bacaan biasa. Kenapa? Karena pengaruhnya sangat mendalam terhadap jiwa seorang Muslim seperti diungkapan secara indah oleh Schuon  pada halaman 60 (dalam bukunya seperti tertera dalam Catatan kaki ke-1):

… the verses of the Quran; they are not merely sentences which transmit thoughts, but are in a way beings, powers or talismans; the soul of the Moslem is, as it were, woven of sacred formulae; in these he works, in these he rests, in these he lives and in these he dies.

“Ayat-ayat Alquran bukan hanya kalimat yang mentransmisikan pemikiran; dalam arti tertentu mereka adalah wujud, kekuatan atau jimat; jiwa umat Islam adalah layaknya anyaman dari formula suci yang di dalamnya dia bekerja, istirahat,  menjalani kehidupan dan meninggal dunia. “

Al-Qur’an bacaan siapa? Bacaan siapa saja karena Yang_Maha_Tinggi adalah rabb bagi siapa saja, diakui atau tidak, suka atau terpaksa. Kitab Suci itu berbicara bukan hanya kepada orang beriman, tetapi juga kepada kelompok Ahli Kitab (ahlul Kitab), orang-orang kafir (kafaru, lihat, misalnya, ayat ke-7 Surat at-Tahrim), kelompok yang terdiri dari sebagian (Arab: min) musyrikin Quraisy dan Ahli Kitab (lihat al-Bayyinah:6), bahkan kepada manusia secara keseluruhan (al-Baqarah:21).

Kepada semua kelompok ini Yang_Maha_Tinggi menggunakan kata panggilan (Arab: nida) yang “mesra” wahai.. (Arab: ya[2]). Singkatnya, Al-Qur’an milik semua, terlepas dari pada identitas kelompok atau agamanya; masing-masing berhak dan seyogyanya secara voluntir membaca, mempelajari, serta mengambil manfaat darinya. Walaupun demikian kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa, seperti ditegaskan oleh ayat ke-48 (dikutip sebelumnya) atau al-Baqarah (2), hanya orang bertakwa yang dapat mengambil pelajaran positif dari Al-Qur’an.

quran

Sumber: Youtube

Walaupun berbicara kepada semua kelompok, Ahli Kitab tampaknya memperoleh perhatian khusus dari al-Qur’an yang fungsinya antara lain membenarkan (tashdiq) kitab-kitab sebelumnya sekaligus meluruskan penyimpangan dalam memahami dan mengaplikasika ajaran-ajaran Kitab Suci mereka. Al-Qur’an sangat sering membicarakan Ahli Kitab  seperti yang tercantum khsusunya dalam Surat ke-2 (al-Baqarah), Surat ke-4 (al-Imran), Surat ke-19 (Maryam) dan Surat ke-20 (Thaha). Jika Surat ke-2 dan ke-20 al-Qur’an banyak berbicara mengenai Umat Yahudi (Bani Israil) maka Surat ke-4 dan ke-19 mengenai Umat Nasrani[3]. Istilah Ahli Kitab, suatu gelar terhormat, mengacu kepada dua umat ini. Agama bagi Ahli Kitab, dan bagi Umat Muhammad saw (al-Qur’an menggunakan istilah amanu, orang-orang beriman), dikenal sebagai agama samawi yang memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahiem as[4].

Ibrahimem as dikenal sebagai nabi yang mengenalkan ajaran mengenai keesaan Tuhan tauhid secara lugas serta mengamalkannya secara luar biasa disiplin. Ajaran tauhid ini lah yang merupakan kesamaan visi keagamaan semua agama samawi yang seringkali diingatkan al-Qur’an secara persuasif tetapi tegas, sebagaimana tercemin dari kutipan Surat al-Imran berikut:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling muka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim. (Ayat 64)

Wahai Ahli Kitab! mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil dia (Ibrahim)? Apakah kamu mengerti? (Ayat 65).

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang lurus, muslim dan tidak termasuk orang-orang musyrik. (Ayat 67).

Paling ada dua catatan yang menarik untuk diberikan di sini: (1) Pembicaraan terkait dengan Ahli Kitab dalam surat itu berlanjut dalam ayat-ayat berikutnya sampai ayat ke-115. Banyaknya ayat yang digunakan tidak pelak mengidikasikan pentingnya isu yang dibicarakan, dan (2) Strategi qur’ani untuk berkomuikasi dengan Ahli Kitab adalah dengan megedepankan “keasamaan” atau kalimatun sawa (common denominator) dalam inti ajaran agama samawi yaitu ajaran tauhid.

Catatan terakhir kita mengenai Ahli Kitab versi qur’ani, ini mungkin di luar pemahaman mayoritas Umat Islam, adalah bawa perilaku keagamaan Ahli Kitab sama-sekali tidak sama sebagaimana secara tegas dikemukakan al-Imran (113-115):

Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat).

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.

Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Kutipan ayat terakhir tampaknya menantang kita untuk meredefinsi cakupan makna taqwa. Wallahu’alamu bimuraadih….@

(*) Lihat http://www.studiesincomparativereligion.com/public/articles/The_Qoranic_ Symbolism of  Water-by_Martin_Lings.aspx.  

[1] Pernyataan ini perlu untuk membedakan al-Qur’an dengan Perjanjian Baru (New Testament), misalnya, yang mencakup tidak hanya sabda Nabi Isa as (saying of Christ) dan Kitab Wahyu (the Apocalypse), keduanya dianggap sebagai mode atau level inspirasi langsung, tetapi juga cerita dalam Injil (Gospel) dan Surat Rasul (the Epistles) yang dianggap memiliki level isnspirasi tidak langsung. Pernyataan ini juga perlu untuk membedakan Al-Qur’an dengan Kitab Suci Yahudi yang tidak hanya mencakup Taurat (Torah) yang dianggap kumpulan inspirasi langsung tetapi juga Mishna (the Mishna) yang merupakan komentar ortodoks dari para ahli Taurat awal: Taurat dianggap “tertutup” yang hanya dapat dibuka oleh para orang suci (sages) (lihat Schuon, Undertanding Islam, 1997:40 dan 44)

[2] Sejauh ini penulis belum menemukan ayat dimana Yang_Maha_Tinggi berbicara kepada kelompok munafik sebagai pihak ke-dua atau lawan bicara (Arab: mukhatabah).

[3] Menurut al-Qur’an, Nabi Isa as diutus bagi Bani Israil (Yahudi), bukan bagi manusia secara keseluruhan (lihat, misalnya, al-Shaaf:6)

[4] Posting mengenai leluhur agama samawi dapat  diakses   antara lain dalam https://uzairsuhaimi.blog/2010/11/20/silsilah-agama-samawi/  https://uzairsuhaimi.blog/2012/08/26/esensi-iman-perlambang-wujud-mutlak-dan-segitiga-sama-sisi/

 

Puasa (4): Berpuasa dengan Ihsan

Signifikansi Puasa

Saat ini hampir dua milyar kaum muslimin secara serentak berpuasa. Ini tak pelak merupakan suatu event tahunan unik dan salah satu pengalaman spiritual tingkat global terdahsyat di dunia ini[1]. Kenapa kaum muslimin bersusah payah berpantang makan, minum, berhubungan seksual dan kegiatan lain yang diketahui atau patut diduga dapat membatalkan puasa, sepanjang hari selama sebulan penuh? Jawabannya singkatnya, mereka menyadari puasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban agama, sesuai al-Baqarah ayat 183. Mereka, berdasar ayat yang sama, mengetahui bahwa kewajiban serupa juga berlaku bagi umat-umat sebelumnya, termasuk penganut Agama Nasrani. Walaupun demikian, main stream kelompok umat ini tampaknya tidak menganggap puasa sebagai suatu kewajiban agama[2]:

Scripture does not command Christians to fast. God does not require or demand it of Christians. At the same time, the Bible presents fasting as something that is good, profitable, and beneficial. The book of Acts records believers fasting before they made important decisions (Acts 13:2; 14:23).

Kenapa seperti itu, tentu ada hikmah ilahiah yang berada di luar jangkauan nalar kita untuk memahami sepenuhnya. Mungkin kita hanya dapat berandai-andai: seandainya puasa dipraktekkan oleh Umat Nasrani sebagaimana Umat Islam melakukanya, dunia mungkin akan menyaksikan kehidupan global yang lebih indah dari yang kita alami sekarang. Kenapa lebih indah? Paling tidak karena dua alasan. Pertama, secara statistik, populasi Umat Nasrani pada tingkat global lebih besar dari pada populasi Umat Islam. Kedua, praktek puasa dapat mengundang turunnya rahmat dan berkah “langit” berupa kesempatan untuk mengembangkan spiritualitas pelakunya.

Fasting in Ramadan is a unique opportunity to develop spiritually and gain strength and control over our selves, our egos, the nafs, the unconscious automatic primitive nature that tends to dominate our lives when unchecked. … By observing fasting in Ramadan, a Muslim has a profound and unique opportunity to become more peaceful, present and spiritual — the very goal of Islam.

Puasa sebagi Rukun Islam

Bagi muslim, puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Dalam konteks ini Islam dimaknai dalam arti sempit sebagai amalan lahiriah. Mengacu kepada hadits Jibril, Islam sebagai amalan lahiriah dapat dibedakan dari Iman yang menekankan amalan intelektual dan Ihsan yang menekankan amalan hati. Aspek amalan lahiriah merupakan bidang keahlian para ahli fiqh, sementara amalan intelektual dan amalan hati masing-masing merupakan keahlian ahli kalam dan ahli tasauf. Islam dalam arti sempit ini diilustrasikan oleh ayat ini:

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam)”, karena iman belum masuk dalam hatimu…. “ (49:14).

Yang perlu dicermati adalah bahwa Al-Qur’an menggunakan kata Islam (atau kata turunanya) dalam berbagai konteks dan mengandung makna yang lebih luas dari yang terungkap dalam kutipan di atas. Makna Islam yang lebih luas dapat dilihat dalam kutipan ayat-ayat berikut:

  1. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikma-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu (5:3)
  2. Apakah kamu menjadi saksi saat maut menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya (Arab: muslimun) (2:133)
  3. Maka mengapa mereka mencari agama lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri (Arab: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya semua dikembalikan (3: 83).

Kata Islam dalam kutipan pertama mengacu kepada keseluruhan ajaran Muhammad saw dan inilah yang tampaknya menjadi definisi Islam yang paling populer. Walaupun demikian, kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa al-Qur’an sebenarnya menggunakan istilah Islam dalam konteks yang lebih luas dari definisi populer itu karena menyangkut keseluruhan ajaran Ibrahiem AS dan ajaran anak-cucunya (2:133), dan bahkan mengacu pada keber-serahan-diri seluruh alam (3:83).

Bagi non-manusia, Islam atau sikap berserah-diri bersifat otomastis, tetapi bagi manusia sikap itu bersifat voluntir dalam arti harus didasari oleh kehendak sendiri. Kenapa? Karena manusia diciptakan sesuai “gambar”-Nya sehingga memiliki kebebasan penuh bahkan untuk membangkang-Nya.

Islam dalam pengertian paling sempit (49:14), seperti disinggung sebelumnya, dapat dibedakan dari Iman atau Ihsan. Tripatriat Islam-Iman-Ihsan membangun keseluruhan al-Dien atau Islam dalam arti luas. Pada umumnya para ulama sepakat bahwa ber-Islam (dalam artian sempit) belum tentu ber-Iman, tetapi ber-Iman mustahil tanpa ber-Islam. Mereka pada umumnya juga sepakat bahwa ber-Iman belum tentu ber-Ihsan, tetapi ber-Ihsan mustahil tanpa ber-Iman. Dalam bahasa matematis: Islam merupakan subset dari Iman yang merupakan subset dari Ihsan.

Pada hakikatnya, tripatriat Islam-Iman-Ihsan melingkupi semua tindakan utama khas manusia yang perlu diintegrasikan agar suatu tindakan positif mendatangkan hasil yang optimal sesuai yang dikehendaki. Tripatriat ini setara dengan tripatriat actingknowing-willing; atau activity-intellectuality-spirituality; atau work- faith-perfection.

ihsan

Sumber: Youtube

Dalam kaitannya dengan puasa, uraian di atas menyimpulkan bahwa untuk mencapai sasaran yaitu taqwa, puasa perlu dilakukan secara Ihsan. Kalimat pendek ini berarti bahwa untuk mencapai puncak kualitas mausia (taqwa), puasa perlu dilakukan bukan hanya sebagai tindakan lahiriah, tetapi sekaligus juga harus didasari oleh Iman, dan disempurnakan dengan Ihsan[*]. Ini berarti berarti pula bahwa puasa seyogyanya  dilakukan secara sempurna sesuai kaifiat (tatacara) yang ditetapkan syariat, dimotivasi keinginan untuk memperoleh ridha-Nya dan bukan karena motif lain, memperhatikan adab puasa, serta menyibukkan diri dengan amalan-amalan unggulan baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Inilah agaknya makna hadits: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari). Wallahu’alam ……@

[*] Posting mengenai Ihsan ini dapat diakses dalam blog ini, antara lain yang bertajuk Ihsan: Pilar Agama yang Terabaikan.

[1] http://www.islamicrenaissance.com/blog/10-reasons-for-fasting-in-ramadan/

[2] http://www.christianbiblereference.org/faq_fasting.htm

Puasa (3): Bulan Penuh Rahmat

Ada hadits yang artinya kira-kira “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. Hadits ini sangat populer tetapi perlu dicatat bahwa statusnya tergolong lemah. Para ahli hadits, sebagaimana didokumentasikan dalam muslim.or.id, pada umumnya sepakat dengan kesimpulan ini: “di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya” (lihat, misalnya, https://muslim.or.id/22019-hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html)

Dangan berpuasa dalam Bulan Ramadhan kita dapat “berharap banyak” memperoleh tetapi juga “cemas” tidak memperoleh rahmat-Nya. Kenapa “berharap banyak” (Arab:thama’a)? Karena mamang Rabb kita Rahim; juga karena Ramadhan bulan penuh rahmah. Harapan ini dapat diperkuat dengan, misalnya, melaksanaan amalan-amalan unggulan puasa secara ikhlas: salat malam, tadarus, banyak merenung (i’tikaf), banyak berbagi, dan sebagainya. Tetapi kenapa harus cemas (Arab:khaufa)? Karena rahmat by definition adalah pemberian “langit”, Rabb, yang berada di luar kendali kita.

rahmat

Sumber: Youtube

Bahwa rahmat adalah “anugerah langit” dapat dilihat dari cara bagaimana kata rahmat digunakan dalam ayat al-Qur’an. Terjemahan lima ayat al-Qur’an berikut ini mudah-mudahan dapat membantu kita dalam mengapresiasi makna rahmat versi qur’ani:

  • …. Sekiranya bukan karena bukan karunia (Arab: fadhl) dan rahmat dari Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu) (4:83)
  • Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan sesuatu dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya (6:194)
  • Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan kekal di dalamnya (9:21)
  • …. Ketahuilah bahwa infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesunggguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (9:99)
  • Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (21:107)

Dari kutipan ayat di atas jelas sekali bahwa rahmat merupakan pemberian atau karunia Allah swt, bukan semata-mata hasil dari upaya manusiawi. Sebagai catatan, kutipan ke-5 menegaskan sine qua non risalah Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam, suatu penegasan yang menurut akal sehat totally incompatible dengan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Makna rahmat sebenarnya sangat mendalam karena terkait dengan dua nama ilahiah yaitu Rahman dan Rahim. Gambaran mengenai kedalamannya dapat dilihat dari kutipan karya Schuon (2006:128)[1] berikut:

Rahmah – a term that is most often translated as “Clemency” – implies more profoundly, as does the Sanskrit term Ananda, all the aspects of Harmony: Goodness, Beauty and Beatitude; and Rahmah is integrated into the Divine Essence itself, inasmuch as it is fundamentally none other than the radiating Infinitude of the Principle; an identity that the Koran expresses by saying: “Call upon Allah or call upon Ar-Rahman, to Him belong the most beautiful Names”.

Istilah Rahmah, seperti istilah Ananda dalam Sankerta, mengimplikasikan secara lebih mendalam dari apa yang terungkap dalam terjemahan umumnya yaitu “Pengampunan”, karena ia menyiratkan semua aspek Harmoni: Kebaikan, Keindahan dan Ketenangan. Rahmah terntegrasi ke dalam Esensi Ilahi sendiri karena pada dasarnya ia tidak lain dari pada pancaran Ketidakterbatasan dari Prinsip, sesuatu yang diungkapan yang dalam al-Qur’an sebagai: “Serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena dia mempunyai nama-nama yang baik (Asmaa’ul Husnaa)”[2].

Kedalaman makna rahmat juga terlihat dari kutipan karya Schuon (1998:64-65[3]) lainnya berikut ini (sengaja tidak diterjemahkan agar pembaca dapat mengapresiasi maknanya secara lebih baik serta merasakan rasa bahasa Schuon secara langsung):

The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits.

In the Names, Rahman and Rahim the divine Mercy faces human incapacity in the sense that cunsciousness of our capacity is, when coupled with trsut, the moral receptacle of Mercy. The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man.

Dari kutipan di atas jelas antara lain bahwa Rahman melengkapi unsur-unsur kebahagian di dunia-bawah-sini sementara Rahim menyiapkan benih-benih kebahagiaan untuk di dunia-atas-sana. Agaknya kita baru akan menyadari hal ini sepenuhnya ketika kita memperoleh kesempatan menikamati “buah-buahan” dan “pasangan hidup” di Surga kelak (Insyaallah):

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah:25).

Subhanallah!

[1] Schuon, Fritjhof, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom

[2] Al-Isra (110).

[3] Schuon, Fritjhof, Understanding Islam (1998), World Wisdom.