Yang Wajib Dulu


Yang Wajib Dulu

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Perintah agama ada dua: (1) wajib (keharusan), dan (2) sunah (anjuran). Yang utama jelas yang wajib. Puasa, salat subuh, dan zakal maal (bagi yang mampu), misalnya, jelas lebih utama karena merupakan keharusan dibandingkan, misalnya, umrah, salat tarawih, dan berbagi hadiah lebaran yang bersifat anjuran. Tantangannya adalah bahwa ibadah sunah bagi kebanyakan kita lebih menggairahkan karena “pahala besar” yang dijanjikan. Yang wajib, sekalipun kita mengetahui hukumnya, cenderung dilakukan tanpa semangat. Ini “berbahaya” karena kita mengabaikan fondasi bangunan dan lebih fokus pada aksesorinya.

Peringatan ini dinyatakan secara padat oleh Sech kita Ibn Athaillah dalam Al-Hikam Rumus 193: “Min alamaati iitiba’il hawa al-musasra’atu ilaa nawafilli al-khairaati wa attakkatsulu ‘ani al-qiyaami bi al-awaajibaati” yang kira-kira-berarti:

Di antara tanda memparturutkan hawa nafsu adalah bergegas dalam amalan sunah namun malas amalan wajib.

Kurang jelas? Mari kita simak uraian singkat Syech Fadhalla mengenai rumus itu:

“Fondasi kemajuan spiritual adalah sebuah hirarki tuntutan dan kewajiban. Langkah pertama adalah taat kepada kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya. Lalu, melakukan yang diperintahkan dan disunahkan serta perbuatan baik. Rumah tak akan bisa menahan badai tanpa fondasi yang kukuh”[1].

th

Dapat dibayangkan dampak sosialnya jika di kalangan umat tumbuh dan berkembang kesadaran kolektif mengenai, misalnya, (a) gerakan salat shubuh yang semeriah gerakan salat tarawih; dan (b) gerakan zakat maal yang sesemangat “gerakan umrah” atau “berbagi hadiah lebaran”. Jika strata “20% tertinggi” di kalangan umah taat zakat terhadap “40% terendah” yang dhu’afa dan hasilnya dikelola secara profesional, jangan-jangan BLSM yang merepotkan banyak pihak itu tidak diperlukan lagi di negeri ini ..…@


[1] Al-Hikam, Rampai Hikmah Ibn Athaillah, Serambi (2003)

One thought on “Yang Wajib Dulu

  1. Saya sependapat Pak, tamsil bagi orang seperti itu “mengabaikan fondasi bangunan dan lebih fokus pada aksesorinya”. Karena itu saya yakin sifat ibadah yang dilakukan orang tipe ini hanya temporer, musiman dan tidak dawam. Sesungguhnya ibadah sunnah bersifat nafilah, artinya ada dulu pokoknya baru cari tambahannya.
    “dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji (QS,17:79)”
    Dalih pahala yang besar ada pada ibadah sunnah patut untuk diingatkan, sesungguhnya ibadah wajib pahalanya jauh lebih besar. Rasul menjamin surga bagi orang yang mengerjakan wajib.
    “Dari Abu ‘Abdullah, Jabir bin ‘Abdullah Al Anshari radhiyallahu anhuma, sungguh ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Bagaimana pendapatmu jika aku melakukan shalat fardhu, puasa pada bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal (melaksanakannya dengan penuh keyakinan), mengharamkan yang haram (menjauhinya) dan aku tidak menambahkan selain itu sedikit pun, apakah aku akan masuk surga?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : ” Ya” (Arbai’in ke 22).
    Meski demikian, orang sadar bangunan tidak cukup hanya mengandalkan fondasi kuat tetapi perlu juga aksesoris. Demikian orang beriman, dia sadar dirinya bukan orang yang mutakamil dan bukan pula orang yang maksum. Sedang Rasulullah yang maksum saja masih merasa perlu menambah ibadah sunnah untuk menjadi abdan syakura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s