Seri Uzair_on_Puasa: Al-Qur’an dan Ahli Kitab


Bulan Ramadhan dikatakan suci mungkin karena Al-Qur’an diturunkan (unzila) pada bulan ini seperti termaktub dalam al-Baqarah (2:184). Kata unzila mengindikasikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang bersumber dari “atas”, dari al-Rahiem, Yang_Maha_Penyayang, All-Merciful. Al-Qur’an menggunakan simbolisme wahyu dan air (hujan) untuk merujuk pada rahmat (mercy) sekaligus “pemberi-hidup” (life-giving) (*). 

Seluruh ayat al-Qur’an adalah wahyu langsung dari yang_Maha_Tinggi[1]. Penerima wahyu (Sang Rasul saw) tidak melakukan intervensi sama-sekali dalam arti tidak mengubah isi maupun redaksinya: tugasnya hanya menyampaikan (balaga) semua apa yang diwahyukan secara persis, tidak lebih, tidak kurang. Selain itu, mustahil bagi Rasul saw yang bergelar al-amien itu berani melakukannya karena Rabb-nya telah memberikan peringatan yang sangat serius bahkan mengerikan jika berani mengada-ngada (lihat Al-Haqqah (44-48):

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kananya (tindakan sekeras-kerasnya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungya. Maka tidak seorang pun dari kamu dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). Dan sungguh, Al-Qur’an itu pelajaran bagi orang-orang yang betakwa.

Sekalipun secara kebahasaan Al-Qur’an berarti bacaan, ia bukan bacaan biasa. Kenapa? Karena pengaruhnya sangat mendalam terhadap jiwa seorang Muslim seperti diungkapan secara indah oleh Schuon  pada halaman 60 (dalam bukunya seperti tertera dalam Catatan kaki ke-1):

… the verses of the Quran; they are not merely sentences which transmit thoughts, but are in a way beings, powers or talismans; the soul of the Moslem is, as it were, woven of sacred formulae; in these he works, in these he rests, in these he lives and in these he dies.

“Ayat-ayat Alquran bukan hanya kalimat yang mentransmisikan pemikiran; dalam arti tertentu mereka adalah wujud, kekuatan atau jimat; jiwa umat Islam adalah layaknya anyaman dari formula suci yang di dalamnya dia bekerja, istirahat,  menjalani kehidupan dan meninggal dunia. “

Al-Qur’an bacaan siapa? Bacaan siapa saja karena Yang_Maha_Tinggi adalah rabb bagi siapa saja, diakui atau tidak, suka atau terpaksa. Kitab Suci itu berbicara bukan hanya kepada orang beriman, tetapi juga kepada kelompok Ahli Kitab (ahlul Kitab), orang-orang kafir (kafaru, lihat, misalnya, ayat ke-7 Surat at-Tahrim), kelompok yang terdiri dari sebagian (Arab: min) musyrikin Quraisy dan Ahli Kitab (lihat al-Bayyinah:6), bahkan kepada manusia secara keseluruhan (al-Baqarah:21).

Kepada semua kelompok ini Yang_Maha_Tinggi menggunakan kata panggilan (Arab: nida) yang “mesra” wahai.. (Arab: ya[2]). Singkatnya, Al-Qur’an milik semua, terlepas dari pada identitas kelompok atau agamanya; masing-masing berhak dan seyogyanya secara voluntir membaca, mempelajari, serta mengambil manfaat darinya. Walaupun demikian kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa, seperti ditegaskan oleh ayat ke-48 (dikutip sebelumnya) atau al-Baqarah (2), hanya orang bertakwa yang dapat mengambil pelajaran positif dari Al-Qur’an.

quran

Sumber: Youtube

Walaupun berbicara kepada semua kelompok, Ahli Kitab tampaknya memperoleh perhatian khusus dari al-Qur’an yang fungsinya antara lain membenarkan (tashdiq) kitab-kitab sebelumnya sekaligus meluruskan penyimpangan dalam memahami dan mengaplikasika ajaran-ajaran Kitab Suci mereka. Al-Qur’an sangat sering membicarakan Ahli Kitab  seperti yang tercantum khsusunya dalam Surat ke-2 (al-Baqarah), Surat ke-4 (al-Imran), Surat ke-19 (Maryam) dan Surat ke-20 (Thaha). Jika Surat ke-2 dan ke-20 al-Qur’an banyak berbicara mengenai Umat Yahudi (Bani Israil) maka Surat ke-4 dan ke-19 mengenai Umat Nasrani[3]. Istilah Ahli Kitab, suatu gelar terhormat, mengacu kepada dua umat ini. Agama bagi Ahli Kitab, dan bagi Umat Muhammad saw (al-Qur’an menggunakan istilah amanu, orang-orang beriman), dikenal sebagai agama samawi yang memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahiem as[4].

Ibrahimem as dikenal sebagai nabi yang mengenalkan ajaran mengenai keesaan Tuhan tauhid secara lugas serta mengamalkannya secara luar biasa disiplin. Ajaran tauhid ini lah yang merupakan kesamaan visi keagamaan semua agama samawi yang seringkali diingatkan al-Qur’an secara persuasif tetapi tegas, sebagaimana tercemin dari kutipan Surat al-Imran berikut:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling muka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim. (Ayat 64)

Wahai Ahli Kitab! mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil dia (Ibrahim)? Apakah kamu mengerti? (Ayat 65).

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang lurus, muslim dan tidak termasuk orang-orang musyrik. (Ayat 67).

Paling ada dua catatan yang menarik untuk diberikan di sini: (1) Pembicaraan terkait dengan Ahli Kitab dalam surat itu berlanjut dalam ayat-ayat berikutnya sampai ayat ke-115. Banyaknya ayat yang digunakan tidak pelak mengidikasikan pentingnya isu yang dibicarakan, dan (2) Strategi qur’ani untuk berkomuikasi dengan Ahli Kitab adalah dengan megedepankan “keasamaan” atau kalimatun sawa (common denominator) dalam inti ajaran agama samawi yaitu ajaran tauhid.

Catatan terakhir kita mengenai Ahli Kitab versi qur’ani, ini mungkin di luar pemahaman mayoritas Umat Islam, adalah bawa perilaku keagamaan Ahli Kitab sama-sekali tidak sama sebagaimana secara tegas dikemukakan al-Imran (113-115):

Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat).

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.

Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Kutipan ayat terakhir tampaknya menantang kita untuk meredefinsi cakupan makna taqwa. Wallahu’alamu bimuraadih….@

(*) Lihat http://www.studiesincomparativereligion.com/public/articles/The_Qoranic_ Symbolism of  Water-by_Martin_Lings.aspx.  

[1] Pernyataan ini perlu untuk membedakan al-Qur’an dengan Perjanjian Baru (New Testament), misalnya, yang mencakup tidak hanya sabda Nabi Isa as (saying of Christ) dan Kitab Wahyu (the Apocalypse), keduanya dianggap sebagai mode atau level inspirasi langsung, tetapi juga cerita dalam Injil (Gospel) dan Surat Rasul (the Epistles) yang dianggap memiliki level isnspirasi tidak langsung. Pernyataan ini juga perlu untuk membedakan Al-Qur’an dengan Kitab Suci Yahudi yang tidak hanya mencakup Taurat (Torah) yang dianggap kumpulan inspirasi langsung tetapi juga Mishna (the Mishna) yang merupakan komentar ortodoks dari para ahli Taurat awal: Taurat dianggap “tertutup” yang hanya dapat dibuka oleh para orang suci (sages) (lihat Schuon, Undertanding Islam, 1997:40 dan 44)

[2] Sejauh ini penulis belum menemukan ayat dimana Yang_Maha_Tinggi berbicara kepada kelompok munafik sebagai pihak ke-dua atau lawan bicara (Arab: mukhatabah).

[3] Menurut al-Qur’an, Nabi Isa as diutus bagi Bani Israil (Yahudi), bukan bagi manusia secara keseluruhan (lihat, misalnya, al-Shaaf:6)

[4] Posting mengenai leluhur agama samawi dapat  diakses   antara lain dalam https://uzairsuhaimi.blog/2010/11/20/silsilah-agama-samawi/  https://uzairsuhaimi.blog/2012/08/26/esensi-iman-perlambang-wujud-mutlak-dan-segitiga-sama-sisi/

 

One thought on “Seri Uzair_on_Puasa: Al-Qur’an dan Ahli Kitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s