Refleksi, Spiritual

Jalan Spiritual dan Meditasi: Suatu Tinjauan Singkat

“The greatest disease in the West today is not TB or leprosy; it is being unwanted, unloved, and uncared for. We can cure physical diseases with medicine, but the only cure for loneliness, despair, and hopelessness is love. There are many in the world who are dying for a piece of bread but there are many more dying for a little love. The poverty in the West is a different kind of poverty — it is not only a poverty of loneliness but also of spirituality. There’s a hunger for love, as there is a hunger for God.”
Mother Teresa, A Simple Path: Mother Teresa

Semua agama atau tradisi keagamaan besar menawarkan berbagai jalan spiritual (spiritual ways) yang memungkinkan agama relevan bagi semua orang dengan berbagai kecenderungan alamiah atau temperamen. Dalam Tradisi Hindu, misalnya, kita mengenal istilah-istilah karma (Jalan Aksi, the Way of Action), bhakti (Jalan Cinta, bhakti, the Way of Devotion) dan jñãna (Jalan Pengetahuan, the Way of Knowledge or Gnosis). Dalam tradisi Krsiten, Jalan Aksi srupa dikenal dengn Jalan Martha (Way of Martha) sedangkan Jalan Kontemplasi– gabungan Jalan Cinta dan Jalan Pengetahuan– dikenal dengan Jalan Maria (Way of Mary). Bagaimana dengan tradisi Islam? Dalam tradisi ini kita mengenal padanannya dalam istilah makhaffah (Jalan Takut, Fear of God), mahabbah (Jalan Cinta, Love of God), dan ma’rifah (Knowledge of God, Gnosis).

Apa yang menarik untuk dicatat dari uraian di atas adalah bahwa pada tataran spiritual atau batiniah (esoteric), kita dapat menemukan titik-temu (Arab: kalimatun sawa) antar agama atau tradisi keagamaan. Titik-temu serupa hampir selalu kita temukan dalam bidang yang terkait dengan kebajikan sosial (social virtue) seperti dalam hal keprihatinan mengenai masalah kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan alam. Dengan alur pemikiran semacam ini maka kita sebenarnya kita memiliki pijakan bersama (common ground) untuk melaksanakan agenda pembangunan global seperti yang dicanangkan dalam Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

Masing-masing jalan spiritual itu, dengan bantuan meditasi, dapat menghasilkan kebajikan yang dihargai oleh semua tradisi keagamaan sejak dahulu kala; kecuali, dunia modern yang berperlaku menyimpang, spirtually-speaking. Sebagai ilustrasi, Jalan Cinta dapat mendorong sifat murah hati (generosity) jika menggunakan mode meditasi aktif dan rasa syukur (gratitude) jika menggunakan mode meditasi pasif. Istilah sufi fana (Inggris: extinction) dan baqa (Inggris: union) dapat kita lihat sebagai cerminan Jalan Pengetahuan, masing-masing dengan mode meditasi yang pasif dan aktif. Bagan di bawah menyajikan beberapa kebajikan spiritual yang dapat dilahirkan dari perkawinan Jalan Spiritual dengan meditasi.

Jalan Spiritual dan Mode Meditasi
Jalan Spiritual Meditasi Mode Pasif Meditasi Mode Aktif
Takut (Makhafah) Pelepasan-diri dari hal-hal duniawi (renunciation), berpantang-diri (abstention). Tindakan aktif (act), ketekunan (persevernce).
Cinta (Mahabbah) Pengunduran-diri (resignation), syukur (garitude). semangat (himmah, fervor), percaya (trust), murah hati (generosity)
 Pengetahuan (Ma’rifah) fana (extinction), kebenaran (truth). baqa (union)
Sumber: Diadaptasi dari W. Stoddart (2008:60), Remembering in a World of Forgetting.

Sebagai penutup layak dibubuhkan dua catatan berikut. Pertama, bersama konsentrasi dan salat, meditasi meringkas inti ajaran semua agama yang menuntut partisipasi semua fakultas wujud kita. Yang pertama melibatkan kegiatan inteligensi (intelligence), sementara yang kedua dan ketiga masing-masing bidang kegiatan kehendak (the will) dan jiwa (the soul). Kajian agak rinci mengenai meditasi-konsentrasi-salat dapat dilihat dalam diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2012/07/26/meditasi-konsentrasi-dan-salat/

Kedua, ini mungkin berbeda dengan pemahaman umum, meditasi tidak dapat melahirkan pencerahan; fungsinya utamanya adalah menyingkirkan kotoran-kotoran pada dinding batin-kita yang menghalangi masuknya cahaya ilahiah yang selalu hadir “di sana” (omnipresence) ke dalam ruang terdalam jati-diri kita:

Contrary to what is too often stated, meditation cannot of itself provoke illumination; rather, its object is negative in the sense that it has to inner obstacles that stand in the way, not of new, but a pre-existed and “innate” knowledge of which it has to become aware. Thus meditation may be compare not so much to light kindles in a dark room, as to opening made in the wall of the room to allow the light enter…. (Schuon, sebagaimana dikutip oleh Deon Valodia dalam Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon).

 Wallahualam….@

 

 

 

Advertisements
Standard
Refleksi, Spiritual

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Malam Qadr: Tinjauan Sepintas

Sumber Gambar: Google

Umat Islam (selanjutnya, Umat) kini tengah berada pada pertengahan fase 10-malam terakhir Bulan Ramadhan. Dalam fase ini wajar jika Umat mengalami kelelahan secara fisik karena sudah berpuasa selama tiga minggu secara berturut-turut. Tetapi justru dalam kondisi fisik semacam itu mereka berupaya mengintensifkan ibadah-malam sesuai dengan yang diteladankan Rasul SAW. Para saksi melaporkan bahwa intensitas ibadah beliau pada fase ini lebih dari biasanya.

Umat mempercayai dalam fase ini ada satu malam istimewa yang dikenal dengan malam qadr, Laylat al-Qadr. Ini malam istimewa, “lebih baik dari seribu bulan”, karena para malaikat dan Ruh diperintahkan turun (QS 97:1-5) ke dunia atau alam musyahadah (yang dapat disaksikan). Keistimewaan Malam Qadr terungkap antara lain dari berbagai istilah yang dinisbahkan kepadanya: Malam Keputusan (the Night of Decree), Malam Kekuatan (Night of Power), Malam Nilai (Night of Value), Malam Takdir (Night of Destiny), atau Malam Tindakan (Night of Measures).

Umat meyakini pada malam istimewa ini ayat pertama al-Quran diturunkan melalui Malaikat Jibril AS kepada Rasul SAW di Gua Hira. Umat percaya bahwa pada malam istimewa ini rahmat dan belas kasihan Tuhan berlimpah, dosa diampuni, permohonan diterima.

Muslims believe that on this night the blessings and mercy of God are abundant, sins are forgiven, supplications are accepted, and that the annual decree is revealed to the angels who also descend to earth, specially the Angel Gabriel, referred to as “the Spirit”, to perform every and any errand decreed by God. Islam holds that God Almighty alone answers our supplications and that He alone receives them and forgives humanity and gives them what they ask for and that on this particular night Muslims should actively seek God’s forgiveness and engage in various acts of worship[1].

Sebagian ulama percaya bahwa Al Quran diturunkan kepada Rasul SAW dua kali: ‘wahyu langsung’ yang terjadi pada Laylat al-Qadr, dan ‘wahyu bertahap’ selama 23 tahun. Al-Quran menggunakan kata Inzal yang membenarkan ‘wahyu langsung’. Bagi sebagian ulama lainnya, wahyu Quran terjadi dalam dua fase: fase pertama adalah wahyu secara keseluruhan pada Laylat al-Qadr kepada malaikat Jibril, fase berikutnya wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Rasul SAW, dimulai pada 610 M di gua Hira di Gunung Nur di Mekah. Surah pertama yang diwahyukan adalah Sūrat al-ʿAlaq[2].

Terlepas dari perbedaan pandangan ini tampaknya layak dicatat bahwa penjelasan mengenai malam ini (QS 97:4) didahului oleh ayat “Tahukah kamu apa itu malam Qadr”? (QS 97:3). Ayat semacam ini, menurut Quraisy Syihab dalam berbagai kesempatan, mengisyaratkan bahwa subyek dari ayat berikutnya mustahil dapat dipahami sepenuhnya oleh nalar manusiawi. Dengan perkataan lain, kita perlu mengakui secara rendah hati bahwa kita tidak akan memahami sepenuhnya hakikat malam Qadr.

Umat pada umumnya merespon malam istimewa ini secara positif sekalipun mungkin dinyatakan dengan cara yang beragam karena faktor budaya. Semangatnya tetap sama: mengintensifkan ibadah, khususnya ibadah-malam melalui itikaf (secara sendiri-sendiri maupun berjamaah), salat sunat, tadarus, dan sebagainya, sampai menjelang fajar.

Intensifikasi ibadah ini memungkinkan kesadaran kita, dengan idzin-Nya, meningkat dari kesadaran alam tubuh-fisik (Alam Nasut, Realm of Physical Bodies), ke tingkat kesadaran alam inteligensi yang melampaui kesadaran tubuh-fisik (Alam Malakut, Realm of Intelligence), atau bahkan ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi yaitu alam kekuatan  (Alam Jabarut, Realm of Power[3].

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Laylat_al-Qadr

[2] Ibid

[3] http://www.hazrat-inayat-khan.org/php/topics.php?b=1&ref=264&t=Planes&st=Five%20Planes%20of%20Consciousness&r1=46&r2=7&r3=3&ps=0&pe=0

 

Standard