Malam Qadr: Tinjauan Sepintas

Sumber Gambar: Google

Umat Islam (selanjutnya, Umat) kini tengah berada pada pertengahan fase 10-malam terakhir Bulan Ramadhan. Dalam fase ini wajar jika Umat mengalami kelelahan secara fisik karena sudah berpuasa selama tiga minggu secara berturut-turut. Tetapi justru dalam kondisi fisik semacam itu mereka berupaya mengintensifkan ibadah-malam sesuai dengan yang diteladankan Rasul SAW. Para saksi melaporkan bahwa intensitas ibadah beliau pada fase ini lebih dari biasanya.

Umat mempercayai dalam fase ini ada satu malam istimewa yang dikenal dengan malam qadr, Laylat al-Qadr. Ini malam istimewa, “lebih baik dari seribu bulan”, karena para malaikat dan Ruh diperintahkan turun (QS 97:1-5) ke dunia atau alam musyahadah (yang dapat disaksikan). Keistimewaan Malam Qadr terungkap antara lain dari berbagai istilah yang dinisbahkan kepadanya: Malam Keputusan (the Night of Decree), Malam Kekuatan (Night of Power), Malam Nilai (Night of Value), Malam Takdir (Night of Destiny), atau Malam Tindakan (Night of Measures).

Umat meyakini pada malam istimewa ini ayat pertama al-Quran diturunkan melalui Malaikat Jibril AS kepada Rasul SAW di Gua Hira. Umat percaya bahwa pada malam istimewa ini rahmat dan belas kasihan Tuhan berlimpah, dosa diampuni, permohonan diterima.

Muslims believe that on this night the blessings and mercy of God are abundant, sins are forgiven, supplications are accepted, and that the annual decree is revealed to the angels who also descend to earth, specially the Angel Gabriel, referred to as “the Spirit”, to perform every and any errand decreed by God. Islam holds that God Almighty alone answers our supplications and that He alone receives them and forgives humanity and gives them what they ask for and that on this particular night Muslims should actively seek God’s forgiveness and engage in various acts of worship[1].

Sebagian ulama percaya bahwa Al Quran diturunkan kepada Rasul SAW dua kali: ‘wahyu langsung’ yang terjadi pada Laylat al-Qadr, dan ‘wahyu bertahap’ selama 23 tahun. Al-Quran menggunakan kata Inzal yang membenarkan ‘wahyu langsung’. Bagi sebagian ulama lainnya, wahyu Quran terjadi dalam dua fase: fase pertama adalah wahyu secara keseluruhan pada Laylat al-Qadr kepada malaikat Jibril, fase berikutnya wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Rasul SAW, dimulai pada 610 M di gua Hira di Gunung Nur di Mekah. Surah pertama yang diwahyukan adalah Sūrat al-ʿAlaq[2].

Terlepas dari perbedaan pandangan ini tampaknya layak dicatat bahwa penjelasan mengenai malam ini (QS 97:4) didahului oleh ayat “Tahukah kamu apa itu malam Qadr”? (QS 97:3). Ayat semacam ini, menurut Quraisy Syihab dalam berbagai kesempatan, mengisyaratkan bahwa subyek dari ayat berikutnya mustahil dapat dipahami sepenuhnya oleh nalar manusiawi. Dengan perkataan lain, kita perlu mengakui secara rendah hati bahwa kita tidak akan memahami sepenuhnya hakikat malam Qadr.

Umat pada umumnya merespon malam istimewa ini secara positif sekalipun mungkin dinyatakan dengan cara yang beragam karena faktor budaya. Semangatnya tetap sama: mengintensifkan ibadah, khususnya ibadah-malam melalui itikaf (secara sendiri-sendiri maupun berjamaah), salat sunat, tadarus, dan sebagainya, sampai menjelang fajar.

Intensifikasi ibadah ini memungkinkan kesadaran kita, dengan idzin-Nya, meningkat dari kesadaran alam tubuh-fisik (Alam Nasut, Realm of Physical Bodies), ke tingkat kesadaran alam inteligensi yang melampaui kesadaran tubuh-fisik (Alam Malakut, Realm of Intelligence), atau bahkan ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi yaitu alam kekuatan  (Alam Jabarut, Realm of Power[3].

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Laylat_al-Qadr

[2] Ibid

[3] http://www.hazrat-inayat-khan.org/php/topics.php?b=1&ref=264&t=Planes&st=Five%20Planes%20of%20Consciousness&r1=46&r2=7&r3=3&ps=0&pe=0