Kesultanan Utsmaniyah: Sejarah Singkat dan Refleksi

utsmani1

Sumber Gambar: Google

Kalau kita diizinkan membuat penyederhanaan-berlebihan mengenai sejarah peradaban muslim sebagai suatu kesatuan Umat, agaknya tidak terlalu keliru jika kita membaginya ke dalam empat babakan sejarah berikut: (1) 1.5 milenium yang lalu: Lahir, (2) Satu milenium berikutnya: tumbuh, berkembang, dan mencapai titik puncak, (3) 0.6 milenium selanjutnya: melemah; dan (4) Satu abad terakhir: “mati”. Di sini istilah kestuan Umat dilihat pada level sosiologis-politis yang konkret; jelasnya, ketika Umat Islam (selanjutnya: Umat) secara keseluruhan memiliki faktor pemersatu berupa sistem pemerintahan tertentu, kekhalifahan atau kesultanan. Dalam konteks ini Kesultanan Utsmaniah (Inggris: Ottoman Empire) menarik untuk ditelisik karena periodenya mencakup era ketika peradaban Umat bergerak maju ke titik puncak, melemah dan “mati” [1].

Kesultanan Utsmaniah termasuk salah satu entitas politik negara adikuasa (superpower) termegah dan terlama dalam sejarah dunias selama lebih dari 600 tahun. Kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas: Timur Tengah, Eropa Timur dan Afrika Utara. Puncak kekuasaan terletak pada Sultan yang memiliki otoritas keagamaan dan politik terhadap rakyat. Sementara Eropa menganggapn kekuasaan Kesultanan ini sebagai ancaman, banyak para ahli sejarah melihatnya sebagi sumber stabilitas regional yang juga memberikan sumbangan positif terhadap kemajuan bidang-bidang seni, sains, agama dan kebudayaan.

Kesultanan ini mulai dibangun oleh pimpinan suku Turki di Anatolia sekitar tahun 1299. Perluasan pemerintahan formal Kesultanan ini dibangun di bawah sultan-sultan berikutnya khususnya Osman I, Orhan, Murad I dan Beyazid I. Era Sultan Mehmed II, Kesultanan ini merebut kota kuno Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, pada tahun 1517. Sultan mengganti namanya menjadi Istambul yang berarti ‘Kota Islam”. Penaklukkan ini mengakhiri kekuasaan 1000-tahun Imperium Bizantium. Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, sisanya diberikan otonomi dalam berbagai tigkat[2].

Puncak kejayaan Kesultanan ini –dilihat dari luasnya wilayah kekuasaan, stabilitas sosial-politik, dan kemakmuran rakyat–  dicapai dalam Era Sultan Sulaiman Agung (1520-1566). Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Kesultanan mencakup wilayah-wilayah Turki, Yunani, Bulgaria, Mesir, Hongaria, Mecedonia, Romania, Yordania, Palestina, Lebanon, Syiria, beberapa wilayah Arab, dan sejumlah wilayah garis pantai Afrika Utara.

Sesuai “hukum sejarah”, gerak maju dan mencapai titik puncak pasti dikuti oleh gerak mundur. Bagi Kesultanan Utsmaniah, gerak mundur ini dimulai sekitar tahun 1600 karena dominasi ekonomi dan militer Eropa. Sekitar tahun ini Eropa mengalami kemajuan cepat karena menguatnya semangat zaman Renaisans (Renaissance)[3] dan fajar revolusi industri.

Terkait dengan istilah Renaisans kita dapat menyisipkan catatan singkat berikut. Istilah ini merujuk pada suatu gerakan budaya di benua Eropa pada abad 14-17. Sebagai gerakan budaya, Renaisans tidak bergerak serempak di seluruh Eropa tetapi semangatnya satu: pencarian alternatif budaya dari yang sepenuhnya diwarnai ajaran Kristen dan beralih ke kebudayaan-Yunani-Romawi sebagai model. Zaman Renaisans diikuti oleh Zaman Pencerahan sekitar abad ke-18 ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi ilmiah. Zaman ini—dengan tonggak Sekularisme—merupakan masa produktif bagi Eropa dan pada masa ini ditemukan bubuk mesiu, mesin cetak, dan kompas yang sangat bepegaruh terhadap peradaban manusia[4].

Kembali kepada Kesltanan Utsmaniah. Pelemahan Kesultanan ini juga terjadi karena buruknya kepemimpinan dan kekalahan dagang dalam berkompetisi dengan pihak-pihak Amerika dan India. Kemunduran kekuasaan Kesultanan ini ditandai oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena (the Battle of Vienna);
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Kesultanan kehilangan kekuasaan hampir di seluruh daratan Er opa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat (the Central Power). Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Utsmaniah dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

Sebagai penutup agaknya layak direnungkan teks suci berikut yang diturunkan terkait dengan kekalahan bala tentara Rasul SAW dalam perang Uhud.

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuhmu pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS 3:165).

Wallahualam….@

[1] Rujukan utama tulisan ini diperoleh dari https://www.history.com/topics/ottoman-empire

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Renaisans

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan

Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang). Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan dalam dari sekadar sebagai alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik. Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya. Selain itu, bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam

EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid