Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Bukan khas Indonesia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang).

Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Bukan Sekadar Alat Musik

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam dari sekadar alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik.

Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Lingkaran: Metafora Filosofis

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya.

Bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=11ofS3z-vDQ2f733WCFMgctNVsNfEhkDR

Advertisements