Refleksi, Sejarah, Spiritual

Khotbah Haji Perpisahan dan Pesan Kemanusiaan


Dalam hitungan hari, diperkirakan lebih dari dua juta muslim akan melaksanakan Ibadah Haji tahun ini, ibadah yang merupakan rukun (prinsip) Islam yang kelima bagi yang mampu. Mereka semua akan mencapai puncak ibadah yaitu berkumpul di Arafah (wukuf) pada hari yang sama yaitu tanggal 9 Julhijah. Dalam puncak ibadah inilah disampaikan Khotbah Haji dalam bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah.

Dalam tulisan ini kita memfokuskan pada isi khotbah haji yang disampaikan sekitar 1.5 milenium yang lalu ketika berlangsung haji perpisahan (Arab: Haji Wada’)[1]. Haji kali ini dikatakan haji perpisahan karena merupakan haji terakhir yang diikuti Rasul SAW. Beliau wafat pada tahun yang sama. Ketika melaksanakan haji in Rasul SAW terkesan sudah memiliki firasat akan segera meninggalkan Umat yang mencintai dan dicintainya. Tidak lama setelah haji itu turun teks suci yang menyatakan Islam sebagai suatu agama telah sempurna (QS 5:3). Turunnya ayat ini sempat membuat salah satu sahabat senior Rasul SAW, Umar RA, menangis. situasi yang terkesan agak aneh karena sahabat yang satu ini terkenal tegar dan tegas, tetapi sekaligus menggambarkan kejauhan visi dan kecerdasan sahabat yang kelak akan menjadi “bos” orang beriman (Arab: Amirul Mukminin). Ketika ditanya kenapa beliau menangis, beliau hanya merespons dalam bahasa yang kira-kira berarti “setelah kesempurnaan hanya ada ke-tidak-sempurna-an”, suatu respons yang cerdas.

Didorong oleh firasat akan segera pamit kepada Umat, Rasul SAW menyiapkan narasi pidato yang dapat “merangkum” esensi atau ajaran-ajaran pokok dari risalah yang di bawanya. Tetapi isinya yang utama ternyata bukan mengenai ibadah dalam arti sempit, melainkan isu-isu terkait dengan Hak-hak Azasi Manusia (HAM).

Khotbah Haji Perpisahan sangat menekankan arti penting penghormatan terhadap hidup (darah) dan hak milik seseorang. Ini adalah pesan revolusioner bagi era itu, tidak hanya bagi masyarakat arab jahiliah. Isu khotbah lainnya terkait degan masalah kehidupan sosial kemasyarakatan dalam arti luas: kewajiban menyempurnakan amanah, penghapusan riba, hak-hak dan kewajiban wanita (termasuk hak dan kewajiban timbal-balik suami-istri), ukhuwah islamiah dan persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang bangsa dan warna kulit. Kita dapat merasakan kedalaman dan keluasan isi khotbah, serta relevansinya bahkan bagi peradaban kontemporer. Dan itu disampaikan 1.5 milenium yang lalu!

Layak disisipkan catatan di sini bahwa khotbah itu disampaikan dalam bentuk dialog dan setiap kali selesai menyampaikan satu topik, beliau selalu berseru: ‘Apakah aku sudah sampaikan?’ Umat yang hadir secara spontan akan meresponsnya: “Betul, sudah engkau sampaikan. Mendengarkan respons spontan itu Rasul SAW segera melanjutkan dengan munajat: ‘Wahai Tuhanku, persaksikanlah’. Dengan munajat ini seolah-olah Rasul SAW ingin menegaskan bahwa dia telah menyampaikan misinya, mission accomplished! Untuk memperoleh gambaran lebih cermat dan menyeluruh, berikut disajikan sebagian isi khotbah sebagaimana yang dinarasikan oleh Natsir (2008:111-118)[2].

Rasul (R): “Wahai manusia! Dengar kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, barangkali aku tak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini, di tempat pemberhentian ini untuk selamanya’. ‘Wahai orang banyak! Tahukah kamu, bulan apakah sekarang?”

Umat yang hadir (U): “Bulan haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu, darah sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya bulan ini’. ‘Tahukah kamu daerah apakah ini?”

U: ‘Daerah Haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu; sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu; seperti haramnya daerahmu ini”. “Tahukah kamu hari apakah sekarang?”

U: ‘Hari haram’

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya haramnya hari ini di bulanmu ini, di daerahmu ini. Sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya akan segala perbuatanmu’. “Wahai! Apakah aku sudah sampaikan? (Alä hal balagtu?)

U: ‘Allahumma, betul, sudah engkau sampaikan’

R: “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah”.

Sebagai catatan akhir, dalam khotbahnya Rasul SAW memanggil hadirin dengan ungkapan “Wahai Manusia” (bukan Wahai Umatku”), suatu ungkapan yang mencerminkan universalitas ajaran risalahnya. Wallahualam. Pertanyaan: Sejauh mana Muslim kontemporer menginternalisasikan pesan moral khotbah haji perpisahan?

[1] Urian lebih lengkap dpat diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2009/10/27/tablig-haji-wada-dan-hak-azasi-manusia/

[2] M. Natsir, Fiqhud Da’wah, PT Abadi, Cetakan ke-13, 2008.

Sumber: https://www.aljazeera.com/topics/country/yemen.html

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.