Islam, Muslim dan Umat: Perspektif Al-Quran


Islam, Muslim dan Umat. Ketiga istilah ini saling terkait. Pada umumnya Islam didefinisikan sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Muslim sebagai penganut agama ini, dan Umat sebagai komunitas Muslim.

Definisi ini sebenarnya terlalu sempit dalam perspektif Al-Quran. Ini tidak berarti definisi-definisi itu salah. Yang menjadi isu di sini adalah perbedaan tataran. Sementara definisi umum berbicara pada tataran bentuk (formal), Al-Quran berbicara pada tataran hakikat (esensial). Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai perspektif Al-Quran mengenai tiga istilah ini.

Islam dan Muslim

Secara kebahasaan, kata Islam berasal dari kata kerja (Arab: fi’il) asalama yang berarti “telah menyerahkan atau berserah diri”. Subyek atau pelaku kata kerja ini dapat apa saja (tidak harus manusia) dan cara melakukannya dapat secara sukarela maupun terpaksa:

Maka mengapa mereka mencari agama lain dalam agama Allah, padahal apa yang di langit dan dibumi berserah diri (teks: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? (3:83).

Turunan kata aslama dalam bentuk kata benda abstrak (Arab: ism mashdar) adalah Islam yang berarti “penyerahan diri”. Turunan kata yang sama dalam bentuk kata benda subyek atau pelaku (Arab: ism fa’il) adalah Muslim (tunggal) dan Muslimun (jamak). Dengan demikian kata Muslimun berarti “orang-orang yang berserah diri”.

Al-Quran menggunakan kata Muslimun alam pengertian yang luas dan inklusif; tidak hanya mencakup Umat Muhammad SAW, tetapi juga umat para nabi lainnya:

Katakanlah (Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan meraka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (teks: muslimun)” (3:84)

Al-Quran menempatkan Agama Islam yang dibawa Nabi SAW bukan sebagai agama baru tetapi kelanjutan dari tradisi agama (Arab: milah) Ibrahim AS dengan ciri utama lurus (Arab: hanif) dan monoteis (bukan Musyrik). Hal ini terungkap dalam teks suci (Quran 16:20-23):

Sesungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah).

Dia menyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dari menunjukkannya ke jalan yang lurus.

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh.

Kemudikan Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “ikutilah agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan dia bukanlah termasuk orang musyrik”

Umat

Seperti disinngung sebelumnya, secara umum Umat didefinisikan sebagai komunitas Muslim. Dalam Al-Quran kata Umat dikaitkan dengan karakteristik komunitas yang berpandangan moderat atau pertengahan (teks: ummatan wasathan), tidak ekstrem:

Dan demikianlah pula Kami telah menjadikan kau (Umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (Quran, 2:143).

Umat akan menjadi yang “terbaik” (teks: khaira Ummah) Umat, selain berpandangan moderat, harus memiliki kapasitas untuk memerintahkan kebaikan (teks: ma’ruf) dan mencegah keburukan (teks: munkar):

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang munkar…. (Quran 3:110).

Kapasitas ini tentu saja hanya mungkin dapat dimiliki dan direalisasikan secara efektif jika memiliki kekuasaan (Arab: sulthan).

Kata moderat digunakan sebagai terjemahan kata wasathan yang darinya kata wasit diturunkan. Dalam suatu permainan (misalnya permainan sepakbola), seorang wasit yang baik perlu memenuhi empat kualifikasi berikut:

  1. Memahami aturan permainan secara baik;
  2. Memiliki wibawa sehingga dapat mengendalikan permainan secara efektif;
  3. Memiliki rasa keadilan dalam menerapkan aturan permainan; dan
  4. Berwibawa sehingga keputusannya dihormati para-pihak dengan rasa terima kasih atau secara legowo.

Semua kualifikasi ini dapat dianalogikan dalam bidang pergaulan internasional. Pertanyannya adalah apakah dalam bidang ini Umat berperan aktif sebagai wasit yang mewasiti atau  “menjadi saksi bagi manusia”) sesuai arahan normatif teks suci (Quran 2: 143)?  Jika jawabannya negatif, maksudnya bukan mewasiti tetapi diwasiti, maka hal ini dipastikan terkait dengan empat kualifikasi wasit yang baik sebagaimana diutarakan sebelumnya.

Wallahu’alam….@

Catatan

Tulisan ini merupakan Lampiran dari eBook yang akan segera terbit, tulisan ringkas dengan sekitar 7,000 kata). Judulnya: Memahami Peradaban Muslim Awal: Sejarah Ringkas Dalam Terang Kitab Suci.  …@

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.