Bencana Alam dan Mata-Batin: Catatan Akhir 2018

Anak Luar Biasa

Catatan akhir tahun kali ini sulit mengabaikan musibah yang baru saja terjadi, musibah yang merupakan sidik jari dari karya seorang anak, Anak Krakatau. Sidik jarinya tersebar di mana-mana di sekitar TKP. Sidik jari itu antara lain berupa puing-puing bangunan, reruntuhan pepohonan, sekitar 1,500 saksi mata yang terluka, dan lebih dari 400 jenazah manusia[1]. Singkatnya, sidik jarinya banyak dan kasat mata. Agaknya tidak ada celah bagi anak itu untuk mengelak dari “tuduhan” publik.

“Anak” ini luar biasa. Proses kelahirannya berlangsung lama dari Agustus 1883 sampai Februari 1884, melalui letusan “perut ibu” yang disertai tsunami sehingga menelan korban setidaknya 36,417 jiwa manusia[2]. Letusan ini dianggap paling mematikan dan paling merusak. Tetapi ini dalam sejarah Indonesia sebenarnya kedua terbesar setelah letusan Gunung Tambora yang terjadi tahun 1815 (lihat Tabel).

Dari tabel di atas tampak Indonesia memberikan kontribusi “lumayan”: 2 dari 12 letusan gunung terdahsyat.

Kembali ke karya Anak Krakatau. Karya terakhirnya  diciptakan 22 Desember 2018 yang lalu dengan cara meletuskan diri. Cara ini bagi Anak Krakatau sesuatu yang biasa-biasa saja, normal, alamiah, atau sesuai kodratnya. Letusan ini memicu longsor di bawah laut yang bagi tanah longsor normal sesuai kodratnya. Longsor ini memicu tsunami yang bagi laut juga sesuatu yang normal. Tsunami itulah yang meninggalkan sidik jari yang bermasalah– tepatnya dimasalahkan oleh ras manusia—bagi “kemanusiaan”. Kita menyebutnya tragedi kemanusiaan. (Berhakkah kita menyebut demikian?)

Terlepas dari masalah bahasa, yang jelas “tragedi” ini riil, masif dan dikhawatirkan belum akan segera berakhir[3].  Yang juga jelas, tragedi ini tragedi ini mendorong semua komponen bangsa untuk bersatu-padu berupaya untuk mengatasinya. Kita menyaksikan keseriusan pemerintah, kedermawanan pihak swasta, dan keikhlasan para relawan baik yang bersifat individu maupun yang tergabung dalam NGOs, semuanya berupaya untuk mengatasi tragedi ini. Jangan diabaikan peran remaja dan kaum ibu yang secara spontan menggalang dana untuk membantu para korban. Inilah modal sosial bangsa ini yang besarnya tampak ketika terjadi ketika tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

…. besarnya modal sosial bangsa ini tampak ketika terjadi tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

Tragedi ini riil dan masif sehingga memperoleh sorotan media masa internasional secara luas. Demikian riilnya tragedi ini sehingga ia mengundang rasa empati, belasungkawa dan pernyataan siap membantu dari tokoh-tokoh dunia: PM Australia, PM India, Wakil PM Malaysia, Presiden AS, Presiden dan PM Rusia, Ratu Inggris dan Suami, Presiden dan Menlu Turki, dan Presiden Taiwan. Sekadar untuk memberikan gambaran mengenai ucapan belasungkawa mereka, berikut ini ungkapan dari Menlu Turki: “We wish the mercy of Allah be upon those who lost their lives, speedy recovery to the injured and convey our condolences to the brotherly people of Indonesia”.

Bukan Satu-satunya

Tragedi Tsunami Selat Sunda riil dan masif. Tetapi ini bukan satu-satunya bencana yang melanda Indonesia selama 2018. Sebelumnya terjadi dua bencana lainnya yaitu Gempa Lombok dan Tsunami Palu dan Sekitar. Yang pertama berupa gempa darat yang berkekuatan 6,4 SR di Pulau Lombok pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Pusat gempa terletak sekitar 47 kilometer di Timur Laut Kota Mataram dengan kedalaman 24 kilometer. Guncangan gempa ini dirasakan di seluruh Pulau Lombok, Pulau Bali dan Pulau Sumbawa. Korban dilaporkan 20 orang meninggal dunia dan sekitar 10,000 rumah rusak Berat[4].

Bencana kedua dimulai dengan gempa bumi di Semenanjung Sulawesi pada tanggal 28 September 2018. Pusat gempa terletak di kawasan pegunungan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dengan kekuatan 7.5. diikuti dengan gempa susulan 6.1. Gempa dirasakan di di Samarinda (Kalimantan Timur) dan Tawau (Malaysia). Bencana diikuti dengan tsunami dekat Selat Makassar sekitar 30 menit kemudian. Dahsyatnya bencana ini– gabungan gempa bumi dan tsunami—terlihat dari besarnya korban jiwa manusia: 2,245 meninggal, 4,488 terluka dan 1,075 hilang. Korban ini tersebar di empat kota/kabupaten: Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong[5] .

Yang perlu dicatat, semua bencana ini mempertontonkan selain tragedi kemanusiaan tetapi juga kebesaran modal sosial Bangsa Indonesia.

Korban dan Anugerah

Kenapa bencana alam sering melanda Indonesia? Karena wilayah geografis Indonesia terletak dalam jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Dengan kondisi ini Indonesia termasuk rawan bencana alam. Ini takdir bangsa ini.  Yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa kondisi geologis yang rawan ini tidak hanya meminta korban tetapi juga melimpahi banyak anugerah. Anugerah itu antara lain berupa kesuburan lahan pertanian, kekayaan hutan, aneka-ragam hayati-nabati, kekayaan mineral, dan sebagainya.

Respons budaya berupa “sesajen” bagi gunung atau “tempat keramat” dari masyarakat tradisional dapat dilihat sebagai perwujudan kesadaran kolektif mengenai aspek positif bencana berupa limpahan anugerah alam ini. Agama tentu dapat memberikan kerangka teologis yang sesuai tetapi semangatnya sama yaitu sikap syukur.

Bencana dan Syukur. Apa ada hubungan antara keduanya? Bagi yang memiliki perspektif modern jawabannya negatif: tidak ada hubungan antara keduanya; “ngak nyambung”, istilahnya. Bagi orang beragama jawabannya positif: dalam analisis terakhir setiap peristiwa, termasuk bencana alam, terjadi karena izin-Nya. Dalam bahasa teologis: “Tuhan adalah sebab efisien setiap peristiwa”.

Atas dasar pemikiran semacam itu orang beragama akan melakukan upaya maksimal untuk mengatasi akibat bencana alam tetapi disertai doa memohon perlindungan kepada Penguasa-alam.

Malampaui al-Kaun

Secara teknis geologis kasus Tsunami Palu dan Tsunami Selat Sunda konon berbeda. Dalam kasus pertama tsunami dipicu oleh Gempa Bumi (seperti halnya Tsunami Aceh akhir 2004), sementara yang kedua oleh longsor bawah laut akibat letusan gunung.

  • Kasus Pertama: Gempa Bumi —>Tsunami;
  • Kasus Kedua: Letusan Gunung —> Longsor di Bawah Air —> Tsunami

Pertanyaannya: Apa faktor yang memicu gempa bumi (kasus pertama) atau letusan gunung (kasus kedua)? Sains tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

Lalu apa jawabannya?

Penulis tidak dapat menjawabnya tetapi berkeyakinan masing-masing kita dapat menjawabnya, tepatnya merasakannya.

Upaya untuk merasakan adanya faktor yang memicu gempa bumi atau letusan gunung dapat dimulai dengan mencermati istilah al-kaun yang menurut para sufi mencakup semua apa yang dapat kita lihat, kita dapat rasakan dan dapat kita ukur. Jadi termasuk dalam al-kaun ini adalah topik yang kita bicarakan: gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, dan tsunami. Mata fisik hanya mampu menjangkau al-kaun ini; demikian juga Sains.

Tetapi manusia berpotensi melampaui al-kaun ini. Rahasianya, menurut para sufi, kita memiliki selain mata-lahir juga mata-batin (Arab: bashirah). Sayangnya, daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”. Untuk menghalaunya kita perlu cahaya makrifat.

…. daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”.

Agar memperoleh sedikit gambaran mengenai hal berikut ini disajikan terjemahan Hikmah ke-14 dari hikmah ke-14 Al-Hikam karya Ibn Athaillah (Serambi, 2003):

Siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya, dan ‘surya” makrifat terhalangi baginya oleh “awan” benda-benda ciptaan.

(Faman raa al-kaun walam yasyhad fihi ao ‘indahu ao qablahu ao ba’dahu faad ‘a wazahu wujudul anwar, wahjibatu ‘anhu syumusul al-ma’arifi bisuhubi al-autsar).

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sunda_Strait_tsunami.

[2] https://www.liputan6.com/news/read/3855865/letusan-gunung-krakatau-1883-guncangkan-dunia-hingga-bulan-menjadi-biru.

[3] Citra satelit NASA memperkuat kekhawatiran ini.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Lombok_Juli_2018.

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sulawesi_earthquake_and_tsunami..