Terus Bergerak: Refleksi Akhir Tahun 2018

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” (Albert Einstein).

Kutipan di atas adalah nasehat seorang genius abad ke-20 yang mungkin paling dihormati. Ungkapannya khas: padat dan jelas. Terkait dengan kepadatan ini konon, jika ada mahasiswa atau rekannya datang berkonsultasi dengan membawa rumus teori fisika-teoretis yang panjang dan kompleks,  maka dia akan segera meminta menyempurnakannya. Komentarnya kira-kira: alam ini indah dan sederhana, rumus mengenai hukum alam yang benar harus memenuhi dua syarat itu.

Terkait dengan kejelasan, ungkapannya begini: “You do not really understand something unless you can explain it to your grandmother.” Jadi, untuk memeriksa apakah penulis benar-benar mengerti posting ini, ada baiknya perlihatkan tulisan ini kepada nenek Anda, jika masih ada.

Gerakan Bertujuan

Inti nasehat Eisntein di atas adalah kita harus terus bergerak. Nasehat Iqbal kepada kalangan pemuda juga sama: “Kalau Anda berhenti di tengah jalan maka Anda akan tergilas zaman”. Semuanya memang bergerak. Ini alamiah (atau lebih pas mungkin Sunnatullah).

Pergantian tahun yang akan terjadi dalam hitungan jam kedepan juga terjadi akibat pergerakan, pergerakan tanpa henti dari bumi mengelilingi matahari, gerakan revolusioner bumi.

Pergantian hari dari 31/12/2018 ke 1/1/2019 juga alamiah karena pergerakan, pergerakan rotasi bumi mengelilingi porosnya. Pergerakan rotasi sedemikian pentingnya bagi Muslim sehingga dijadikan acuan penetapan waktu salat:

Saat matahari terbenam ada Magrib, saat matahari matahari terbit ada Shubuh. Magrib dan Subuh mempertemukan dua ekstrem: yang pertama menandai waktu malam, yang kedua waktu siang. Tetapi Magrib masih agak terang dan belum benar-benar malam; demikian juga, Shubuh masih agak gelap sehingga belum benar-benar siang.

Salat Isya (fardhu) dan Salat Isyraq (sunnah, kurang populer) dilakukan untuk memastikan waktu: yang pertama ketika siang sudah hilang sempurna, yang kedua ketika malam sudah hilang sempurna.

Salat Zuhur dilakukan ketika gerakan rotasi pada posisi sedemikian rupa sehingga paparan matahari mencapai titik maksimal. Salat Ashar dilakukan ketika matahari condong ke Barat dan memberikan aba-aba kedatangan kehidupan malam.

Apa arti semua ini bagi Muslim? Salah satunya, sebagai sarana edukasi agar senantiasa memiliki kesadaran waktu, melalui gerakan ritual, dan pada momen yang sejalan dengan irama alam. Tujuannya, memperbaharui konektivitas dengan Rabb SWT. Dapat dikatakan, gerakan salat menyeimbangkan aspek fisikal, tujuan salat menyeimbangkan aspek mental-spiritual.

…. gerakan salat menyeimbangkan aspek fisikal, tujuan salat menyeimbangkan aspek mental-spiritual.

Daya Internal

Bumi melakukan gerakan rotasi (pada sumbunya) tetapi juga, pada saat yang sama tanpa henti (gerakan revolusioner mengelilingi matahari). Demikian juga dengan semua planet lain dalam sistem matahari (solar system), semua bergerak menurut garis edar masing-masing, mengelilingi matahari yang berumur 4.6 milyar tahun dan memiliki massa 332,900 massa bumi itu [1]. Planet-palent ini seakan-akan bertawaf mengelilingi “Ka’bah” matahari, tanpa henti. 

   Sumber: Wikipedia

Matahari menjadi pusat gerakan revolusi planet karena massanya relatif sangat besar. Planet tidak “terserap” matahari karena letak matahari relatif sangat jauh dan juga karena daya gerakan internalnya. Hikmahnya, tanpa daya internal, kita tidak akan memiliki garis edar sendiri bahkan berisiko “hilang” terserap oleh pihak lain. Bagi Muslim, salat teratur memperbaharui daya internal yang dimaksud.

Kerdil

Seperti planet, matahari juga bergerak melingkari Galaksi Bima Sakti. Galaksi ini berdiameter 100,000 tahun cahaya dan tetangga terdekatnya, Galaksi Andromeda berjarak 2,5 juta tahun cahaya. Lebih dari itu, di alam ini terdapat sekitar 200 milyar-2 triliun galaksi yang dapat diamati [2]. Kita terlalu angkuh jika angka-angka ini tidak dapat membantu melihat kebesaran Pencipta Alam dan betapa kekerdilan diri.

Sebagai catatan, galaksi adalah sistem bintang yang terikat secara gravitasi, sisa-sisa bintang, gas antar bintang, debu, dan materi gelap. Jumlah bintang dalam suatu galaksi bervariasi dan berkisar antara beberapa ratus juta bintang sampai seratus triliun bintang. Masing-masing bintang ini mengorbit pusat massa galaksi. Pola pergerakan bintang-bintang mengelilingi pusat Galaksi konon sangat menyerupai pergerakan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Pola pergerakan bintang-bintang mengelilingi pusat Galaksi konon sangat menyerupai pergerakan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Mengenai orbit benda langit  teks suci telah mengilustrasikannya sekitar 1.5 milenium yang lalu (Quran 36:38-40):

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

Ulul Albab

Tetapi manusia, sekalipun kerdil dalam konteks kosmos, adalah makhluk pilihan untuk menyandang amanah-Nya. Ia diciptakan, dalam bahasa agama-agama samawi (jadi bukan hanya Islam), menurut gambar-Nya. Posisinya mulia. Keseluruhan alam ini diciptakan “untukmu” (Quran 2:29). Manusia terikat kontrak primordial untuk menyandang misi-ganda: sebagai hamba dan khalifah-Nya (Quran 2:30).

Untuk mengemban misi-ganda ini manusia diberi akal. Orang yang berakal dalam konteks ini disebut ulul-albab, suatu istilah qurani yang merujuk pada orang yang mampu memadukan dzikir dan pikir, mampu memikirkan fenomena alam sambil terus mengingat-Nya, serta mampu menarik kesimpulan mengenai makna penciptaan alam ini. [Bacaan lanjut mengenai ulul albab dapat diakses di SINI.] Untuk keperluan tulisan ini, teks suci berikut ini (Quran 3:190-191) menjeaskan istilah ulul albab yang dimaksud: 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malan dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi orang yang berakal.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Dinyatakan secara berbeda, uluil-albab adalah orang yang dapat memberikan respons positif terhadap teks suci ini (Quran 41:53):

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru (*) dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkan (bagi kamu) bahwa Tuhan-Mu saksi atas segala sesuau.

(*) Jalalain menafsirkan afak dengan aqtaaris as-samawat wal-ardh; agaknya sejalan dengan konsep kita mengenai alam keseluruhan. Wallahualam bimuradih.

Gaya Al-Quran agaknya dimaksudkan agar Al-Quran dibaca oleh sebanyak mungkin orang sehingga sebanyak mungkin yang diselamatkan (tanpa mengabaikan kebutuhan khusus  elit yang memiliki inteleksi di atas rata-rata). Dan ini berhasil. Menurut (Hitti 1960:126 [3]) Al-Quran adalah buku paling banyak dibaca. Selain itu, seperti dikatakan Ramadan [4], Al-Quran miliki semua:

… The Koran belongs to everyone, free of distinction and of hierarchy. God responds to whoever comes to his Word..The Koran is a book for both heart and mind… No sheik is needed, no wise man, no confidant. Ultimately, the heart knows.” Such a heart, humble and alert, is the faithful friend of the Koran.

Kutipan di atas sengaja tidak diterjemahkan. Alasannya, kemampuan berbahasa Sunda penulis belum tentu lebih baik dari pada kemampuan Bahasa Inggris pembaca.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Sun.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Galaxy.

[3] Hitti, Philip K. (1960), History of the Arabs, MacMillan & Co Ltd.

[4]. Lihat http://www.virtualmosque.com/islam-studies/islam-101/belief-and-worship/reading-the-Koran-by-tariq-ramadan/.

[Bagi yang menghendaki versi pdf dari posting ini silakan klik INI]

 

Advertisements