Membaca Hasil Hitung Cepat Pilpres


Sumber gambar: Google

#tak-beda-nyata, #rada-rada bodoh, #justifikasi

Tak-Beda-Nyata

Pemilu Indonesia 2019 baru usai. Proses pelaksanaannya relatif mulus. Ini tentu berkat rahmat-Nya yang patut disyukuri.

Hasil resminya baru akan diketahui dalam hitungan minggu. Tapi gambarannya, khususnya Pilpres, dapat diketahui secara lebih dini berdasarkan hasil hitungan cepat (quick count).

Menariknya, angka hitungan cepat yang beredar secara keseluruhan tidak-beda-nyata dengan hasil Pemilu 2014: Paslon 1 (katakanlah Merah) memperoleh angka sekitar 55%, sisanya untuk Paslon 2 (Katakanlah Hijau).

Tidak hanya itu. Sebaran provinsi juga tak-beda-nyata. Sebagai ilustrasi, JaBar yang pada 2014 Hijau, 2019 juga Hijau; kepekatan kehijauannya juga tak-beda-nyata. Sebagai ilustrasi lain, kepekatan Merah Jatim 2014 dan 2019 juga tak-beda-nyata.

[Aumsi penulis, fakta ini  digunakan oleh penyelenggara Survei Hitung cepat untuk menghitung probability terpilihnya suatu TPS serta digunakan untuk menghitung weighting . Wallahualam dalam praktiknya.]

Bagaimana menafsirkan fakta di atas? Itu bisa dimaknai sebagai “kesuksesan” atau “kegagalan” bagi Merah maupun Hijau. Tergantung cara pandang: Apakah air yang mengisi separuh gelas “tinggal separuh” atau “masih separuh” (bagi yang optimistis). Maksudnya ini: Merah sukses mempertahankan kemerahan wilayah Merah tetapi gagal memerahkan wilayah Hijau; analog dengan Hijau.

Kondisi ini sangat kontras dengan pengalaman Amerika Serikat, misalnya, di mana Hijau (Demokrat) mampu menghijaukan sebagian wilayah Merah sehingga statusnya di Kongres berubah dari minoritas menjadi mayoritas.

Apakah artinya bagi Indonesia? Tim pemenangan kurang berhasil? Kampanye Merah maupun Hijau tidak efektif?

Wallahualam. Penulis tidak punya kompetensi untuk menganalisis lebih jauh. Kompetensi penulis adalah membaca hasil Hitungan Cepat.

Rada-rada Bodoh

Jika seorang statistisi disuguhi angka hanya satu survei 55% untuk Merah dan 45% untuk Hijau maka dia tidak dapat menyimpulkan siapa pemenangnya. Bodoh kan? Padahal definisi menang dalam sistem demokrasi sangat jelas: peraih angka >=50%+1 suara.

Jika didesak untuk menyimpulkan maka statistisi akan balik tanya. Itulah susahnya berhubungan dengan statitisi. Pertanyaannya kira-kira begini: “Bapak mau mentoleir batas kesalahan (margin error, ME) berapa persen? 1%, 10%, 20% atau berapa%?:

  • Jika Bapak mentolelir ME <=10% , maka yang menang adalah Merah; tetapi
  • Jika Bapak mentolelir angka ME =20% (apalagi lebih besar), maka pemenangnya tidak ada.

Pusing kan? Itulah salah satu the beauty of statistics.

Bagi statistisi ragam angka adalah “berkah”. Juga bagi statitisi, setiap hasil survei pasti (haqqul yaqiin?) mengandung kesalahan (errors). Jadi tergantung kesediaan menerima toleransi kesalahan.

Dalam pandangan statistisi, angka 55%, dengan ME 20%, misalnya, perlu dibaca sebagai himpunan angka yang terletak antara 44 dan 66, 44%<55%<66%. Apa artinya? Rentang angkanya mencakup angka milik Hijau yaitu 45%. Apa kesimpulannya? Dua angka 45% dan 55% sebenarnya secara statitik tidak-beda- nyata (statistically insignificant).

Justifikasi

Pola berpikir statistik ini sebenarnya yang dapat digunakan untuk menjustifikasi keputusan UU pemilu untuk menggunakan “hasil perhitungan angka manual seluruh suara.

Pola berpikir statistik semacam ini menjustifikasi UU pemilu yang mengamanatkan  agar untuk memperoleh angka resmi digunakan hasil perhitungan seluruh suara secara manual.

Pola pikir yang sama sebenarnya dapat juga digunakan untuk memberikan penilaian bahwa bermacam-macam hasil hitungan cepat sebenarnya tidak beda secara statitik; robust, kata orang statistik.

Tetapi bagi sebagian ada yang mengganggu. Ini terkait dengan ketetaan penerapan kaidah statistik dalam merancang survei:

  • Apakah penetapan jumlah sampel (2000-an?) sudah mempertimbangkan berbagai faktor termasuk antisipasi response rate, antisipasi besarnya variasi jawaban (CV) dan efisiensi relatif metodologi yang diambil (Deff.)? ]

[Yang terakhir ini berlaku jika bukan Rancangan Samepl Sedehana (SRS) digunakan sebagaimana dikalim CSIS. Jika SRS, apakah asumsi heterogenitas wilayah –dalam hal kecenderungan memilih– dipertimbangkan? Apakah efisiensi biaya diperhitungkan?]

  • Apakah sampel TPS sudah memenuhi jumlah minimal yang diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan statistik? Pada level nasional? Atau “berani” estimasi provinsi?
  • Apakah prinsip acak digunakan dalam setiap tahapan pemilihan? [Jika tidak maka kesimpulan statitik tidak dapat ditarik.]
  • Apakah hasil Pemilu 2014 dimanfaatkan untuk membangun kerangka sampel?

Jika tertarik mengenai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini silakan baca tulisan berikutnya. (Entah kapan sempatnya?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.