Puasa dan Rebus Kubis


Sumber gambar: Google

 

Rasa manis yang tersembunyi ditemukan dalam perut yang kosong ini!

Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat bersuara, nada rendah maupun nada tinggi.

Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, api mereka akan mengeluarkan ratapan dalam dadamu.

Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus tabir– kau akan mendaki seribu seribu derajat di atas Jalan dan di dalam hasratmu.

Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu pada Tuhan! Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri bagi ilalang.

Jika kau biarkan perutmu penuh, ia akan menjadi Setan bagimu di saat Kebangkitan, sebagai ganti akalmu, menjelma berhala sebagai bentuk Kabah.

Ketika kau puasa, amal-amal baik mengelilingimu bagaikan hamba sahaya, budak-budak, dan bergerombol.

Teruskan puasamu, karena ia adalah stambuk Sulaiman. Jangan kau berikan stambuk itu pada Setan, jangan kacaukan kerajaanmu.

Dan jika kerajaan dan pasukanmu hendak lari darimu, pasukanmu akan kembali, dan berilah dia perintah!

Hidangan telah datang dari surga bagi mereka yang berpuasa, karena Isa anak Maryam memanggilnya turun dengan doa[1].

Tunggulah Hidangan Rahmah dengan puasamu– ia lebih baik daripada kubis rebus.

Sumber: Rumi, Diwan 1793.

Demikianlah cara Rumi menggambarkan puasa: mudah dicerna, kaya-makna, tidak terkesan menggurui, dan … jenaka. Konon, karena kejenakaan ini maka pesan sufistik Rumi dapat diterima dengan mesem-mesem oleh para ulama besar yang kurang sreg dengan Sufi.

Juga terkait kejenakaan ini, siapa yang mampu berpikir untuk mengaitkan puasa[2] dengan kubis rebus, misalnya. Menariknya lagi, dalam Diwan ini Rumi mengontraskan “kubis rebus” dengan “Hidangan Rahmah” tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ini. Dugaan penulis istilah ini merujuk pada “Hidangan dari Langit” sebagaimana yang tercantum dalam doa Nabi Isa Ibnu Maryam:

Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkan kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi bagi orang yang sekarang bersama kami maupun bagi datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berikanlah kepada kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki (QS 5:114).

Wallahualam bi muradih.

[1] Lihat QS (5:114)

[2] Beberapa tulisan lain mengenai puasa dapat diakses di SINI.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.