Menengok Dunia Makna Bersama Rumi


Sumber gambar: Google

Dalam satu kesempatan kongkow-santai, seorang teman yang ahli perilaku binatang buas menjelaskan perbedaan respons anjing dan singa ketika kita melemparkan sesuatu ke arah mereka. Anjing sangat bersemangat untuk segera mengetahu apa dilemparkan, makanan atau batu, misalnya. Singa tidak terlalu peduli dengan benda yang dilemparkan, ia alih-alih fokus pada “air muka” pelempar untuk memahami tujuannya melemparkan sesuatu ke arahnya. Bagi penulis penjelasan ini memukau. Tetapi yang lebih memukau lagi adalah ungkapan teman tadi: “Anjing bernafsu dengan dunia bentuk, singa fokus dengan dunia makna”.

Ungkapan itu jelas berlebihan: bagaimana mungkin singa memahami makna. Tapi ungkapan berlebihan itu jelas bukan tanpa maksud. Ia bermaksud menjelaskan substansi hakikat segala sesuatu yang mengandung dua unsur berpasangan: siang-malam, bumi-langit, pria-wanita, gelap-terang, lahir-batin, pandangan eksoterik-esoterik, dan sebagainya.

Contoh terakhir, pandangan eksoterik-esoterik, terkait dengan pandangan keagamaan. Kebanyakan kita, menurut teman tadi, memiliki pandangan eksoterik sehingga “merasa puas” jika telah menunaikan ajaran agama yang telah memenuhi syarat dan kaifiat (tata-cara) yang sesuai hukum syar’i. Kalau wudu, misalnya, paling tidak dia membasuh muka tangan dan kaki paling tidak sekali.

Bagi yang berpandangan esoterik, praktik wudu semacam itu sudah memenuhi “syarat yang perlu” tetapi “tidak cukup”. Ia memandang fungsi wudu jauh lebih dalam dan mendalam (deep and profound) dari sekadar persoalan Fiqh. Baginya, wudu merupakan prosesi membangun kesiapan-spiritual dalam rangka menghadapi Rabb SWT yang Mahasuci serta melepaskan diri dan terbebas dari semua hal yang bersifat duniawi.

Dengan perspektif semacam itu orang yang berpandangan esoterik mampu melihat makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama.

…. makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama

Dalam konteks ini, Iman Al-Gazali melalui karya monumentalnya Ihya ulumuddin, dapat dilihat sebagai bentuk ajakan untuk “menghidupkan” ilmu-ilmu agama dengan muatan spiritual. Agaknya, Imam ini melihat praktik ibadah oleh Umat dalam eranya terlalu bersifat mekanik. Wallahualam.

Dengan alur pikir serupa, Rumi melalui karya-karyanya juga mengajak pembacanya ke arah yang sama. Nikmati saja sebagian karyanya berikut ini:

Lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak-tampak. Di sana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara (Matsnawi I 683).

Jika hakikat segala sesuatu telah tersingkap, maka Nabi– yang diberkati dengan ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari– tidak pernah mengajukan permohonan ini, “Ya Tuhan, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi (Fihi-ma-fihi 5/8).

Di hadapan makna, apa arti bentuk! Sangat tak sepadan. makna langit tetap tersembunyi di tempat persemayamanannya…. (Matsnawi I 3330).

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang kasatmata adalah fana, tetapi Dunia Makna tak akan pernah sirna.

Sampai kapan engkau akan terpikat oleh bentuk bejana? Tinggalkanlah ia: Pergi: airlah yang harus engkau cari!

Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan. Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang (Matsnawi II 1020-22).

Sebagai kutipan akhir, silakan simak gaya unik Rumi untuk mengajak kita merenungi dunia makna melalu pengamatan dunia bentuk melalui karyanya ini :

Nabi bersabda, “Lihatlah langit dan bumi, dan temukan Makna Universal melalui bentuk keduanya, perputaran yang dijalankan oleh Roda Langit, pergantian musim dan perubahan Masa. Kalian lihat betapa segalanya berjalan sedemikian rupa, selalu dengan alur masing-masing. Lebih dari itu, betapa awan tahu bahwa ia harus mengirim hujan di setiap musim? Kalian lihat bumi, betapa ia memelihara tanaman-tanaman dan menumbuhkan yang satu dari sepuluh. Siapa pun tahu  semua itu. Jumpailah Dia melalui dunia ini, dan ambillah kesempurnaan dari-Naya, sebagaimana kalian temukan makna dari wujud manusia melalui jasad. Temukan makna dunia dari penampakan-luar dunia (Fihi-ma-fihi 39/51).

Wabillahitaufiq wal hidayah…..@

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.