Mengenang Perjuangan Siti Hajar RA

Dia sangat cemas mendapati bayinya kelaparan dan gejala dehidrasi karena tidak memperoleh pasokan air susu ibu. Bergegas dia mendaki bukit itu dengan susah-payah karena kurang tenaga akibat kelaparan dan kehausan. Harapannya dari ketinggian itu dia dapat meihat orang lain untuk dimintai pertolongan: harapan yang sia-sia, tidak seorang pun terlihat dari sana.

Kecemasannya meningkat. Segera dia mengerahkan sisa tenaganya dan berlari lari kecil (Arab: sa’i) untuk mencapai bukit lain tetapi juga tidak terlihat ada siapa pun dari sana.  Tetapi ajaibnya, tenaganya sedikit pulih sehingga dia bergegas kembali ke bukit semula tetapi tetap saja tidak melihat ada orang.

Demikianlah ia bolak-balik di antara dua bukit itu, Bukit Shafa Marwa dan Bukit Marwah, sampai tujuh putaran.

Kecemasan memuncak ketika ingat bayinya di bawah sana. Ia segera turun dari Marwah dengan mata berkunang-kunang dan menemukan bayinya dalam keadaan hampir sekarat. Ia merasa berhalusinasi ketika melihat malaikat dekat bayinya itu dan bahkan sempat bertanya kepada malaikat adakah yang dapat dia lakukan untuk menolongnnya.

Tiba-tiba ia melihat malaikat itu menyepak tanah dengan tumitnya; akibatnya, “muncul air dari tanah yang menyebar ke segala arah”[1]. Dengan luapan kegembiraan dan susah payah ia menggunakan tangannya menggali kubangan sehingga terciptalah sumur, Sumur Zamzam. Segera ia meminum air sumur itu dan hasilnya luar biasa: kelelahannya segera pulih, juga air susunya sehingga “Ismail AS terhindar dari kematian” [2].

Keterasingan mereka di lembah itu juga berakhir dengan kedatangan suku Yohamit yang ternyata keturunan dari sepupu jauh Ibrahim AS. Suku ini meminta izin secara takzim kepada Hajar RA untuk tinggal di Mekah dan disetujui dengan syarat mengakui kepemilikan Hajar RA-Ismail AS atas Sumur Zamzam[3].

Demikianlah kira-kira kisah sejarah singkat perjuangan Siti Hajar RA menurut versi Dirk[4].

Lembah Baka

Lembah Baka (sekarang Mekah) tidak berpenghuni tetap, sesekali ditinggali karavan yang berlalu, dan difungsikan sebagai pasar musiman. “Penghuni” tetapnya adalah kucing liar, hiena, rubah, rusa, dan tikus kanguru[5]. Lembah itu juga terisolir karena dikelilingi oleh pegunungan Sirat dengan sejumlah puncak antara lain Jabal Ayjad (410 m), Jabal Abu Qubais (375 m), dan Jabal Hira (640 m)[6].

Kondisi geografis semacam itu, ditambah faktor tanahnya yang gersang, membuat orang enggan tinggal menetap di sana. Jadi, wajarlah jika Hajar RA tidak bertemu orang ketika berlari-lari kecil itu. Yang tidak wajar– dalam ukuran manusiawi– adalah kenapa beliau sampai berada di tempat itu.

Kepergian Hajar RA dan bayinya ke Mekah dilakukan karena diusir dari Hebron (Palestina) oleh Sarah AS, istri pertama Ibrahim AS. Jarak Hebron-Mekh sekitar 1,200 kilometer. Tapi rute yang perjalanan itu tidak lurus sehingga jarak tempuh rombogan Hajar AS yang sesungguhnya diperkirakan sekitar 40 hari perjalanan onta[7];  ini jelas suatu perjaanan berat apalagi bagi bayi.

Sumber Gambarini

Monolog Hajar RA

Karena perjalanan yang berat itu maka wajar jika Dirks menduga sang bayi agak rewel (maksudnya mungkin sakit) setibanya Mekah; juga ketika sang ayah harus meninggalkannya. Harus meninggalkannya? Ya, sesuai perintah-Nya. Dia meninggalkan mereka “di bawah pohon”, setelah menyerahkan “tempat air” dan “tas kulit berisi kurma”[8]. Hanya itulah peninggalan Ibrahim AS.

Sebelum menjauh dari pohon itu, terjadilah “monolog” Hajar RA[9]. (Monolog karena lawan bicaranya hampir tidak mampu mengucapkan kata apa pun dan itu manusiawi!)

“Wahai Ibrahim, engkau akan pergi ke mana? Apakah Kamu akan meninggalkan kami di lembah ini, di mana tidak ada seorang pun teman atau apa pun?”

[Tidak ada jawaban.]

“Apakah Allah memerintahkan berbuat demikian?”

[Ibrahim AS memberikan isyarat mengiyakan.]

“Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?”

[Kepada Allah SWT, sahut Ibrahim AS.]

“Aku Rido bersama Allah”, respons Siti Hajar RA.

Ibrahim AS melanjutkan perjalanan tanpa berkata atau menengok ke belakang. Setelah istrinya tidak lagi terlihat, Ibrahim AS berdoa:

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagai keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah), ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS 14:37).

Ibrahim AS berdoa agar keluarganya yang ditinggalkan itu diberikan rezeki “buah-buahan”, tetapi dilihat dari redaksi ayat, itu bukan keprihatinan utamanya. Keprihatinan utamanya adalah diri dan keluarganya menjadi orang yang “melaksanakan salat”.

*****

Kisah Siti Hajar RA ketika berlari-lari kecil itu diabadikan dalam ritual sa’i (artinya, lari-lari kecil), bagian dari ibadah haji. Melaksanakan ritual ini hukumnya wajib. Status hukum ini menunjukkan signifikansi ritual sa’i; jadi juga signifikansi kisah Siti Hajar RA.

Untuk membayangkan signifikansinya ini bandingkan dengan ritual penyembelihan hewan kurban yang hukumnya sunah atau anjuran, termasuk ketika melaksanakan haji. Ini adalah pendapat jumhur ulama, khususnya Imam Syafii.

*****

Hikmah Kisah

Apa hikmah di balik kisah ini? Antara lain berikut ini:

  • Bagi para ustaz (ustazah), substansi kisah ini layak dijadikan topik penting ketika berceramah mengenai haji atau mengajarkan manasik haji. Sejauh pengalaman penulis, topik ini jarang tersentuh.(Mudah-mudahan penulis keliru!)
  • Bagi ibu-ibu, keberanian dan kemandirian nenek moyang Nabi SAW ini layak diteladani. Juga sikapnya menerima pemberian suami tanpa banyak menuntut.
  • Bagi yang mengaku beriman, kepasrahannya secara total kepada-Nya wajib diteladani. Kalimat terakhir monolognya “Aku Rido bersama Allah” layak direnungkan.

Wallahualam…@

[1] Dirks (2002:133), Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, Serambi. Nama lengkap Dirks adalah Haji Abu Yahya Jerald F. Dirks, Psy D Abu Alenda. Dia masuk Islam 1993; sebelumnya berprofesi sebagai pendeta resmi Gereja Metodist Bersatu. Dirks menguasai sejarah Ibrahim AS bersumberkan tradisi Yahudi, maupun Kristen dan Islam. Tetapi mengenai buku ini ia mengaku lebih mengandalkan sumber-sumber Islam (Hadits).

[2] Ibid, halaman 134.

[3] Ibid, halaman 134-135.

[4] Ibid.

[5] Ibid, halaman 128.

[6] Ibid, halaman 127.

[7] Ini tidak berati rombongan Hajar AS melakukan perjalanan menggunakan onta karena masih perlu satu milenium lagi untuk sampai pada era ketika onta dapat dijinakkan Ibid, halaman 127-8.

[8] Ibid, halaman 129.

[9] Ibid, halaman 130.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com