Memahami Tragedi Dayton dan El Paso

Baru-baru ini di Amerika Serikat (AS) terjadi dua tragedi kemanusiaan dalam bentuk penembakan masal: di Distrik Dayton (Ohio) dan di Kota El-Paso (Texas), kota dekat perbatasan AS-Meksiko. Tragedi pertama terjadi 4/8/19  dengan korban 9 jiwa meninggal dan 27 orang terluka. Ini adalah tragedi yang ke-251 di negara ini: jadi, angka per harinya lebih dari sekali. Belum diketahui motif pelaku penembakan masal ini sehingga FBI menyebutnya terorisme domestik (domestic erorism); artinya, tidak diketahui adanya kaitan dengan ideologi tertentu yang mendasari tindakan pelaku penembakan.

Bagaimana dengan tragedi ke-2? Peristiwanya terjadi satu hari sebelumnya (3/8/19) dan berlangsung kurang dari setengah menit. Korbannya lebih besar: 22 jiwa tewas dan paling tidak 26 korban luka. Tersangka pelaku penembakan adalah Patrick Crusius (21)

Tragedi yang ini diduga sebagai wujud kebencian etnis. Ada dua catatan yang mendukung dugaan ini. Pertama, peristiwanya terjadi beberapa menit setelah dirilis posting “manifesto anti-imigran yang penuh kebencian”.  Kedua, target penembakan terkesan terarah pada kelompok migran khususnya asal Mexico. Karena alasan ini pihak Mexico meminta agar pihak AS menunjukkan ketegasan sikap mengenai soal ini, bahkan mengupayakan memeprmasalahkan secara hukum.

Mae Zaragoza embraced a visitor to the memorial for victims of the shooting in El Paso on Tuesday. “I really thought we were safe in our own little bubble, but someone came to our little island,” she said.

Sumber Gambar: Ini

Kenapa Terjadi?

Banyak pihak yang mencoba menjawab pertanyaan kenapa tragedi semacam itu sampai terjadi. Kita dapat mulai dari respons Presiden Trump. Kenapa Trump? Karena dialah yang kini memegang megaphone di negara ini: pendapatnya– bahkan pemilihan kata yang diucapkan– berpengaruh luas, bukan saja secara nasional, tetapi juga secara global. Lebih dari itu, dia juga bos cabang eksekutif di AS sehingga memiliki sumber daya yang besar untuk melakukan tindakan preventif jika ada kemauan politik.

Apa penjelasan Sang Presiden mengenai tragedi ini? Sederhana saja: “sakit mental” (mental illness). Agaknya tidak ada yang menolak pendapat ini. Pertanyaannya, apakah isunya sederhana itu? Respons ini dinilai tidak logis: tidak ada bukti prevalensi penyandang penyakit mental di AS unik dalam arti berbeda dengan negara-negara maju lainnya: Kanada, Eropa, Australia, New Zealand, Jepang, atau Korea. Di negara-negara ini tragedi penembakan masal sangat jarang atau tidak pernah terjadi.

Trump memperbaiki penjelasannya dengan menambahkan faktor internet dan Video Games sebagai pemicu tragedi. Kembali, dua faktor ini tidak khas AS. Tetapi ada yang perlu dicatat: dua faktor ini semakin populer Indonesia. Jadi, Indonesia, waspadalah!

Karena desakan banyak pihak, Trump memperbaharui penjelasannya dengan menambah faktor kebencian etnis, kefanatikan dan supremasi kulit putih. Ini tentu kemajuan. Sayangnya, tiga faktor ini dinilai tidak konsisten dengan retorika Trump sejak era kampanye presiden.

Singkatnya, penjelasan Sang Presiden tidak banyak pendukung. Ini juga terlihat dari sambutan protes masa ketika dia berkunjung ke Dayton dan El Paso yang baru saja berlalu. Alih-alih, dia menjadi sasaran kritik banyak pihak, khususnya dari dari para politisi Demokrat, lebih khusus lagi dari para kandidat presiden AS mendatang. Dalam konteks ini mungkin sebaiknya dia mendengarkan “nasehat” Presdiden Rouhani agar fokus pada urusan dalam negerinya sendiri.

Yang menjadi pusat kritikan adalah keengganan Presiden menyebut faktor pengawasan kepemilikan senjata sebagai faktor kunci yang menjelaskan kerapnya tragedi penembakan masal. Bagi kebanyakan pihak, justru inilah faktor kunci. Penilaian ini memperoleh dukungan empiris: banyak negara maju yang berhasil meredam tragedi penembakan masal dengan memperkuat pengawasan kepemilikan senjata. Australia dan New Zealand adalah contohnya.

Kenapa Presiden tidak menyebut faktor ini sama-sekali? Alasannya sederhana: limpahan uang dari NRA– asosiasi penjual senjata utama di AS– mampu membungkam banyak politisi. Jadi inilah hikmah bagi para politisi atau pejabat publik: kekuatan pemegang uang dapat membungkam.

Yang juga menjadi pusat kritik terhadap Trump adalah retorika Sang Presiden yang dinilai banyak kalangan mendorong perpecahan dalam internal masyarakat AS serta menghidup-suburkan ideologi fanatik dan supremasi kulit putih.

Penyelsaian

Fenomena penembakan masal adalah masalah kompleks sehingga sebaiknya kita serahkan kepada ahli untuk menjelaskannya. Yang pasti fenomena ini adalah tragedi kemanusiaan yang mendesak upaya penyelesaian kuratif dan preventif. Tatapi apakah bentuk penyelesaiannya?

Penulis tidak memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan ini serta memberikan saran penyelsaian jangka pendek-menegah. Walaupun demikian, mengenai penyelesaian jangka panjang, dalam pikiran penulis terlintas ini: sosialisi Aturan Emas (Golden Rule) kepada anak bangsa sejak dini. [Kata sosialisai di sini perlu dikembalikan kepada makna dasarnya yaitu proses penanaman nilai-nilai, bukan  pengumuman sebagaimana diartikan secara populer.] Kenapa Aturan Emas? Karena Aturan Emas bersifat universal dalam arti diakui oleh penganut semua agama, tradisi, dan penganut kepercayaan, ateis, bahkan agnostik; sejauh waras tentunya.

Bagi yang lupa, Aturan Emas  adalah “prinsip memperlakukan orang lain seperti halnya Anda ingin diperlakukan”. Atau, jika diungkapkan secara negatif: “Apa yang tidak Anda inginkan bagi Anda, jangan lakukan itu kepada orang lain”. Inilah kira-kira ajaran Konghucu yang terungkap dalam kalimat ini:

Sosialisasi Aturan Emas idealnya mulai digalakkan pada usia dini, mulai dari usia play group. Idealnya aturan ini menjadi mainstream pelajaran moral, agama dan kewarganegaraan dalam arti menjiwai substansi pelajaran-pelajaran itu. Sosialisasi ini penting kecuali kita tidak tertarik pada ide pembangunan karakter bangsa yang berakhlak mulia, atau tidak peduli pada kemungkinan tumbuh-subur kemampuan laten manusia untuk merusak dan menumpahkan darah sebagaimana dikhawatirkan para malaikat. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk  QS (2:30).

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com