Hamba ar-Rahman dan Kesalahen Sosial

Pasrah, Yakin dan Serius

Pasrah, yakin dan serius. Trilogi ini merupakan tuntutan normatif semua agama. Dalam istilah Islam, trilogi ini adalah Islam, Iman dan Ihsan. Unsur terakhir ini konotasinya adalah keseriusan dalam dua unsur pertama. Semua unsur ini terdapat dalam ajaran semua agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) walaupun terdapat perbedaan penekanan. Dalam konteks ini Islam menghendaki  keseimbangan ketiga unsur itu[1]. Mengenai hubungan tiga unsur trilogi ini layak direnungi penegasan Schuon (2005:70)[2] :

There is no iman (unitary faith) without islam (submission to the Law), and there is neither one nor the other without ihsan (spiritual virtue), that is without profound understanding or realization; whereas accepting the One has already given himself (aslama) to Him…

Gelar Ganda

Pada tataran normatif, masing-masing unsur dari trilogi itu itu saling mencakup sehingga seorang individu yang (ber)Islam atau Muslim, juga (ber)Iman atau Mukmin, sekaligus (ber)Ihsan atau Muhsin. Mukminun (kata benda, jamak) yang berasal dari kata Mukmin dalam  Al-Quran merujuk pada kolektif dari individu yang dimaksud (Umat). Istilah ini artinya benar-benar beriman[3] sehingga bersifat inklusif dalam arti menyandang unsur keislaman dan keihsanan. Singkatnya, mukminun (mukminin), muslimun (muslimin) dan muhsinun (muhsinin) adalah gelar-ganda yang disandang oleh Umat.

Ada lagi satu gelar bagi Umat yang disebutkan dalam Al-Quran tetapi agaknya kurang populer yaitu ‘ibadul ar-Rahman atau, untuk mudahnya, hamba-hamba ar-Rahman. Istilah ini menarik karena, misalnya, kenapa tidak disebutkan hamba-hamba Allah. Analog dengan ini, ketika Siti Maryam RA didatangi “seorang pria” di kamar pribadinya beliau “berlindung kepada ar-Rahman”, bukan “berlindung kepada Allah”.

Ar-Rahman adalah salah satu nama-Nya yang sangat kaya makna sehingga di sini tidak diterjemahkan[4]. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan hamba-hamba ar-Rahman?

Ragam Karakter

Istilah hamba ar-Rahman dapat ditemukan dalam QS (25:63-68). Ayat-ayat ini memberikan banyak ciri atau kualifikasi dari hamba ini antara lain rajin salat malam (63), sangat mengkhawatirkan siksa neraka (65-6), dan hemat tetapi tidak kikir (67).

Terkait dengan banyaknya kualifikasi ini menarik untuk dikemukakan komentar Nouman Ali Khan, seorang pakar Bahasa Arab dan juru dakwah Muslim Amerika Serikat yang menurut catatan Wikipedia termasuk dalam 500 orang Muslim yang paling berpengaruh di dunia. Bagi Khan, banyaknya kualifikasi itu menunjukkan ragam karakter dari individu Umat sehingga seorang hamba ar-Rahman tidak harus memenuhi semuanya. Baginya, sudah bagus kalau satu atau beberapa dari ciri itu sudah disandang. Argumennya, dalam dunia nyata sangat sulit seseorang menyandang semua ciri-ciri itu.

Pandangan Khan layak dipertimbangkan karena dia terkenal keahliannya dalam memahami struktur ayat suatu Surat dalam Al-Quran: dia meyakini dan sering memberikan ilustrasi mengenai kuat dan indahnya struktur ayat Al-Quran, sama-sekali tidak acak sebagaimana pandangan kebanyakan. Jika kita tidak mampu melihat kekuatan dan keindahan struktur itu maka itu semata-mata menunjukkan ketidakmampuan kita.

Untuk memahami jalan pikiran Khan, lirik lirik lagu “tombo ati” dapat digunakan sebagai ilustrasi. Lagu ini mendaftar lima keutamaan agar hidup kita mencukupi: (1) baca Quran dan maknanya, (2) salat malam, (3) berkumpul bersama orang saleh, (4) rajin puasa, dan (5) zikir tengah malam. Berapa banyak yang bisa melakoni itu semua? Jawaban yang patut diduga: langka. Itulah sebabnya, satu saja cukup sebagaimana terungkap dalam lirik lagu itu: “salah saawijine sopo bisa ngelakoni mugi-mugi gusti Allah nyembadani“.

Rendah Hati lagi Santun

Kembali ke topik hamba ar-Rahman (ibad ar-rahman).

Sebagaimana disinggung sebelumnya, hamba berkualifikasi “khusus” ini memiliki banyak ciri. Tetapi ada satu ciri istimewa karena disebutkan pertama dan penyebutannya melekat atau satu ayat dengan kata “ibad ar-Rahman”. Ciri itu adalah rendah hati (teks: hauna) dan bicara santun bahkan terhadap orang-orang bodoh yang menghina sekali pun (teks: jahilun). Ini ayatnya:

“Dan adapun hamba-hamba ar-Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila menyapa orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”.

Jadi, mengikuti pola pikir Khan, sekalipun Anda tergolong kurang rajin puasa sunat Senin-Kamis, bangun malam, baca Al-Quran, atau mengikuti pengajian, agaknya sudah berhak bergelar hamba ar-Rahman sejauh memiliki dua ciri ini: rendah hati dan berakhlak (berperilaku spontan) santun ketika berkomunikasi dengan sesama. Dua ciri yang satu nafas ini (dalam satu ayat) terkesan digarisbawahi Al-Quran ketika menjelaskan hamba ar-Rahman, serta mencerminkan akhlak yang dapat menyuburkan kesalehan sosial yang sayangnya masih kurang disemangati oleh Umat.

Wallahualam…@

[1] Mengenai perbedaan penekanan ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

[2] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, World Wisdom.

[3] Kualifikasi “benar-benar” perlu untuk membedakan dengan amanu (kata kerja) yang artinya juga “orang-orang beriman”.

[4] Kata ar-Rahman tidak diterjemahkan karena kedalaman maknanya. Mengenai hal ini lihat INI.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Menianjau-Ulang Makna Ar-Rahman

Maha Pemurah

Kata Ar-Rahman (Arab) umumnya diterjemahkan “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”. Dalam basmalah (QS 1:1) kata ini disandingkan dengan kata Ar-Rahman yang pada umumnya diterjemahkan oleh ahli tafsir “Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan bahwa dua kata ini merujuk secara eksklusif kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini menarik dicermati posisi Shihab. Dalam Tafsirnya Al-Mishbah, Shihab (2006:22) tidak menerjemahkan dua kata ini mungkin karena menganggap tidak ada padanan bahasa Indonesia yang memadai. Beliau menganggap dua kata ini memiliki rumpun kata yang sama (terkait dengan rahmat) walaupun beda timbangan (Arab: wazan): jika Rahman berwazan fa’lan, Rahim fa’il (halaman 34). Mengenai hubungan antar keduanya beliau mengungkapkan:

Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya (halaman 22).

Terjemahan “Maha Penyayang” untuk Al-Rahim umumnya dinilai tepat; tetapi terjemahan “Maha Pemurah” untuk Ar-Rahim, sekalipun ini merupakan mayoritas, bermasalah. Tulisan ini membahas secara singkat letak masalahnya.

Konteks Penggunaan

Menurut Sister WH dalam Discover True Islam, permasalahan terletak pada pengabaian konteks bagaimana kata Ar-Rahman secara aktual digunakan dalam Al-Quran. Berikut adalah sebagian argumennya:

Dan siapa yang lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan nama Al-Rahman daripada Al-Rahman sendiri? (Maksudnya, Allah SWT.) Penggunaan kata, bukan etimologi dan tentu saja bukan kamus, selalu merupakan faktor penentu dalam memaknai suatu kata, dan ini tanpa kecuali. Bagaimana nama digunakan dalam Al-Quran harus menjadi faktor penentu bagi kita untuk memutuskan apa arti nama itu… hal ini terlebih berlaku bagi nama yang disebutkan demikian sering dan dianggap demikian penting dan menonjol seperti nama Ar-Rahman.

Untuk mendukung argumennya dia mengajukan tiga kasus berikut.

1. Kasus Maryam RA

Dalam QS (19:17,18) dikisahkan Maryam RA, ketika didatangi seorang pria (Jibril AS) yang memasuki kamar pribadinya, meminta perlindungan kepada Al-Rahman:

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Ar-Rahman, jika engkau orang yang bertakwa”.

Dengan menyebut Al-Rahman, dia tentu meminta perlindungan dari yang “Mahakuasa”, bukan meminta belas kasihan dari yang “Maha Pemurah”. Yang terakhir ini tentu tidak akan menanamkan rasa takut kepada “penyusup” sehingga penggunaannya dalam konteks ini jelas tidak tepat.

2. Kasus Ibrahim AS

QS (19:45) dikisahkan Ibrahim AS berkata kepada ayahnya yang kafir dan penyembah berhala: “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab Ar-Rahman, sehingga engkau menjadi teman bagi setan…”

Menimpakan azab jelas bukan tindakan yang Maha Pemurah (the Merciful) tetapi yang Mahakuasa (the Almighty). Dalam konteks ini Sister WH mengemukakan:

Is this the act of The Merciful, or The Beneficent, or The Most Gracious, to wrathfully leave Satan as the guide of someone? Does this act express His mercy and beneficence? Or is this the act of The Almighty, the Ultimate Authority, the All-Powerful Avenger?

3. Kasus “Anak Tuhan”

Kata Ar-Rahman juga digunakan dalam kasus penghujatan Al-Quran terhadap klaim bahwa Dia SWT memiliki anak (QS 19:88-93):

Dan mereka berkata, Ar-Rahman mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja angit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi melainkan akan datang kepada Ar-rahman sebagai seorang hamba.

Mengomentari ayat-ayat ini Sister WH menyatakan:

They vividly describe how this blasphemy invokes His wrath. Is this the description of “The Beneficent” or “Most Gracious”? Do these ayat describe a benevolent benefactor (as in “beneficent”) or a generous host (as in “gracious”), “graciously” accommodating His “guests” or the recipients of His largesse, or a kind-hearted ruler forgiving His subjects, or do they describe NONE but THE ALMIGHTY???

(Catatan: huruf kapital dan tanda tanya berasal dari penulis yang bersangkutan.)

Dari tiga kasus di atas jelas bahwa Ar-Rahman tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”; terjemahan yang tepat adalah Mahakuasa (the Almighty). Jika ini kasusnya maka kata Ar-Rahman tidak serumpun dengan kata Ar-Rahim. Hal ini sejalan dengan QS (25:60) yang mengesankan bahwa Ar-Rahman tidak dikenali oleh penurut Bahasa Arab di era Nabi SAW.

Jika tiga kasus di atas belum meyakinkan, silakan cermati QS (Surat: Ayat) berikut:

1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 25:59, 25:60, 25:60, 25:63, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, dan 78:38.

Semua ayat itu mendukung argumen bahwa terjemahan tepat untuk Ar-Rahman adalah yang Mahakuasa (the Almighty).

 

Sumber Gambar: Pinterest

Kesimpulan dan Implikasi

Mahakuasa dan Maha Penyayang. Dua kata ini menunjukkan dua sifat yang berlawanan (saling melengkapi): kekuatan absolut dan belas kasih absolut. Kekuatan pasangan inilah yang “mengendalikan” Alam semesta: Alhamdulillahi rabbil alamin,  Ar-rahman ar-Rahim (QS 1:2-3) [*]. Dalam Al-Quran, Ar-Rahim tercantum dua kali lebih banyak dari pada Ar-Rahman; 114:57. Fakta ini mungkin mengisyaratkan bahwa “satu unit” kekuasaan harus diimbangi oleh “dua unit” kasih sayang.

Memahami hubungan Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam arti “Maha Kuasa” dan “Maha Penyayang”) penting untuk memahami-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengurus alam raya yang luar biasa dinamis dan kuat, yang secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan segala, secara aktif menciptakan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Untuk jelasnya, silakan renungkan kutipan ini:

Just entering into this understanding, we can clearly see that Allah is not a static provider of mercies and benevolence, as many perhaps unconsciously picture Him, but rather an unfathomably dynamic and powerful Creator and Sustainer and Caretaker of, directly interacting with, all that exists – continuously, actively creating in the past, present and future, not One who created everything only in the past and now leaves everything to just continue along a path pre-set by Him, as some picture it.

Wallahualam…@

[*] Masing-masing unsur dari pasangan ini, seandainya analogi diizinkan, mungkin analog dengan unsur Yang dan Yin dalam filosofi Budha Tibet.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Berkah: Pendalaman Makna

Wajar jika kita berharap mendapatkan satu pohon dari satu benih yang kita tanam. Tapi, bagaimana jika kita mendapatkan 10 pohon? Atau, 10 tahun kemudian, kita mendapatkan hutan kecil sebagai hasilnya? Jika hal itu terjadi, dan itu tidak mustahil, maka tindakan kita menanam satu benih mengandung berkah. Demikianlah kira-kira gambaran Shad Hamid ketika menjelaskan makna berkah (Arab: barakah). Ia menegaskan bahwa itu baru sebagian dari makna berkah. Jadi apa makna berkah? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan singkat ini secara singkat pula.

Makna Lingustik Berkah

Kata barakah kira-kira setara dengan blessing (Inggris) yang umumnya dikaitkan dengan suatu obyek yang dianggap memiliki kualitas atau dapat memberikan pengaruh luar biasa. Obyek itu dapat berupa orang (“orang suci”), bangunan (“bangunan suci atau kramat”), tempat (“tempat suci atau kramat”), dan obyek lainnya. Pemahaman ini sangat problematik karena membatasi kedalaman dan keindahan maknaa berkah; dalam Bahasa Shad, “limits it’s actual deep and beautiful meaning“.

Makna pertama berkah, seperti disinggung sebelumnya, terkait dengan pertumbuhan, penambahan, atau peningkatan. Jadi, sesuatu yang mengandung keberkahan berarti tumbuh. Tetapi pertumbuhan itu melampaui harapan (Arab: fawqa thawaqqu).

Makna kedua dari berkah terkait dengan kesinambungan, bukan bersifat sementara. Sesuatu yang terus bertambah atau tumbuh terlalu cepat– misalnya bangunan yang terus bertambah lantainya, atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat– biasanya mengundang risiko terpapar keambrukan (crash). Kata berkah bersifat berkesinambungan sehingga tidak mengandung unsur risiko semacam itu.

Ada makna ketiga berkah dan ini terkait dengan unta. Ini penjelasannya:

… the third part of the meaning of Barakah has something to do with camels. The Arabs call a camel that kneels or sits down as Barakah. This is because anyone who has had any experience with a camel will know that when a camel sits down it’s very difficult to get the camel to stand back up again, and when the camel has sunk in the sand, the camel is extremely stable and stays in its place. Meaning, there is no risk in the camel or the rider falling down, it doesn’t go anywhere.

Similarly, Barakah is something that is stable. It’s not like an economy that rises and crashes, it’s not like the fashion that comes and goes, it is something that stays.

… bagian ketiga dari makna Barakah ada hubungannya dengan unta. Orang-orang Arab menyebut unta yang berlutut atau duduk sebagai Barakah. Ini karena siapa pun yang pernah memiliki pengalaman dengan unta akan tahu bahwa ketika unta duduk, sangat sulit untuk mendapatkan unta untuk berdiri kembali, dan ketika unta tenggelam di pasir, unta sangat stabil dan tetap di tempatnya. Artinya, tidak ada risiko unta atau pengendara jatuh, ia tidak pergi ke mana pun.

Demikian pula, Barakah adalah sesuatu yang stabil. Ini tidak seperti ekonomi yang naik dan turun, tidak seperti mode yang datang dan pergi, itu adalah sesuatu yang tetap.

Singkatnya, menyetarakan berkah dengan blessing sangat problematik. Lebih dari itu, dalam perspektif Islam, juga berbahaya. Kenapa? Karena hanya Dia SWT yang menggenggam kemaslahatan maupu kemudaratan. Buktinya, lihat saja ayat ini “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu” (QS 29:21).

Kata Berkah dalam Al-Quran

Kata berkah bersifat qurani dalam arti tercantum dalam banyak ayat Al-Quran. Sebagian di antaranya ditemukan dalam QS 6:92, 44:3, 25:1, 17:1, 37:113, dan 7:96. Semuanya layak direnungkan. Dalam konteks ini, makna linguistik kata itu sebagaimana dibahas sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan apresiasi kita terhadap makna barakah yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Ayat terakhir (7:96) mungkin dapat dijadikan contoh kasus uji coba bagi kita:

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan

Pembangunan yang Berkah: Suatu Refleksi

Kesimpulannya: tumbuh, berkesinambungan dan stabil. Trilogi inilah kira-kira yang merangkum makna linguistik berkah. Kalau sekarang populer istilah SDGs– artinya, Sustainable Development Goal atau Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan– maka kita dapat memperkenalkan pembangunan yang berkah. Ini berarti Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan dan Stabil atau Sustainable and Stable Development Goals, SSDGs. [Istilah pembangunan (development) secara implisit mengandung makna pertumbuhan (growth); yang kedua adalah syarat perlu untuk yang kedua, bukan syarat cukup.]

Sumber Gambar: Pinterest

Huruf S kedua dalam SSDG dapat membantu mengingatkan pentingnya aspek stabilitas ekonomi, keamanan, sosial-kultural dalam pembangunan berkelanjutan. Tanpa stabilitas, SDGs tidak dapat termanifestasi dalam realitas bumi. (Dalam hal ini kita perlu belajar dari Pak Harto?) Sisipan S kedua juga dapat membantu kita memiliki balance equation yang tidak hanya mendaftar apa yang harus dilakukan, tetapi juga item apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dengan sisipan itu kita ibarat pasien yang cerdas, tidak hanya melakukan apa diperintahkan dokter, tetapi juga menghindari apa yang dilarangnya.

Mungkin banyak yang keberatan dengan istilah “pembangunan yang berkah” dengan argumen dalam kata “berkesinambungan” terkandung makna “stabil”. Tapi konotasi dua istilah terakhir berbeda. Jika yang pertama erat terkait dengan isu lingkungan alam atau faktor eksternal bagi populasi manusia, maka yang kedua dengan berkonotasi lebih faktor “internal” manusia dalam arti perilaku sosial-politik mereka. Jika mengacu kepada salah satu dokumen SDGs, yang pertama lebih terkait dengan dimensi planet dan people, yang kedua dengan peace. Terkait yang kedua ini dokumen itu mengingatkan:

We are determined to foster peaceful, just and inclusive societies which are free from fear and violence. There can be no sustainable development without peace and no peace without sustainable development.

Make sense?

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com