Prolog dari Prolog

Tulisan ini mengenai prolog kisah anak-cucu Adam, kisah manusia, kisah kita semua, di dunia-bawah-sini. Tulisan ini juga mengenai prolog dari prolog itu,

Prolog Kisah Manusia

Prolog kisah manusia di dunia, dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), ditandai dengan kisah kejatuhan Adam-Hawa AS dari surga. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa ini? Jawabannya berbeda antar tradisi agama samawi.

Posisi Yahudi tidak terlalu jelas. Mungkin karena Yahudi lebih fokus pada sukunya sendiri daripada pada “supra suku”, anak-cucu Adam secara keseluruhan. Posisi Kristen jelas: Adam-Hawa AS yang bertanggung jawab sehingga anak-cucunya menyandang dosa keturunan. Kristen secara khusus menyalahkan Hawa As atau Eve dalam bahasa Inggrisnya. Hal ini tersirat dari kata evil atau devil– diturunkan dari kata Eve– yang selalu berkonotasi negatif, jahat dan bahkan merusak[1].

Bagaimana dengan Islam? Posisinya juga jelas: iblis paling bertanggung jawab. Itulah sebabnya Al-Quran sering mengingatkan setan, anak cucu-iblis, sebagai musuh manusia. Ini tidak berarti Adam-Hawa tidak bersalah: keduanya, dalam porsi yang sama, divonis bersalah tetapi kesalahannya dimaafkan. Kesalahan mereka bukan saja melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati “pohon ini” (hadzihi al-syajarah), lebih dari itu mereka berdua makan buah yang berasal dari pohon terlarang itu. Lihat QS (2:34-35):

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir (34).

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tapi) janganalah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (35).

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai batas yang ditentukan (36).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sungguh Allah Maja Penerima tobat, Maha Penyayang (37).

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (38).

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (39).

Semua ayat di atas mengisahkan “proses” kejatuhan Adam-Hawa dari surga, “warisan” anak-cucu mereka, tentunya bagi yang memenuhi “syarat”. Persyaratan itu adalah mengikuti petunjuk-Nya (ayat ke-35).

Persyaratan yang dimaksud menegaskan perbedaan pandangan Islam yang sangat berbeda dengan pandangan Kristen dalam hal keselamatan (salvation): bagi Kristen keselamatan hanya mungkin melalui Juru Selamat (Savior), bagi Islam itu tergantung pada ketaatan individu (“barang siapa”, ayat ke-38) mengikuti petunjuk-Nya. Dalam konteks ini, rahmat-Nya tentu menentukan karena seperti diungkapkan Schuon (2007:82)[2]: “… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue“.

… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue.

Demikianlah kisah singkat “kejatuhan” manusia dari surga-atas-sana ke dunia-bawah sini. Pertanyaannya, bagaimana kisahnya sebelum kejatuhan itu?

Sebelum Kejatuhan

Sebelum kejatuhan mereka Adam-Hawa AS tinggal di “kampung” surga yang penuh kenikmatan, kemuliaan, dan keredaan-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran mengisyaratkan gambaran kehidupan di kampung itu.

a. Kenikmatan

Gambaran kenikmatan hidup di surga disajikan dalam QS (2:35) yang mengisyaratkan ketersediaan sumber pangan dalam jumlah melimpah dan dapat dinikmati sepuas-puasnya. Gambaran yang luar biasa disajikan dalam sejumlah ayat Surat ke-56, Surat Al-Waqiah:

berlokasi di antara pohon bidara yang tidak berduri (ayat ke-28), dipenuhi pohon pisang yang buahnya bersusun-susun (29), di bawah naungan yang luas (30), difasilitasi air yang terus mengalir (31), dipenuhi buah-buahan yang tak-terlarang untuk menikmatinya dan pohonnya tidak berhenti berbuah (32-33), dilengkapi kasur-kasur yang tebal lagi empuk (34), dilayani para bidadari yang sebaya, penuh cinta dan terus dibuat perawan (35-37)…

Itulah gambaran surga bagi “ahli kanan” (teks: ashabul yamin) yang bagi banyak komentator “lebih wah” dari yang dapat dibayangkan oleh pikiran yang paling liar sekalipun. Tetapi gambaran itu masih di bawah kelas “surga kenikmatan” (teks: jannatun naim, ayat ke12) yang disiapkan untuk “orang-orang dekat ” (teks: muqarrabun) yang “wah”-nya sukar di bayangkan.

b. Kemuliaan

QS (2: 234) sebagaimana dikutip di atas mengisyaratkan kehidupan Adam AS sangat mulia, demikian mulianya sehingga para malaikat bersujud kepadanya. “Malaikat bersujud”: Adakah kemuliaan yang lebih agung dari ini?

Tetapi kemuliaan itu bukan hak eksklusif Adam AS. Kemuliaan itu juga disandang oleh semua manusia, anak-cucu Adam: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam QS (17:70).

c. Reda dan Diredai

Anak cucu Adam yang memasuki surga-Nya berarti menerima undangan-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Kua, dan masuklah ke alam surga-Ku  QS (89:27-30).

Kata kunci ayat ini: jiwa tenang (teks: an-Nafs al-Muthmainnah)[3], reda, dan diredai-Nya.

*****

Kenikmatan, kehormatan, dan diredai-Nya. Adakah anugerah yang lebih besar dari ini? Kisah anugerah inilah yang menjadi prolog dari prolog kisah manusia di dunia-bawah-sini sebelum jatuh dari sugra-atas-sana.

Wallahualam….@

[1] Ini adalah pandangan eksternal seorang non-Yahudi dan non-Kristen yang belum tentu sesuai atau memadai dari persepsi internal penganut dua agama samawi ini.

[2] Frithjof Schuon (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts, World Wisdom.

[3] Mengenai jiwa tenang lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/10/07/jiwa-tenang/.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Pertumbuhan Alamiah Populasi Global

Kelahiran dan Kematian. Hanya  dua faktor alamiah inilah yang menentukan populasi manusia secara global. Dinyatakan secara berbeda, dinamika populasi global adalah fungsi dari surplus atau defisit peristiwa kelahiran (=B) terhadap kematian (=D): jika (B-D)>0 maka populasi  bertambah, jika (B-D)<0 populasi berkurang. Seperti yang akan segera terlihat, kecuali terjadi peristiwa luar bisa yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi global secara signifikan, populasi global patut diduga masih akan tumbuh karena (B-D)>0.

Menurut PEW Research Center[1], selama kurun 2010-2015, (B-D) bernilai positif sekitar 388.6 juta jiwa. Jika angka ini diasumsikan berlaku selama 15 tahun mendatang (dari 2015), maka selama kurun 2015-2030 populasi global akan bertambah 3×388.6 juta = 1,165.8 juta atau sekitar 1.2 milyar jiwa. Angka ini: (1) 200 juta lebih rendah dari populasi Cina sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 1,435,328,900)[2], atau (2) 117 juta lebih tinggi dari populasi Indonesia sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 271,431,139)[3].

Perbedaan Regional

Dinamika populasi regional lebih kompleks dari pada dinamika populasi total. Pasalnya, faktor pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh (B-D), tetapi juga oleh faktor migrasi, migrasi masuk [=M(I)] atau migrasi keluar [=M(O)]. Populasi Jakarta atau kawasan Asia Pasifik, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh surplus atau defisit B terhadap D di provinsi atau kawasan itu, tetapi juga ditentukan oleh apakah M(I)-M(0) positif atau negatif. Ini masalah kompleks, apalagi jika fokusnya pada faktor pertumbuhan alamiah. Untungnya, PEW Research Center telah menghitungkan untuk kita sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Selisih Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Kawasan (Ribuan)[4]

Selisih Kelahiran-Kematian

%

Distribution

Asia Pacific

202,790

52.2

Europe

-1,750

-0.5

Middle East and North Africa (MENA)

33,890

8.7

North America

9,150

2.4

Sub-Saharan Africa

108.450

27.9

Total

388.610

100.0

Tabel 1 menunjukkan pertumbuhan alamiah positif di semua wilayah kecuali Eropa. Populasi di benua ini defisit sekitar 1,75 juta kelahiran terhadap kematian. Artinya, jika keadaan seperti ini terus berlangsung maka populasi Eropa akan terus menyusut. Secara ekonomi hal ini tidak menguntungkan karena bagaimanapun total GDP adalah fungsi penduduk[5].

Jika keadaan ini tidak dikehendaki, maka satu-satunya penyelesaian logis bagi Eropa adalah mendatangkan migrasi masuk dari luar dalam jumlah yang secara signifikan lebih besar dari total migrasi keluar. Jika migran masuk dipilih yang berusia reproduktif dan produktif maka cara ini lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan “memanjakan” pasangan usia produktif dengan berbagai kemudahan subsidi untuk menambah anak yang belum tentu dan sejauh ini terbukti tidak  efektif (selain kemungkinan juga mahal).

Bagi Eropa, mendatangkan migran usia produktif dan reproduktif dari luar akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya untuk mengatasi defisit kelahiran.

Tabel itu juga menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan populasi global patut diduga akan tergantung pada kawasan Asia-Pacific:  kawasan ini menyumbangkan lebih dari separuh pertumbuhan populasi global. Dalam konteks ini ada tiga negara “raksasa” yang memainkan peranan menentukan: Cina, India dan Indonesia. Yang menarik untuk dicatat, ciri kependudukan ketiganya berbeda: yang pertama dicirikan oleh relatif rendahnya angka kelahiran dan angka kematian, sementara yang kedua oleh relatif tingginya kedua angka itu. Posisi Indonesia berada di tengah-tengah dua “raksasa” itu dalam hal angka kelahiran dan kematian[6].

Perbedaan menurut Afiliasi Agama

Populasi berbeda dalam hal afiliasi agama yang dianut dan perbedaan semacam ini agaknya adalah alamiah bagi populasi[7]. Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan alamiah berbeda menurut afiliasi agama.

Mudah diduga pertumbuhan alamiah populasi (dalam artian absolut) sangat ditentukan oleh dua populasi agama terbesar yaitu Muslim dan Kristen. Data PEW mengkonfirmasi dugaan ini ini sebagaimana terlihat pada Grafik 1. Dari 388.6 juta faktor pertumbuhan alamiah, sebanyak 267 juta atau 70% merupakan sumbangan populasi dari dua agama ini.

Grafik 1: Selisih Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Afiliasi Agama Penduduk (Juta)[8]

Grafik itu juga menegaskan populasi Muslim lebih subur secara aktual (atau memiliki angka fertilitas lebih tinggi) dari pada populasi Kristen. Penegasan ini justified karena secara absolut pada level global, populasi Kristen lebih besar dari pada populasi global dan ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai 2050.

Grafik 2: Defisit Kelahiran terhadap Kematian Eropa 2010-2015

Catatan: Populasi Agama Yahudi tidak diperhitungkan karena kasusnya kurang dari 10,000.

Grafik 1 menunjukkan sumbangan positif populasi Kristen terhadap pertumbuhan alamiah populasi global. Gambarannya sangat berbeda jika fokus diberikan khusus pada kawasan Eropa. Khusus di kawasan ini, seperti ditunjukkan oleh Grafik 2, sumbangan populasi Kristen defisit sekitar 5.64 juta kelahiran terhadap kematian. Demographic wise, fakta ini mengisyaratkan akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa untuk mengatasi defisit kelahiran terhadap kematian.

Demographic wise akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa…

Kesimpulan dan Pertanyaan

Sebagai kesimpulan, ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global akan banyak dipengaruhi dinamika penduduk di kawasan Asia Pacific. Juga ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global juga dipengaruhi oleh populasi Muslim. Pertanyaannya, apakah yang terakhir ini, dengan mengingat ajaran Islam yang secara eksplisit mengusung nilai-nilai keadilan sosial (QS 107) dan keikhlasan dalam berderma ( QS 76:9)[9], akan membawa masa depan populasi global ke arah yang lebih adil?

Wallahualam…@

[1] Appendix A,  https://www.pewforum.org/2015/04/02/religious-projections-2010-2050/

[2] https://www.worldometers.info/world-population/china-population/

[3] https://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

[4] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[5]  GDP adalah singkatan dari  “Gross Domestic Product” dan mewakili total nilai moneter dari semua produksi final barang dan jasa dalam suatu periode (biasanya setahun). GDP adalah ukuran yang paling umum dipakai untuk menghitung aktivitas ekonomi. Seperti halnya total produksi padi yang merupakan fungsi dari produktivitas (per HA) dan luas panen, demikian juga total GDP merupakan oleh produktivitas (GDP/kapita dan penduduk.

[6] Pengamatan seorang teman di ADB menarik untuk dicatat. Menurutnya, posisi Indonesia juga berada di tengah dua negara raksasa itu dalam hal demokrasi dan birokrasi: tidak semurni India dalam hal demokrasi, tidak seefektif Cina dalam hal birokrasi pemerintahan. Dia tidak mampu menjawab ketiga penulis bertanya: “Apakah keduanya harus saling melemahkan?”

[7] Itulah sebabnya dalam Islam ada larangan memaksakan agama (QS 2:256).

[8] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[9] Keikhlasan dalam konteks ini lebih dari sekadar kedermawanan sosial (philanthropy) yang masih rentan terpapar “agenda” pribadi yang kurang terpuji. “Agenda” yang dimaksud, pada tataran negara, dapat berbentuk kebijakan luar negeri yang tampilan luarnya saja terkesan dermawan, tetapi dengan rumus tidak ada “makan siang gratis”,  menyembunyikan motivasi mengeruk keuntungan lebih besar dari pihak yang dibantu.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Abu Dzarr, Abu Hanifah, dan Kekuasan Publik

Presiden terpilih kita dalam waktu dekat akan memilih pembantunya, bukan sembarang pembantu, tetapi pembantu dalam jabatan publik, sebagai menteri atau kepala lembaga. Secara hukum Presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih pembantunya. Tapi dalam realitas politik, hak itu menjadi ajang tarik-menarik berbagai kelompok kekuatan politik yang minta “jatah”, eksplisit maupun implisit. Kita berbaik sangka saja: permintaan itu wujud semangat untuk turut membangun bangsa. Kita serahkan pada ahli untuk menilai “motivasi” permintaan semacam itu. Tulisan ini, sedikit terkait dengan topik kekuasaan publik, menyoroti secara sepintas dua tokoh historis dalam sejarah Islam yaitu Abu Dzarr dan Imam Hanafi

Abu Dzarr

Abu Dzarr (wafat 652M) adalah orang ke-4 atau ke-5 yang memeluk Islam. Beliau adalah sahabat dekat Nabi SAW yang dikenal karena kesalehannya dan daya kritisnya: di era Kekhalifahan Usman RA, Abu Dzarr RA populer karena kritik tajamnya yang dialamatkan kepada Muawiyah I, pendiri Dinasti Umayah). Mungkin karena kesalehannya, beliau sering memperoleh ajaran langsung dari Nabi SAW, di antaranya berupa tujuh wasiat berikut ini:

Dari Abu Dzar RA, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) SAW berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan la haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia[1].

Isi wasiat ini jelas sarat dengan ajaran moral pribadi dan moral sosial sehingga tidak mengherankan jika sebagian ahli– termasuk Ali Shariati, Muhammad Sharqawi dan Sami Ayad Hanna– mengakrakterisasikan Abu Dzarr RA sebagai “… anteseden utama sosialisme Islam, sosialis Islam pertama, atau sosialis pertama sekaligus… Ia memprotes penumpukan kekayaan oleh kelas penguasa selama kekhalifahan Utsman dan mendesak redistribusi kekayaan yang adil”[2].

Tapi apa hubungannya dengan kekuasaan publik? Konon suatu saat Abu Dzarr “protes” karena tidak diberikan kekuasaan. Menanggapi protes ini Nabi SAW bersabda:

“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).

Hadits ini menujukan bahwa kekuasaan itu amanah dan Abu Dzarr RA oleh Nabi SAW dinilai terlalu “lemah” untuk memegang amanah itu.

Abu Hanifah

Abi Hanifah RA (wafat: 676M), atau lengkapnya Abū Ḥanīfa an-Nu‘man ibn Thābit, adalah Imam Besar pendiri mazhab Hanifiah, satu dari empat mazhab hukum Islam yang paling berpengaruh di kalangan tradisi Sunni. Tiga Imam Besar pendiri mazhab lainnya adalah Maliki RA, Syafi’i RA, dan Hanbali RA. Dari sisi pengikut Mazhab Hanafiah adalah paling besar dan dominan di negara-negara yang pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman yang bersejarah, Kekaisaran Mughal dan Kesultanan penguasa Turki di Asia Selatan, Cina barat laut dan Asia Tengah. Di era modern, Mazhab Hanafiah lazim di daerah berikut: Turki, Balkan, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, Mesir, sebagian Irak, sebagian Iran, sebagian Rusia, Turkmenistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, Afghanistan, Pakistan, sebagian India dan Cina, dan Bangladesh

Seperti semua mazhab lainnya, Abu Hanifah RA sangat tegas memosisikan Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber utama pengambilan hukum. Di luar dua sumber ini beliau juga menggunakan lima sumber hukum lain: konsensus komunitas sahabat (ijma dari para sahabat Nabi SAW), pendapat individu dari para sahabat, qiyas (analogi), Istihsan (preferensi hukum), dan akhirnya urf lokal (adat setempat) orang). Penggunaan tiga prinsip yang terakhir (qiyas, istihsan dan ‘urf) boleh dikatakan karya otentik (ijtihad) Imam besar ini yang sampai sekarang dijadikan alat intelektual untuk menjawab persoalan Umat kontemporer, termasuk “fiqh minoritas”  (al Fiqh al Akhliyya).

Kepakarannya dalam bidang prinsip-prinsip pengambilan hukum (Ushul fiqh) membuat Abu Hanifah RA sangat populer serta disegani oleh semua pihak. Tapi ini tidak membuatnya kehilangan sisi kejenakaan. Konon pada suatu hari beliau ditanya: “Kalau aku mandi di sungai, apakah aku harus menghadap Kibat?” Jawaban beliau: “Tidak, kamu harus menghadap ke tepi sungai sambil mengawasi pakaianmu”. Dengan sisi kemanusiaan itu beliau sangat dekat dengan Umat kebanyakan.

Bagaimana dengan penguasa?

Popularitas kepakaran beliau membuat para penguasa dan politisi “gerah”. Pada 766 M, Khalifah al Mansur meminta beliau menjadi ketua hakim (Kad) di Baghdad dengan harapan dapat mengendalikan pengaruh beliau di kalangan rakyat banyak. Ulama besar ini menolak tawaran jabatan tinggi itu. Konsekuensinya, beliau dipenjara– bahkan sering memperoleh ganjaran cambukkan, sekalipun diizinkan tetap mengajar–  sebelum  menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 767 Masehi.

Tragis? Mungkin. Yang jelas, dalam sejarah peradaban Islam yang panjang lumrah jika para ulama besar dan para aulia menolak bantuan yang ditawarkan oleh pemegang kekuasaan. Kenapa? Untuk mempertahankan kemerdekaan berkiprah, serta untuk mengendalikan syahwat harta dan kuasa dunia. Tapi itu dulu….@

 

[1] https://islam.nu.or.id/post/read/70141/ini-tujuh-wasiat-rasulullah-kepada-abu-dzar

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Dhar_al-Ghifari

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Jiwa yang Tenang

Kalau ada kesempatan memohon hanya satu hal kepada-Nya, apakah doa itu? Jawaban dapat bermacam-macam sesuai dengan kedewasaan emosional, kapasitas intelektual, dan kepekaan spiritual yang bersangkutan. Bagi penulis, doa itu adalah jiwa yang tenang (Quran: al-nafsu al-muthmainnah). Argumennya, hanya yang berhati tenang yang memperoleh undangan memasuki surga-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku, (QS 89:28-30)

Dalam ayat itu jelas yang berjiwa tenang tidak hanya masuk surga-Nya, tetapi memasukinya dengan rida dan rida-Nya. Adakah yang lebih beruntung dari memperoleh undangan ini? Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara memperoleh status atau stasiun spiritual berjiwa tenang?

Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan ini tetapi hampir semuanya terkait dengan sikap merespons karunia-Nya. Dia SWT memiliki kebebasan mutlak untuk memberikan atau tidak memberikan karunia-Nya. Ini pasti. Yang juga pasti, karunia-Nya dapat sesuai atau tidak seusai keinginan. Dari dua kepastian ini terbentuk semacam matriks 2×2, katakanlah X(i,j), yang masing-masing bersifat dikotomi. Artinya, hanya dua kemungkinan nilai i atau j: 1 (ya) atau 0 (tidak). Dalam konteks ini masing-masing isi matriks itu dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • X(1,1): memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, memperoleh rezeki “nomplok”, lebih besar dari biasanya. Contoh lain, lulus ujian akhir dengan predikat yang memuaskan bagi pelajar atau mahasiswa. Ajaran agamanya, syukur: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS 14:7).
  • X(1,0): memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, sakit yang berkepanjangan atau kena stroke. Contoh lain, usaha bangkrut sehingga rencana kuliah anak urung. Ajaran agamanya, sabar: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas “(QS 39:10; juga 2:155).
  • X(0,1): tidak memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, belum memperoleh kelebihan rezeki sehingga niatan mengajak istri umrah belum kesampaian. Ajaran agamanya, qanaah: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki”(QS 13:26).
  • X(0,0): tidak memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, urung di PHK padahal perusahaan tempat kerja sedang dililit hutang: Ajaran agamanya, syukur.

Berikut adalah matriks dengan isi semacam itu:

Kesesuaian dengan keinginan
Ya Tidak
Karunia-Nya  

Diberikan

Syukur

Contoh: Memperoleh rezeki “nomplok”

Sabar

Contoh: Kena stroke

Tidak diberikan

Qanaah

Contoh: Belum mampu mengajak istri umrah

Syukur

Contoh: Tidak jadi di PHK

Kesimpulannya, jiwa tenang terkait dengan beberapa kebajikan spiritual yang lain antara lain syukur, sabar dan qanaah: jiwa tenang dapat direalisasikan jika hati dipenuhi rasa syukur ketika menerima karunia-Nya, sabar ketika memperoleh cobaan hidup, serta qanaah, menerima dengan rasa syukur “jatah” rezekinya sekecil sekalipun. Semua kebajikan spiritual hanya mungkin lahir dari keyakinan mantap terhadap kebenaran ayat ini:

Apa saja di antara rahmat Allah kepada manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskan setelah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS 35:2)

Wallahualam….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com