Kinerja Ekonomi Indonesia dalam ASEAN

Banyak indikator yang bisa digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi yang salah satunya adalah pendapatan nasional bruto (selanjutnya GNI; nama baru untuk GNP). Tulisan ini menggunakan indikator GNI per kapita (selanjutnya GNI-Cap) untuk menjawab dua pertanyaan ini: (1) Dari sisi kinerja ekonomi, bagaimana posisi Indonesia di tengah negara-negara ASEAN? dan (2) Bagaimana trennya selama periode 2000-2015?

GNI-Cap yang digunakan dalam tulisan ini diperoleh dari Bank Dunia yang menghitungnya menggunakan Metode Atlas. GNI dengan metode ini dipilih karena dua pertambangan. Pertama, dibandingkan GDP (atau PDB), GNI telah mengabaikan nilai produk perusahaan asing yang profitnya mengalir ke luar negeri sehingga lebih realistis dalam mengukur kinerja ekonomi suatu negara, ketimbang GDP. Kedua, ini serius dari sisi teknis statistik, Metode Atlas telah “menghaluskan” dua faktor yang umumnya menggangu perbandingan neraca nasional yaitu “fluktuasi harga dan nilai tukar”[1]:

To smooth fluctuations in prices and exchange rates, a special Atlas method of conversion is used by the World Bank. This applies a conversion factor that averages the exchange rate for a given year and the two preceding years, adjusted for differences in rates of inflation between the country, and through 2000, the G-5 countries (France, Germany, Japan, the United Kingdom, and the United States). From 2001, these countries include the Euro area, Japan, the United Kingdom, and the United States.

Variasi dan Ketimpangan

Tabel 1 memotret kinerja ekonomi 10 negara ASEAN selama 15 tahun pertama abad ke-21, 2000-2015, periode MDGs. Tabel itu menunjukkan besarnya variasi dan lebarnya kesenjangan kinerja ekonomi antar negara. Sebagai ilustrasi, rasio GNI-Cap Singapura/ Vietnam 2000 angka hampir mencapai 58. Angka ini mencerminkan sangat lebarnya variasi kinerja ekonomi negara-negara ASEAN. Ini Sebagai ilustrasi lain, rasio GNI-Cap Indonesia/Malaysia 2015 angkanya lebih dari 3. Ilustrasi kedua ini menegaskan lebarnya kesenjangan kinerja karena telah mengabaikan kinerja dari dua negara “raksasa” ASEAN yaitu Brunei dan Singapura.

Tabel 1: GNI-Cap 10 Negara ASEAN 2000-2015 (Metode Atlas) (Ribuan US$)

Tabel 1 juga memperlihatkan semua negara ASEAN mengalami peningkatan kinerja selama periode 2000-2015 tetapi dengan tiga catatan:

  • Brunei dan Indonesia mengalami sedikit penurunan kinerja dalam kurun 2013-15,
  • Penurunan serupa dialami Malaysia, Singapura dan Thailand, selama kurun 2014-15, dan
  • Penurunan agak drastis dialami Timor-Leste periode 2013-14, membaik dalam tahun berikutnya tetapi belum mencapai level 2013.

Singkatnya, pada tahun 2013 atau 2014, semua negara ASEAN mengalami sedikit penurunan kinerja ekonomi kecuali Kamboja, Laso, Filipina dan Vietnam.

Pada tahun 2013 atau 2014, semua negara ASEAN mengalami sedikit penurunan kinerja ekonomi kecuali Kamboja, Lao, Filipina dan Vietnam.

Kinerja ekonomi Singapura (SGP) dan Brunei (BRN) relatif sangat tinggi, terlalu tinggi untuk ASEAN secara keseluruhan. Hal ini tercermin dari, misalnya, angka rata-rata dengan GNP-Cap ASEAN 2015 yang mencapai angka lebih dari US$12,000 jika kedua negara itu diikutsertakan, dan hanya sedikit di atas US$ 3,000 jika keduanya diabaikan. Singkatnya, GNI-Cap kedua negara itu memberikan kesan berlebihan mengenai kinerja ekonomi ASEAN secara keseluruhan.

Tanpa Negara “Raksasa”

Gambaran kinerja ASEAN terkesan lebih realistis tanpa dua negara “raksasa” (SGP dan BRN) sebagaimana diilustrasikan oleh Grafik 1. Pada grafik ini, kinerja Indonesia dijadikan rujukan dengan cara memberikan nilai tetap 100 untuk setiap tahunnya. Ini berarti kinerja ekonomi Indonesia selama 2000-15 diasumsikan konstan relatif terhadap perubahan kinerja ekonomi negara lainnya yang diperbandingkan. Grafik itu menunjukkan paling tidak tiga hal:

  • Indonesia (IDN) selalu di atas Kamboja (KHM), Laos (LAO), Vietnam (VNW) dan Timor-Leste (TLS),
  • IDN selalu di bawah Malaysia (MYS) dan Thailand (THI) selalu di atas Indonesia, dan
  • Perkembangan kinerja ekonomi MYS dan THI relatif lebih lambat dibandingkan dengan kinerja IDN.

Grafik 1: Indeks GNI-Cap Negara-negara ASEAN (Indonesia=100)

Grafik itu juga mengisyaratkan kinerja IDN tidak akan melampaui kinerja MYS dalam beberapa dekade mendatang. Bagaimana dengan THI dan PHL? Grafik 2 menyajikan prediksi bahwa kinerja IDN tidak akan mampu  melampaui kinerja THI paling tidak sampai tahun 2030,  melampaui PHL mulai 2011 dan terkejar lagi di 2015. Sebagai catatan, koefisien regresi negatif pada Grafik 2 menegaskan penurunan kinerja THI relatif terhadap perkembangan kinerja IDN. Selain itu, dalam persamaan nilai x=0 untuk 2000, x=1 untuk 2011, dan seterusnya.

… kinerja IDN tidak akan mampu mengejar kinerja THI paling tidak sampai tahun 2030, melampaui PHL mulai  2011 tetapi terkejar lagi di 2015.

Grafik 2: Indeks GNI-Cap Indonesia, Filipina dan Thailand (Indonesia=100)

Pertanyaan: Apakah investasi infrastruktur di luar Jawa selama ini akan berdampak terhadap kinerja IDN sedemikian rupa sehingga mampu mengejar THI sebelum era SDGs berakhir?

Wallahualam...@

[1] https://databank.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG/1ff4a498/Popular-Indicators