Puasa: Revolusi Sunyi Melawan Ego

Di zaman yang memuja konsumsi, puasa hadir sebagai revolusi sunyi. Kita diajarkan bahwa kepuasan adalah hak dan keinginan harus segera dipenuhi. Namun puasa justru menunda, menahan, dan menyederhanakan.

Bagi Ibn ‘Arabi, lapar adalah “kematian putih” — melemahnya ego sebelum kematian fisik. Yang ditundukkan bukan tubuh, tetapi nafs yang terus menuntut. Dalam pelemahan itu, kesadaran menjadi lebih jernih.

Sementara Frithjof Schuon melihat puasa sebagai cara memulihkan keutuhan di tengah dunia yang terfragmentasi. Modernitas menyebarkan perhatian kita; puasa mengumpulkannya kembali ke pusat. Puasa bukan sekadar ritual menahan diri. Ia adalah latihan ontologis — cara menata ulang hierarki dalam diri: roh di atas dorongan, makna di atas materi. Dalam lapar yang disadari, kita belajar bahwa kebebasan bukan memuaskan semua keinginan, melainkan mampu menguasainya.

Uraian agak rinci dapat di akses melalui [link] ini.

One thought on “Puasa: Revolusi Sunyi Melawan Ego

  1. Puasa, juga cara pelan-pelan meredam ego dan kembali menyadari apa yang benar-benar penting dalam hidup. Aamiin

Leave a Reply