Kalau Tulang Bisa Bicara, Mungkin Dia Lebih Jujur dari Kita

Tulang lapuk dipertanyakan, tapi penanya lupa dari apa dirinya dibuat. Al-Qur’an mengoreksi bukan penglihatan, melainkan cara berpikir: yang tampak bukan ukuran segala kemungkinan. Wallāhu aʿlam.

A crumbled bone is questioned, yet the questioner forgets what he was made from. The Qur’an corrects not sight, but thought: the visible is no measure of all possibility. Wallāhu aʿlam.

若骨头会说话,也许它比我们更诚实

奉至仁至慈的真主之名。一切赞颂,全归真主。愿真主赐福我们的领袖穆罕默德。

雅辛章临近结尾处,有一幕颇耐人寻味。一个男人——据经注学家说,名叫乌拜·本·哈拉夫或阿斯·本·瓦伊勒——带着一根已经腐朽的骨头来到先知ﷺ面前。他把骨头碾碎,然后带着挑衅的语气问道:“谁能复活这已经朽烂的骨头?”

这问题听起来挺聪明。但请看古兰经如何回应。它没有用生物学解释,没有用理论反驳。古兰经只回了一句话,一句直刺心窝的指责:

“他为我设了一个譬喻,却忘记了他自身的被造。”(雅辛章:78)

咦,怎么是“忘记”了?他不是正在谈骨头吗?

问题恰恰就在这里。这个人记得骨头——看得见、摸得着、能碾碎的骨头。但他忘了自己从何而来。他忘了自己当初不过是 nutfah——一滴卑微的精液,按古兰经的说法。那样的东西,若掉在地上,我们大概连看都不会多看一眼。

所以,他的错误不在于观察本身。那根骨头确实存在。错的是他的思维方式:他拿眼前可见之物,去衡量终极的可能性。 他把看得见的,当成了看不见之事的法官。

这是一种老毛病。不只是古莱什否认者的病,也是我们的病。我们轻易相信能计算、能测量、能看见的东西。可一谈到看不见的——复活、灵魂、问责——我们就耸耸肩。

可说实话,我们谁也没有亲眼见过自己被造的过程。我们没看见自己如何从一滴液体变成血块,再变成能辩论骨头的生物。这一切,都在我们毫无察觉中发生。

所以,在我们自作聪明地质疑复活之前,最好先想一想:我们是谁?从何而来?又是谁造的?

那根骨头也许已经朽烂。但正因为它朽烂,它提醒我们一件事:第一次能创造的,第二次绝不会困难。

真主至知。

明天我们上升一层:从骨头,到一棵会冒火的绿树。怎么可能?

—

Bismillāh. Alhamdulillāh. Allāhumma ṣalli ʿalā Sayyidinā Muḥammad.

Ada satu pemandangan yang menarik di penghujung Surah Yasin. Seorang laki-laki—kata para mufassir, namanya Ubayy ibn Khalaf atau ʿĀṣ ibn Wāʾil—datang membawa tulang yang sudah hancur. Dia remukkan tulang itu di depan Nabi ﷺ, lalu bertanya dengan nada menantang: “Siapa yang bisa menghidupkan tulang yang sudah lapuk ini?”

Pertanyaannya terdengar cerdas. Tapi perhatikan reaksi Al-Qur’an. Bukan dibalas dengan penjelasan biologi. Bukan dibalas dengan teori. Al-Qur’an justru membalas dengan satu tuduhan yang menusuk:

“Dia membuat perumpamaan untuk Kami, dan dia lupa akan penciptaan dirinya sendiri.” (Yāsīn: 78)

Lho, kok lupa? Kan dia sedang membicarakan tulang?

Nah, di sinilah letak masalahnya. Orang ini mengingat tulang—yang kelihatan, yang bisa dipegang, yang bisa diremukkan. Tapi dia lupa dari apa dia sendiri berasal. Dia lupa bahwa dirinya dulu nutfah—setetes air yang hina, kata Al-Qur’an. Sesuatu yang kalau jatuh di lantai, mungkin tidak akan kita lihat dua kali.

Jadi kesalahannya bukan pada pengamatan empirisnya. Tulang itu memang nyata. Yang salah adalah cara berpikirnya: dia mengukur apa yang mungkin dengan apa yang kelihatan sekarang. Dia jadikan yang kasat mata sebagai hakim atas yang gaib.

Ini penyakit lama. Bukan hanya penyakit orang kafir Quraisy. Ini penyakit kita juga. Kita gampang percaya pada apa yang bisa dihitung, diukur, dan dilihat. Tapi begitu bicara soal yang tak terlihat—soal kebangkitan, soal ruh, soal pertanggungjawaban—kita langsung angkat bahu.

Padahal, kalau kita jujur, kita ini tidak pernah menyaksikan penciptaan diri kita sendiri. Kita tidak pernah melihat bagaimana kita dulu berupa setetes air, lalu menjadi segumpal darah, lalu menjadi makhluk yang bisa berdebat soal tulang. Itu semua terjadi tanpa kita sadari.

Jadi, sebelum kita sok pintar mempertanyakan kebangkitan, ada baiknya kita ingat dulu: kita ini siapa? Dari apa kita dibuat? Dan siapa yang membuat?

Tulang itu mungkin sudah lapuk. Tapi justru karena lapuk, dia mengingatkan kita pada satu hal: yang menghidupkan pertama kali tidak akan kesulitan menghidupkan kembali.

Wallāhu aʿlam.

Besok kita naik satu tingkat: dari tulang ke pohon hijau yang mengeluarkan api. Kok bisa?

Leave a Reply